Menguji Daya Saing Konstruksi Indonesia Pada Aspek Inovasi

Peringkat inovasi Indonesia 2015 berada pada peringkat 85 berdasarkan Global Innovation Index (GII). Peringkat tersebut membaik dua level dari tahun sebelumnya. Tentu suatu hal yang bagus. Tapi jika melihat secara score, nilai Indonesia adalah 25,83 atau yang terendah dalam 5 tahun terakhir. Bagaimana dengan industri konstruksi sebagai bagian dari itu?

 

Perlu diketahui bahwa pasar infrastruktur Indonesia adalah yang terbesar di regional Asia Tenggara. Ini membuat banyak kontraktor besar asing yang masuk ke Indonesia untuk mendapatkan pasar besar. Seiring dengan program pemerintah yang menggenjot infrastruktur dan diberlakukannya MEA, maka jelas kontraktor Indonesia harus memiliki DAYA SAING yang memadai.

Padahal, DAYA SAING dan key success factor industri konstruksi sangat tergantung pada inovasi. Walaupun tidak ada data bagaimana kontribusi score industri konstruksi terhadap score GII Indonesia, Tapi secara umum dapat diasumsikan bahwa industri konstruksi juga mengalami hal yang sama. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa daya saing industri konstruksi akan menghadapi masalah serius.

 

Grafik 1. Perkembangan rangking inovasi Indonesia 2011-2015

 

Grafik 1. Perkembangan score inovasi Indonesia 2011-2015

 

Lalu kenapa kondisi inovasi Indonesia secara umum dan industri konstruksi Indonesia mengalami penurunan kapabilitas Inovasi atau paling tidak mengalami stagnasi seperti yang ditunjukkan pada grafik diatas?

Tulisan ini hanya akan membahas beberapa point yang merujuk pada referensi “Innovation in Construction : a Critical Review and Future Research” oleh Xue, Xialong, Zhang, Ruixue, Yang, Rebecca J., dan Dai, Jason. Referensi ini mengatakan bahwa critical factor untuk menaikkan performa inovasi ada pada empat hal, yaitu kolaborasi, budaya, proses inovasi, dan drivers. Dalam tulisan selanjutnya, akan dibahas tiga hal.

 

1. COLLABORATION

Pada industri konstruksi, tingkat kolaborasi dapat dinilai rendah. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa fakta, yaitu :

  • Minimnya pengetahuan inovasi, apalagi kolaborasi inovasi. Semangat dan kapasitas untuk melakukan kolaborasi inovasi belum memadai.
  • Kolaborasi hanya pada skala kecil dengan frekuensi yang terbilang jarang.
  • Inovasi cenderung dianggap sebagai produk jadi, hasil individu / kelompok kecil tertentu. Bukan produk hasil kolaborasi ide dan pengembangan bersama secara luas pada tiap prosesnya. Mind set ini menghambat terjadinya kolaborasi inovasi.
  • Sedikit sekali industri konstruksi yang bekerja sama khusus untuk pengembangan inovasi pada pihak di luar perusahaan seperti akademisi, business partner, konsultan, dll

Kolaborasi dalam inovasi, telah diyakini akan meningkatkan kualitas inovasi yang dihasilkan. Sedemikian, saat ini kolaborasi inovasi telah memasuki era globalisasi seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini :

 

Konsep Kolaborasi Inovasi Untuk Meningkatkan Kualitas Output Ide

 

Perkembangan Tingkat Kolaborasi Inovasi Di dunia

 

2. BUDAYA

Budaya inovasi pada konstruksi Indonesia juga terbilang payah. Pada point ini ditambahkan aspek regulasi. Beberapa fakta untuk direnungkan adalah :

  • Tidak ada / minimnya regulasi konstruksi yang mengatur VE sebagai salah satu output dari kreatifitas inovasi dan fitur teknis meningkatkan economic value suatu pekerjaan konstruksi.
  • Ketiadaan insentif khusus atas VE dan atau inovasi yang dilakukan pada tingkat proyek oleh pemilik proyek hingga oleh regulasi.
  • Tidak diperbolehkannya VO pada kontrak lump sum pada Perpres No. 4 2015. Padahal, VO adalah juga fitur kontrak yang memungkinkan produk kreatifitas inovasi diaplikasikan pada pekerjaan konstruksi
  • Pemanfaatan VO sebagai tempat KKN oleh sebagian pelaku konstruksi yang kontradiktif dengan tujuan VO sebenarnya.
  • Negative Mindset / Perception Auditor terhadap adanya VO yang menghambat kreatifitas inovasi secara signifikan. Contoh inovasi metode yang seringkali menjadi temuan tanpa dasar yang jelas. Adalah benar VO kadang dijadikan ajang KKN, namun adalah keliru menganggap dan memperlakukan semua VO dengan kondisi yang sama.
  • Tipe inovasi yang monoton oleh construction method. Ini dapat dikatakan sebagai kesalahan yang terlalu lama.
  • Minimnya peserta Karya Konstruksi Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian PU-Pera. Pada 2015, jumlah peserta hanya 22 peserta dari puluhan ribu kontraktor hingga institusi terkait.

 

3. PROSES INOVASI

Proses inovasi yang dimaksud adalah berupa pengelolaan inovasi. Pada point ini, faktanya juga mengecewakan.

  • Pelaku industri konstruksi tahu betul apa itu inovasi, namun aplikasi inovasi cenderung hanya berupa slogan-slogan marketing dan corporate image. Tidak ada program inovasi secara signifikan dan nyata.
  • Tidak ada satupun perusahaan konstruksi besar Indonesia yang mengetahui dan aplikasi tentang bagaimana pengelolaan / manajemen inovasi. Hal ini dapat dilihat pada website, public expose, atau laporan tahunan perusahaan mereka.
  • Inovasi hanya bersifat lokal tiap proyek dan tidak terintegrasi
  • Inovasi nyaris tidak terintegrasi dengan rencana / kebutuhan strategis perusahaan konstruksi.
  • Umumnya, pemikiran membeli produk inovasi jauh lebih tinggi ketimbang membuat sendiri yang dianggap tidak praktis / kelamaan terhadap tuntutan.

Inovasi akan memiliki kualitas output yang maksimal dan berdampak signifikan, hanya jika melalui proses yang memadai yaitu manajemen / proses inovasi (innovation management). Berikut contoh manajemen inovasi pada Microsoft.

Jika kondisi inovasi pada industri konstruksi Indonesia atas tiga dari empat faktor di atas dinilai rendah, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi kapabilitas inovasi konstruksi Indonesia adalah RENDAH. Lebih lanjut, ini bermakna pada dasarnya konstruksi Indonesia memiliki DAYA SAING yang rendah dan relatif akan STAGNAN jika tidak ada perubahan signifikan dalam beberapa waktu ke depan. Persis seperti stagnannya kondisi inovasi Indonesia pada grafik di atas (grafik 1 dan 2)

Jika banyak pejabat pemerintah mengatakan bahwa konstruksi Indonesia mampu bersaing pada MEA mendatang, bagaimana menurut Anda? Lantas apa yang tidak lama lagi terjadi jika tidak ada perubahan signifikan?

 

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>