Banjir di Jakarta 2014 kembali menjadi sorotan seperti sebelumnya. Banyak langkah yang telah dilakukan dari tahun ke tahun dan dari gubernur ke gubernur berikutnya. Tapi banjir Jakarta tak banyak berubah. Masyarakat pun hanya menagih janji kosong para pemimpin atau terbakar teriakan oposisi wakil rakyat yang sering bolos bersidang. Instrospeksi dan action masyarakat “sadar” rasanya lebih bernilai dan bermanfaat.
Penyebab Banjir Jakarta
Sudah terlalu banyak informasi dimanapun yang menyatakan bahwa banjir di Jakarta adalah karena beberapa sebab utama di bawah ini:
- Kapasitas aliran sungai yang ada tidak mampu mengimbangi banyaknya air yang masuk dalam bentuk hujan di Jakarta maupun daerah sekitarnya.
- Banyaknya sampah menjadi salah satu sebab berkurangnya kapasitas aliran sungai di Jakarta.
- Banyaknya bangunan yang menutupi permukaan tanah sehingga air hujan lebih banyak yang menjadi run-off ketimbang diserap oleh tanah.
- Rusaknya lingkungan pada area yang berfungsi sebagai daerah serapan air hujan.
- Kesalahan tata kota yang kronis sejak lama.
- Dll
Antara Sampah dan Banjir, Salah Siapa?
Kita juga sudah mendengar upaya pemerintah propinsi DKI dalam mengatasi banjir tahunan ini yang berupa pembangunan banjir kanal barat dan timur, memperbaiki saluran air / drainase kota, memodifikasi cuaca, dll. Lantas kenapa banjir masih terjadi? Jawabnya adalah dampak usaha masih kalah dengan dampak pengrusakan atau masih belum mampu menghilangkan dampak pengrusakan yang masih terus terjadi. Kalau begitu, sia-sia dong upaya-upaya itu?
Penyebab Sebenarnya…Kita Sendiri
Kalau banjir itu terjadi sekali, artinya itu problem teknis. Tapi jika terjadi berulang kali, maka mestinya problem non teknis yang mengakumulasi problem teknis menjadi sistemik dan kompleks. Apa bentuk problem non teknis itu? Berikut adalah analisis singkat untuk disimpulkan:
- Sudah tahu sungai harus bersih, tapi dengan cueknya membuang sampah seenaknya ke sungai bahkan jika sudah dilarang → KEPEDULIAN
- Sudah ada tata ruang kota, tapi dilanggar oleh kongkalikong dengan alasan yang dicari-cari padahal semua karena “fee” → KKN
- Sudah tahu menggunduli hutan akan membuat kerusakan lingkungan, tapi tetap serakah dilakukan tanpa takut karena mungkin merasa sudah ada yang mem”bekingi” → KKN
- Sudah tahu tinggal di bantaran atau sempadan sungai akan mengganggu sistem sungai, tapi tetap ditempati → KEPEDULIAN
- Sudah tahu terjadi proses pengrusakan yang menerus, tapi hanya mengandalkan janji calon pemimpin atau calon wakil rakyat saat pemilu (baca : demokrasi) tanpa mengindahkan ideologi dan idealisme → IDEALISME
- Sudah tahu sumur resapan akan sangat penting untuk mengurangi aliran air permukaan secara signifikan / konsep zero run-off, tapi tetap tidak action → KEPEDULIAN
- Sudah tahu Bogor adalah pengirim banjir yang seharusnya resapan air, tapi orang Jakarta tetap berbondong-bondong liburan weekend ke puncak yang membuat semakin berjamurnya villa dan bangunan bisnis di Puncak → IDEALISME
- Dll
Terlihat penyebab utama ada pada sikap mental kita sendiri. Sikap negatif di atas dilakukan berulang kali dan dilakukan secara masif dalam kurun waktu yang lama sehingga menjadi budaya masyarakat Jakarta. Sehingga penyebab banjir Jakarta sebenarnya adalah karena budaya negatif yang tak kunjung berubah. Jika budaya ini dipertahankan, siapapun Gubernur dan janji-janji politiknya dan apapun langkah teknis yang canggih yang dilakukan termasuk modifikasi cuaca, tetap tidak akan mengubah dan memperbaiki banjir Jakarta.
Masyarakat “SADAR”
Ilmu teknis mengenai penyebab banjir bukanlah ilmu teknis yang rumit dan sulit untuk dipahami oleh masyarakat. Pengetahuan ini telah diberikan sejak pendidikan dasar. Semua mestinya dan nyatanya tahu. Kenapa masih mengkristalkan budaya di atas? Jika tidak berlebihan, jawabannya mungkin pada pendidikan SIKAP dan MENTAL yang kurang diberikan dalam sistem pendidikan dan kurang didukung dalam sistem masyarakat kita.
SIKAP dan MENTAL itu adalah menghargai dan menjalankan (to act) pengetahuan yang didapat demi keselarasan dengan alam sekitar dan mental kuat menjaga value ini dengan meninggalkan budaya-budaya negatif. Andai saja masyarakat memiliki sistem yang memberikan penghargaan tinggi terhadap orang atau pihak yang bersikap positif terhadap alam sekitar, mungkin budaya negatif tadi tidak akan pernah terbentuk secara masif seperti sekarang ini.
Masyarakat “SADAR” bisa jadi adalah suatu istilah yang mungkin akan menjadi solusi paling penting untuk mengatasi permasalahan banjir di Jakarta. Dalam pendapat penulis, siapapun pemimpinnya, banjir Jakarta akan tetap terjadi jika masyarakat tidak introspeksi dan sadar. Pemimpin Jakarta haruslah tidak hanya berfikir mengatasi masalah banjir secara teknis yang terbukti kalah cepat dampak pengurangannya dengan dampak pengrusakan oleh masyarakat. Pemimpin Jakarta, harus merupakan pemimpin yang mampu untuk men”trigger” masyarakat untuk melakukan instrospeksi yang lalu sadar untuk memperbaiki semua kekeliruan sikap selama ini.
Will Be The Never Ending Story?
Banjir Jakarta “will be the never ending story”, jika KITA tidak mau mengubah persepsi skeptis dengan hanya memasrahkan problem ini ke pemerintah serta tidak mau mengubah dengan segera budaya negatif yang menjadi akar masalah banjir di Jakarta. Kunci penting semua ini adalah konsep Masyarakat “SADAR” yang bisa menjadi kontrol penting atas program dan kebijakan pemerintah termasuk janji politik tadi.
Masyarakat “SADAR” juga termasuk untuk tidak termakan janji politik atau terbakar hembusan kritis wakil rakyat yang nyatanya sering bolos bersidang.Masyarakatlah yang harus kritis untuk tidak gampang termakan janji dan terbakar opini. Transisi tingkat kesadaran masyarakat adalah perubahan kota Jakarta yang lebih baik…jika tidak, maka this will be the never ending story…
Referensi : Buku Advanced and Effective Project Management
Untuk melihat daftar artikel ⇒ Table of Content, dan konsultasi Project Management ⇒ Konsultasi. Daftar karya ada pada ⇒ Innovation Gallery, dan daftar riset pada ⇒ Research Gallery


Benar sekali masalah non teknis kadang menjadi persoalan rumit diselesaikan seperti memindahkan masyarakat di bantaran waduk/sungai, dan membuang sampah sembarangan. Sebenarnya arahnya sudah lumayan pemda sekarang dengan membangun sumur resapan, membersihkan sungai dan waduk, mendesak pembangunan waduk di DAS ciliwung dan rencana pembangunan 9 waduk di dekat pantai utara yang tahun ini dimulai satu waduk.Pada prinsipnya semua itu dalam kerangka keseimbangan air yang datang dari hujan di jakarta sendiri, aliran dari kota tetangga maupun das ciliwung serta kemampuan mengalirkan dan menampung air tersebut.Mestinya lebih cermat merencanakan dan dipercepat eksekusinya bersamaan waktunya dibangun kesadaran masyarakat jakarta dalam hal membuang sampah serta mau dipindahkan dari bantaran. dengan demikian harapan suatu ketika jakarta bebas banjir benar terjadi. Pusat dan daerah sama sama fokus membenai menuju jakarta bebas banjir.
saya, setuju dengan pernyataan bacaan di atas, tidak selayaknya masyarakat untuk hanya menagih janji pemerintahnya saja tanpa ada aksi langsung dari mereka, masalah kepedulian rasanya jadi penyakit utama yang menjadikan mereka apatis, apa harus adanya pendidikan khusus mengenai kepedulian di sekolah-sekolah indonesia ?. mari peduli terhadap lingkungan.
Mengubah budaya acuh menjadi peduli ini yang paling sulit. Mungkin yang paling dibutuhkan untuk perubahan budaya ini adalah kepemimpian kolektif yang kuat dari elemen masyarakat dan juga pendidikan khusus yang tadi disebutkan.