Faktor Keterlambatan yang Dominan Pada Proyek EPC

Proyek EPC adalah proyek dengan tingkat kompleksitas pekerjaan yang tertinggi diantara jenis proyek lainnya. Proyek ini menuntut ketelitian tinggi, design yang sempurna, melibatkan multi disiplin ilmu, kualitas pekerjaan yang prima, koordinasi dan komunikasi yang lebih intensif, dan manajemen proyek yang lebih baik. Kompleksitasnya telah membuat proyek ini memiliki faktor keterlambatan yang banyak dan juga tinggi.

Posting ini bertujuan untuk memberikan gambaran bahwa dalam pekerjaan proyek EPC haruslah lebih memperhatikan faktor penting yang bisa dikatakan sebagai bagian dari critical success factor dalam pekerjaan proyek EPC terutama pada aspek waktu. Kompleksitasnya yang sangat tinggi telah membuat hampir semua proyek EPC mengalami keterlambatan.

Penulis mengambil suatu referensi sebagai dasar acuan faktor penyebab keterlambatan yang lalu menilai tiap faktor. Penilaian dilakukan berdasarkan pengalaman mengerjakan proyek dalam tiga nilai yaitu low (rendah), moderate (medium), dan high (tinggi). Penilaian ini bersifat terbatas pada proyek-proyek tertentu yang menjadi obyek pengamatan. Tiap faktor berdasarkan penilaiannya akan diberikan skor yaitu low (nilai 1), moderate (nilai 2), dan high (nilai 3). Skor akan berguna dalam melihat secara parsial dan keseluruhan tingkat kritis proyek EPC terhadap waktu.

Dilakukan perbandingan antara proyek EPC dalam hal ini adalah power plant dengan proyek high rise building sebagai perbandingan / benchmarking untuk menunjukkan bahwa tingkat kritis proyek EPC yang jauh lebih tinggi. Hasilnya disampaikan pada tabel berikut ini:

 

Tabel penilaian faktor keterlambatan proyek

Pada tabel di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu proyek EPC lebih rentan terlambat dibanding dengan proyek high rise building atas beberapa faktor:

  • Late delivery or slow mobilization
  • Damages materials
  • Unreliable supplier / subcontractor
  • Poor quality
  • Inappropriate practices / procedures
  • Lack of experience
  • Poor monitoring and control
  • Shortages of personnel
  • Too many responsibility
  • Subcontractor bankcruptcy

Hanya ada dua faktor dalam proyek EPC yang dianggap tidak rentan (low) yaitu improper equipment dan strike.

Kesimpulan secara umum dapat dilihat pada total score dimana proyek EPC memiliki score jauh lebih tinggi dibanding proyek high rise building. Hal ini jelas menunjukkan betapa para proyek EPC masalah faktor keterlambatan harus diperhatikan lebih baik.

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Waktu and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>