Pelajaran Menyesakkan dari Runtuhnya Jembatan Kutai

Apabila penyebab keruntuhan suatu jembatan adalah faktor selain perencanaan atau pelaksanaan, mungkin kita tidak akan terkejut. Tapi apabila keruntuhan suatu jembatan yang merupakan hasil karya banyak insinyur Indonesia disebabkan oleh faktor krusial yaitu pengetahuan dan kemampuan yang mendasar, tentu sangat menyesakkan.

 

Keruntuhan Jembatan Kukar

Runtuhnya jembatan Kukar (Kutai Kertanegara) telah menghebohkan bangsa Indonesia apalagi dunia konstruksi kita. Jembatan bentang panjang (710 m) berumur 10 tahun yang cantik itu ambruk dalam hitungan detik dan memakakn korban cukup banyak yaitu 24 orang tewas dan 12 orang dinyatakan hilang.Jembatan ini direncanakan oleh PT. Perencana Jaya dan pembangunan atau konstruksi oleh PT. Hutama Karya serta Dinas PU Kukar sebagai Pemilik Proyek.

 

Gambar Jembatan Kutai Kertanegara

Pada tulisan terdahulu yang berjudul “Jembatan Kukar Runtuh, Apa Penyebabnya?” disebutkan suatu hipotesis mengenai runtuhnya jembatan tersebut berdasarkan data dan fakta serta beberapa pendapat yang ada saat itu, yaitu:

“pada dasarnya jembatan telah mengalami masalah yang berpotensi pada keruntuhan sehingga perlu  perbaikan dan perawatan. Namun proses perbaikan dan perawatan tersebut tidak tepat sehingga memicu keruntuhan yang lebih cepat.”

Keruntuhan jembatan yang bersifat progressive collaps sangat tiba-tiba tersebut tentu bertentangan dengan konsep perencanaan yang seharusnya bahwa apabila bangunan sipil mengalami keruntuhan akibat faktor yang tidak diperkirakan, maka design harus semaksimal mungkin menyelamatkan banyak orang dengan masa keruntuhan yang cukup lama dan tanda-tanda khusus.

 

Gambar Jembatan Kukar yang runtuh

 

Hasil Investigasi Keruntuhan Jembatan Kukar

Departemen PU-setelah bekerja beberapa bulan, telah mengumumkan hasil investigasi terkait penyebab keruntuhan jembatan tersebut pada 11 Januari 2012. Investigasi tersebut dilakukan oleh Tim Independen yang ditunjuk PU yang beranggotakan 11 orang pakar di bidangnya dari Universitas UGM, ITS, UI, dan ITB serta dari BPPT dan Asosiasi Kontraktor.

Adapun hasil investigasi tim independen dari berbagai media dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Keruntuhan jembatan dimulai dari putusnya hanger yang sedang diangkat (jacking) saat proses pemeliharaan jembatan.
  2. Putusnya hanger akibat kelebihan tegangan pada sistem hangernya yang dalam hal ini adalah elemen sambungan (clamp) antara hanger dan kabel utama yang merupakan elemen kritis dari struktur jembatan tersebut. Tambahan tegangan akibat tambahan gaya beban yang mencapai dua kali dari yang seharusnya terjadi.
  3. Tambahan tegangan menyebabkan kabel hanger mengalami regangan tambahan sepanjang 15 cm. Putusnya kabel karena tambahan tegangan sudah melebihi kapasitas aktual sistem hanger.
  4. Material sambungan telah mengalami perlemahan atau penurunan kapasitas akibat kelelahan bahan (fatique), korosi, dan perubahan bentuk geometri akibat bergesernya titik-titik dari posisi sebelumnya.
  5. Bahan atau material sambungan tidak sesuai spesifikasi dimana hasil test material menunjukkan digunakan material besi tuang / cor yang seharusnya terbuat dari baja dengan maksud agar material tersebut tidak getas dan dapat memberikan peringatan jika terjadi kegagalan. Pemilihan material yang salah, menyebabkan kegagalan bersifat getas atau secara tiba-tiba.
  6. Ditemukan juga bahwa kegagalan sambungan batang hanger dan kabel utama akibat akumulasi masalah sejak jembatan direncanakan. Pekerjaan pemeliharaan yang tidak terjadwal dengan baik menjadi pemicu kegagalan tersebut.
  7. Telah adanya deformasi cukup signifikan sebelum keruntuhan jembatan.
  8. Adanya aplikasi yang bersifat over simplified yang menyangkut pengetahuan umur struktur jembatan.
  9. Disimpulkan bahwa keruntuhan jembatan adalah akumulasi berbagai masalah sejak proses perencanaan, pembangunan, pengoperasian, hingga pemeliharaan berupa lack of knowledge berupa pengetahuan mengenai umur struktur jembatan, sifat material, keseimbangan, sistem sambungan, erosi bahan, dan pengujian bahan. Disebutkan pula bahwa ada kelemahan pada pengetahuan mengenai jembatan gantung karena hanya ada tiga jembatan gantung di Indonesia.

 

Gambar Clamp yang patah sebagai pemicu keruntuhan jembatan

 

Keruntuhan Knowledge Insinyur Jembatan

Keruntuhan jembatan ini, sebenarnya adalah indikasi kuat bahwa knowledge para Insinyur Jembatan yang terlihat tidak menguasai prinsip dasar knowledge terkait jembatan terutama yang bertipe jembatan gantung (suspended bridge). Bahkan tentang knowledge material pun terlihat fatal sehingga mengabaikan konsep utama dalam teknik sipil terkait keselamatan pengguna bangunan publik. Belum lagi kesalahan melakukan pekerjaan pemeliharaan dengan open traffic dan metode pemeliharaan yang tidak sesuai.

Ini harus ditanyakan kenapa terjadi lack of knowledge yang sebenarnya adalah pengetahuan dasar teknik jembatan. Para insinyur seperti melupakan begitu saja tentang knowledge dasar yang sangat penting. Inilah keruntuhan yang sesungguhnya. Maksudnya, dengan meninggalkan atau melupakan pemahaman konsep penting / filosofi atas knowledge dasar keteknikan, akan menyebabkan output Insinyur akan turun bahkan ke titik yang rendah yang justru membahayakan. Tidakkah ini begitu menyesakkan?

Pelajaran penting ini tidak hanya terkait tentang jembatan gantung, tapi terutama adalah mengenai bagaimana lulusan saat ini menjaga dan terus update atas knowledge penting agar tidak kehilangan the most important sense of a professional engineer : SENSE of ENGINEERING.

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Proyek Indonesia, Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pelajaran Menyesakkan dari Runtuhnya Jembatan Kutai

  1. Heigus says:

    Ulasan mas Budi cukup bagus. Sebagai tambahan Menurut pandangan saya adalah sbb:
    1. Kesalahan Utama dan terpenting adalah perencanaan dan stuktur tiang pancang pada anchor block, shg mengalami pergerakan 2cm pertahun.
    2. Akibat pergerakan itu menyebabkan lendutan di main span jembatan. In dikasih pergerakan anchor block bisa di lihat pada anchor bolt balok girder approach span
    3. Mengenai kesalahan pemilihan material saya rasa tidak sepenuhnya tepat, Karena asumsi elongasi yg terjadi, diharapkan hanya pada main cable, shg di pilih spiral strand. Dgn asumsi ini shg hanger dan clamp hanger harus rigid dan di pilih gewi bar dan cast iron dgn kapasitas guts 200 t (Sudah mengadop total dead Load dan liveload)
    4. Metode pelaksanaan pada Saat under construction dilakukan prechambering Sebelum dilakukan pengecoran Lantai jembatan. Pelaksanaan prechambering ini dilakukan Sebelum total dead load, Karena hanya dibutuhkan hollow jack kapasitas 50t Utk memposisikan rangka pada elevasi chamber yg Sudah memperhitungkan TDL+LL. Dan posisi sambungan rangka dibuat sendi pin.
    5. Yg perlu diperhatikan pada Saat prechambering ini adalah perilaku main cable dan sangat dihindari terjadi nya antiking pada main cable, shg pelaksanaan pengejackan harus bertahap, berurutan dan berulang Dari Tengah ke pinggir.
    6. Setelah didapat chamber yg diinginkan baru sambungan rangka dirubah menjadi fixed join dan dilakukan pengecoran
    7. Seharusnya metode perbaikannya mengikuti sequence yg sama dengan pemsangan. Bedanya beban yg harus diangkat adalah total dead load, shg memerlukan hydraulic jack dgn kapasitas yg Lebih besar 100t-150t
    8. Harus dihindari antiking pada main cable yg Akan mengakibatkan tegangan berlebih pada hanger disamping2nya.
    9. Intinya Kalo Menurut saya. Kesalahan pada metode perbaikan jembatan.

    Thank
    Heigust Iqbal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>