Fakta Seputar Perencanaan dan Pengendalian Biaya Tidak Langsung

Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan hasil penelitian mengenai kondisi dan perilaku biaya tidak langsung yang terkait dengan perencanaan dan pengendalian biaya ini. Namun berdasarkan pengalaman mengerjakan proyek, penulis akan memaparkan kondisi aktual atau fakta yang terjadi yang bisa jadi suatu validasi atas hasil penelitian tersebut.http://manajemenproyekindonesia.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

 

Mengacu pada hasil penelitian mengenai biaya tidak langsung pada posting sebelumnya yang berjudul Kondisi dan Perilaku Biaya Tidak Langsung Berdasarkan Penelitian, berikut disampaikan fakta-fakta aktual mengenai kondisi perencanaan dan pengendalian biaya ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman mengerjakan proyek. Ini diharapkan menjadi pelengkap atas hasil penelitian yang telah dilakukan.

  1. Kontraktor umumnya melakukan kesalahan dalam menetapkan besaran porsi biaya tidak langsung. Seringkali terdengar ketetapan porsi sebesar 5% yang menjadi pedoman. Tidak hanya kontraktor, tapi konsultan dan pemilik ternyata melakukan hal yang sama.
  2. Uniknya proyek sebenarnya menjadikan pedoman porsi tidak dapat diberlakukan dengan kaku. Suatu karakteristik proyek tertentu memiliki suatu range porsi. Sehingga sebaiknya melakukan penetapan dengan klasifikasi jenis dan karakterisitik proyek dalam bentuk range. Sebagai contoh adalah pekerjaan gedung bertingkat tinggi yang masih tergantung pada beberapa karakter tingkat kesulitan pekerjaan basement dan pekerjaan di atas lantai 30, kelengkapan lingkup pekerjaan karena seringkali material utama diambil alih pengadaannya oleh pemilik (di luar lingkup), kelas kualitas gedung, lokasi proyek apakah berada di kota besar atau tidak atau apakah berada di pulau Jawa yang mudah mendapatkan resources atau di luar pulau Jawa, dan lain-lain. Begitu uniknya suatu proyek menyebabkan nilai porsi biaya ini akan berada dalam suatu range. Penulis pernah mengerjakan proyek high rise building dengan lingkup pekerjaan struktur dan kulit luar saja sehingga nilai porsi biaya ini cukup besar sebesar 15%.
  3. Sangat jarang kontraktor yang telah memiliki pedoman menghitung biaya ini dengan baik. Besaran hasil perhitungan memang sangat tergantung pada bagaimana kemampuan seorang estimator.
  4. Rumitnya proses perhitungan juga menyebabkan sering terjadi kesalahan estimasi. Contoh dalam menentukan besaran biaya risiko. Bahkan ada kecenderungan anggapan bahwa nilai contigency yang besar berarti ada kesalahan estimasi.
  5. Tingkat detil antar kontraktor besar juga berbeda-beda termasuk metode perhitungannya. Namun komponen item biaya ini dapat dikatakan sudah hampir sama.
  6. Para pemilik proyek pemerintah, menganggap biaya ini masuk dalam profit kontraktor. Sehingga mereka tidak menghitung besaran biaya ini dengan benar.
  7. Kontraktor besar cenderung lebih hati-hati dalam menetapkan besaran nilai biaya ini saat tender karena fokus pada tingkat kompetisi. Elemen biaya yang tidak wajar, biasanya dianggap ada kekeliruan dan dikoreksi sebelum pemasukan penawaran.
  8. Pengendalian biaya tidak langsung sangat jarang dilakukan dengan baik termasuk oleh kontraktor besar. Kalaupun dilakukan, itu dalam bentuk yang sangat general dan tidak ada pedoman dalam melakukan pengendalian. Mereka melakukan pengendalian dengan berupaya untuk mendapatkan resources yang murah dan atau membatasi pengeluaran biaya ini yang bisa jadi justru akan menghambat pekerjaan.
  9. Fokus pengendalian umumnya pada jumlah karyawan.
  10. Penyimpangan biaya ini seringkali tidak disadari dalam pelaksanaan proyek.
  11. Cara pengendalian umumnya dengan memperhatikan besaran biaya yang terealisasi secara flat setiap bulannya. Padahal biaya ini belum tentu benar-benar flat atau seragam setiap bulan.
  12. Semakin besar nilai kontrak maka akan menurunkan porsi biaya ini. Deviasi yang terjadi lebih pada tingkat detil dalam melakukan estimasi.
  13. Kenyataannya bahwa kontraktor besar memiliki porsi yang lebih besar ketimbang kontraktor yang lebih kecil. Ini lebih pada faktor kemampuan pendetailan biaya ini. Namun di sisi yang lain, karena tingkat akurasi biaya yang lebih baik, maka tingkat penyimpangan lebih kecil ketimbang kontraktor lain.
  14. Kontraktor besar sudah melakukan optimasi biaya saat tender.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar hasil penelitian telah sesuai dengan fakta-fakta yang ada. Terdapat beberapa hal yang agak berbeda yang dapat disebabkan oleh perbedaan klasifikasi data atau kelengkapan data antara penelitian dan pengalaman penulis. Namun demikian, keduanya dapat saling melengkapi. Semoga kombinasi hasil penelitian dan pengalaman tersebut dapat meningkatkan kemampuan dan akurasi dalam merencanakan dan mengendalikan biaya ini.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Biaya, Manajemen Risiko and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>