Checklist Survey Alur Sungai Untuk Pekerjaan Heavy Cargo

Tak selamanya infrastruktur darat memadai untuk pekerjaan heavy cargo. Jalur sungai adalah alternatif penting apabila land transport tidak memungkinkan. Namun sungai menyimpan risiko yang tidak sedikit. Perlu survey yang mendalam sebelum dipastikan dapat digunakan.

Alur sungai memiliki karakter yang berbeda dengan jalur jalan darat. Sungai memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi dibanding dengan jalan darat. Air sungai juga memiliki ketergantungan dengan cuaca. Sungai juga sangat unik dimana terdapat anak sungai yang menjadikan tiap sungai memiliki daerah aliran sungai (DAS) yang berbeda-beda. Di samping itu, sungai juga terpengaruh dengan proses pasang surut air laut yang tergantung dengan jaraknya terhadap laut.

Pengangkutan heavy cargo via sungai umumnya menggunakan alat tongkang / barge yang ditarik dan ditandu dengan tug boat. Dimensi lebar-panjang-kedalaman barge sangat menentukan dalam menilai kelayakan alur sungai sebagai moda transportasi.

 

Gambar proses RORO pada river transport heavy cargo 1

 

Gambar proses RORO pada river transport heavy cargo 2

 

Gambar proses river transport dengan cargo section jembatan

Berikut ini adalah item check yang dapat menjadi suatu checklist dalam melakukan survey alur sungai untuk pekerjaan heavy cargo delivery yang menggunakan sungai sebagai moda transportasinya:

    1. Cek panjang alur sungai yang dilewati. Cek ini juga sebaiknya meliputi cek elevasi dasar sungai.
    2. Cek profil tampang sungai meliputi lebar, kedalaman, dan slope lereng sungai. Pengecekan ini dapat dilakukan pada tiap jarak tertentu misal tiap 2 km atau tiap belokan sungai yang dianggap perlu.
    3. Survey fluktuasi elevasi air terhadap musim atau cuaca. Survey ini agak sulit didapatkan dari instansi terkait karena keterbatasan yang ada. Informasi penduduk sekitar dapat dilakukan. Ketinggian air pasang dapat dilihat dari batas alamiah seperti sisa sampah yang hanyut, warna tanaman di tepi sungai, dan bekas sedimentasi air sungai saat pasang.
    4. Fluktuasi elevasi air terhadap pasang-surut. Hal ini karena disamping pengaruh cuaca, ketinggian air sungai juga dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hubungkan survey ini dengan sistem kalender berdasarkan perhitungan bulan.
    5. Survey ketinggian air sungai aktual sejak dimulainya proyek. Survey ini akan menjadi survey penting untuk memvalidasi informasi yang ada dari masyarakat sekitar aliran sungai. Survey ini sebaiknya dilakukan pada beberapa titik penting. Jarak titik disarankan tiap jarak 15-25 km. Tergantung kebutuhan.
    6. Cek daerah aliran sungai (DAS). Survey ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan google map sebagai data awal. Survey ini untuk mengetahui daerah pengaruh aliran air sungai.
    7. Kecepatan aliran air sungai. Survey ini untuk mengetahui apakah kecepatan sungai feasible untuk perjalanan tongkang ke lokasi.
    8. Tingkat sedimentasi. Survey ini untuk mengetahui kecepatan sedimentasi sungai apakah akan berdampak pada kelancaran perjalanan tongkang yang membutuhkan syarat kedalaman tertentu.
    9. Geometri sungai terutama belokan sungai. Geometri terutama pada belokan sungai. Apakah ada belokan sungai yang dapat menghambat perjalanan tongkang. Belokan tajam harus menjadi fokus mengingat dapat membuat salah satu sisi tongkang tersangkut.
    10. Obstacle jembatan berupa clearance lebar dan tinggi. Bangunan di atas air adalah obstacle yang tergantung dengan tinggi heavy cargo yang dibawa. Clearance harus dicatat pada kondisi ketinggian air sungai tertentu karena fluktuasi air sungai.
    11. Sampah sungai berupa kayu dan lainnya. Pada sungai tertentu, terdapat sampah yang mungkin dapat menghambat perjalanan tongkang. Kayu besar yang tertinggal saat dibawa bisa jadi obstacle. Pada daerah tertentu juga sering terjadi kayu pinggir sungai yang tumbang akibat sambaran petir. Ini akan jadi penghalang perjalanan tongkang.
    12. Survey kemungkinan area untuk laydown. Jika alur sungai yang harus dilewati cukup panjang, perlu untuk melakukan survey daerah tertentu yang dapat dijadikan laydown sebagai antisipasi terjadi masalah tertentu atas sungai.
    13. Survey area untuk jetty. Seringkali, adanya obstacle tertentu membuat heavy cargo harus dipindahkan ke darat terlebih dahulu melalui proses rolling-off dan rolling-on. Sehingga diperlukan temporary jetty.
    14. Survey kekuatan tanah pada calon area laydown area dan temporary jetty.
    15. Pemanfaatan sungai oleh masyarakat. Ini adalah survey bagaimana dampak delivery heavy cargo terhadap masyarakat disepanjang aliran sungai.

     

    Semoga informasi ini dapat berguna terutama sebagai referensi penting pada fase planning proyek yang akan melaksanakan pekerjaan heavy cargo delivery dengan moda transportasi sungai.

     

     

     

      Did you like this? Share it:
      This entry was posted in Manajemen Pengadaan, Manajemen Risiko and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

      5 Responses to Checklist Survey Alur Sungai Untuk Pekerjaan Heavy Cargo

      1. Boma Stork Sijabat says:

        Dear p’Budisuanda,

        Terimakasih atas informasinya.
        Saya sangat terbantu dengan adanya checklist ini, apakah Bapak memiliki checklist untuk membuat/menganalisa schedule suatu proyek? Dimana kasus yang sering saya hadapi, adalah kebanyakan team dalam suatu proyek menganggap “schedule” suatu hal yang kurang menarik untuk dibahas & dianalisa.

        Thanks & salam
        bom,-

        • budisuanda says:

          Dear Pak Boma,
          Kebetulan saya belum punya checklist untuk schedule. Tapi mungkin bisa bapak jelaskan lebih detil maksud bapak atas checklist schedule tersebut. Mudah2an jadi ide untuk buat tulisan mengenai masalah bapak.
          tim proyek memang umumnya melihat schedule sebagai hal yang harus dibuat, bukan alat yang akan sangat membantu mereka. Hal ini karena mereka tidak tau betapa schedule yang baik akan sangat membantu pekerjaan mereka. Salam.

      2. Boma Stork Sijabat says:

        Dear p’Budisuanda,

        Detail kasus yang sering saya hadapi kira2 seperti ini:
        - Saya sering ditugaskan oleh atasan untuk mereview/menganalisa beberapa schedule dalam waktu yang bersamaan dan harus cepat. Dimana terkadang saya tidak sempat membaca SOW masing2 schedule tersebut sebelum melakukan analisa. Kira2 apa yang bisa saya lakukan dalam hal ini? Sehingga saya berani bilang, ok bos schedule ini sudah mantap untuk di submit atau sebaliknya schedule ini harus direvisi bagian ini & itu.
        - Adakah standard maximum untuk Total Float/Slack suatu activity dalam schedule?(ex: activity A TFnya max 100 days) atau hanya disesuaikan dengan predecessor & successornya saja?
        - Siapa yang menentukan Critical Path? Project Manager or Project Planner/Scheduler? Sebab sering sekali saya di drive untuk mensetting Critical Path, sehingga Critical Path yang didapat merupakan hasil rekayasa bukan yang aslinya.
        - Bagaimana membuat schedule ini lebih menarik & anggun? Sehingga semua team project merasa memilikinya. Bos saya pernah tertidur ketika meriview suatu schedule dengan total activity > 1000.

        Demikian saya informasikan Pak

        salam & thanks
        bom,-

        • budisuanda says:

          Permasalahannya sebenarnya cukup umum terjadi. Tapi bisa jad ide saya untuk menuliskan di posting berikutnya. Dalam minggu ini, mudah2an saya ada waktu untuk membuat posting mengenai masalah ini. Silahkan ditunggu.

      3. Pingback: Pelangi Indah Setelah Kumpulan Awan Hitam | Manajemen Proyek Indonesia

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *

      *

           

      You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>