“Ahh, Itu Teori Saja Lagi…”

Topik ini ternyata masih menarik untuk dibahas. Tidak hanya karena aspek-aspek yang sudah pernah dibahas pada tulisan terdahulu, tapi juga ternyata penganut statement di atas lebih banyak dari yg diperkirakan.

 

Teori itu sederhananya adalah hubungan antara dua konsep yg telah diuji secara ilmiah. Lantas, jika suatu masalah yang hendak dicarikan solusinya tanpa berlandaskan suatu teori, lalu mau pakai landasan apa? Logical thinking? Kalau beneran logic tentu jelas akan sejalan dengan teori karena logical thinking adalah tools berfikir ilmiah. Tapi jika tidak sejalan? adanya malah KEMUNDURAN atau kalaupun maju, ya maju yang terseok-seok. Lantas kesimpulannya, yang bilang statement di atas jelas adalah orang tidak mampu berfikir ilmiah, alias tidak pakai logical thinking. Mungkin pakai emotional thinking? May be…

Berkesempatan menghuni pos baru sebagai peneliti pada suatu perusahaan yang sangat berfikir praktis, membuat saya punya dua pijakan. Artinya, saya punya kesempatan untuk memahami kedua pola pikir yaitu praktis dan ilmiah. Lantas apakah keduanya bertolak-belakang? Rasanya tidak. Keduanya itu mestinya adalah suatu rangkaian yang saling berhubungan bagaikan suatu loop atau lingkaran yang butuh KESEIMBANGAN. Kalau tidak percaya, silahkan baca pendapat Albert Einstein di bawah ini :

 

Research pada dunia praktisi sering mengambil obyek atas permasalahan aspek praktisi. Dan dunia praktisi akan menghadapi trial-error yang tinggi dalam menyelesaikan masalah jika tidak menyelesaikan masalahnya secara research. Ini karena research adalah suatu cara berfikir yang terutama adalah dalam menjawab suatu pertanyaan (research question). Kelebihan research adalah pada kualitas proses yang sangat sistematis dan logis sehingga menghasilkan output yang jauh lebih baik. Sedangkan pola pikir praktisi cenderung kurang sistematis dan logika yang kurang rasional dan kurang kritis. Praktisi tulen umumnya kalaupun maju tapi dengan banyak masalah. Cek saja lingkungan terdekat anda.

Praktisi akan cenderung kurang sabar dalam memahami dan melakoni pola pikir research yang hati2, detail, sistematis, dan menggunakan tools khusus yang bersifat proven. Hal inilah yang mungkin berbuah statement pragmatis “ahh, itu teori saja…”. Hal ini karena peneliti harus menjawab suatu permasalahan dengan berlandaskan suatu teori yang paling update pada saat itu.

Contoh ketika dihadapkan pada problem kapan harus melakukan hedging dimana harus dicari momentum tertentu agar didapat biaya hedging yang semurah mungkin. Peneliti pasti akan mengatakan bahwa kurs sangat tergantung pada deficit transaksi berjalan karena teori supply – demand. Sedangkan praktisi akan berfikir apa mungkin bisa melakukan forecasting dengan menggunakan salah satu variable utama yaitu nilai defisit transaksi berjalan? Sehingga cenderung memandang rendah diawal, kecuali jika landasan teori tadi telah terbukti memberikan hasil prediksi yang cukup akurat.

Cerita di atas adalah kasus nyata yang dihadapi oleh saya yang saat itu adalah praktisi yang mencoba mengatasi permasalahan dengan cara riset. Hasil kasus nyata tadi adalah suatu efisiensi sangat besar karena hasil forecasting yang sangat akurat sehingga eksekusi hedging dapat dilakukan pada momentum yang tepat berdasarkan hasil forecasting tadi.

Pengalaman telah membawa saya pada suatu pemikiran bahwa research adalah way of thinking yang powerful yang wajib ada pada para praktisi dalam menjawab banyak permasalahan lapangan, dan bukan lagi untuk mengatakan “ahh, itu teori saja lagi…” karena ketidaktahuan dan mungkin ketidakmampuan untuk berfikir secara research.

Bersyukurlah anda yang memiliki pola pikir research dan mengkombinasikannya dalam menghadapi masalah praktik. Bagi anda yang masih bertahan sebagai praktisi tulen, bersiaplah dengan masalah baru atau pengulangan masalah lama yang membuat jalan panjang dan penuh liku.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>