Motivasi Pelaku Proyek

Percayakan anda bahwa masalah paling sulit di proyek adalah masalah non-teknis atau yang terkait unsur manusia? Begitulah adanya. Seringkali masalah teknis yang seharusnya gampang menjadi sulit karena masalah non-teknis. Akibatnya, level masalah yang mayor menjadi minor dan yang minor menjadi mayor. Anda sering merasakan ini?

Ini beberapa kasus yang mungkin akan lebih menguatkan hipotesa di atas dalam pelaksanaan proyek, dimana tidak disebutkan secara rinci pihak dan proyeknya untuk menjaga netralitas dan tanpa maksud untuk mendeskriditkan pihak-pihak tertentu, yaitu:

  • Kontraktor mengurangi mutu pekerjaan karena serakah atau ingin mengurangi kerugian.
  • Personil kontraktor melakukan pencurian dengan menjual material sisa proyek tanpa diketahui oleh manajemen proyek.
  • Pemilik proyek dengan sengaja menghambat pembayaran kepada kontraktor yang menjadi kewajibannya dengan alasan adanya cacat pekerjaan karena ingin mendapatkan keuntungan lebih (Proyek Swasta).
  • Pengawas menghambat dokumen tertentu yang harus segera diselesaikan dengan alasan bermacam-macam karena tujuan tertentu yang seharusnya tidak perlu.
  • Perencana menolak ide atau usulan perubahan design karena rasa gengsi.
  • Penduduk memblokade akses masuk atau berdemo karena ingin mendapatkan keuntungan instant adanya proyek.
  • Dan kasus-kasus lainnya

Pada beberapa kasus nyata di atas terlihat bahwa faktor non-teknis berperan sangat besar dalam peningkatan level permasalahan (kompleksitas) proyek. Manusia sebagai unsur utama dibalik aspek non-teknis adalah penyebab utamanya dengan berbagai motif. Sehingga di dalam pelaksanaan proyek, diperlukan skill terkait masalah non-teknis di samping skill yang bersifat teknis. Sekarang, mari kita lihat dasar pengetahuan mengenai motivasi manusia tersebut.

 

Motivasi Manusia

Rumitnya motivasi manusia disebutkan dari berbagai referensi ilmiah hasil penelusuran sebagai berikut:

  • Mitchell (dalam Winardi, 2002) motivasi mewakili proses-proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu.
  • Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
  • Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ).
  • McDonald (dalam Soemanto, 1987) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi

Motivasi sebagai proses batin atau proses psikologis dalam diri seseorang, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain :

A. Faktor Ekstern

  • Lingkungan kerja
  • Pemimpin dan kepemimpinannya
  • Tuntutan perkembangan organisasi atau tugas
  • Dorongan atau bimbingan atasan

B. Faktor Intern

  • Pembawaan individu
  • Tingkat pendidikan
  • Pengalaman masa lampau
  • Keinginan atau harapan masa depan.

Sumber lain mengungkapkan, bahwa didalam motivasi itu terdapat suatu rangkaian interaksi antar berbagai faktor. Berbagai faktor yang dimaksud meliputi :

  • Individu dengan segala unsur-unsurnya : kemampuan dan ketrampilan, kebiasaan, sikap dan sistem nilai yang dianut, pengalaman traumatis, latar belakang kehidupan sosial budaya, tingkat kedewasaan, dsb.
  • Situasi dimana individu bekerja akan menimbulkan berbagai rangsangan: persepsi individu terhadap kerja, harapan dan cita-cita dalam keja itu sendiri, persepsi bagaimana kecakapannya terhadap kerja, kemungkinan timbulnya perasaan cemas, perasaan bahagia yang disebabkan oleh pekerjaan.
  • Proses penyesuaian yang harus dilakukan oleh masing-masing individu terhadap pelaksanaan pekerjaannya.
  • Pengaruh yang datang dari berbagai pihak : pengaruh dari sesama rekan, kehidupan kelompok maupun tuntutan atau keinginan kepentingan keluarga, pengaruh dari berbagai hubungan di luar pekerjaan
  • Reaksi yang timbul terhadap pengaruh individu
  • Perilaku atas perbuatan yang ditampilkan oleh individu
  • Timbulnya persepsi dan bangkitnya kebutuhan baru, cita-cita dan tujuan

Teori Motivasi Maslow

Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

  • Kebutuhan Fisiologis, Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
  • Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan, Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
  • Kebutuhan Sosial, Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
  • Kebutuhan Penghargaan, Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
  • Kebutuhan Aktualisasi Diri, Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Motivasi dan Faktornya Pada Pelaku Proyek

Belum ditemui adanya penelitian khusus mengenai motivasi dan faktor pendorongnya yang ada pada pelaku proyek konstruksi di Indonesia. Ini bisa jadi bahan riset. Sehingga identifikasi hanya berdasarkan pengalaman selama mengerjakan proyek. Identifikasi ini penting dalam rangka pelaksanaan proyek yang lebih baik.

Penulis mencoba mentrigger penelitian mengenai hal ini. Pelaku proyek dibagi berdasarkan institusi Pemerintah, BUMN, dan Swasta. Lalu motivasi diisi pada tiga yang dianggap paling berpengaruh. Tabel ini mungkin akan bermanfaat dalam melakukan komunikasi pada pelaku proyek tersebut. Namun perlu diingat bahwa tabel tersebut masih berupa judgement yang belum melalui hasil penelitian yang berarti adalah hipotesa sementara hingga ada penelitian yang menganalisis hal serupa. Penilaian murni dalam konteks pengalaman selama mengerjakan proyek.

Berikut ini adalah identifikasi dan analisis motivasi berdasarkan teori motivasi di atas terutama teori motivasi Maslow, yaitu:

 

Tabel : Motivasi pelaku proyek

Pada tabel terlihat bahwa terdapat tiga motivasi utama pelaku proyek, yaitu fisiologis, keamanan / keselamatan, dan penghargaan. Institusi pemerintah dan BUMN terlihat lebih condong pada motivasi keamanan / keselamatan terutama terkait pada berbagai kejadian yang terkait dengan hukum. Sedangkan institusi swasta lebih condong pada motivasi sosial.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Leadership & Project Manager, Manajemen Stakeholder and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>