Lesson Learned Atas Kegagalan Investasi Pada Proyek Euro Disneyland

Pada akhir tahun 1984, manajemen Disney baru berencana untuk investasi dengan membuka taman bermain baru di Eropa. Keberhasilan Tokyo Disneyland, menjadi inspirasi membuka tempat hiburan serupa di benua Eropa dengan investasi yang cukup besar. Namun sayangnya, proyek ini mengalami kegagalan akibat proses kelayakan yang keliru. Mari kita ambil lesson learned-nya.

Rencana besar ini dimulai dengan mengkaji daerah mana di Eropa yang dianggap paling baik untuk menjadi lokasi baru hiburan Disney. Berdasarkan hasil penelitian tim Disney, dipilih wilayah Eropa Barat dengan beberapa pertimbangan, yaitu :

  • Ekonomi Eropa Barat-yang mencakup 320 juta penduduk-telah tumbuh dengan stabil selama beberapa tahun ke belakang (1980-an).
  • Masa liburan warga di Prancis atau Jerman berkisar selama 5 minggu, sedangkan di Amerika Serikat hanya sekitar 2-3 minggu, yang akan meningkatkan kesempatan untuk menarik pengunjung lebih dari satu hari.
  • Potensi pengunjung dari Eropa cukup besar, melihat data pengunjung Disneyland dan Walt Disney World di Amerika Serikat pada pertengahan 1980-an. Terdapat kurang lebih 2.800.000 pengunjung dari Eropa ke dua lokasi taman bermain tiap tahunnya, kurang lebih mencapai 20% dari total pengunjung di kedua taman bermain.
  • Penjualan merchandise Disney di Eropa juga mencapai 25% dari total penjualan merchandise di kedua taman.

Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh manajemen Disney ditentukan lokasi Euro Disney di Marne-La-Valle, Prancis. Proyek Euro Disney dilakukan secara bertahap dan akhirnya dibuka pada 12 April 1992. Pembukaan Euro Disneyland diharapkan dapat mengembangkan usaha Disney.

Setelah beroperasi, Euro Disneyland menghadapi berbagai permasalahan, terutama finansial. Pada 18 bulan setelah pengoperasian Euro Disney mengalami kerugian hingga USD 1 Miliar. Euro Disney bahkan harus meminjam USD 175 Juta hanya untuk dapat bisa beroperasi. Euro Disney membutuhkan modal baru untuk mebiayai penyelesaian konstruksi tahap I dan juga pengembangan lanjutan dari kawasan bermain. Oleh karena itu Euro Disney melakukan peminjaman ke bank-bank di Prancis dan lembaga finansial lainnya. Utang ini rencananya akan dibayarkan melalui pengembangan properti dan penjualan hotel-hotel.

Namun ternyata rencana tersebut tidak berjalan lancar. Kejatuhan pasar properti Prancis membuat Euro Disney tidak dapat menjual hotel-hotelnya. Hal ini diperparah dengan rendahnya tingkat hunian hotel. Lebih jauh lagi, tingkat suku bunga melebihi dari yang diperkirakan oleh Euro Disney yang pada akhirnya menyangsikan pembangunan kawasan tahap II. Hal ini berarti tidak akan ada cukup wahana atau atraksi untuk menarik pengunjung berkunjung lebih dari 1 hari, yang nantinya akan meningkatkan tingkat hunian hotel.

Kemampuan Euro Disney untuk menghasilkan keuntungan ditentukan oleh dua faktor utama yaitu jumlah pengunjung dan lama kunjungan. Meskipun total kunjungan pada tahun pertama meraih 9,5 juta, nilai ini masih di bawah target 11 juta pengunjung. Durasi kunjungan juga dilaporkan jauh di bawah rencana (Toy, 1994 dalam Spencer, 1995). Adapun hal—hal yang menyebabkan masalah yang dialami Euro Disneyland dianalisis sebagai berikut.

  • Kualitas dan standar desain – Disain taman bermain di Amerika Serikat dianggap tidak sesuai untuk pasar Eropa. Desain Euro Disney mengikuti desain Magic Kingdom di California dianggap terlalu dibuat-buat bagi masyarakat Eropa di mana kastil-kastil dan raja dan ratu asli memang benar-benar pernah ada di Eropa (lihat Gambar 2.18). Sebagai hasilnya, diperlukan perbaikan yang menimbulkan kenaikan biaya sebesar USD 2 Miliar (Economist 1992, Gumbel dan Turner 1994; dalam Spencer, 1995).
  • Pengaruh musim – Musim dingin di Paris lebih tidak dapat diperkirakan. Cuaca buruk dari November hingga Maret menurunkan jumlah kunjungan di bawah ekspektasi. Euro Disney nampaknya meremehkan pentingnya cuaca hangat pada kunjungan musim dingin (Laitamaki, 1994, Soloman, 1994; dalam Spencer, 1995).
  • Perbedaan kebiasaan anak membolos – Tidak seperti orang Amerika, orang Eropa tidak akan membiarkan anak-anaknya bolos untuk mengunjungi Euro Disney. Orang Eropa menganggap sekolah sangat penting. Mereka sangat tidak mungkin akan mengajak anak-anaknya bolos sekolah untuk alasan tidak penting seperti berkunjung ke taman bermain (Laitamaki, 1994 dalam Spencer, 1995). Hal ini menurunkan jumlah kunjungan, khususnya pada periode 10 bulan sekolah.
  • Perbedaan kebiasaan penggunaan dana liburan – Tidak seperti orang Amerika, orang Eropa lebih menghemat dana liburan karena waktu liburan yang lebih lama. Waktu liburan orang Eropa sekitar 3-4 minggu mengharuskan mereka untuk menghemat dana liburan agar dapat bisa berkunjung ke banyak tempat dalam waktu yang lama. Kecil kemungkinan bagi orang Eropa untuk menghabiskan banyak dana liburan untuk mengunjungi Euro Disney selama 2-3 hari (King, 1993, Soloman, 1994; dalam Spencer, 1995). Sebagai hasil, orang Eropa membatasi kunjungan ke Euro Disney hanya 1 hari.

Manajemen Disney sangat bergantung atas nama besar ”Disney” untuk membangun usaha baru yang kadang membuatnya gagal untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi secara menyeluruh asumsi fundamental yang digunakan pembangunan taman bermain baru. Meskipun Disney telah mengidentifikasi masalah cuaca dingin di Prancis, Disney gagal mengatasi ancaman cuaca tersebut dengan merujuk kesuksesan Tokyo Disneyland, walau sama-sama memiliki cuaca dingin. Paris memiliki karakteristik yang berbeda dengan Tokyo. Beberapa hal di bawah ini dapat menjelaskan perbedaannya, yaitu :

  • Penduduk Tokyo lebih banyak 3 kali daripada penduduk Paris (8,3 juta vs 2,3 juta)
  • Pendapatan perkapita Tokyo lebih besar 43% daripada Paris (USD 10.300 vs USD 7.200).
  • Tokyo Disneyland hanya berjarak 6 mil dari pusat Tokyo; Euro Disney berjarak 20 mil dari pusat Paris.
  • Orang Jepang tidak punya alternatif kunjungan taman bermain Disney lain selain Tokyo Disneyland karena taman bermain Disney di California sangat jauh dan biayanya juga akan mahal. Orang Eropa lebih memiliki akses lebih mudah untuk taman bermain Disney di Florida yang lebih besar dan lebih menarik dibanding Euro Disney.
  • Musim dingin di Tokyo jelas berbeda dengan musim dingin di Paris. Jumlah hari hujan atau salju di Paris 15 hari lebih banyak 3 kali dibanding di Tokyo yang 5 hari per bulan.

Proyek investasi ini telah mengalami kegagalan terutama dari kelayakan aspek pasar dan finansial. Sebagai pembelajaran yang penting, dapat disimpulkan beberapa hal penyebab kegagalan atas proyek investasi ini, yaitu :

  • Ketelitian kajian karakteristik pasar Pada proyek ini, terlihat kurang teliti dalam melakukan analisis pasar dimana memperlakukan Paris sama dengan Tokyo yang memiliki perbedaan karakteristik pasar.
  • Kesalahan strategi pengembangan – Euro Disney tidak melakukan analisis finansial dengan baik. Banyak hotel dibangun oleh Euro Disney tanpa menunggu Euro Disney beroperasi terlebih dahulu, padahal masih banyak hotel di sekitar Paris yang dapat menampung pengunjung. Seharusnya, Disney menunggu kesuksesan Euro Disney sebelum membangun hotel-hotel.
  • Kesalahan strategi pricing – Euro Disney meningkatkan harga tiket 20% di atas tiket di Amerika di saat ekonomi di Eropa sedang tidak baik. Hal ini membuat pengunjung semakin berkurang.

 

 

Referensi : Buku Advance & Effective Project Management – Budi Suanda S.T., M.T., 2016

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in International, Manajemen Proyek, Resiko Proyek and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>