Misteri Pembuatan Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan Abad ke 9. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia.  Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak luput dari misteri mengenai cara pembuatannya? Misteri ini banyak melahirkan pendapat yang spekulatif hingga kontroversi. Dengan beberapa catatan dan referensi yang terbatas, saya coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu di-misteri-kan!…

 

Design Candi

Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa. Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit atau deretan bukit-bukit kecil yang memanjang dengan arah Barat-Barat Daya dan Timur-Tenggara dengan ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 34.5 m diukur dari permukaan tanah datar di sekitarnya dengan puncak bukit yang rata.

Candi Borobudur merupakan tumpukan  batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi (Sampurno, 1966).

Candi Borobudur juga terlihat cukup kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi.

 

Material Penyusun Candi

Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur, disesuaikan dengan  bentuk bangunan candi. Menurut Sampurno Tanah ini ditambahkan di atas tanah asli  sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Tanah urug ini sudah dibuat oleh pendiri Candi Borobudur, bukan merupakan hasil pekerjaan restorasi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5-8,5 m.

Batuan penyusun Candi Borobudur berjenis  andesit  dengan porositas yang tinggi, kadar porinya sekitar 32%-46%, dan antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan. Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis. Dari hasil penelitian Sampurno (1969), diperoleh kuat tekan minimum sebesar 111 kg/cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg/cm2. Berat volume batuan antara 1,6-2 t/m3.

 

Misteri Cara Membangun Candi

Data mengenai candi ini baik dari sisi design, sejarah, dan falsafah bangunan begitu banyak tersedia. Banyak ahli sejarah dan bangunan purbakala menulis mengenai keistimewaan candi ini. Namun menyisakan misteri tentang bagaimana candi ini dibangun.

Hasil penelusuran data baik di buku maupun internet, tidak ada satupun yang sedikit mengungkapkan mengenai misteri cara pembangunan candi. Satu-satunya informasi adalah tulisan mengenai sosok Edward Leedskalnin yang aneh dan misterius. Dia mengatakan

Saya telah menemukan rahasia-rahasia piramida dan bagaimana cara orang Mesir purba, Peru, Yucatan dan Asia (Candi Borobudur) mengangkat batu yang beratnya berton-ton hanya dengan peralatan yang primitif.

Edward adalah orang yang membangun Coral Castle yang terkenal. Beberapa orang lalu memperkirakan bagaimana cara kerja dia untuk mengungkap misteri tentang pengetahuan dia bagaimana bangunan purba dibangun. Berikut pendapat beberapa orang dan ahli mengenai cara Edward membangun Coral Castle:

  • Ada yang mengatakan bahwa ia mungkin telah berhasil menemukan rahasia para arsitek masa purba yang membangun monumen seperti piramida dan Stonehenge.
  • Ada yang mengatakan mungkin Edward menggunakan semacam peralatan anti gravitasi untuk membangun Coral Castle.
  • David Hatcher Childress, penulis buku Anty Gravity and The World Grid, memiliki teori yang menarik. Menurutnya wilayah Florida Selatan yang menjadi lokasi Coral Castle memiliki diamagnetik kuat yang bisa membuat sebuah objek melayang. Apalagi wilayah Florida selatan masih dianggap sebagai bagian dari segitiga bermuda. David percaya bahwa Edward Leedskalnin menggunakan prinsip diamagnetik jaring bumi yang memampukannya mengangkat batu besar dengan menggunakan pusat massa. David juga merujuk pada buku catatan Edward yang ditemukan yang memang menunjukkan adanya skema-skema magnetik dan eksperimen listrik di dalamnya. Walaupun pernyataan David berbau sains, namun prinsip-prinsip esoterik masih terlihat jelas di dalamnya.
  • Penulis lain bernama Ray Stoner juga mendukung teori ini. Ia bahkan percaya kalau Edward memindahkan Coral Castle ke Homestead karena ia menyadari adanya kesalahan perhitungan matematika dalam penentuan lokasi Coral Castle. Jadi ia memindahkannya ke wilayah yang memiliki keuntungan dalam segi kekuatan magnetik.

Akhirnya didapat foto yang berhasil diambil pada waktu Edward mengerjakan Coral Castle menunjukkan bahwa ia menggunakan cara yang sama yang digunakan oleh para pekerja modern, yaitu menggunakan prinsip yang disebut block and tackle.

Beda Coral Castle beda pula Candi Borobudur. Coral Castle masih menungkinkan menggunakan Block dan Tackle. Untuk Candi Borobudur rasanya block dan tackle pun masih belum ada. Lalu bagaimana sebenarnya cara membuat Candi ini?. Misteri yang belum terungkap berdasarkan informasi di atas. Saya coba mulai berfikir ulang terlepas dari misteri dengan mencoba menganalisis data-data yang ada.

Ada beberapa aspek yang diperhatikan sebelum memperkirakan bagaimana candi ini dibangun, yaitu:

  • Bentuk bangunan. Candi ini berbentuk tapak persegi ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 42 m. Luas 15.129 m2.
  • Volume material utama. Material utama candi ini adalah batuan andesit berporositas tinggi dengan berat jenis 1,6-2,0 t/m3. Diperkirakan terdapat 55.000 m3 batu pembentuk candi atau sekitar 2 juta batuan dengan ukuran batuan berkisar 25 x 10 x 15 cm. Berat per potongan batu sekitar 7,5 – 10 kg.
  • Konstruksi bangunan. Candi Borobudur merupakan tumpukan  batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi.
  • Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk
  • Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar Candi Borobudur.
  • Candi Borobudur merupakan bangunan yang kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 505 arca yang melengkapi candi
  • Teknologi yang tersedia. Pada saat itu belum ada teknologi angkat dan pemindahan material berat yang memadai. Diperkirakan menggunakan metode mekanik sederhana.
  • Perkiraan jangka waktu pelaksanaan. Tidak ada informasi yang akurat. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Borobudur dibangun mulai 824 M – 847 M. Ada referensi lain yang menyebut bahwa candi dibangun dari 750 M hingga 842 M atau 92 tahun.
  • Pembangunan candi dilakukan bertahap. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Tahap kedua, pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar. Tahap ketiga, undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.Tahap keempat, ada perubahan kecil, yakni pembuatan relief perubahan pada tangga dan pembuatan lengkung di atas pintu.
  • Suatu hal yang unik, bahwa candi ini ternyata memiliki arsitektur dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. setiap bagain kaki, badan dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9. Penempatan-penempatan stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan borobudur memang merupakan bukti sejarah yang menarik untuk di amati.
  • Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8. Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.
  • Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha. Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.

Melihat data-data di atas, tentunya masih bersifat perkiraan, saya mencoba memberikan beberapa analisa yang mudah-mudahan dapat dikomentari sebagai usaha kita menguak misteri yang ada sebagai berikut:

1.      Dari data yang ada disebutkan bahwa ukuran batu candi adalah sekitar 25 x 10 x 15 cm dengan berat jenis batu adalah 1,6 – 2 ton/m3, ini berarti berat per potongan batu hanya sekitar maksimum 7.5 kg (untuk berat jenis 2 t/m3). Potongan batu ternyata sangat ringan. Untuk batuan seberat itu, rasanya tidak perlu teknologi apapun. Masalah yang mungkin muncul adalah medan miring yang harus ditempuh. Medan miring secara fisika membuat beban seolah-olah menjadi lebih berat. Hal ini karena penguraian gaya menyebabkan ada beban horizontal sejajar kemiringan yang harus dipikul. Namun dengan melihat kenyataan bahwa berat per potongan batu adalah hanya 7.5 kg, rasanya masalah medan miring yang beundak-undak tidak perlu dipermasalahkan. Kesimpulannya adalah proses pengangkutan potongan batu dapat dilakukan dengan mudah dan tidak perlu teknologi apapun.

2.      Sumber material batu diambil dari sungai sekitar candi. Hal ini berarti jarak antara quarry dan site sangat dekat. Walaupun jumlahnya mencapai 2.000.000 potongan, namun ringannya material tiap potong batu dan dekatnya jarak angkut, hal ini berarti proses pengangkutan pun dapat dilakukan dengan mudah tanpa perlu teknologi tertentu.

3. Candi dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada yang mengatakan 23 tahun  ada juga yang mengatakan 92 tahun. Jika berasumsi paling cepat 23 tahun. Mari kita berhitung soal produktifitas pemasangan batu. Jika persiapan lahan dan material awal adalah 2 tahun, maka masa pemasangan batu adalah 21 tahun atau 7665 hari. Terdapat 2 juta potong batu. Produktifitas pemasangan batu adalah 2000000/7665 = 261 batu/hari. Produktifitas ini rasanya sangat kecil. Tidak perlu cara apapun untuk menghasilkan produktifitas yang kecil tersebut. Apalagi menggunakan data durasi pelaksanaan yang lebih lama.

4. Lamanya proses pembuatan candi dapat disebabkan ada perubahan-perubahan design yang dilakukan selama pelaksanaannya. Hal ini mungkin dikeranakan adanya pergantian penguasa (raja) selama proses pembangunan candi.

5. Borobudur dilihat secara fisik begitu impresif. Memiliki 10 lantai dengan bentuk persegi dan lingkaran. Memiliki relief sepanjang dinding dan arca dalam jumlah yang banyak. Candi ini begitu memperhatikan falsafah yang terkandung dalam ukuran-ukurannya. Hal ini membuktikan bahwa Candi dibangun dengan konsep design yang cukup baik.

6. Candi Borobudur adalah Candi terbesar. Candi Borobudur juga terlihat kompleks dilihat dari design arsitekturalnya Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi. Ini jelas bukan pekerjaan design dan pelaksanaan yang gampang. Kesimpulannya candi Borobudur yang bernilai dari sisi design baik teknik sipil maupun seni arsitektur membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang matang dari aspek design maupun cara pelaksanaannya. Saya berkesimpulan Candi ini dibangun dengan manajemen proyek yang sudah cukup baik.


Kesimpulan-kesimpulan di atas akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan umum bahwa Candi Borobudur berbeda dengan bangunan pubakala lainnya yang dipenuhi misteri dan mistis. Candi ini lebih dapat dijelaskan dengan konsep fisika sederhana. Cara membangun candi ini bukanlah suatu hal yang dianggap misteri apalagi mistis.

 

Candi ini lebih bernilai dan terkenal bukan pada misteri-misteri yang berserakan, tapi candi ini memiliki nilai design Aristektur dan Teknik Sipil serta kemampuan Manajemen Proyek yang tinggi yang menunjukkan kemajuan pemikiran para pendahulu bangsa kita. Kita patut bangga!!!

Lihat pembahasan selanjutnya dari candi Borobudur ini pada tulisan “misteri Pembuatan Candi borobudur (lagi)

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Proyek Indonesia and tagged , , . Bookmark the permalink.

60 Responses to Misteri Pembuatan Candi Borobudur

  1. adasupriadi says:

    Selamat atas tulisannya tentang Borobudur Pak Budi. Lambat laun tapi pasti, kalau kita terus berusaha belajar, dan berusaha beropini sebaik mungkin, rahasia teknologi pembangunan Borobudur akan terungkap. Seperti opini atlantis pemikiran Prof Arsyio Santos dan Dr. Stephen Oppenheimer.
    Memang menarik mempelajari Borobudur, sebut saja “Empu Pengukuran” di jaman itu, mereka pakai apa ngukurnya, kan belum ada total station. Unit pengukuran juga tidak memakai satuan meter. Catatan sejarah memang tersobek – sobek dan hilang, tapi kalau kita tekun untuk mengumpulkannya pasti ada hasilnya.

  2. budisuanda says:

    Terima kasih pak Supri…memang betul, banyak informasi yang banyak berserakan disekitar kita yang perlu kita pungut satu persatu dalam rangka mendapatkan keutuhan informasi dan bahkan ilmu pengetahuan. Borobudur yang jadi kebanggaan kita ternyata tidak perlu menjadi misteri. Pendahulu kita ternyata sudah lebih pintar ketimbang para pembuat bangunan purbakala seperti Piramid atau yang lainnya. Pendahulu kita ternyata memiliki pengetahuan yang sudah cukup maju dari sisi ilmu teknik sipil dan ilmu manajemen proyek disamping memiliki cita rasa seni yang begitu tinggi. Semoga tulisan-tulisan berikutnya akan lebih banyak mengungkap ilmu yang terpendam di Candi Borobudur.

  3. fadlh says:

    hanya saja tidak ada keterangan
    siapa yg mendirikan candi itu???

    • budisuanda says:

      Candi Borobudur dibangun oleh arsitek Empu Gunadarma. Nama ini adalah satu-satunya nama pelaku yang membangun candi Borobudur yang tertulis dalam kitab negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca di jaman Kerajaan Majapahit. Empu Gunadarma adalah Sang Arsitek Candi Borobudur.

  4. Pingback: Misteri Pembuatan Candi Borobudur (lagi) | Manajemen Proyek Indonesia

  5. Nugroho says:

    Bagaimana dengan patung Buddha nya. diangkat berapa orang, lewat relung sebelah mana?

    • budisuanda says:

      Gambaran sederhana mengenai metode pengangkatan patung buddha adalah dengan mengetahui volume patung itu sendiri. Andaikan patung buddha itu lebih besar sedikit dari ukuran manusia, kemungkinan bervolume sekitar 0.08-0.125 m3. Sehingga dgn berat jenis patung yg berupa batu apung adalah 1800 kg/m3, berat patung tersebut berkisar 145 – 225 kg. Mengangkat benda seberat itu rasanya tidak terlalu sulit jika menggunakan tackle atau membuat bidang miring sisi tertentu sebelum seluruh konstruksi terselesaikan dan patung digeser menggunakan bantuan alas kayu bulat. Ini hanya perkiraan saja. karena referensi yang terbatas.

  6. Pingback: Misteri Pembuatan Candi Borobudur - Rumah Informasi Whelly

  7. almira ayu brillianty says:

    makasih bapak sudah membuat artikel ini,,,,ini sangat berguna bagib saya terimakasih

  8. Salma Rd says:

    menakjubkan karena dibuat tanpa menggunakan semen,
    dan hanya menggunakan putih telur,
    tp sayang ,sekarang sudah tdk menjadi 7keajaiban dunia,
    karena kurangnya perhatian pemerintah

  9. azzahra says:

    jazakumullah khairan katsiran terimakasih atas artikelx

  10. Geoff says:

    Permisi bapak, boleh saya minta izin untuk meng-copy gambarnya? nama website akan saya cantumkan (untuk presentasi sekolah). Terima Kasih.

  11. Abe says:

    wah baru baca dan informasi yang sangat menarik serta sarat bobot ilmu. ada satu hal yang menjadi pertanyaan saya, kenapa stupa utama (yang paling atas dan besar) bentuk ujungnya setelah direnovasi tidak menyerupai bentuk aslinya (ujung panjang dan lancip seperti kuil buddha di thailand)? apakah ada keterangan penjelasan ttg hal ini pak? thanks before

    • budisuanda says:

      Renovasi candi Borobudur mestinya tidak mengubah bentuk stupa utama. Kajian tulisan ini kebetulan tidak sampai pada hal detail design renovasi.

  12. Ciri bukti leluhur bangsa ini begitu menganut ajaran Budi luhur, membuktikan sebagai karya anak bangsa yang amat sangat…….tak ternilai dengan apapun juga.
    aku sungguh malu pada leluhur bangsa ini, sulit membuat kesempatan untuk melanjutkan karya leluhur suci terdahulu… yang utuh.

  13. Eman says:

    oya gan batuan apa sih yang dipaey untuk membangun candi bolo budur ?

  14. Rudy says:

    Gan,boleh tau penjelasan ini diambil dari mna?dftar pustakanya mksudnya,,,buat mengerjakan tugas gan,,,penting banget soalnya artikel ini,,mkasieh,

    • budisuanda says:

      Tidak ada referensi, saya explore berdasarkan kajian sederhana saja. Utk data-data mengenai profile candi Borobudur seperti berat jenis batu, ukuran, dll, rasanya banyak di internet. Selamat googling.

  15. sems wonk says:

    apa ada kaitanya dengan mahluk ghaib dalam pembuatan candi borobudur ?

    • budisuanda says:

      Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini karena tidak dalam lingkup topiknya. Sebaiknya kita tidak mengarah kesana apalagi kajian saya menunjukkan tanpa makhluk gaib, Borobudur bisa dibangun oleh nenek moyang kita.

  16. biank kubu says:

    ini sangat membatu saya dalam mengerjakan tugas saya//////””’;;;;;;;/////””’

  17. Agishika says:

    Saya penasaran dengan alat apa mereka mengukur batuannya, menemukan rumus perhitungan setepat yg anda tulis diatas, dan apa arti dari nama Borobudur itu…?

    • budisuanda says:

      Nama Borobudur berasal dari kata Boro dan Budur. Boro berasal dari kata Sangsekerta berarti “ Vihara” yang berarti komplek Candi dan Bihara. Sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di Atas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa ( Komplek Candi ) yang terletak di atas bukit

  18. Apa dasar kalian mengatakan patung di borobudur adalah patung Budha?

    Coba kalian bandingkan patung budha seluruh dunia dengan patung di Borobudur

    Serupa memang , tetapi apakah sama ?

    • budisuanda says:

      Khusus untuk hal ini, silahkan memberikan kontribusi penjelasan. Saya hanya fokus pada upaya menguak proses dan metode pembuatan candi ini. Penjelasan anda akan memperkaya ilmu mengenai candi Borobudur. Terima Kasih.

  19. fahleli lubis says:

    Dari mana batu-batu yg banyak itu berasal ? dan apakah sama jenis batu itu dari tempat asalnya? Dan dengan menggunakan apa mereka membuat relief yg sedemikian rupa, apakah udah ada alat yg begitu canggih dizaman itu? yah saya setuju wajah patung budha di borobudur sangat berbeda dengan patung patung budha lainnya, terima kasih .

  20. Yhl says:

    Patung Buddha disetiap negara mempunyai bentuk yang unik dan tidak sama antara budaya / bangsa yang satu dengan yang lain. Karena bentuk patung Buddha merupakan hasil kreasi individual sehingga dalam pembuatannya individu tersebut akan menggunakan imaginasi citra/rupa yang telah biasa dia lihat. Untuk itu untuk bisa menentukan apakah patung yang ada di candi Borobudur itu patung Buddha atau bukan, kita dapat menganalisannya dari bentuk bangunan candi, gaya stupa candi, cara duduk stupa, tangan stupa dan lain-lain. Dari situ saya kira semua orang akan dengan sangat mudah menyatakan bahwa stupa yang ada di candi Borobudur adalah stupa Buddha. Begitulah kira-kira pendapat saya.

  21. Pingback: Misteri Dibalik Pembangunan Candi Borobudur | Paling Seru

  22. Raden Mukti Trima Mulya says:

    Bagaimana ya bila kita merujuk pada hasil penelitian KH Fahmi Basya, tentang latar belakang dan sejarah beridirinya Candi Borobudur tersebut ?

  23. gelaseasri says:

    menurut penelitian K.H.Fahmi Basya yang juga juga beliau meneliti berdasarkan Al-Qur’an bahwaborobudur itu adalah peninggalan Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis (Ratu Boko).coba kamu cari di internet yang sudah nanyak di muat baik tulisan maupun videonya.

    • budisuanda says:

      Sebenarnya saya kurang tertarik untuk menghubungkan candi ini dengan cerita Nabi Sulaiman AS. Time frame saja sudah tidak berhubungan. Candi Borobudur dibangun abad ke-9. Sedangkan Nabi Sulaiman tentu juh sebelum itu (sebelum masehi – SM). Jika time frame saja sudah membuktikan tidak berhubungan, bagaimana mungkin dapat dibangun hipotesa seperti itu?

      • ARI says:

        di Alquran tidak pernah di bahas soal masa hidup, dr mabi adam sampe nabi sulaiman, hanya penjelasan tentang bukti2 ilmiah saja.bisa saja pada abad ke 9 nabi sulaiman masih hidup.

  24. gelaseasri says:

    maaf maksud saya sudah banyak di muat baik tulisan maupun videonya.

  25. Terhindar dari peninggalan prabu sulaiman.As atau umat pangeran sidhartha gautama.
    Kita tetap harus berbngga karna komplek yg mengagumkan dari borobudur ini….
    Ini juga bisa menghasilkan devisa negara yng besar juga kan……

  26. Tri Pantoro says:

    Yang jelas saya mengucapkan sangat terimakasi kepada penulis,… saya menghargai dan adalah referensi sangat membatu bagi yang ingin mengetahui tentang candi Borobudur belum tentu semua yang bercoment memiliki pemikiran yang secerdas itu,… apalagi kami,.. terimakasih .. terimakasih Pak,..

  27. Theodorus A. B says:

    wah artikel yang sangat bermanfaat pak, terutama bagi mahasiswa arkeologi seperti saya, bisa menambah wawasan dan juga bahan kajian penelitian lebih lanjut.

  28. Vincent li says:

    wah pak budi bagus sekali tulisanya smoga bermanfaat untuk banyak org … keep smile

  29. Danz Utama says:

    Bagus…menambah wawasan tentang Borobudur…harusnya kita tidak berdebat tentang apakah itu candi Budha atau Hindu, alangkah baiknya kita bisa berkontribusi secara nyata melestarikan budaya bangsa..

  30. theoutsider says:

    apapun pendapat mengenai borobudur, yang jelas borobudur adalah kebanggaan bagi warga indonesia

  31. Lukas says:

    Here: Misteri Pembuatan Candi Borobudur | Manajemen Proyek Indonesia I saw that has an interest in 145 k.

  32. ayis says:

    menurutku masih penuh misteri,dan pengungkapan hanya menggunakan fisika sederhana itu merupakan sebuah Otak atek Mathuk berdasarkan akal pikiran…saya berkeyakinan bahwa relief-relief di Borobudur menceritakan isi Kitab Zabur yang di pegang oleh agama nenek moyang kita. Pada relief-relief itu ditemukan kisah Nabi Nuh, Kisah Nabi Yunus, dan lain-lain. Bahkan patung-patung yang selama ini diyakini sebagai gambaran Budha sesungguhnya adalah gambaran tentang sosok Nabi Sulaiman dan sosok-sosok lainnya seperti Ghilman dan Wildan yang diceritakan dalam Al Qur’an

  33. Nugraha Fahrul says:

    Mas budi ada baiknya kita melihat borobudur dalam perspektif baru seperti yang diteliti sekarang ini tentang PIRAMID, Yaitu dengan matematika sederhana dan FAKTA.
    1. Gunadharma hanya mitos, jadi siapa pembangun dan arsitek borobudur belum terbukti. Kalo bikin relief aja bisa kok gak ada sedikitpun relief yang menggambarkan antara GUNADARMA atau ratunya SMARATUNGGA di cantumkan. Ramses bangun piramid tetep minta dirinya dibuat patung setinggi 30 m ( perspektif EGO PEMIMPIN )
    2. Posisi letak Borobudur persis segi empat dalam bujur angin. butuh kompas kalo mau ngepas utara selatan. Kalo pake jam matahari malah lebih rumit lagi karena poros yang didapat bukan utara selatan . ( coba gugling ato liat pake GOOGLE EARTH ) saya sampai mrinding membayangkan ketepatannya.
    3. Pola matematika nya terlalu rumit untuk ukuran masyarakat pembuatnya. Coba liat relief yang rapi dengan sistem pembagian dan proporsi tubuh. Sangat pas gak kepunjulen ato ruang kosong karena kurang.
    4. Apabila pola hitung nya sudah ditemukan berarti matematika masyarakat ato pembuat borobudur lebih canggih dong ketimbang THALES, MILATUS ato bahkan PYTAGORAS ( timeline mereka hampir sama tahunnya dengan borobudur )
    5. Jarak kotak dan batu serta pembagian lingkaran antar patung benar benar pas. Padahal kalo mau pas ya pake THEODOLIT (hiks..) ato autocad. Dengan grand design yang sangat besar seperti itu perencanaan cerita yang akan di masukkan di PAHATAN memutar yang sangat teliti.
    6. Prasasti yang mendukung borobudur tidak ada. Prasasti yang di simpan di MUSEUM INDONESIA dan BOROBUDUR di buat nge PAS oleh para peneliti dan kurang spesifik akurat. Prasasti KALASAN, KARANG TENGAH, TEPUSAN atau yang lain adalah lahir dari asumsi peneliti. Pun NEGARA KERTAGAMA.
    7. Pada bagian Atas di sekitar patung budha yang masih asli. Posisi batu adalah LEVEL 0° horizontal ( dengan WATERPASS ) lho. Trus dengan alat apa mereka membuat level 0 tersebut. ( WATERPASS, SELANG TIMBANG ato FEELING ? ) belum lagi jarak yang sama antar stupa pada gambaran anda di sisi kanan ato kiri pada TAMPAK DEPAN. PRESISI murni bagai diukur dengan THEODOLIT mas….( ngeri juga mbayangin pinternya pak ARSITEK )
    8. Kalo matematikannya udah ada…kok masyarakat kuno sekitar candi atau anak arsitek dan keturunannya tidak ada yang menguasai….hilang tak membekas matematika nya tadi.
    9. Kira kira satuan yang digunakan pembangun apa ya? Meter ? Tombak ? Cacah ? atau inchi ? hingga ketepatannya se detil itu.
    10. Penemu borobudur adalah RAFLES. Bahkan RAJA MATARAM modern sebelum Raffles seperti HAMENGKUBUWONO I dengan wilayah mencakup sampai KEDU tidak mengexplor borobudur karena mitos ke angkeran.
    SIAPA PENCIPTA DAN PEMBANGUN BOROBUDUR…? saya siap berargumen…he he…PRAMBANAN JUGA deh…

    kalo anda ngeliat dari sisi PEMBANGUN ato arsitek pastilah ngeri membayangkan dapat order dari RAJA buwat bangun borobudur. Karena disiplin ilmunya kudu komplet. KALO SEKARANG dengan mesin CNC pemahat ato AUTOCAD dan program pendukung laen mungkin bisa. TAPI dulu…mmmm ( geleng geleng ajah …)

    tambahan mas
    1. gambar kapal yang ada pada relief borobudur tentang kapal tiang 2 ( ato 3 ?) padahal kapal bertiang 3 baru dikembangkan pada kekalifaan turki pada abad 9 – 10 . trus kemoderenan kapal yang tercantum dalam relief harusnya jadi bahan pertimbangan bahwa penemu kapal tiang 3 atau 2 adalah ORANG INDONESIA. SAK DUNYA lho
    2. Ketepatan bujur utara selatan pada borobudur ( mungkin pergeserannya sekitar 2° lah ) harus dipertimbangkan dengan pergeseran magnet bumi sekitar 1000 tahun ( teori ini sudah diteliti di AS dan EROPA ). Jadi kemungkinan untuk mengukur usia borobudur dapat dilakukan, karena gak mungkin mengukur usia batu. Pengukuran ini sudah saya lakukan dengan GOOGLE EARTH di padu dengan GOOGLE SKETCHUP dan mendatangi borobudur sendiri membawa kompas (kurang kerjaan banget ya…? ).
    3. Relief yang hilang ato dikubur kembali ( tp photonya udah ada ) pada undak pertama untuk alasan penguatan struktur harusnya digunakan sebagai bahan pertimbangan karena itu mencerminkan kehidupan penduduk lokal ( ada gambar bangunan bertingkat, mirip masjid ???? dan gajah (berarti jawa dulu ada gajah..? soale kalo bawa gajah dari seberang pulau ya repot juga.
    4. Relief yang belum selesai. Apakah pembuat borobudur kelewat deadline…? ada hal yang mengancam hingga ditinggalkan…? bencana yang membuat lari…? buanyak deh ada di photo pak cheopas…
    5. Sekian deh…

    • budisuanda says:

      Analisis yang detail. Sangat bagus. Semakin digali, semakin didapat ilmu yang banyak bertebaran di Candi kebanggaan kita.

  34. Nugraha Fahrul says:

    harusnya Universitas terkemuka di Indonesia atau team independen dibentuk untuk meneliti kembali BOROBUDUR dengan matematika sederhana (atau anggota pertama saya dan mas budi he he ) Trus kompasnya yang nemukan sapa. Kompas portable jarum sendiri baru ada di dunia ini abad 9. (Kotaknya pas UTARA SELATAN lho…)
    occam razor, dari beberapa hipotesis rumit. Penjelasan yang paling sederhanalah yang mendekati kebenaran.
    jadi ya….saya melihatnya dari sudut simple aja mas.

  35. adi says:

    ada beberapa pertanyaan mas?

    1. Ketebalan tanah urug 0,5-8,5 m.
    apa gak menyebabkan settlement karena tanahnya konsolidasi mas? kayaknya mereka belum punya vertical drain untuk menangani masalah ini.

    2. dari sisi mrk
    berapa orang kira kira dalam pembangunannya? mengingat sampai sekarang belum terkuak sejarah perbudakan di indonesia. dan tipikal bangunan yang rumit, sepertinya pekerja kasar dan 1 orang empu belum cukup untuk menghasilkan candi sebesar ini…
    Berapa biaya pembangunan borobudur kira kira sekarang ini? anggaplah dengan adanya bantuan teknologi baru seperti cemen, towercrain, dan total station…
    kira kira berapa kali lipat jika tanpa semua teknologi itu?
    jika kita analogikan sekarang kerajaan medang sama dengan sebuah negara, anggaplah yang membagun candi adalah kementerian. bagaimana sebuah kerajaan bisa mengalokasikan anggaran sebesar itu? berapa kira kira kekayaan kerajaan?
    pasti selain membangun candi mereka masih menganggarkan untuk perang, pendidikan dan keagamaan, infrastruktur lainnya, dan anggaran untuk menciptakan kestabilan kekuasaan di kerajaanya.

    • budisuanda says:

      Jawaban saya:
      1. Proses urugan disana pasti lama karena dikerjakan manual. Sehingga settlement mungkin terjadi selama proses itu. Ketika selesai proses urugan, settlement sudah tidak besar lagi
      2. Detail data ini belum ditemukan termasuk anggarannya. Tapi saya setuju bahwa dulu kerajaan sudah cukup kaya karena mampu menganggarkan dana yang cukup besar untuk ukuran jaman saat itu.

  36. iwan santoso says:

    Terima kasih pada pak budi yang telah mengulas borobudur..hal itu menambah wawasan sy…saya tunggu ulasanya tentang candi prambanan,bukan dari sisi misterinya aja…mksh pakk

  37. Anonymous says:

    Bagaimana Cara Orang Bikin Relief

  38. Anonymous says:

    Bagaimana Membikin Relief

  39. Mas Ronggo says:

    Salam hormat, ijin nimbrung rembug menambah kaya analisa dan hipotesa putra bangsa ini, Nusantara.
    1. Tahun 1974 saya pernah membaca laporan hasil penelitian dengan radiocarbon, ternyata batuan asli candi itu tidak dapat diukur umurnya. itu artinya batuan aslinya tidak bersinggungan dengan tangan manusia yang mengandung carbon.
    2. tahun1978 saya kesana, melihat apakah betul ada lem atau lapisan di batu aslinya, yang katanya dibuat dari putih telur. Sepertinya bukan putih telur, tetapi dari campuran legen dengan kapur, dalam perbandingan yang cukup rumit.
    3. Dari prasasti yang terkait dengan borobudur, kalau dicermati kalimat per kalimat, Syailendra tidak membuat Borobudur, tetapi membangun kembali Borobudur, sebagai pelaksanaan pesan berantai, bahwa semua penguasa negeri itu harus merawat peninggalan nenek moyang itu. Dan boleh jadi pada saat itu kerusakannya sudah sangat parah. Tolong deh didalami prasasti itu. cek dengan radiocarbon batu prasastinya dengan batu aslinya, tua yang mana.
    4. Penelitian ke depan sangat perlu dikembangkan, dan apa yang telah dilakukan KHF Basya, adalah terobosan putra bangsa Indonesia yang perlu disikapi positif. Dan sayapun sangat berharap ada peneliti yang lain, dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda. Maklum hipotesa KHF Basya, menggunakan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sayapun selalu menggunakan acuan yang sama, sebab Al Qur’an memang petunjuk bagi mereka yang beriman dan bertaqwa. Bagi yang bekalnya sedikit, tentu tak akan mampu mencerna semua hipotesa yang menggunakan Al Qur’an. Semua penelitian dan hipotesa tidak ada yang salah, justru jadikan kekayaan. Bagi seorang muslim, sah-sah saja mengemukakan hipotesanya, karena memang harus disampaikan, tetapi membuat kesimpulan akhir itulah yang tidak boleh, karena kunci rahasia hanya ada pada Allah.
    5. Tentang umat Budha yang mengklaim itu milik Budha juga tidak semestinya, karena Borobudur itu sebenarnya monumen sejarah Nuswantara dari masa lalu. Dalam situs-situs Budha biasanya selalu ada lambang khusus yaitu teratai. Hal ini mudah dijelaskan bagaimana asalnya. Begini, langit itu 7 ya, diatas langit yang 7 itu ada apa? Tentu Arsy Tuhanmu, atau singgasana Tuhanmu yang berada “seperti diatas air”. Nah, dalam bahasa Arab, teratai itu disebut “sidrah”, maka itulah maka singgasana Allah di sebut “Sidhratul Munthaha”. jadi dalam hal ini konsep ini dikenalkan di agama Budha. Sayangnya setelah beberapa generasi, hal ini divisualkan, maka yang diatas air itu adalah teratai. kalau konsepnya benar teratainya tentu bermalai 18. Persoalannya ketika jaman berlanjut dan ganti generasi, diatas teratai itu didudukkan suatu simbol yang bersifat kemanusiaan. Coba deh Anda ke Candi Jiwan di muara Citandui, peninggalan Budha yang masih murni, belum dikotori pemahaman lain.
    6. Ketika heboh penemuan kapal Nuh, dan mencocokkan informasi dari timur tengah babuat dari kayu yang mengabdung kapur, kawan-kawan heboh, tetapi bagi saya tidak. Saya sampaikan pendekatanmu hipotesamu harus diperluas, gunakan ilmu flora, dan geologi. Saya kasih tahu, kayu yang mengandung kapur itu tumbuhnya di Nusantara saja, dari wilayah Purwakarta utara-selatan, terus ke timur sampai Timor di selatan dan Kalimantan Selatan-Timur dan Sulawesi di Utara-Timur. Dalam bahasa latin namanya tectona grandis, itulah kayu yang mengandung kapur. Kalau jumpa KHF Basya tentu perlu mengajak beliau ke pulau Selayar. Ada jawabannya disana.
    8. Kawan-kawan, yang perlu dibantu adalah KHF Basya, tempat pemindahan Arsy itu tentu tidak di Borobudur saat ini, tetapi ada di tempat lain. Ketika saya duduk menunggu waktu syuruq pas di pojok rukun Syam, dan tidak sengaja menatap lurus pojok Rukun Hajar Aswad, terlihat stupa itu. Kaget, ya kaget. Jadi dari situ saya justru berpendapat ada sesuatu yang perlu didalami tentang sejarah Nuswantara. Saya pun mencoba menghitung rentang waktu antara Sulaiman dengan Sidharta, terus saya teruska ke pertanyaan siapa seorang dari dua guru Sidharta yang memang katanga dari tenggara itu?. terus bagaimana tatacara ibadah keduanya.
    Udah ini dulu, lain waktu disambung lagi. Wassalamualaikum ww.

    • wulandari says:

      Mas Rangga, Bisa minta Kontak mu ? saya juga sangat tertarik dengan penelitian ahli Matematika KHF Basya, banyak sekali isi ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang Nuswantara , kita bisa berdiskusi lebih lanjut mengenai Borobudur, berkaitan juga krn leluhur saya ada disana..saya dan tim saya berniat melanjutkan ekspedisi untuk mendukung pendapat KHF Basya :)

  40. crane says:

    Marilah kita gali terus kebesaran budaya dan teknologi nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>