Pentingnya Memahami Manajemen Risiko Proyek

Dunia kontraktor diselimuti oleh berbagai risiko. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Risiko pada dasarnya adalah alamiah yang berarti memang ada. Tidak perlu terlalu dirisaukan. Risiko hanya perlu dikelola dengan baik. Proyek akan mengalami kerugian apabila risiko tidak terkendali dan berubah menjadi masalah dalam pelaksanaan proyek.

 

Pada kenyataannya, sangat sedikit sekali pelaku proyek yang mengerti mengenai manajemen risiko. Sungguh ironis melihat kenyataan bahwa banyak orang yang bekerja di proyek yang dipenuhi oleh ancaman risiko tapi tidak tahu mengenai manajemen risiko. Wajar saja bila profitabilitas perusahaan kontraktor di negara kita masih kecil. Banyak kontraktor yang bahkan gulung tikar karena mengalami kerugian yang tidak sedikit dan terus menerus.

 

Sebagai gambaran, saya ingat beberapa kesimpulan tentang pemahaman para pelaku proyek mengenai manajemen risiko proyek. Ini tentu tidak dapat mewakili keseluruhan proyek. Tapi bisa jadi bahan pemikiran kita.

  • Pelaku proyek berusaha mendapatkan diskon harga vendor sebanyak mungkin agar risiko yang terjadi di proyek dapat tercover. Akibatnya malah menimbulkan masalah baru dimana vendor yang dipilih adalah vendor yang tidak berkualitas.
  • Pelaku proyek kadang mengurangi spesifikasi teknis agar mendapatkan harga yang lebih murah. Ini mirip dengan kejadian di atas.
  • Pelaku proyek tahu tentang ancaman risiko, tapi hanya sebagian-sebagian dan tidak mengelolanya dengan sistematis. Akibatnya hanya sebagian risiko yang dapat ditangani. Sebagian besar malah tidak dapat dikelola dengan baik yang berdampak pada kerugian yang tidak sedikit.
  • Kecenderungan menghadapi ancaman risiko ada pada tindakan korektif dan bukan antisipatif. Ini tentu saja langkah yang tidak efektif karena efek penanganan kerugian yang kecil. Rasanya pelaku proyek lebih melatih kemampuan mengatasi masalah ketimbang membuat rencana agar risiko tidak terjadi atau risiko dapat dikendalikan.

 

 

Risiko yang tak terkendali akan menjelma menjadi masalah / problem. Risiko yang tidak dikelola dengan baik akan membuat proyek menjadi begitu bermasalah dan merugi.  Kenapa? Mari kita lihat dan pelajari contoh sederhana yang mungkin sering terjadi di proyek di bawah ini:

Suatu proyek dengan NK Rp. 10 M dan target keuntungan adalah 10% ( Rp. 1M) atau biaya proyek 90% (Rp. 9M) memiliki profil risiko sebagai berikut:

  • Low risk (dampak biaya 5% profit) sebanyak 20 risiko dengan probabilitas 50%
  • Medium Risk (dampak biaya 10% profit) sebanyak 15 risiko dengan probabilitas 40%
  • High risk (dampak biaya 15% profit ) sebanyak 10 risiko dengan probabilitas 30 %
  • Very High risk (dampak biaya 20% profit) sebanyak 5 risiko dengan probabilitas 15%

Jika risiko-risiko di atas diasumsikan terjadi semuanya (sesuai asumsi probabilitasnya) akibat tidak adanya manajemen risiko yang baik, maka dampak biaya adalah sebagai berikut:

  • Low risk = 50% x 20 x 5% x Rp. 1M = Rp. 0,5 M
  • Medium risk = 40% x 15 x 10% x Rp. 1M = Rp. 0,6 M
  • High risk = 30% x 10 x 15% x Rp. 1M = Rp. 0,4 M
  • Very high risk = 15% x 5 x 20% x Rp 1M = Rp. 0,15M

Total kerugian adalah Rp. 1,7 M atau proyek mengalami kerugian Rp. 0,7 M (Biaya pelaksanaan proyek = 107%). Alih-alih mendapatkan untung, proyek malah mengalami kerugian.

 

Pada kenyataannya, profil risiko di proyek konstruksi lebih besar dari apa yang telah di contohkan di atas. Berikut dampak risiko yang pernah terjadi berdasarkan pengamatan di proyek:

  • Risiko kontrak, akibat adanya klausal yang unbalanced dan tidak dinegosiasi ulang bisa berdampak hingga 300% dari profit
  • Risiko inflasi, akibat kondisi makro ekonomi atau kenaikan harga BBM bisa berdampak hingga 50% profit bahkan bisa lebih jika target profit kecil.
  • Risiko banyaknya defect, akibat pekerjaan yang tidak baik bisa berdampak hingga 50% profit.
  • Risiko akibat waste material yang tinggi dapat berdampak biaya hingga 25%

Dapat dibayangkan apabila semua risiko itu terjadi pada proyek yang tidak menyadari dan tidak melakukan manajemen risiko yang baik. Benar-benar proyek yang lugu. Lalu selanjutnya proyek terlambat menyadari dan panik. Padahal kita tahu persis bahwa apabila risiko sudah terlanjur terjadi maka peluang untuk mengurangi dampaknya akan kecil, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Tak jarang pilihan menurunkan spesifikasi dan tindakan lain yang mengurangi kualitas pun akhirnya terpaksa dilakukan.

 

Memahami profil risiko proyek apalagi proyek konstruksi yang mengandung begitu banyak risiko adalah sangat penting. Risiko menjadi salah satu parameter penting dalam kompleksitas proyek. Tidak memahami dan tidak melakukan aktifitas manajemen risiko, dapat dipastikan akan membuat proyek konstruksi mengalami kerugian yang cukup parah di samping mutu yang jelek dan keterlambatan pelaksanaan proyek.

 

Memahami manajemen risiko proyek akan membuat tim proyek tahu akan peta risiko proyek yang dikerjakan dan mengerti tindakan antisipasi yang harus dilakukan serta juga tahu akan prioritas yang harus diambil dalam rangka mengelola risiko proyek. Sedemikian hingga risiko dapat dikendalikan sebaik mungkin.

 

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan citra yang buruk kepada kontraktor. Tidak semua kontraktor di Indonesia seperti itu. Banyak juga kontraktor yang telah sadar akan penerapan manajemen risiko yang baik. Hanya saja baru terbatas pada perusahan kontraktor yang besar. Tulisan ini bermaksud memberikan kesadaran pada pelaku proyek yang bekerja pada perusahaan kontraktor yang belum membuat sistem manajemen risiko yang baik agar dapat menyadari betapa pentingnya mengelola risiko proyek.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Risiko and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>