Risk Management Sebagai Tool Peningkatan Feasibility dan Keamanan PLTN

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan mengenai PLTN secara singkat. Rencana pembangunan PLTN di Indonesia sejak dulu telah direspon pro dan kontra. Belum sepakatnya kita akan hal ini membuat PLTN tidak kunjung dibangun kecuali untuk tujuan riset. Risiko sangat tinggi jika terjadi kecelakaan PLTN telah menjadi ketakutan sebagian orang. Padahal pembangkit jenis lain pun tak lepas dari risiko. Kuncinya ada pada risk management sebagai alat untuk mengatasi risiko nuklir demi ketahanan energi dan kemakmuran bangsa.

Kenapa Harus PLTN ?

Banyak pihak yang telah merekomendasikan PLTN sebagai solusi energi listrik masa depan Indonesia dan dunia. Pembangunan PLTN itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang semakin meningkat dimana ketersediaan sumber energi fosil yang terus menipis. Sedangkan pemanfaatan energi terbarukan yang lain seperti angin, sinar matahari, air, panas bumi dan energi yang yang tidak begitu optimum.

Gambar 1. Supply – demand kebutuhan energi

Konsumsi energi Indonesia yang besar dengan jumlah penduduk 237 juta menjadikan Indonesia membutuhkan sumber energi yang besar pula. Berikut beberapa alasan kenapa harus memilih PLTN yang dikutip dari beberapa sumber :

  1. Indonesia telah mengalami krisis energi listrik
  2. Pencemaran udara sangat kecil. PLTN tidak menghsilkan karbon dioksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida. Berbeda dengan batu bara, gas, dan minyak bumi yang menghasilkan produk sisa.
  3. Menghasilkan bahan-bahan sisa padat lebih sedikit.
  4. Cadangan sumber bahan bakar nuklir melimpah. Indonesia mempunyai 70.000 ton cadangan uranium.
  5. Lebih ekonomis, Energi nuklir adalah energi yang murah untuk dihasilkan, ini menjadikan nuklir sebagi energi alternatif yang luar biasa.
  6. Pemilihan letak lebih luwes. Pembangkit listrik tenaga listrik tidak memakan banyak ruang sehingga sebenarnya lebih mudah dibandingkan dengan pembangkit listrik yang lain.
  7. Hemat bahan bakar. Sebagai perbandingan energi listrik 1 gram uranium sama dengan 3 ton batu bara, dan 2000 liter minyak bumi.
  8. Teknologi telah memasuki generasi IV yang jauh lebih aman dari generasi sebelumnya

Gambar 2. Penurunan risiko PLTN berdasarkan generasi teknologi


Pro – Kontra PLTN

Ide PLTN telah menuai pro dan kontra. Bagi pihak yang pro, cenderung memperhatikan manfaat dan kelebihan pembangunan PLTN di Indonesia tanpa mengesampingkan tingkat risiko yang terjadi dengan memiliki teknologi yang terkini. Namun, tingginya risiko tetap saja menuai kontra. Kecelakaan PLTN dibeberapa negara dan dampak mengerikan atas radiasi nuklir telah menjadi momok bagi pihak ini.

 

Perbandingan Risiko Pada Berbagai Jenis Pembangkit Listrik

Pada dasarnya, semua jenis pembangkit memiliki risikonya masing-masing dan tidak ada yang benar-benar bebas risiko. Telah dilakukan suatu riset untuk menghitung nilai risiko atas berbagai pembangkit listrik di seluruh dunia dengan menghitung tingkat dampak dan frekuensinya masing-masing. Khusus untuk PLTN dibagi dua dampak yaitu dampak segera dan dampak laten / permanen. Hasil riset ditunjukkan pada grafik di bawah ini :


Gambar 3. Perbandingan nilai risiko pada berbagai jenis pembangkit listrik

Kita ketahui bahwa nilai risiko adalah hasil perkalian antara frekuensi dan dampak. Berdasarkan dua grafik di atas, ternyata risiko PLTN berdasarkan kejadian riel adalah termasuk yang rendah. Nilai risiko tertinggi justru ada pada jenis pembangkit berbahan bakar LPG diikuti oleh batu bara dan minyak.

 

Solusi Ada Pada Risk Management

Jika pihak yang kontra ada pada kekhawatiran risiko dan ternyata nilai risiko PLTN ternyata relatif kecil, maka sebenarnya ini hanyalah persoalan komunikasi atau sosialisasi dan edukasi. Menurut saya, satu-satunya hal yang paling penting untuk diperhatikan terkait risiko yang harus dimitigasi secara serius hanya ada dua yaitu:

  1. Dampak laten PLTN – Terlihat bahwa dampak laten Chernobyl sangat tinggi dibandingkan dengan dampak segera / langsung nya. Belajar dari kasus insiden PLTN, tentu harus betul-betul dimitigasi dengan baik dengan strategi yang mampu menekan secara signifikan atas dampak laten tersebut dan menjadi prioritas dalam pembangunan PLTN jika jadi dibangun. Salah satu strategi adalah dengan memindahkan penduduk yang berada dalam radius bahaya dampak laten radiasi nuklir. Strategi lain adalah dengan prosedur ketat dalam pembangunan dan pengoperasian PLTN.
  2. Kesiapan SDM – Kompetensi dan disiplin tinggi para pihak dalam pembangunan dan pengoperasian PLTN akan menjadi kunci keselamatan jika PLTN telah diletakkan pada area yang risiko tsunami dan gempa telah sangat kecil. Hal ini karena harus diakui bahwa kompetensi kita masih harus ditingkatkan termasuk kedisiplinan para pekerja kita nanti.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Risiko, Proyek Indonesia, Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>