Manfaat dan Peran Riset Konstruksi

Posting ini adalah kelanjutan atas posting sebelumnya mengenai untuk apa riset di konstruksi. Pada posting kali ini akan lebih fokus dan detail menjelaskan manfaat riset di konstruksi yang di Indonesia justru sangat kecil implementasinya. Semoga menginspirasi.

Telah disimpulkan dan dijelaskan bahwa riset pada dasarnya adalah “menjawab pertanyaan secara ilmiah”. Di dunia konstruksi khususnya Indonesia, tersedia begitu banyak pertanyaan akibat banyaknya masalah yang ada dan cenderung tidak terselesaikan dengan baik bahkan cenderung berulang.

Riset di konstruksi harus ditempatkan secara khusus pada perusahaan konstruksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini karena karakter bekerja peneliti adalah sangat berbeda dengan praktisi. Dalam suatu diskusi dengan pengamat dan ahli, disimpulkan bahwa praktisi konstruksi umumnya memiliki karakter khusus yaitu “reaktif” yang condong mengandalkan kemampuan problem solving namun minim perencanaan yang matang yang merupakan produk dari tipikal orang yang “proaktif”. Peneliti dalam hal ini lebih bersifat proaktif, sedemikian seharusnya pada tiap perusahaan konstruksi harus memiliki divisi riset yang akan mengambil alih peran proaktif yang harus ada demi mengatasi permasalahan berulang tadi.

Mari kita review manfaat dan peran riset atas beberapa persoalan berulang utama yang menjadi klasik bagi perusahaan konstruksi, yaitu :

 

1.   Tingkat Hutang

Perusahaan konstruksi memiliki nilai debt equity ratio (DER) yang tinggi dengan rata2 3-4x dan cenderung stabil tanpa perubahan yang signifikan. Penyebab utama adalah sering terlambatnya pembayaran dari pemberi tugas, kerugian proyek, dan konflik pengakuan claim serta ketiadaan standart perhitungan volume (standart method of measurement) di Indonesia. Riset yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa solusi terbaik adalah:

  • Terkait kontraktual yaitu klausa uang muka lebih tinggi dengan term of payment lebih singkat, klausa tambahan aturan perhitungan volume, klausa penjelas terkait klaim
  • Sistem cost reduction dengan inovasi dan efisiensi / VE,
  • Pembentukan tim khusus dalam penagihan termijn yang tertahan.
  • Memperbanyak porsi hutang jangka menengah dan panjang ketimbang hutang jangka pendek.

 

2.   Tingkat Pencapaian Laba

Net margin ratio perusahaan konstruksi pada umumnya berkisar pada range 1-5% terhadap revenue. Padahal perusahaan infrastruktur seperti Jasa Marga bisa mencapai 20%. Riset menghasilkan beberapa rekomendasi strategi seperti :

  • Procurement terpusat dan terintegrasi dengan sistem supply chain
  • Cost reduction dengan cara inovasi / VE / efisiensi lainnya
  • Seleksi proyek dengan batasan parameter produktifitas laba dalam satuan personil dalam waktu tertentu.
  • Manajemen risiko yang lebih baik

 

3.   Ketahanan bisnis terhadap krisis (defensive business)

Setiap krisis ekonomi, industri konstruksi terkena dampak paling dalam dan selalu berulang. Lalu rekomendasi riset yang diperlukan untuk ini adalah melakukan analisis portofolio dan menilai karakteristik bisnis baru yang harus dilakukan dalam rangka menghasilkan portofolio bisnis yang lebih defensif terhadap krisis.

 

4.   Ekspansi Bisnis

Perusahaan konstruksi yang ekspansi ke luar negeri cenderung merugi bahkan dalam nilai yang besar hingga tidak diteruskan. Hasil riset menunjukkan bahwa ternyata negara yang dipilih untuk ekspansi tidak atau kurang feasible atas beberapa parameter utama seperti political stability, ease of doing business, law and regulation, competition level, infrastructure need, economic growth, goverment policy, language barrier, dll. Umumnya perusahaan konstruksi Indonesia tidak melakukan kajian khusus yang mendalam atas feasibility ini. Dampaknya, mereka banyak menghadapi masalah serius.

 

5.   SDM

Perusahaan konstruksi mungkin adalah industri yang memiliki gap SDM paling tinggi saat ini jika infrastruktur benar-benar digenjot oleh pemerintah. Riset menunjukkan bahwa perusahaan konstruksi cenderung kurang menyadari organisasi ramping yang jika tidak mengkaji aspek efektifitas, akan berdampak serius bagi kelangsungan usaha. Hal ini karena organisasi ramping cenderung berdampak pada level of manageability yang rendah atas proyek konstruksi yang bersifat high-complexity.

 

6. Management System Maturity

Riset menunjukkan bahwa ternyata maturity level atas banyak aspek penting masih berada pada level 1-2. Contohnya disebutkan dibawah ini:

  • Project management maturity level perusahaan konstruksi di Indonesia hanya berada pada level 2 yang artinya masih harus bekerja keras dalam menjalankan proyek
  • Risk management maturity level malah berada pada level 1 dan hanya sedikit yang berada pada level 2. Padahal indsutri ini sudah cukup tua.
  • Knowledge management maturity level belum dilakukan penelitian. Namun diperkirakan juga masih berada pada level 1-2. Sehingga membuat para pekerja konstruksi sangat kesulitan dalam melakukan planning yang baik.

Dampak atas masih rendahnya maturity level secara gampangnya adalah masih banyak terjadi permasalahan proyek dan pekerja bekerja secara overtime akibat sangat dominannya permasalahan yang harus diatasi. 

 

7.   Risiko Kontrak

Kondisi kontrak industri konstruksi dianggap cenderung unbalance contract dan juga masuk kategori unsolved problem. Ini adalah nature kondisi kontrak konstruksi di Indonesia. Riset menunjukkan bahwa proyek swasta memiliki nilai risiko yang paling tinggi dimana riset juga sangat merekomendasi strategi yang bersifat preventif ketimbang corrective action dalam mengatasi risiko kontrak tersebut.

 

Beberapa output riset yang dilakukan pada beberapa permasalahan utama di atas, setidaknya mampu menjawab akar permasalahan dan rekomendasi strategi yang harus dilakukan oleh perusahaan konstruksi dalam menjalankan bisnisnya. Sehingga peran riset adalah sangat penting bagi perusahaan konstruksi untuk dapat berkembang dengan kualitas yang baik.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>