Perbedaan Budaya Untuk Kolaborasi Lebih Baik Pada Proyek

Pada era globalisasi, akan banyak terjadi kerja sama pelaksanaan proyek dengan pihak dari luar negri. Proyek seperti ini dapat disebut sebagai proyek internasional dimana dalam pengelolaannya terdapat beberapa perbedaan dibandingkan dengan proyek biasa. Perbedaan yang paling besar adalah terletak pada pengelolaan stakeholder dari luar yang memiliki perbedaan budaya yang dalam hal ini adalah budaya dalam pelaksanaan proyek. Sering terjadi konflik akibat kondisi ini yang tidak dikelola dengan baik.

Sehingga perlu untuk mengetahui karakter umum penduduk suatu negara atau wilayah. Karakter dapat melingkupi perspektif dan atau budaya mereka terhadap kontrak dan janji, tingkat detail suatu perencanaan, cara bekerja, dan karakter khas lainnya yang mempengaruhi proyek. Pemahaman mengenai karakter ini berguna sebagai informasi tambahan dalam analisis stakeholder pada proyek internasional atau melibatkan pihak asing.

Model perbedaan budaya, The Lewis (Lewis – 1990) berbagai bangsa di dunia dapat digunakan untuk menganalisis stakeholder pada proyek internasional. Gambar berikut menunjukkan Model The Lewis ;

 

Gambar 1. Model The Lewis

Konsekuensi atas perbedaan budaya dan cara berfikir dapat berdampak pada pelaksanaan proyek. Sebagai contoh adalah bahwa disebutkan bahwa bagi orang Jepang, kontrak adalah tidak berarti tidak dapat diubah jika banyak hal akan berubah sehingga kontrak perlu disesuaikan. Bagi orang Finlandia dan Swiss, kontrak adalah hal yang sakral yang harus diikuti jika telah ditandatangani. Namun bagi orang Italia, kontrak dapat dinegosiasikan. Sehingga kompetensi atau pemahaman atas perbedaan budaya ini menjadi penting bagi project manager yang bekerja-sama dengan orang yang berasal dari negara lain.

Berbagai analisis atas model The Lewis di atas telah menunjukkan bahwa perbedaan budaya antar bangsa dan antar regional di seluruh dunia pada dasarnya menghasilkan kondisi bahwa mereka saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Sehingga konsep pengelolaan stakeholder dengan perbedaan budaya harus mengacu pada konsep saling membutuhkan.

Penting bagi project manager untuk mampu mengenal dan memahami bagaimana perbedaan tidak menjadi masalah, bahkan harus diarahkan untuk saling mengisi dengan kolaborasi yang baik sehingga pengelolaan proyek dapat berjalan dengan lebih lancar.

 

Referensi : Buku Advance & Effective Project Management – Budi Suanda S.T., M.T., 2016

 

 

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Stakeholder and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>