Melawan Lupa ANALISIS STRUKTUR !

Barangkali posting kali ini adalah ekspresi kegalauan penulis setelah melihat begitu banyak lulusan Teknik Sipil saat ini yang tidak memahami statika bahkan untuk yang paling mendasar (filosofi) sekalipun. Padahal selama menjadi praktisi, filosofi statika telah sangat mendominasi dalam bekerja sebagai praktisi konstruksi. Ada apa dengan sistem pendidikan keteknik-sipilan di Indonesia?

Beberapa hari yang lalu, penulis ditunjuk menjadi assessor bagi calon karyawan baru di perusahaan tempat penulis bekerja. Tak kurang 10 calon karyawan baru telah diinterview. Mereka umumnya berasal dari lulusan universitas besar ternama. Berbagai pertanyaan disampaikan termasuk mengenai statika dasar. Hasilnya cukup mencengangkan. Hanya dua orang yang mampu menjawab dua pertanyaan statika. Itupun tidak dengan sempurna.

Mereka diminta untuk membuat Bending Moment Diagram (BMD) dan Shearing Force Diagram (SFD) atas dua kondisi struktur yaitu balok tiga bentang menerus dengan beban terbagi merata dan balok terjepit sempurna dengan beban titik (lihat gambar). Terlihat mereka tidak memahami filosofi tumpuan yang menurut penulis adalah hal yang paling mendasar. Ketika ditanya mengapa mereka tidak bisa menjawab, beberapa memberikan alasan sebagai berikut :

  • Dulu inget, tapi sekarang sudah lupa. (padahal baru saja lulus dengan GPA >3)
  • Tidak suka dengan statika. (padahal cukup jago berdebat dan beberapa kali diundang ke luar negri terkait studi)
  • Benar-benar tidak tahu (juga dengan GPA >3, bahkan cum laude)
  • Dll

Soal Pertanyaan Interview 1

 

Soal Pertanyaan Interview 2

Pada kasus lain, penulis pernah meminta seorang engineer untuk mendesign gorong2 beton bertulang oleh konsultan pengawas. Tapi tidak kunjung selesai yang akhirnya harus dikerjakan sendiri oleh penulis yang saat itu adalah project manager.

Kenyataan ini tentu saja cukup mengejutkan. Assessment yang dilakukan seolah menjadi suatu survey tentang bagaimana pemahaman mahasiswa tentang materi utama teknik sipil. Barangkali bagi akademisi, informasi ini harus menjadi feedback penting untuk melakukan review atas sistem pendidikan / kurikulum yang ada.

Penulis mencoba untuk mengurai masalah ini, mencari akar masalah, dan berusaha memberikan rekomendasi perbaikan dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan teknik sipil akan datang. Beberapa fakta yang ditemukan adalah sebagai berikut :

  • Dulu, mata kuliah seperti statika adalah analisis struktur. Kadang juga disebut mekanika teknik atau mekanika rekayasa. Mata kuliah ini sangat mendominasi. Analisis Struktur (AS) ada lima, yaitu Analisis Struktur I s/d Analisis Struktur V yang masing-masing terdiri dari 3 sks. Sekarang hanya ada Statika I dan Statika II yang masing-masing adalah 3 sks. Namun ada juga yang sampai Analisis Struktur IV tapi dengan jumlah sks yang lebih sedikit. Secara umum, jumlah mata kuliah dan sks terkait statika telah lebih sedikit. Alhasil, rasio sks total mata kuliah analisis struktur menjadi lebih sedikit.
  • Dulu jumlah sks minimum adalah sekitar 150 – 160 sks. Sekarang tinggal 145 sks. Program cepat lulus didukung oleh berbagai kemudahan lain seperti semester pendek dan program akselerasi. Lulusan sekarang terkesan instant.
  • Ini bukan semua, tapi kecenderungan. Suatu test sederhana dilakukan pada seorang lulusan yang memiliki nilai bagus (A) untuk mata kuliah statika. Tapi pada kenyataannya, filosofi struktur nyaris tak berbekas pada lulusan tersebut. Tentu membingungkan melihat kenyataan ini. Ada indikasi bahwa para mahasiswa mudah mendapatkan nilai karena hanya belajar kisi-kisi soal dan menghapal cara menjawab soal yang mungkin tidak menggambarkan keseluruhan materi analisis struktur
  • Semakin berkembangnya software analisis struktur yang mendorong mahasiswa kurang mendalami aspek fundamental analisis struktur. Padahal dikenal jargon dalam software yaitu masuk sampah – keluar sampah.
  • Seiring otonomi kampus, sejak beberapa tahun yang lalu banyak kampus negeri besar yang membuat jalur masuk dimana syarat minimum kelulusan lebih longgar yang disertai oleh biaya masuk yang relative besar. Ini artinya menurunkan kualitas masuk mahasiswa dengan kompensasi dana besar.
  • Mindset lulus cepat lebih baik. Padahal, butuh waktu lebih agar lulusan betul-betul menguasai ilmu teknik sipil yang cakupannya sangat luas. Lulus cepat juga dipicu oleh biaya kuliah yang saat ini cukup mahal signifikan.
  • Kecenderungan kampus (tidak semua) berlomba-lomba menaikkan IPK lulusan mereka telah secara tidak langsung menurunkan standart penilaian. Walaupun masih ada dosen dan kampus yang idealis, namun porsi yang bergeser jelas lebih besar.

 

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang menurunkan kualitas lulusan, yaitu berkurangnya bobot mata kuliah terkait analisis struktur, semangat instant, otonomi kampus, kurikulum, dan penurunan standart.

Lalu bagaimana solusinya? Beberapa rekomendasi solusi berikut tidak hanya mengacu pada faktor-faktor penyebab utama, namun juga memperhatikan era globalisasi yang sudah didepan mata, yaitu :

  • Review ulang kurikulum Teknik Sipil dengan mempertahankan porsi sks mata kuliah analisis struktur / mata kuliah utama / penting teknik sipil.
  • Meniadakan jalur masuk universitas dengan menurunkan batas kelulusan dengan kompensasi membayar biaya tertentu. Dalam hal ini memang harus diatasi dengan menambah subsidi bagi kampus.
  • Memperbanyak latihan soal dan tugas studi kasus nyata terkait mata kuliah analisis struktur atau mata kuliah penting lainnya.
  • Menetapkan standart kualitas soal dan standart penilaian. Sehingga boleh saja ada program semester pendek dan akselerasi, namun standart harus tetap terjaga.
  • Benchmarking kurikulum dan standart kelulusan dengan negara tetangga terutama Singapura dan Malaysia.
  • Mendatangkan praktisi sebagai dosen tamu pada beberapa mata kuliah utama untuk memberi gambaran pada mahasiswa mengenai bagaimana ilmu yang mereka pelajari dapat teraplikasi dengan baik
  • Membantu mahasiswa tingkat akhir atau yang baru lulus untuk mendapatkan sertifikasi yang diakui secara ASEAN

 

Semoga posting ini memberikan masukan berharga terutama bagi kalangan akademisi.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Teknik Sipil and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Melawan Lupa ANALISIS STRUKTUR !

  1. barkah widi says:

    Ijin share, Pak Budi…

  2. Olan says:

    Ijin komen pak. sudah seharus nya engineer sekarang sebelum terjun ke lapangan mengikuti ujian kompetensi dasar seperti dokter, sehingga untuk kemampuan nya menjadi terstandarisasi, karena pekerjaan teknik sipil juga berkaitan erat dengan nyawa orang banyak seperti hal nya dokter, apabila hanya engineer abal-abal yang turun ke lapangan dapat membahayakan. tks

    • budisuanda says:

      Engineer sipil umumnya sudah melaksanakan Kerja Praktik. Tapi sayang, prosesnya kurang dibimbing dg baik.

  3. luthfi assholam says:

    postingan bapak sangat mengena di saya. saya sekarang masih mahasiswa dan mengalami kesulitaan dalam mata kuliah ini.

    • budisuanda says:

      Untuk membantu pemahaman mata kuliah ini, sering2lah latihan menjawab soal2 nya. Dalam proses latihan tersebut, lakukan pola pikir logic thinking. Ini karena matkul ini sangat logic.

  4. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Teknik Sipil,
    menurut saya Studi Teknik Sipil merupakan bidang yang
    sangat menarik juga banyak hal yang bisa dipelajari
    di Dunia Sipil.
    Saya juga mempunyai Tulisan yang bisa anda kunjungi di
    Publikasi Gunadarma Sipil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>