Metode least cost analysis adalah metode schedulling yang menentukan aktivitas dan urutan dalam melakukan strategi percepatan secara crashing dalam rangka mendapatkan serangkaian rencana percepatan proyek yang paling efisien atas biaya. Metode ini memanfaatkan metode critical path sebagai salah satu acuannya. Metode ini adalah salah satu metode analisis pada percepatan proyek dengan metode crashing.

Percepatan waktu proyek (schedule compression) sering dilakukan di proyek, baik pada proses perencanaan yaitu pada proses schedule development, maupun saat pengendalian yaitu proses control schedule. Dengan menggunakan metode critical path, maka akan diketahui aktivitas-aktivitas mana saja yang termasuk dalam aktivitas kritis bagi jadwal proyek.

Untuk memudahkan pemahaman atas metode least cost analysis, maka diberikan contoh aplikasi pada suatu kontraktor EPC yang melaksanakan proyek dengan data-data kontraktual sebagai berikut :

  • Durasi awal 365 hari.
  • Biaya overhead adalah Rp. 75 jt/hari dan bonus percepatan adalah Rp. 50 jt/hari.
  • Pemilik menginstruksikan percepatan proyek selama paling tidak 15 hari .

Untuk menyelesaikan permasalahan yang sering terjadi di atas, maka dilakukan langkah-langkah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di bawah ini :

Menentukan daftar aktivitas yang akan dilakukan crashing – Analisis menunjukkan peluang percepatan ada pada fase engineering dengan aktivitas adalah A,B,C,D,E, dan F dengan durasi fase ini adalah 140 hari.

Mendata rencana awal durasi dan biaya tiap aktivitas (kondisi normal) – Berdasarkan acuan biaya dan jadwal, didapat durasi dan biaya aktivitas, serta hubungan ketergantungan antar aktivitas seperti pada Tabel di bawah ini

Mendata estimasi durasi dan biaya tiap aktivitas dalam kondisi crash – Setelah melalui beberapa brainstorming untuk menentukan strategi percepatan terbaik pada tiap aktivitas, maka diestimasi durasi percepatan dan biayanya dengan hasil seperti pada Tabel di bawah ini

Menghitung nilai cost slopeHasil perhitungan nilai cost slope disajikan pada Tabel di bawah ini :

Hasil Perhitungan nilai Cost Slope Tiap Aktivitas

Membuat diagram jaringan jadwal proyek – Hasil analisis diagram jaringan ditampilkan pada Gambar 8.15.

Menentukan jalur kritis – Hasil analisis critical path terlihat pada Gambar yang ditandai dengan garis tebal.

Diagram Jaringan Jadwal Proyek

Melakukan crashing secara bertahap

Crashing Tahap 1 : Hanya terdapat satu jalur kritis. Aktivitas D dengan nilai cost slope terkecil. Maka crashing dilakukan pada aktivitas D (lihat Gambar 8.17).

Crashing Tahap 1

Setelah crashing, jumlah jalur kritis bertambah menjadi Start-B-C-D-E-End dan Start-B-F-E-End seperti terlihat pada Gambar 8.18 di bawah. Durasi berkurang menjadi 130 hari. Terjadi perubahan biaya,yaitu :

  • Penambahan biaya langsung = 10 hari x Rp. 60jt/hari = +Rp. 600jt,
  • Pengurangan biaya overhead= 10 hari x Rp. 75jt/hari = -Rp. 750jt,
  • Pengurangan biaya karena bonus = 10 hari x Rp. 50jt/hari = -Rp. 500jt,
  • Akumulasi biaya = Rp. 48.300jt – Rp. 650jt = Rp. 47.650jt.
Hasil Analisis Jalur Kritis Atas Crashing Tahap 1

Crashing Tahap 2 : Saat ini terdapat dua jalur kritis. Kemungkinan alternatif crashing adalah B, E, dan C-F. Aktivitas D telah habis durasi crashing sehingga tidak dimasukkan dalam alternatif selanjutnya. Nilai cost slope masing-masing alternatif adalah B=200, E=120, C-F=900. Alternatif E yang paling kecil dan dipilih untuk dilakukan crashing pada tahap 2. (lihat Gambar 8.19).

Crashing Tahap 2

Setelah crashing, jumlah jalur kritis bertambah menjadi Start-B-C-D-E-End, Start-B-F-E-End, dan Start-A-End seperti terlihat pada Gambar 8.20. Durasi berkurang menjadi 120 hari. Terjadi perubahan biaya, yaitu :

  • Penambahan biaya langsung = +Rp. 600jt + 10 hari x Rp. 120jt/hari = +Rp. 1.800jt,
  • Pengurangan biaya overhead= 20 hari x Rp. 75jt/hari = -Rp. 1.500jt,
  • Pengurangan biaya karena bonus = 20 hari x Rp. 50jt/hari = -Rp. 1.000jt,
  • Akumulasi biaya = Rp. 48.300 – Rp. 700j = Rp. 47.600jt.
Hasil Crashing Tahap 2

Crashing Tahap 3 : Saat ini terdapat tiga jalur kritis. Kemungkinan alternatif crashing adalah A-B dan A-C-F. Aktivitas D dan E telah habis durasi crashing sehingga tidak dimasukkan dalam alternatif selanjutnya. Nilai cost slope adalah A-B=300, A-C-F=1000. Alternatif A-B yang paling kecil dan dipilih untuk dilakukan crashing pada tahap 3 (lihat Gambar 8.21).

Crashing Tahap 3

Setelah crashing, jumlah jalur kritis adalah tetap tiga jalur seperti terlihat pada Gambar 8.22 di bawah ini. Durasi berkurang menjadi 115 hari. Terjadi perubahan biaya, yaitu :

  • Penambahan biaya langsung = +Rp. 1800jt + 5 hari x (Rp. 100jt/hari + Rp. 200jt/hari) = +Rp. 3300jt,
  • Pengurangan biaya overhead= 25 hari x Rp. 75jt/hari = -Rp. 1.875jt,
  • Pengurangan biaya karena bonus = 25 hari x Rp. 50jt/hari = -Rp. 1.250jt,
  • Akumulasi biaya = +Rp. 48.300jt + Rp. 175jt = Rp. 48.475jt.
Hasil Crashing Tahap 3

Crashing Tahap 4 : Saat ini terdapat tiga jalur kritis. Kemungkinan alternatif crashing tinggal A-C-F. Aktivitas B,D, dan E telah habis durasi crashing-nya sehingga tidak dimasukkan dalam alternatif selanjutnya, kecuali aktivitas A masih tersisa 15 hari. Nilai cost slope adalah A-C-F=1000. Alternatif A-C-F dilakukan crashing pada tahap 4 (lihat Gambar 8.23).

Crashing Tahap 4

Setelah crashing, jumlah jalur kritis adalah tetap tiga jalur seperti terlihat pada Gambar 8.24 di bawah ini. Durasi berkurang menjadi 105 hari. Terjadi perubahan biaya, yaitu :

  • Penambahan biaya langsung = +Rp. 3.300jt + 10 hari x (Rp. 100jt/hari + Rp. 600jt/hari + Rp. 300jt/hari) = +Rp. 13.300jt,
  • Pengurangan biaya overhead= 35 hari x Rp. 75jt/hari = -Rp. 2.625jt,
  • Pengurangan biaya karena bonus = 35 hari x Rp. 50jt/hari = -Rp. 1.750jt,
  • Akumulasi biaya = +Rp. 48.300jt + Rp.8.925jt = Rp. 57.225jt.
Hasil Crashing Tahap 4

Crashing Tahap 5 : Saat ini terdapat tiga jalur kritis dan aktivitas A masih menyisakan 5 hari percepatan. Namun salah satu jalur telah habis kemungkinan percepatan. Maka tidak ada lagi kemungkin melakukan percepatan. Percepatan hanya akan membuat jalur kritis yang dipercepat akan menghasilkan float. Sehingga proses crashing selesai pada tahap 4.

Membuat menentukan titik optimal crashing – Titik optimal crashing adalah titik dengan biaya total yang paling kecil. Gambar 8.25 menunjukkan durasi optimum adalah 120 hari. Hasil least cost analysis menunjukkan bahwa kontraktor sebaiknya melakukan percepatan selama 20 hari dimana biaya yang semula Rp. 48.300jt mengecil menjadi Rp. 47.600jt.

Hubungan Durasi dan Biaya Crashing

Referensi : Buku Advanced and Effective Project Management

Untuk melihat daftar artikel ⇒ Table of Content, dan konsultasi Project Management ⇒ Konsultasi. Daftar karya ada pada ⇒ Innovation Gallery, dan daftar riset pada ⇒ Research Gallery

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AlphaOmega Captcha Classica  –  Enter Security Code