Faktor Penting Biaya Upah

Biaya upah adalah adalah salah satu komponen biaya yang sering mengalami cost overrun. Walaupun pada umumnya porsi komponen biaya ini tidak besar, namun seringkali tingkat penyimpangan yang cukup tinggi dan juga sering terjadi. Bahkan dapat dikatakan hampir seluruh proyek mengalami penyimpangan biaya upah. Apa penyebabnya?

 

Komponen biaya upah sering dianggap remeh oleh pelaku konstruksi. Porsinya yang kecil membuatnya tidak terlalu dipusingkan karena kebanyakan berasumsi bahwa kalaupun ada penyimpangan, dianggap tidaklah signifikan. Padahal pengendalian biaya ini termasuk yang paling sulit. Sehingga sebenarnya bukannya tidak signifikan, melainkan tidak disadari atau menjadi hidden cost.

Tentu kejadian dengan frekuensi tinggi ini perlu diperhatikan. Terutama pada proyek dengan porsi biaya upah yang cukup tinggi. Mengatasinya harus dimulai dari perencanaan hingga monitoring yang memperhatikan faktor-faktor pentingnya. Apa saja? Berikut disampaikan dan dijelaskan faktor-faktor penting atas kelompok biaya ini:

  1. Produktifitas. Faktor ini adalah yang paling utama. Biaya upah akan mudah untuk membengkak apabila terjadi penurunan produktifitas apalagi tidak disadari dalam jangka waktu yang lama. Produktifitas rendah adalah hidden cost yang sering tidak disadari.
  2. Mismatch. Istilah ini digunakan pada situasi dimana tenaga kerja tersedia, namun tidak dapat melaksanakan pekerjaan akibat dari tidak tersedianya resources lain seperti alat dan material serta gambar shop drawing dan approval ijin kerja.
  3. Tingkat kesulitan pekerjaan. Tingkat kesulitan pelaksanaan akan mempengaruhi secara langsung terhadap produktifitas. Semakin sulit pekerjaan akan semakin turun produktifitas pekerjaan.
  4. Metode pelaksanaan. Faktor ini mempengaruhi tidak hanya produktifitas, tapi juga kebutuhan jumlah tenaga kerja yang diperlukan. Metode yang baik, akan menurunkan jumlah tenaga kerja yang diperlukan dalam suatu pekerjaan.
  5. Tingkat keahlian pekerja. Faktor ini dipengaruhi oleh metode pelaksanaan yang direncanakan. Jika metode pelaksanaan yang dilakukan adalah mudah, maka tingkat keahlian pekerja yang dibutuhkan juga tidak perlu tinggi.
  6. Kecelakaan kerja. Adanya kecelakaan kerja akan membuat pekerjaan tertunda. Padahal tenaga kerja tetap membutuhkan biaya walaupun tidak bekerja.
  7. Overtime. Rate biaya upah akan naik signifikan apabila dilakukan secara overtime. Semakin malam pekerjaan dilakukan akan semakin mahal. Padahal produktifitas pekerjaan semakin turun. Overtime membuat biaya upah sangat mahal.
  8. Sumber tenaga kerja. Jika tenaga kerja diambil dari tempat yang jauh, maka biaya mobilisasi akan semakin mahal.
  9. Perjanjian. Hal-hal yang termasuk dalam lingkup ini adalah jenis kontrak (lump sum atau harian), kejelasan lingkup biaya (barak, jam kerja, cara mobilisasi, APD, alat bantu, dll). Kontrak secara harian akan membutuhkan pengawasan lebih tinggi dan ketidakjelasan lingkup akan menjadi problem dispute dalam pelaksanaan.
  10. Cashflow. Faktor ini berupa ketidaklancaran cash flow.  hal ini akan membuat kualitas tenaga kerja yang digunakan tidak sesuai yang dibutuhkan dan dengan produktifitas yang lebih rendah. Mandor adalah vendor yang lemah kemampuan cash flow. Kondisi cashflow yang jelek akan membuat mandor memilih tenaga kerja yang kurang ahli dan juga kurang produktif.
  11. Pengendalian. Penyimpangan biaya yang sering terjadi akibat lemahnya pengendalian.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Biaya and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>