Mampukah Kontraktor Memprediksikan Perubahan Harga Setahun ?

Tulisan ini adalah penjelasan tambahan atas tulisan sebelumnya mengenai kontrak lump sum dan penyesuaian harga dan penyesuaian harga pada bulan ke-13. Banyak pihak mengatakan bahwa kontraktor memiliki keahlian dalam prediksi perubahan harga-harga konstruksi sedemikian tidak diperlukan pasal penyesuaian harga pada kontrak lump sum atau unit price dengan tahun jamak (>12 bulan). Padahal aslinya jauh dari mampu, mengapa?

 

Untuk menjawab apakah benar kontraktor memiliki kemampuan atau kompetensi dalam memprediksikan perubahan harga dalam setahun, maka mari kita check faktor pengaruh harga konstruksi itu sendiri.

  • Faktor Kurs. Faktor ini menjadi penting karena masih banyak material dan alat konstruksi Indonesia yang harus import termasuk salah satu material utamanya yaitu besi tulangan yang raw materialnya diimport. Material finishing seperti marmer, ACP (aluminium composite panel), dan material interior sebagian besar juga import.
  • Faktor Harga minyak dunia. Faktor ini jelas mempengaruhi biaya produksi material lokal dan biaya konstruksi itu sendiri terutama dari aspek bbm untuk peralatan konstruksi. Harga minyak dunia juga menjadi indikator bagi harga sebagian besar komoditas lainnya.
  • Faktor pertumbuhan ekonomi dimana industri konstruksi cukup sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi
  • Faktor supply-demand. Faktor ini adalah faktor umum pada semua industri.
  • Faktor kebijakan khusus. Contoh kebijakan subsidi BBM, kenaikan harga listrik, pajak import, penetapan harga material tertentu seperti semen, program pembangunan khusus, dll.
  • Faktor infrastruktur dan harga logistik. Faktor ini mempengaruhi harga konstruksi cukup signifikan.

Ternyata cukup banyak faktor yang mempengaruhi harga konstruksi. Sekarang mari kita fokus pada dua faktor yang pertama yaitu kurs dan harga minyak dunia.

 

Gambar 1. Grafik nilai tukar rupiah dan dolar US

Grafik di atas adalah grafik kurs pairing IDR/USD dalam kurun waktu setahun. Melemahnya rupiah secara signifikan disebabkan oleh spekulasi kenaikan suku bunga the FED sepanjang tahun 2015.

Melemahnya rupiah hingga mendekati Rp.15.000,-/USD pada dasarnya melebihi prediksi banyak analis dan ahli ekonomi yang rata2 memprediksikan pada kisaran Rp. 13.500,-/USD.

Akibat dari perlemahan rupiah yang signifikan, tak ayal lagi harga-harga konstruksi basis import mengalami kenaikan tajam. Terutama yang berupa produk barang jadi seperti alat ME dan material finishing khusus.

Jika analis dan ahli ekonomi ternyata tidak mampu memprediksi kurs dengan akurat. Bagaimana dengan kontraktor? Terlebih kontraktor Indonesia yang kemampuan economics of construction / makro ekonomi + research masih sangat lemah.

Pada grafik kedua di bawah ini adalah perkembangan harga minyak dunia / crude oil price yang diambil dari yahoo.com

Gambar 2. Grafik harga minyak mentah dunia 2011-2015

 

Harga minyak mentah dunia ternyata cukup fluktuatif dan sulit diprediksi. Jika kita beranggapan bahwa minyak dunia akan terus mengalami kenaikan seiring meningkatnya kebutuhan dan menipisnya persediaan, ternyata meleset. Sejak pertengahan Juni 2014, harga minyak dunia mengalami kemerosotan dalam hingga tinggal +/- 50%. Penyebabnya pun sangat kompleks. Mulai kondisi geopolitik, temuan teknologi oil shale, hingga kebijakan OPEC yang sangat jauh dari jangkauan kontraktor untuk melakukan prediksi.

Faktor ketiga adalah pertumbuhan ekonomi. Institusi besar dalam dan luar negri telah memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 berada pada kisaran 5,2%-5,8%. Tapi fakta pada laporan kwartal III-2015 hanya berada pada 4,7%. Ini menunjukkan betapa sulitnya memprediksi kondisi makro ekonomi akhir-akhir ini. Jelas kontraktor jauh tidak lebih akurat dibanding dengan lembaga / institusi besar tersebut.

Gambar 3. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014-2015

 

Berdasarkan tiga faktor utama dalam melakukan prediksi harga konstruksi, dapat disimpulkan bahwa hal tersebut adalah sangat sulit dilakukan bahkan oleh pihak yang paling kompeten. Sehingga menjadi sangat jelas bahwa pada dasarnya KONTRAKTOR adalah pihak yang lemah dalam melakukan prediksi harga konstruksi.

Jika sudah demikian, tentu saja tidak perlu dipaksakan bahwa risiko kenaikan harga harus dipikul sepenuhnya oleh kontraktor. Pihak yang harus menanggung risiko yang ini haruslah pemilik proyek / pemberi jasa.

Pemaksaan tidak ada kenaikan harga pada kontrak lump sum dan hanya diberlakukan pada kontrak unit price yang bertahun jamak jelas hanya akan merugikan kontraktor (jika kontraktor nekat dg prediksi harganya yang sekedarnya) atau menaikkan harga konstruksi diatas yang seharusnya (jika kontraktor menaikkan harga pada kondisi harga terjelek sedangkan faktanya tidak sejelek itu)

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Biaya, Manajemen Kontraktor, Peraturan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>