Adu Konsep Tol Laut Capres Jokowi dan Prabowo, Mana yang Terbaik?

Hiruk pikuk politik menjelang Pemilihan Presiden telah sampai pada tahap penyampaian visi dan misi kedua capres, yakni Jokowi dan Prabowo. Berbeda dengan pemilihan capres sebelumnya, kali ini keduanya lebih melek infrastruktur dengan mengusulkan tol laut yang dianggap dapat memperbaiki kondisi Indonesia mendatang. Ah yang bener pak? Dicek yuk…

“Tol Laut” – begitulah disebut oleh keduanya. Sebutannya sama, tapi wujud dan pola yang berbeda. Capres Jokowi memasukkan agenda pembangunan infrastruktur tol laut atau pendulum nusantara dengan menghubungkan ujung-ujung nusantara via pelabuhan transit dengan kapal berukuran besar. Sedangkan capres Prabowo tak ketinggalan juga akan membangun tol laut di atas pesisir laut pantura yang terbatas pada rute Jakarta – Surabaya. Keduanya bertujuan sama yaitu memangkas biaya logistik yang memang kebangetan.

 

Tol Laut Versi Prabowo

Rencana untuk kemajuan bangsa tentu saja baik. Tapi bicara proyek raksasa, salah olah dan polah bisa menjadi bumerang, lhoo? iyalah…sudah lupa kasus Euro Tunnel yang terus menerus disubsidi oleh negara yang membangunnya akibat terlalu optimis dari sisi pengembalian biaya investasi (Baca Euro Tunnel di sini)? Masih ingat juga mengenai Panama Canal yang sempat gagal karena kurang mengkaji kelayakan teknis dan pelaksanaan sehingga memakan korban yang tidak sedikit? (Baca Panama Canal di sini) So, visi yang baik adalah harus. Namun ketepatan perhitungan juga mutlak supaya tidak blunder yang nanti malah menyengsarakan masyarakat.

 

Euro Tunnel

 

Panama Canal

Walaupun tidak tersedia cukup data untuk mengkaji secara detail atas kelayakan kedua jenis tol yang menjadi visi kedua capres, tidak ada salahnya kita coba untuk menakar tingkat feasibility atas kedua tol laut tersebut secara umum. Kelayakan yang penting untuk dikaji adalah teknis, pasar, operasional, ekonomi, dan finansial.

 

Kelayakan Teknis

  1. Tol laut Jokowi. Pengadaan kapal rasanya tidak masalah. Tapi dengan menggunakan kapal besar berukuran lebih kurang 3000 TEUs tentu membutuhkan banyak pelabuhan besar dengan kedalaman yang cukup. Ini karena kapal besar membutuhkan pelabuhan besar dan kedalaman laut yang cukup. Sedangkan hanya sedikit pelabuhan yang dapat memenuhi syarat itu. Jika dipaksakan, tentu hanya bisa transit pada pelabuhan yang mampu saja dari ujung Sumatra ke Papua. Ide ini aslinya cukup menarik dan terlihat membumi mengingat kondisi Indonesia yang sebagian besar laut yang harus dimanfaatkan sebagai moda transportasi yang utama.
  2. Tol laut Prabowo. Dengan mengusung model tol laut Bali dimana rute hanya dibatasi untuk Jakarta Surabaya di sepanjang laut dekat Pantura, tentu lebih layak karena tidak ada masalah yang berarti secara teknis terlebih telah dibuktikan dengan adanya tol Bali dan telah dikaji kelayakannya oleh konsorsium BUMN. Tol laut Prabowo lebih dikarenakan sulitnya pembebasan lahan jika membangun tol darat. Pada jalur pelayaran mungkin elevasi dinaikkan agar tidak menghalangi dan saat ini telah tersedia tiang pancang yang besar dan panjang yang dapat diproduksi di dalam negri.

Tol Laut Bali

Kelayakan Pasar

  1. Tol laut Jokowi. Pengguna tol ini hanya akan terkonsentrasi pada jalur tertentu akibat kurang meratanya ekonomi antar pulau Jawa dan bukan Jawa. Pada jalur yang ekonominya belum berkembang atau kurang industrinya, tentu penggunanya akan sedikit. Akibatnya, pada jalur “sepi” biaya akan mahal sekali karena rugi muatan. Konsep ini hanya akan feasible pada jalur yang ramai saja pada akhirnya dimana jalur sepi hanya dengan frekuensi yang jauh lebih kecil atau bahkan ditutup nantinya.
  2. Tol laut Prabowo. Dengan hanya pada jalur Jakarta – Surabaya, ini jelas akan memiliki pasar yang cukup banyak mengingat pertambahan kendaraan yang tinggi di pulau Jawa dan hubungan ekonomi kota besar di pesisir Pantura Jakarta – Surabaya yang juga tinggi. Pengguna transportasi darat kemungkinan akan lebih menyukai tol laut mengingat kelancaran arus yang akan memangkas waktu perjalanan dan juga konsumsi BBM terutama jika tujuan berada tidak jauh dari pintu tol keluar.

 

Kelayakan Operasional

  1. Tol laut Jokowi. Pada jalur padat, konsep ini sangat baik. Akan menghemat bbm sehingga lebih murah. Sedangkan pada jalur sepi akan mahal dan boros bbm karena faktor muatan yang sedikit. Di samping itu, waktu tempuh juga akan relatif lebih lama dibanding perjalanan darat bahkan oleh kapal bertenaga besar dengan kecepatan cukup tinggi lebih dari 25-30 knot atau 46.25 – 55.5 km/jam.
  2. Tol laut Prabowo. Dengan melayani kendaraan darat, tol ini mengkonsumsi BBM cukup besar mengingat kendaraan darat berukuran kecil dan daya angkut kecil dibandingkan dengan kapal. Namun konsumsi bbm mungkin lebih sedikit dibanding perjalanan darat di pulau Jawa karena perjalanan yang lebih lancar. Sedangkan durasi tempuh perjalanan akan sangat cepat karena kendaraan dapat dipacu pada kecepatan tinggi hingga lebih dari 100 km/jam.

 

Kelayakan Ekonomi

  1. Tol laut Jokowi. Konsep untuk melayani seluruh pulau, menjadikan konsep tol laut ini sangat baik karena akan bersifat menyeluruh dan dapat membangkitkan ekonomi secara merata. Ini jika telah tersedia infrastruktur pendukung berupa pelabuhan yang layak sepanjang jalur pelayarannya nanti. Pengehematan bbm nya secara tidak langsung ikut membantu ekonomi atas berkurangnya konsumsi bbm yang berarti berkurangnya import yang berujung pada neraca keuangan negara yang jauh lebih baik.
  2. Tol laut Prabowo. Dengan hanya pada jalur Jakarta – Surabaya, tentu hanya akan memiliki dampak ekonomi yang tidak merata. Pulau lain selain Jawa jelas tidak akan mendapat manfaat apa-apa. Penghematan bbm tetap terjadi, namun tidak sebesar jika menggunakan kapal.

 

Kelayakan Finansial

  1. Tol laut Jokowi. Mensyaratkan diperbaiki dan dimodernisasikannya pelabuhan-pelabuhan sepanjang jalur yang dilewati dan pengadaan kapal besar. Jika diinginkan tidak terjadi “rugi muatan” pada kapal, maka harus dibangun industri atau peningkatan ekonomi terlebih dahulu pada daerah yang sepi atau kondisi ekonominya yang timpang dengan daerah lainnya. Biaya peningkatan infrastruktur pelabuhan mungkin saja masih feasible untuk dilakukan. Tapi pemerataan industri dan ekonomi jelas mahal sekali. Pembuatan satu pelabuhan besar yang cukup lengkap dengan sarana pendukungnya, mungkin akan menghabiskan biaya 2-5 triliun yang sangat tergantung pada kondisi dan ukuran dan kelengkapan sarana pelabuhan. Jika 20 pelabuhan yang harus dikembangkan, maka biaya berkisar 40 – 100 triliun. Belum lagi biaya pengadaan kapal. Di samping itu, perlu biaya lain yang besar yaitu biaya membangkitkan ekonomi pada daerah yang ekonominya masih rendah. Konsep ini yang terlihat membumi, malah akan memakan biaya yang sangat besar dan kompleks.
  2. Tol laut Prabowo. Pembuatan tol laut seperti yang telah dilakukan di Bali akan cukup mahal. Per km sekitar Rp. 200 M. Jika jarak tol Jakarta – Surabaya adalah 775 km, maka biayanya bisa mencapai Rp. 155 Triliun. Namun dengan memperhatikan jumlah pemakai dan besarnya konsorsium yang akan mendanai proyek ini, rasanya masih make sense.

 

Atas penjelasan di atas, secara sederhana ditampilkan dalam tabel berikut ini:

Pada tabel di atas, penulis melakukan penilaian berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh beberapa ahli pada media dan juga penilaian pribadi yang bisa jadi cukup subyektif. Metodenya adalah weighted score dengan skala 1-5, dimana penekanan weight pada kelayakan teknis dan ekonomi.

Terlihat ada kelebihan dan kekurangan pada kedua konsep tol laut di atas dengan nilai total score yang ternyata tidak jauh berbeda. Tol laut Jokowi unggul pada aspek operasional dan ekonomi, namun lemah dalam hal teknis, pasar, dan finansial. Sedangkan konsep tol laut Prabowo unggul dalam aspek teknis dan pasar, namun lemah dalam aspek ekonomi dan juga finansial. So, tidak ada yang benar-benar mantap atau top markotop !

Walaupun demikian, saya cukup bersyukur bahwa calon pemimpin negeri ini sudah melek infrastruktur dan berani berfikir besar. Bukan perkara gampang mengusulkan konsep raksasa tersebut. Perlu berfikir lebih tenang dan tidak terburu untuk mengembangkan itu tersebut. Berani berfikir besar itu sudah kemajuan Indonesia. Kita bertugas membantu menyempurnakan ide mereka nanti. (Lihat Surat Usulan Pengembangan Tol Laut)

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Proyek Indonesia and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Adu Konsep Tol Laut Capres Jokowi dan Prabowo, Mana yang Terbaik?

  1. faris says:

    izin share pak, mantap tulisanya.

  2. Kunto rongamadji says:

    Terimakasih pencerahannya , very good. Mohon ijin share.

  3. Kunto rongamadji says:

    Tulisan yang sangat bagus, terimakasih atas pencerahannya dan mohon ijin share untuk nambah pengetahuan rekan2 kami yg sudah manula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>