Pada proyek yang berada pada remote area, sering menghadapi kendala-kendala yang disebabkan oleh iklim, baik iklim musim hujan maupun musim kemarau serta keterbatasan dan kondisi alam lainnya. Kondisi ini akan semakin berat apabila proyek berada pada luar pulau Jawa yang berada jauh di dalam hutan dimana perlu menyusuri sungai dan jalan darat yang sangat jauh.

Pada musim hujan, pengiriman material dan alat dari sumbernya yang kebanyakan dari luar pulau, akan menghadapi masalah tingginya gelombang laut yang berisiko merusak atau menjatuhkan material ke laut hingga menenggelamkan kapal. Di samping itu, akses darat yang umumnya berupa jalan tanah, akan sering dalam kondisi sangat licin, bahkan terputus oleh lubang lumpur yang parah dalam jumlah yang banyak. Kondisi jalan darat saat musim hujan tersebut, berisiko membuat truk material tergelincir keluar jalur, terguling bahkan terjadi kecelakaan.

Sebaliknya pada musim kemarau, akses sungai sering menjadi kering sehingga tidak dapat dilintasi oleh kapal muatan material dan alat untuk proyek. Kondisi sungai yang mengering, sering berisiko kandasnya kapal dalam waktu yang lama. Di samping itu, pada musim kering juga menyebabkan jalan akses darat sangat berdebu yang cukup berbahaya jika kendaraan melaju dengan kecepatan cukup kencang, karena jarak pandang yang terbatas.

Artikel ini akan sedikit berbagi pengalaman pelaksanaan proyek yang sangat berat namun sarat inovasi yang membuatnya dapat menyelesaikan pengiriman material cargo proyek dengan cukup lancar. Proyek tersebut adalah proyek EPC Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Bangkanai yang terletak pada Desa Muara Teweh Kalimantan Tengah.

Lokasi Proyek PLTMG Bangkanai

Pada proyek tersebut, hampir seluruh material berasal dari luar pulau Kalimantan. Sehingga pengiriman material harus melalui jalur laut. Untuk menuju ke lokasi proyek, setelah menempuh jalur laut, selanjutnya menyusuri sungai barito sejauh +/- 300 km hingga ke desa Lahei (dekat kota Muara Teweh). Berikutnya material diangkut ke lokasi proyek via jalan tanah sejauh +/- 40 km dengan kondisi jalan yang sangat parah dan belasan jembatan kayu yang mulai lapuk.

Kondisi rute transportasi material seperti yang telah dijelaskan sangat berisiko terhadap jadwal dan biaya proyek, sehingga perlu dilakukan mitigasi dan perencanaan pengiriman material yang baik. Berikut ini adalah dokumentasi beberapa risiko yang sering terjadi pada rute tersebut.

Tongkang Kandas Akibat Terjebak Pada Penurunan Muka Air Sungai

Truk Material Tergelincir Akibat Kondisi Jalan Licin dan Rusak Parah

Dalam merencanakan transportasi material diketahui ada beberapa key factor yaitu pada informasi risiko yang memadai yang menunjukkan kelayakan delivery cargo pada berbagai kemungkinan/opsi akses (akses utama / alternatif), jenis cargo (Light / general / heavy cargo), dan waktu serta analisis/prediksi musim untuk memberikan informasi hambatan (constraint) yang berisiko yang perlu di-assess dan dimitigasi secara komprehensif.

Strategi yang dilakukan adalah dengan membuat tabel informasi kelayakan delivery cargo atau cargo delivery feasibility (CDF) yang menunjukkan tiga jenis kondisi risiko (rendah, sedang, dan tinggi) pada setiap jalur akses baik akses rute utama maupun alternatif dan pada tiap jenis cargo (ringan, sedang, dan berat). Tabel informasi tingkat risiko dibuat dalam waktu satu tahun dimana telah mencakup seluruh iklim yang terjadi dalam siklus setahun. Adapun tabel informasi risiko cargo delivery ditunjukkan pada Gambar berikut ini

Peta / Tabel Kelayakan Transportasi Kargo Proyek Remote Area

Peta informasi ini secara otomatis akan menginformasikan lokasi sumber material, jenis rute (utama atau alternatif), dan jenis cargo (ringan, sedang, dan berat) yang aman atau layak pada waktu tertentu. Berdasarkan informasi ini, maka dapat direncanakan suatu rencana pengiriman cargo dengan biaya paling efisien dan risiko yang paling kecil sedemikian jauh lebih lancar. Manfaat peta risiko ini adalah menghemat biaya pengiriman akibat risiko yang jauh lebih kecil.

Sebagai contoh adalah suatu tongkang yang mengangkut material di sungai, akan dapat diisi material dengan load factor 90-100% kapasitasnya apabila kondisi air sungai sangat kecil risikonya. Namun apabila kondisi air sungai tidak diyakini tingkat risikonya, maka load factor menjadi 50-70% kapasitas. Perbedaan load factor memberikan konsekuensi biaya yang sangat signifikan. Manfaat yang lain adalah tingkat kepastian jadwal akan semakin tinggi. Sehingga dapat menghindari atau mengurangi risiko klaim akibat idle alat dan idle tenaga kerja.

Dengan adanya tabel/peta kelayakan transportasi cargo tersebut, maka jadwal pengiriman dan langkah mitigasi yang efektif dapat ditentukan dengan baik serta dengan biaya yang efisien. Alhamdulillah proses pengiriman material akhirnya dapat berjalan dengan lancar pada proyek ini. Adapun beberapa dokumentasi dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini

Pengiriman Material Split

Pengiriman Material Silencer

Pengiriman Gas Engine

Referensi : Buku Advanced and Effective Project Management

Untuk melihat daftar artikel ⇒ Table of Content, dan konsultasi Project Management ⇒ Konsultasi. Daftar karya ada pada ⇒ Innovation Gallery, dan daftar riset pada ⇒ Research Gallery

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AlphaOmega Captcha Classica  –  Enter Security Code