Wajah Lack of Knowledge Konstruksi Indonesia

Topik Lack of Knowledge atas konstruksi Indonesia diangkat menjadi special posting karena memang dianggap sebagai salah satu akar masalah yang terjadi. Kegagalan konstruksi termasuk carut marut manajemen proyek, merupakan indikasi utama yang tak terbantahkan. Inilah wajah konstruksi kita yang sangat mendesak untuk dibenahi.

 

Keruntuhan jembatan Kutai Kertanegara (Jembatan Kukar) telah diidentifikasi penyebabnya melalui proses investigasi oleh para ahli seperti yang dijelaskan pada posting sebelumnya (Lihat disini). Penyebab yang merupakan akar permasalahannya adalah LACK of KNOWLEDGE terkait hal-hal yang mendasar tentang teknik sipil seperti pengetahuan mengenai teknik material, konsep design yang memperhatikan keselamatan pengguna, metode pemeliharaan, dan lainnya. Seperti pada tulisan tersebut, ini sungguh menyesakkan.

Kejadian tersebut lalu sepertinya berpotensi berulang pada jembatan Siak III yang sedang diributkan mengenai defleksi besar saat umur jembatan baru dua tahun. Semoga saja ini bisa diatasi dengan baik.

Penulis lalu menyimpulkan bahwa jangan-jangan lack of knowledge adalah fenomena yang bisa berdampak serius pada dunia konstruksi kita. Sepanjang menjadi praktisi konstruksi, penulis mencoba menguji fenomena tersebut dalam beberapa kasus yang terjadi. Adapun nama proyek dan pihak yang terkait tidak disebutkan untuk menjaga netralitas tulisan ini. Berikut adalah kejadian demi kejadian yang mungkin berkaitan dengan fenomena tersebut yang disusun berdasarkan urutan waktu:

  1. Seorang perencana yang dianggap senior keliru dalam menghitung lendutan pelat saat perencanaan. Sehingga dalam pelaksanaan terjadi lendutan besar yang menyebabkan perlu perubahan design dengan menambah tebal pelat.
  2. Pada sistem pelat lantai one-way slab karena dikerjakan secara half-slab precast, perencana minta untuk menambah tulangan arah tegak lurus tulangan utama dengan alasan khawatir.
  3. Pada pekerjaan struktur balok kantilever untuk struktur kanopi, seorang pelaksana tertinggal memasang stek tulangan utama. Tulangan tersebut lalu dipasang dengan cara chemical anchorage. Masalah terjadi ketika pelaksana merasa sudah memasang stek sesuai jumlah dan panjangnya, namun posisi tulangan yang dipasang ternyata lebih rendah dari yang seharusnya. Pelaksana tidak sadar bahwa posisi tulangan sangat penting terhadap kapasitas momen balok kantilever. Akhirnya dilakukan penambahan tulangan yang dilakukan dengan cara yang sama untuk menjaga kapasitas momen balok tersebut.
  4. Dalam RKS, Perencana menentukan cara evaluasi beton dengan cara tersendiri yang tidak mengacu pada standart atau code yang berlaku di Indonesia. Penulis lalu berinisiatif mengusulkan ACI 308-02 sebagai dasar evaluasi beton yang akhirnya bisa diterima. Kasus tidak dievaluasinya mutu beton dengan benar adalah kasus yang paling sering terjadi.
  5. Pada suatu proyek, perencana melakukan VE dengan mendesign pelat lantai dengan tebal yang tipis. Mungkin secara hitungan sudah benar, tapi perencana lupa bahwa tipisnya pelat akan mempersulit dalam hal menjaga posisi tulangan yang vital dalam menjaga kapasitas momen. Seringkali dalam pelaksanaan proyek, konsultan pengawas hanya memeriksa jumlah dan ukuran tulangan, tanpa memeriksa jarak dan ketinggian tulangan.
  6. Seorang pelaksana melakukan over dalam order beton mutu K-300 untuk struktur balok dan pelat lantai. Pada saat diketahui bahwa ada beton sisa dalam jumlah cukup banyak, pelaksana tersebut berinisiatif memanfaatkan kelebihan beton untuk cor kolom dimana sudah dalam kondisi yang siap. Pelaksana tidak memperdulikan bahwa mutu beton kolom harus lebih tinggi yaitu K-400. Beruntung saat itu atas hasil diskusi, demi menjaga mutu konstruksi, penulis merekomendasikan untuk membongkar beton kolom yang salah mutu beton.
  7. Pada pekerjaan tangga dengan precast, terjadi lendutan dan keretakan struktur saat handling dan erection. Pelaksana lalu beranggapan bahwa ini terjadi karena kurangnya tulangan. Padahal ini karena metode pelaksanaan tidak dijalankan dengan baik. Pelaksana tidak memasang support khusus yang direncanakan untuk mengurangi momen akibat proses erection.
  8. Pada pekerjaan pengecoran pelat lantai dua dimana pelat lantai dasar (satu) belum dicor, perancah tidak duduk dengan mantap di atas tanah. Perancah hanya dialasi dengan balok kayu 6/12 yang tidak dihitung apakah kuat dalam menahan beban. Akibatnya pelat lantai dua tidak rata di bagian bawahnya. Pada kasus serupa, malah terjadi keruntuhan saat dilakukan pengecoran.
  9. Konsultan QS memasukkan pekerjaan masa pemeliharaan dalam item BQ pada bagian preliminary. Sehingga pekerjaan tidak pernah bisa 100%.
  10. Pada proyek swasta, pemilik proyek sering melakukan aplikasi material yang supply by Owner (SBO). Pernah terjadi kesalahan pengiriman mutu tulangan yang seharusnya fy=500 MPa, tapi yang dikirim bermutu fy=400 MPa. Mungkin ingin menghemat, yang justru terjadi adalah lebih mahal karena kolom terpaksa diperkuat dengan perkuatan yang mahal.
  11. Pada proyek swasta, sering terjadi kasus dimana konsultan pengawas minta penambahan besi yang berlebihan pada struktur dengan rasio tulangan yang tinggi tanpa mempertimbangkan problem overrainforced.
  12. Design pelat lantai dasar seringkali berupa pelat tipis dengan konsep slab on ground tanpa memperhatikan kekuatan jenis tanah dasar yang berpotensi pelat lantai akan gampang terjadi penurunan dan retak. Masalah ini dapat diselesaikan setelah diusulkan untuk mengubah konsep struktur menjadi suspended slab dan atau dilakukan soil improvement.
  13. Perencana keliru dalam mendesign sistem Tata Udara pada ruang operasi rumah sakit. Dimana tidak diperhitungan adanya filter super halus yang menghambat aliran udara dan exhaust fan serta peralatan ruang operasi menghasilkan panas berlebih dan ruang operasi yang harus bertekanan lebih tinggi. Akibatnya ruang operasi tidak dingin seperti yang diharapkan yang dapat memicu masalah lain dalam proses bedah.
  14. Perencana merancang struktur gedung publik dengan kondisi strong beam – weak column. Ini jelas menyalahi konsep design yang mendasar. Beruntung penulis sempat melakukan review design dan diketahui bahwa terjadi masalah. Design lalu diubah. Penyebab masalah sangat sederhana, bahwa drafter salah menterjemahkan output design dari software ke dalam gambar for-construction.
  15. Pada suatu proyek di daerah dengan tanah lunak dengan kontrak unit price, direncanakan kedalaman tiang pancang adalah 30 m. Namun secara aktual, ternyata kedalaman beberapa tiang pancang awal adalah 33 m. Konsultan pengawas lalu menginstruksikan agar pemancangan cukup sampai 30 m saja karena harus menjaga biaya kontrak. Akibatnya, terjadi kondisi tiang yang tidak sesuai kapasitas rencana setelah dilakukan test PDA. Terjadi perubahan design dengan penambahan struktur untuk memperkuat bagian struktur dengan kedalaman tiang pancang 30 m.
  16. Pada beberapa kasus proyek, konsultan pengawas melakukan inspeksi saat sebelum dilakukan pengecoran hanya dengan cek kebersihan bekisting dan tulangan tanpa cek tulangan yang terpasang. Penulis menginstruksikan kepada pelaksana agar menjaga pemasangan tulangan yang harus sesuai dengan design walaupun tidak dicek untuk menjaga kapasitas struktur.
  17. Dalam suatu pengiriman heavy cargo di darat pada tanah lunak, vendor forwarder beranggapan bahwa dengan memasang pelat beton tebal 30 cm sudah cukup untuk menahan beban berat. Ini jelas kesalahan fatal. Design dan pekerjaan lalu diambil alih untuk menjaga safety dalam proses pengiriman heavy cargo.

Masih banyak kejadian lain yang menunjukkan lemahnya pelaku konstruksi di Indonesia atas filosofi ilmu (Lack of Knowledge) yang harus dikuasai dalam menjalankan pekerjaannya secara profesional. Pengalaman-pengalaman tersebut diyakini juga terjadi pada pengerjaan proyek konstruksi lainnya. Sehingga tidak berlebihan disimpulkan bahwa wajah konstruksi kita yang penuh dengan lack of knowledge adalah fenomena yang harus serius untuk dibenahi. Tentu amat disayangkan apabila insinyur lulusan kita yang bertabur nilai tinggi hingga cum laude tapi harus terhenti hanya di atas kertas ijazah dan transkrip nilai, bukan secara aplikatif yang nyata pada praktiknya.

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Sumber Daya Manusia, Proyek Indonesia and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Wajah Lack of Knowledge Konstruksi Indonesia

  1. Ari Kurniawan says:

    Mau tanya pak, bagaimana cara penambahan Plat kantilever dengan Balok anak di ujung kantilever tsb. SAAT kondisi pengecoran yang tidak bersamaan (perubahan desain, lalu terjadi penambahan kantilever) ?
    Terima kasih

    • budisuanda says:

      Ada dua metode, yaitu dengan chemical anchorage baja tulangan ke balok anak kemudian pasang bekisting dan cor. Metode kedua dengan dengan baja profil tp tetap diangkur ke balok anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>