Tantangan dan Kebanggaan Insinyur Kontraktor

Profesi Insinyur sebenarnya adalah profesi yang sangat mulia. Terlebih jika insinyur itu bekerja di kontraktor di jaman sekarang. Tantangan pekerjaannya sangat tinggi, apalagi tantangan profesional dan juga jujur yang harus melawan arus jeram nan jahat.

 

Tergelitik

Saya tergelitik menuliskan kisah cita-cita ingin profesional dan juga “jujur” sebagai insinyur Sipil yang bekerja di Kontraktor, setelah membaca suatu artikel yang ditulis oleh Bpk Roni Ardiansyah yang berjudul “Kontraktor jujur” surga tempatnya. Mungkin untuk lebih jelasnya, saya cuplik sedikit tulisan beliau:

…”Kalau begitu, dimakah kita tempatkan karunia yang maha hebat itu? Pengaturan tender semakin menjadi-jadi, kolusi secara ber-jamaah sudah semakin membudaya, upeti yang harus diserahkan kepada pimpro dan panitia lelang sudah menjadi rahasia umum, pemeriksa dan tim audit-pun tidak mau ketinggalan kereta kolusi yang serba modern, sampai kapankah hal ini akan terus berlangsung?

“Kontraktor yang ”jujur” adalah menivestasi dari pengusaha yang menggunakan karunia yang maha hebat ini, mereka mecari nafkah tanpa merugikan dan mengorbankan orang lain, mereka mengerjakan proyek-proyek untuk mendapatkan keuntungan yang wajar tanpa budaya semir. Karena merekalah pembangunan terlaksana dengan baik, pembangunan benar-benar dapat dirasakan sampai rakyat kecil sekalipun, bahkan dapat memberi nilai manfaat yang tiada taranya buat masyarakat pengguna…Dalam suatu haditnya Rasullullah SAW bersabda; “Pedagang yang jujur tempatnya adalah surga, ditempatkan setingkat dengan para nabi.”…

Sebagai insinyur yang bekerja di kontraktor, saya memiliki visi mewujudkan cara kerja yang profesional dan jujur, berintegritas tinggi, dan mampu menjawab tantangan sesulit apapun itu sepanjang dalam koridor teknis. Keberhasilan menjawab tantangan adalah kebanggaan tertinggi bagi insinyur kontraktor dan lebih dari apapun.

Visi itu juga menggambarkan keinginan yang sama dengan tujuan dari artikel Bpk Roni, yaitu keinginan untuk mengubah situasi yang ada. Saya sepakat, itulah cara untuk mengubah dan memajukan dunia konstruksi kita.

Paragraf pertama menyiratkan arus jahat nan kuat yang harus diarungi berlawanan arah jika ingin mewujudkan cita-cita itu. Arus tersebut tentu tidak gampang untuk dilewati. Paragraf itupun hanya mewakili sebagian dari yang sebenarnya terjadi di lapangan. Mencoba melawan arus jahat nan kuat bukanlah cerita gampang, dampak sederhananya adalah urusan gampang jadi sulit apalagi urusan yang memang sulit. Masih ingat kisah Insinyur Kabul yang galau? silahkan baca (klik disini)

 

Apa Sih Tantangannya?

Berikut ini hanyalah sebagian kasus yang dihadapi sebagai gambaran contoh:

  • Pada suatu pelat lantai bangunan yang didesign secara slab on ground, perencana tidak sadar jika tanah di bawahnya adalah clay yang jahat. Lalu diusulkan perubahan menjadi suspended slab. Dalam claim pekerjaan tambah-kurang prosesnya dipersulit oleh Panitia Peneliti Kontrak yang memaksa meminta DP dan selanjutnya dicurigai melakukan mark-up oleh auditor.
  • Ketika sudah mendatangkan AC khusus yang sesuai spesifikasi namun ternyata dianggap kurang dingin lantaran kesalahan design perencana, pihak Owner menuntut untuk diganti yang baru yang memiliki kapasitas lebih tinggi. Bukannya design tanggung jawab perencana?
  • Pada pekerjaan yang harus dikerjakan secara lembur, pengawas menolak memberikan ijin kerja lantaran permintaan “uang service” tidak ada.
  • Dan masih banyak yang lainnya…

Adalah gampang untuk menjadi kontraktor seperti biasa, tapi untuk profesional dan jujur? Silahkan jawab sendiri.

 

Kebanggaan Profesi Insinyur Kontraktor

Saya juga tertarik dengan artikel dari teman seperjuangan yaitu Bpk Ashar Saputra yang menulis tentang kebanggaan profesi insinyur. Berikut cuplikan artikelnya:

“Sorotan terbaru adalah runtuhnya beberapa jembatan, mulai jembatan yang besar dan rumit seperti Jembatan Kutai Kartanegara sampai dengan  jembatan penyeberangan sungai dengan struktur kabel gantung dan jembatan bambu di daerah Jawa Barat. Evaluasi menyeluruh terhadap kondisi tersebut tentu akan menghadirkan  banyak analisis penyebab kerusakan. Pada tulisan singkat ini kita bahas satu saja aspek yang mungkin bisa menjadi alasan utama, yaitu aspek kebanggan terhadap profesi insinyur. Siapapun yang terlibat pada penyediaan infrastruktur, baik dari kalangan pemerintahan, perencana, pelaksana, pengawas, maupun pihak lain yang semestinya mempunyai latar belakang pendidikan teknik mempunyai kebanggaan dengan profesi insinyur.

Seorang insinyur yang bangga dengan profesinya, dimanapun posisinya, akan bekerja dengan sepenuh hati, dengan passion, sehingga dia dengan segenap kemampuan dan semangat akan berusaha menghasilkan karya keinsinyuran yang terbaik.”

Dalam tulisan tersebut, terbesit kesimpulan bahwa banyak insinyur yang telah meninggalkan kebanggaannya sebagai insinyur pada profesi apapun termasuk pemerintah, pengawas, perencana, dan pihak lain yang terlibat dalam suatu proses pembangunan proyek.

Menjadi insinyur yang bekerja sebagai kontraktor haruslah profesional. Mampu menjawab tantangan konstruksi dalam koridor teknis adalah harga diri bagi kontraktor. Walau menghadapi tantangan risiko yang sering menyebabkan rugi, tidak berarti harus melakukan cara-cara yang tidak benar. Inilah yang membuat dicetuskannya konsep project smart efficiency yang mencari peluang penghematan tanpa mengurangi kinerja kontraktor. Suatu konsep yang mirip dengan VE namun dengan cakupan yang lebih luas atas aspek operasional kontraktor. Konsep yang telah saya uji cobakan dalam tiap mengerjakan proyek sedemikian mampu memberikan keuntungan lebih atau menekan kerugian  secara maksimal tanpa menurunkan performa hasil.

Ini mirip seperti yang disampaikan oleh Said Didu (Ketua Persatuan Insinyur Indonesia dalam majalah Techno Konstruksi Edisi 28: 13). “Bedanya insinyur dengan bukan insinyur adalah, kalau insinyur selalu berpikir tentang nilai tambah, kalau non insinyur berpikir value creation (rekayasa nilai). Sebagai contoh, harga kopi adalah biaya produksi untuk menjadikan kopi ditambah marjin keuntungan. Jika biaya produksi kopi Rp. 1.000 tetapi bisa dijual Rp. 10.000 kenapa tidak, itu bukan insinyur. Jika harga kopi Rp. 1.000 diterima dipasar karena kemahalan, maka insinyur akan berfikir mencari teknologi yang bisa menekan harga produksi kopi lebih rendah lagi agar bisa dijual di bawah Rp. 1.000.”

 

Cukupkah Insinyur Kontraktor Saja yang Harus Profesional dan Jujur?

Jika langkah menuju menjadi insinyur kontraktor yang profesional dan jujur telah dicoba dimulai setidaknya dalam lingkup kecil, apakah itu cukup? Mari kita lihat tulisan lain dari Bpk. Roni berikut ini:

“Bila kontraktor saja profesional, pihak-pihak yang terlibat lainnya (mulai dari Konsultan Perencana, Pengawas, Pemki, Pihak teknis PU) tidak ikut profesional, maka akan sia-sialah semua itu. Bagaimana bisa menyeleksi rekanan yang profesional, bila tim penyeleksi (panitia) sendiri tidak profesional? Bagaimana kontraktor bisa bekerja dengan spesifikasi dan gambar rencana dengan profesional, sedangkan konsultan perencananya sendiri tidak profesional? Bagaimana kontraktor bisa mengikuti aturan main dan perundang-undangan dengan profesional, sedangkan konsultan dan pihak teknis Pu-nya sendiri tidak profesional?”

Ternyata perlu kesadaran nasional untuk mewujudkan cita-cita konstruksi Indonesia yang maju. Suatu kesadaran yang bisa jadi teramat langka untuk didapat saat ini. Tapi semoga masih tersisa insinyur pembaharu lain di tempat berbeda yang memiliki kebanggaan dan passion serta pola pikir yang sama sebagai “Insinyur Sejati” dan bukan “Insinyur kertas”.

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)


 

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Kontraktor, Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Tantangan dan Kebanggaan Insinyur Kontraktor

  1. rohman says:

    LUAR BIASA…
    artikel2 bapak sangat menginspirasi..
    baru nemu blog bagus kayak gini sekarang..setelah 2 thn bkerja d salah satu kontraktor BUMN..awaly sy BANGGA sbg insinyur tknik sipil, namun seiring pengalaman di dunia kerja/lapangan sdh cukup tau lah “hitam-putihnya” dunia konstruksi di Indonesia yg mbuat sy bgitu prihatin..
    faktor “hitam” itulah yg lama2 melunturkan bahkan menghilangkan kebanggan sy sbg insinyur..smpai2 sy bpikir: percuma sekolah tinggi & biaya tdk sdikit kalo toh pd akhirny tdk bs mjadi bagian dari twujudy “pembangunan Indonesia yg sukses” justru sbalikny mjdi bagian dri “hancurnya” sistem pembagunan d Indonesia..
    namun selalu ad harapan dari insinyur2 “putih” dlm situasi se”hitam” apapun.. inilah yg mbuat sy (masih) yakin bahwa perubahan (suatu saat) akan twujud..
    “SALAM SATU VISI”

    • budisuanda says:

      “SALAM SATU VISI”, saya hanya ingin mencoba menorehkan tinta putih kebaikan dalam lembar hitam dunia konstruksi. Semoga usaha2 ini memberikan hasil nantinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>