Jembatan Siak III Akan Runtuh?

Saat ini sedang ramai diberitakan mengenai keresahan warga Pekanbaru terhadap keamanan jembatan Siak III yang belum lama diresmikan. Adanya negative chamber yang kasat mata adalah biangnya. Walau begitu, tetap saja ada kontroversi masalah keamanan jembatan ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

 

Jembatan Siak III telah diresmikan oleh Gubernur Riau HM. Rusli Zaenal pada 3 Desember 2011. Ini berarti umur penggunaan jembatan baru berjalan selama 2 tahun. Jembatan yang bernama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamyah itu, terletak di kawasan Pasar Bawah Kecamatan Senapelan, Pekanbaru – Riau, juga menghubungkan ke Kecamatan Rumbai. Dana yang dihabiskan untuk pembangunan jembatan ini mencapai Rp 136,57 miliar.

Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah atau Siak III menghubungkan daerah Utara dan Selatan Pekanbaru untuk menyebrangi Sungai Siak. Jembatan itu dibangun untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di daerah itu, yang selama ini menggunakan Jembatan Siak I yang usianya sudah lebih dari 30 tahun.

 

Tampak Design Jembatan Siak III

 

Gambar proses pembangunan jembatan Siak III

 

Gambar jembatan Siak III yang telah selesai dibangun.

Panjang total jembatan itu mencapai 520 meter, lebar 11 meter dan ketinggiannya 11 meter dari muka air tertinggi. Struktur bentang utama jembatan menggunakan rangka baja pelengkung. Sedangkan, konstruksi bentang pendekat menggunakan empat “steel box girder” dan delapan “steel girder” dan pondasi bangunan bawah dengan bor pile.

Pembangunan jembatan itu awalnya dilaksanakan kontraktor PT Rantau bais Sawit Family pada tahun 2011 hingga 2007. Kemudian pengerjaannya diambil alih oleh PT Waskita Karya sejak tahun 2008 hingga 2011.

Kini jembatan itu ditutup untuk dilewati karena kekhawatiran akan keamanan jembatan yang mengalami negative chamber. Hingga saat ini, belum ada kesamaan pendapat mengenai bagaimana yang terjadi dan mengenai tingkat keamanan jembatan tersebut. Hasil penelusuran dari berbagai media informasi yang ada, berikut disampaikan beberapa yang dianggap cukup mewakili banyaknya pendapat yang ada:

  • Hasil peninjauan Tim Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Riau, menemukan kalau camber jembatan Siak III tersebut negatif, yakni melengkung dan lentur ke bawah sebanyak 25-26 cm. LPJK juga menyatakan pihak kontraktor salah dalam proses konstruksi Jembatan Siak III, yang menyebabkan bangunan yang baru diresmikan itu melengkung ke bawah dan dipastikan mempengaruhi daya tahannya. Disebutkan bahwa ini akibat pelaksanaan yang salah, yaitu terjadi pergeseran busur ke arah horizontal sehingga terjadi perenggangan, namun kontraktor pada pelaksanaannya memaksa untuk ditarik ke arah yang berlawanan sehingga melengkung bentuknya seperti ular.

 

Gambar negative chamber pada jembatan Siak III

  • Berdasarkan uji frekuensi oleh Prof Dr Ir H Sugeng Wiyono MMT, pada seluruh hanger Jembatan Siak III Pekanbaru, ada empat hanger (kebel) mengalami nilai frekuensi sangat tinggi. Bila ini dibiarkan berlarut-larut, maka keempat hanger akan terputus. Ia juga menilai, selain adanya pelengkung (tempat bergantung hangger, red) juga agak turun. Disebutkan pula penyebabnya adalah kesalahan perencanaan dan pelaksanaan di lapangan oleh kontraktor dimana perencanaan yang kurang cermat dan kesalahan dalam pelaksanaan di lapangan oleh kontraktor. Menurutnya jika dibiarkan, maka akan terjadi musibah seperti jembatan Kukar.
  • Menurut Kepala Dinas PU Riau SF Hariyanto, dari hasil loading test yang dilakukan beberapa waktu lalu, Jembatan Siak III berkekuatan 80 ton. Hasil pengamatan di lapangan, kondisi jembatan saat ini tidak terjadi lagi penurunan dan sudah berhenti. Menurutnya memang kalau dalam istilah bangunan ada sedikit cacat dalam konstruksi jembatan. Tapi ini tidak membahayakan dan aman.
  • Menurut Ir. Roni Ardiansyah MT dalam artikel blognya disebutkan bahwa pada jembatan Siak III beban lantai kendaraan bentang terpanjang dipikul oleh baja profil yang berbentuk pelengkung, jadi kekuatan bentang tengah jembatan ini sangat tergantung kepada kekuatan profil baja pelengkungnya. Profil baja pelengkung biasanya sudah direncanakan dengan baik terhadap gaya tarik, tekan dan lentur, oleh sebab itu sudah dapat dipastikan baja profil tersebut akan kuat terhadap tarik, tekan dan lentur.
  • Hasil sidak Kementrian Perdagangan RI yang bekerjasama dengan Dinas Perindag Kota Pekanbaru dan Riau pada 22 Desember 2010 menyatakan bahwa sebanyak 44.250 ribu batang atau lebih dari 70 persen baja tulangan beton (BTB) milik PT Jaya Glasindo Abadi adalah baja polos dan non SNI. Ironisnya, PT Jaya Glasindo Abadi merupakan perusahaan yang didapuk untuk mensuplai baja tulangan beton untuk kebutuhan pembangunan jembatan Siak III.
  • Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Kontraktor Seluruh Indonesia (AKSI) menilai pembangunan Jembatan Siak III gagal kontruksi.
  • Kementerian PU lalu menyatakan jembatan Siak III termasuk salah satu jembatan yang berbahaya di Indonesia karena tidak sesuai dengan bestek peruntukannya sebagai jembatan kategori A yang harus sanggup menanggung beban maksimal 300 ton. Jembatan mengalami banyak kelemahan. Apalagi pada saat pengujian kualitas proyek, jembatan hanya dijejali beban seberat 80 ton atau sebanyak empat truk. Padahal seharusnya jembatan dengan kategori A yang diproyeksikan untuk jangka waktu 50 tahun harus diuji kualitas dengan bebas 300 ton atau sebanyak 15 truk. Jembatan Siak III mempunyai bentuk melintang sepanjang 120 meter. Dengan kondisi itu, jembatan maksimal harus sanggup diuji beban sebesar 300 ton atau sekitar 15 truk.
  • INKINDO Wilayah Riau mengatakan tidak mengenal perusahaan yang menjadi konsultan perencana dan konsultan pengawas pada proyek jembatan Siak III.

 

Gambar perbandingan jembatan Siak III saat diresmikan dan setelah diresmikan

Berdasarkan beberapa informasi di atas, ada kecenderungan bahwa ada yang keliru dalam proses pembangunan jembatan ini yang menyebabkan adanya negative chamber dan penurunan pada struktur pelengkung. Hingga saat ini belum ada investigasi yang mendalam mengenai apa yang menjadi penyebab kejadian tersebut.

Namun yang pasti adalah bahwa telah terjadi frekuensi sangat tinggi pada empat hanger jembatan yang dianggap sebagai indikasi telah terjadi tegangan yang tinggi pada hanger tersebut. Hal ini (Hipotesis pertama) bisa jadi masuk akal mengingat jika terjadi lendutan maka itu berarti terjadi pertambahan panjang (regangan) pada hanger. Perpanjangan yang berlebihan berarti telah terjadi gaya yang besar yang berdampak pada tingginya tegangan yang terjadi pada hanger.

Jika melihat besaran lendutan sebesar 25-26 cm dan terlihat permanen, maka gaya pada hanger diperkirakan telah pernah melewati batas leleh elastiknya. Seperti halnya struktur baja lain, kondisi leleh adalah kondisi batas kekuatan struktur baja. Hal ini berarti, keamanan struktur jembatan juga dinilai telah mencapai  batas kekuatannya. Hipotesa ini mungkin adalah pedoman bagi pihak yang menyatakan jembatan sudah tidak aman.

Kemungkinan lain (hipotesa ke dua) adalah tidak dilakukan pre-chamber atau kesalahan dalam menentukan pre-chamber atau kesalahan pelaksanaan proses konstruksi yang mengakibatkan pre-chamber tidak sesuai rencana awal. Kesalahan ini dapat berakibat tidak seragamnya penurunan yang terjadi setelah jembatan terbebani sehingga terlihat ada section yang berbeda penurunannya. Akibat penurunan ini menyebabkan perbedaan tegangan pada hanger bagian yang lendut dan yang tidak lendut. Perbedaan tegangan jelas menyebabkan perbedaan frekuensi hanger. Mungkin hipotesa kedua ini yang menjadi dasar pendapat bahwa jembatan tersebut masih aman digunakan.

Namun apapun hipotesanya, pemerintah harus segera melakukan investigasi yang menyeluruh terhadap segala kemungkinan hipotesa yang ada demi menjamin keamanan infrastruktur yang digunakan oleh publik. Hal ini penting untuk menghindari terjadinya musibah yang berpotensi menelan banyak korban seperti yang terjadi pada keruntuhan jembatan Kukar di Kalimantan timur.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Risiko, Proyek Indonesia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jembatan Siak III Akan Runtuh?

  1. Pingback: Informasi Data Jembatan? Lihat www.datajembatan.com | Manajemen Proyek Indonesia

  2. itu kapan yah kira2 bagusnya dah lama juga dah ga maen2 kesitu semenjak jembatannya rusak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>