Menghitung Kekuatan Bekisting Kok Masih Keliru yg FATAL?

Perhitungan bekisting dan perancaha itu simple. Tapi justru sering keliru. Bahkan belakangan menjadi blunder akibat kesalahan fatal dalam melakukan perhitungannya. Kesalahan menghitung beban, penentuan jenis tumpuan, dan keterkaitan dengan metode pelaksanaan serta bahkan pemahaman sederhana struktur kolom adalah penyebabnya. Hmm..Kesalahan yang tidak perlu.

Belakangan ini marak diberitakan adanya keruntuhan bangunan yang sedang dilaksanakan saat pekerjaan pengecoran. Ini jelas ada kesalahan pada bekistingnya. Jujur saja, kegagalan bekisting ini aslinya cukup sering terjadi, tapi bisa “ditutupi” oleh pelaksana di lapangan. Miris memang…

Lalu, pengalaman menguji perhitungan bekisting suatu gedung beberapa waktu yang lalu, cukup memprihatinkan. Perhitungan bekisting menurut saya adalah perhitungan yang tidak sulit asal memahami dasar-dasar mekanika teknik, material kayu, peraturan pembebanan, dan beton bertulang. Cukup dasarnya lho…tidak perlu advance. Kalau masih keliru menghitung beban, mestinya dulu bolos pas kuliah, hehe…(ketimbang saya bilang engineer asal jadi).

But, let’s make it as important issue. Tentunya, perlu dikaji bagaimana menjadikan lulusan sipil itu lebih bermanfaat dan siap pakai saat lulus. Tugas saya untuk mencegah hal tersebut tidak terjadi adalah dengan share pengalaman dan pengetahuan pada blog ini..as usual sih. Okay…Berdasarkan pengalaman sebagai pelaksana beberapa gedung tinggi di Jakarta, berikut petunjuk dalam melakukan perhitungan kekuatan bekisting dan perancah:

  1. Metode Pelaksanaan. Sebelum dilakukan perhitungan, tentukan terlebih dahulu metode pelaksanaan strukturnya. Hal penting dalam metode pelaksanaan adalah zoning, urutan pelaksanaan, schedule pelaksanaan, metode bekisting, dan metode pengecoran.
  2. Identifikasi Perhitungan. Identifikasi ini menentukan elemen bekisting dan perancah apa saja yang perlu dihitung dan batasan kekuatan strukturalnya. Secara umum elemen yang perlu dihitung adalah tembiring (bekisting vertikal – plywood, usuk), bodeman (bekisting horizontal – plywood, usuk, balok suri), perancah – distribusi beban ke tiap perancah, perhitungan kapasitas perancah, dll.
  3. Perhitungan Beban Bekisting. Perhitungan ini melingkupi semua beban yang terjadi, yaitu beban hidup (pekerja), beban air hujan, beban kejut, beban beton cair dan tulangan, beban sendiri bekisting dan perancah. Perhitungan beban perlu memperhatikan metode pelaksanaan dan aliran beban yang terjadi secara gravitasi dari struktur bekisting paling atas hingga terbawah termasuk pengaruhnya ke struktur penumpu perancah.
  4. Penentuan Asumsi Tumpuan Bekisting dan Perancah. Ini mestinya hal sederhana, tapi nyatanya sering bermasalah. Cara sederhana adalah dengan memperhatikan translasi vertikal, horizontal, dan momen. Tumpuan umumnya berupa sendi dan rol. Bekisting jarang sekali didesign atau dihitung dengan tumpuan jepit kecuali untuk kondisi khusus. Hati-hati dalam penentuan tumpuan ini, karena sering terjadi suatu tumpuan perancah balok lantai 2 suatu gedung yang menumpu di atas tanah lantai dasar yang dianggap tidak memiliki translasi vertikal. Padahal ini sangat tergantung dengan kondisi tanah dan distribusi beban ke tanah atau perkuatan tanahnya.
  5. Idealisasi Struktur Bekisting dan Perancah. Pembuatan idealisasi struktur atas bekisting atau perancah yang telah direncanakan perlu dilakukan sebagai dasar untuk melakukan perhitungan struktur. Ini sangat terkait dengan penenuan asumsi tumpuan bekisting dan perancah. Dalam idealisasi struktur, akan ditentukan suatu struktur yang terdiri atas bentang, tumpuan, dan beban. Khusus untuk pekerjaan gedung, perlu dibuat idealisasi struktur yang lebih detil yang melingkupi pengaruh bekisting terhadap kekuatan struktur yang menumpunya.
  6. Perhitungan Kekuatan Bekisting dan Perancah. Perhitungan kekuatan bekisting dapat dilakukan secara manual dengan program excel sederhana atau dengan software. Tergantung dengan tingkat kesulitan atau kerumitan perhitungannya. Untuk perhitungan yang sulit atau rumit, dapat menggunakan software. Namun apapun caranya, perlu memperhatikan akurasi asumsi dan input karena perhitungan cara apapun asal asumsi dan input serta dengan kaidah yang benar, maka hasilnya akan benar dan akurat pula.
  7. Kontrol Batasan Keamanan Struktural. Kontrol ini adalah cek hasil perhitungan terhadap batasan-batasan struktural bekisting dan perancah serta struktur penyokong perancah. Pada bekisting kayu perlu diperhatikan kondisi aktual kayu. Kayu berkualitas baik akan memiliki batasan yang tinggi. Tapi jika kayu digunakan untuk beberapa kali pengecoran, tentu secara perlahan mengalami pengurangan kekuatan yang tergantung dengan cara handling material bekisting. Pada kondisi ini, tidak ada acuan baku bagaimana mengurangi batasan kekuatan yang ada. Namun engineer kontraktor perlu untuk melakukan cek langsung ke lapangan untuk melihat secara aktual kondisi bekisting yang telah beberapa kali digunakan. Demikian pula pada perancah seperti scaffolding. Kondisi scaffolding akan mempengaruhi batasan struktural atau kapasitas beban. Scaffolding yang berkarat dan banyak cacat akan berkurang kapasitasnya. Ketinggian perancah harus mendapat perhatian, mengingat semakin tinggi perancah, maka akan terjadi penurunan kapasitas akibat faktor tekuk kolom.
  8. Perhitungan Pembongkaran Bekisting dan Kontrolnya. Kesalahan melakukan perhitungan ini telah beberapa kali berdampak pada keruntuhan gedung. Hati-hati…Jangan pernah anggap remeh perhitungan ini. Pembongkaran bekisting harus dicek dengan perhitungan yang cukup teliti. Hal ini karena saat dilakukan pembongkaran, terjadi peralihan aliran beban awal. Struktur yang baru beberapa hari dicor, tentunya belum memiliki kekuatan rencana. Kekuatan aktual berdasarkan mutu beton aktual harus dikalkulasi ulang untuk meyakinkan bahwa struktur telah mampu menahan beban sendiri, termasuk penambahan beban material untuk pekerjaan bekisting di atas struktur lantai tersebut. Cek disini.

Sebagai tambahan, pada gedung berlantai banyak, seringkali dituntut cycle per lantai yang cepat. Pengalaman menunjukkan cycle / lantai berkisar 5 – 10 hari. Akibatnya, beban pengecoran, bekisting, dan perancah akan ditumpu oleh struktur lantai di bawahnya yang belum mencapai kekuatan rencana.

Kombinasi kesalahan perhitungan pembongkaran bekisting dan kekuatan struktur penahan lantai di bawahnya adalah sebab kegagalan pelaksanaan gedung tinggi di seluruh dunia. Kondisi ini harus diperhatikan dengan serius. Perlu dilakukan suatu simulasi perhitungan struktur pada kondisi kekuatan beton aktual pada umur aktual. Umumnya diberikan perkuatan shoring pada pelat dan atau balok pada struktur beton lantai penumpu yang kadang dilakukan hingga 2-3 lantai di bawahnya. Semakin cepat cycle / lantai, maka semakin banyak jumlah lantai yang perlu diperkuat.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Teknik Sipil and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>