Mengenal PLTN : Solusi Alternatif Pemenuhan Listrik Indonesia

Saat ini isu pembangunan PLTN di Indonesia masih menuai pro – kontra. Banyak yang kontra karena khawatir akan risiko tinggi atas kecelakaan nuklir. Padahal PLTU batu bara juga berisiko tinggi terhadap lingkungan walaupun dalam jangka waktu yang lebih lama. Apalagi banyak negara lain telah membangun banyak PLTN dalam rangka ketahanan energi mereka. Tulisan ini dalam rangka edukasi mengenai dari awal mengenai PLTN.

Apa itu PLTN?

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah stasiun pembangkit listrik thermal di mana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik. PLTN termasuk dalam pembangkit daya base load, yang dapat bekerja dengan baik ketika daya keluarannya konstan (meskipun boiling water reactor dapat turun hingga setengah dayanya ketika malam hari).

Daya yang dibangkitkan per unit pembangkit berkisar dari 40 MWe hingga 1000 MWe. Unit baru yang sedang dibangun pada tahun 2005 mempunyai daya 600-1200 MWe. Hingga saat ini, terdapat 442 PLTN berlisensi di dunia [dengan 441 diantaranya beroperasi di 31 negara yang berbeda. Keseluruhan reaktor tersebut menyuplai 17% daya listrik dunia (wikipedia)

Gambar 1. Mega PLTN di negara lain

 

Saat ini telah banyak negara yang menggunakan PLTN sebagai sumber energi listrik mereka. Adapun lima negara yang menggunakan PLTN tertinggi di dunia dan daftar negara lain yang menggunakan PLTN dapat dilihat pada dua gambar berikut:

Gambar 2. Daftar negara pengguna PLTN

 

Cara Kerja PLTN

Dikutip dari www.ilmupengetahuan.org, pada dasarnya prinsip kerja Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN sama halnya dengan Pembangkit Listrik Konvensional. Dalam proses kerjanya, air akan diuapkan dalam suatu wadah (ketel) dengan melalui pembakaran. Dalam pembakaran tersebut akan menghasilkan uap yang akan dialirkan ke dalam turbin yang akan bergerak jika terdapat tekanan uap.

Dalam proses tersebut turbin akan bergerak. Bergeraknya turbin ini berfungsi untuk menggerakkan generator yang akan menghasilkan energi listrik. Jika dalam Pembangkit Listrik Konvensional, bedanya yaitu bahan bakarnya dalam menghasilkan uap panas, yaitu dengan minyak, gas, atau batubara. Proses dari pembakaran bahan bakar tersebut akan menghasilkan gas Karbon Dioksida atau CO2, Sulfur Dioksida SO2 dan juga Nitrogen Dioksida atau disebut juga Nox, selain itu pembakaran tersebut menghasilkan debu yang mengandung kadar logam berat. Sisa-sisa pembakaran tersebut di atas akan menjadi gas emisi ke udara dan berpotensi besar terhadap pencemaran lingkungan. Beberapa pencemaran lingkungan tersebut yaitu hujan asam dan pemanasan global (Global Warming).

Sedangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, panas yang dipakai dihasilkan dari proses reaksi pembelahan inti Uranium di dalam reaktor nuklir. Sebagai bahan pemindah panas tersebut digunakanlah air yang secara terus-menerus disirkulasikan selama proses. Bahan bakar yang digunakan untuk pembakaran ini, yang menggunakan Uranium tersebut tidak melepaskan partikel-partikel seperti Nox, CO2, ataupun SO2, serta tidak mengeluarkan partikel debu yang mengandung logam berar. Sehingga Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah pembangkit yang sangat ramah lingkungan. Di Indonesia juga berencana akan menggunakan pembangkit listrik jenis ini.

Gambar 3. Skema dasar PLTN

 

Gambar 4. Perbedaan skema PLTU dan PLTN

 

Perkembangan Teknologi PLTN

Saat ini, teknologi PLTN telah memasuki generasi IV. Menurut Prof. Zaki Su’ud, teknologi PLTN telah mengalami banyak kemajuan terutama pasca kejadian Chernobyl. Selain eleminasi keberadaan reaktivitas dalam jumlah besar yang dapat dieksploitasi operator seperti pada kasus Chernobyl, perbaikan juga menyangkut antisipasi terhadap kecelakaan akibat gangguan pompa dan pipa-pipa. Beberapa fitur keselamatan pasif/inheren juga banyak diterapkan pada PLTN-PLTN yang dirancang pasca kecelakaan Chernobyl.

Selain itu juga dilakukan revolusi penanganan limbah nuklir dengan cara membakar limbah didalam reaktor sehingga tingkat toksisitasnya lebih kecil dari saat diambil dari alam. Hasilnya kini muncul PLTN generasi baru yang secara ekonomi sangat kompetitif dan memiliki tingkat keselamatan inheren/pasif. Diantara disain-disain baru itu adalah PBMR, SVBR-100, IRIS, dll.

Gambar 5. Evolusi kemajuan teknologi PLTN

Teknologi terkini telah jauh lebih ekonomis dan aman karena belajar dari berbagai kelemahan PLTN sebelumnya sedemikian lebih feasbile untuk digunakan.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Risiko, Proyek Indonesia, Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Mengenal PLTN : Solusi Alternatif Pemenuhan Listrik Indonesia

  1. Pingback: Risk Management Sebagai Tool Peningkatan Feasibility dan Keamanan PLTN | Manajemen Proyek Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>