“Ahh, Itu Teori Saja…”

Ungkapan kalimat diatas pasti pernah atau mungkin juga sering terdengar. Ungkapan tersebut menunjukkan rasa kurang tertarik dan kurang menghargai atas adanya pendapat orang lain yang terkesan berbau teori atau merasa itu bukan ide yang praktis. Bisa juga dianggap sebagai ide yang muluk atau text book. Mari kita telaah lebih jauh.

Semoga Anda bukan orang yang pernah atau sering menyebutkan ungkapan di atas. Mengapa? Dengan mengucapkan kalimat diatas, yang secara telak akan dibuktikan kekeliruan fatalnya dalam tulisan ini, menunjukkan orang tersebut memiliki fundamental berfikir yang relatif lemah secara ilmiah.

 

Definisi Teori

Sekarang kita cek penjelasan kata “teori” berdasarkan referensi wikipedia, yaitu:

  • Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.
  • Dalam ilmu pengetahuan, teori berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi menurut metode ilmiah. Teori merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya. Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu. Sebuah teori membentuk generalisasi atas banyak pengamatan dan terdiri atas kumpulan ide yang koheren dan saling berkaitan.

Wikipedia juga mendefinisikan kata metode ilmiah / scientific method yaitu merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Sehingga dapat disimpulkan pengertian mengenai teori, yaitu:

hipotesis yang telah terbukti kebenarannya secara proses keilmuan dan lolos uji berkali-kali untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis yang membentuk generalisasi atas banyak pengamatan dan terdiri atas kumpulan ide yang koheren dan saling berkaitan

Teori berdasarkan kesimpulan definisinya di atas, memiliki karakteristik, yaitu:

  • Terbukti kebenarannya secara proses keilmuan dam lolos uji berkali-kali
  • Pengetahuan yang sistematis
  • Ada bukti fisis
  • Generalisasi atas banyak pengamatan

Dari karakteristiknya, jelas bahwa teori berdasarkan pengamatan yang telah terbukti kebenarannya. Sangatlah tidak gampang untuk sekedar “ber-teori”.

 

Kesalahan Besar

Kita kembali pada kalimat judul di atas yaitu “Ahh, itu teori saja…”. Apakah ini ungkapan yang benar secara kaedah bahasa? Jika orang yang mengatakan kalimat ini ingin menunjukkan rasa kurang tertarik dengan ide orang lain karena dianggap lemah kebenarannya, mestinya lebih tepat menggunakan istilah hipotesis dan bukan teori. Sehingga ungkapan kalimatnya menjadi “ahh, itu hipotesis saja…”. Hal ini karena istilah hipotesa lebih tepat karena tingkat kebenarannya yang masih lemah dan belum terbukti.

Orang yang mengucapkan kalimat itu, selain salah dalam memilih kata juga keliru dalam memahami makna teori yang benar. Kalimat “Ahh, itu teori saja…” berarti si pengucap telah memisahkan teori ke sisi yang lepas dari sisi kenyataan sehari-hari. Teori seolah-olah dianggap sebagai kalimat yang hanya ada di buku literatur ilmiah semata saat sekolah.

Pemikiran pemisahan teori dari kondisi kenyataan sehari-hari itulah yang menurut penulis adalah suatu KESALAHAN BESAR. Mengapa?

Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa teori dibangun dari suatu hipotesis yang telah teruji dan terbukti kebenarannya secara ilmiah. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga yang dibentuk atas sejumlah fakta dan hubungannya atau fenomena. Teori yang gagal bertahan, akan diganti dengan teori yang lebih baik yang juga dari fakta dari kenyataan yang ada.

Teori dibangun mulai dari fakta atau kenyataan. Teori justru menjelaskan hubungan antar fakta yang ada dengan tingkat kebenaran yang tinggi. Teori bahkan digunakan untuk tujuan tertentu seperti peramalan kejadian atas terjadinya suatu fakta di lapangan. Menurut penulis, teori = kesimpulan dan peramalan fakta & kenyataan.

Sehingga jelaslah bahwa pemikiran yang seolah-olah memisahkan teori dan kenyataan atau fakta adalah suatu kesalahan yang besar. Ini juga menjadi bukti nyata lemahnya fundamental berfikir ilmiah.

Ilmu pengetahuan telah secara nyata menghasilkan banyak hal yang menjadi kemajuan peradaban era modern, yang prosesnya melalui metodologi penelitian ilmiah dan menghasilkan banyak teori yang bermanfaat untuk menghasilkan berbagai produk penting bagi manusia. Tengoklah pesawat terbang, yang dibangun dari begitu banyak teori dari berbagai disiplin ilmu. Padahal dulunya, bisa terbang hanyalah mimpi yang hanya ada pada buku cerita kartun fiksi.

Jika Anda masih menganggap teori itu tidak terkait dengan fakta / kenyataan yang terjadi atau tidak realistis, maka itu sama saja dengan ketika melihat pesawat terbang lewat anda mengatakan kalimat “Ahh, itu teori saja…”. Saya yakin, banyak orang disekitar yang akan memperhatikan anda cukup lama bak membaca buku kartun fiksi ilmiah.

Tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran bagi pihak-pihak yang menganggap remeh ilmu pengetahuan dan mengabaikannya dalam menghadapi berbagai masalah sehari-hari termasuk dalam hal melaksanakan proyek di Indonesia yang masih menemui banyak benturan.

Tidak ada paksaan untuk berubah atau sadar, karena ini hanyalah pilihan. Termasuk konsekuensi untuk tertinggal dan mengalami benturan berulang dalam melaksanakan proyek. Be smart!

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Riset, Inovasi & Teknologi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to “Ahh, Itu Teori Saja…”

  1. Joni Spence says:

    Didalam menyusun suatu laporan nkarya tulis ilmiah terutama penelitioan kualitatif di dalamnya tidak akan terlepas dari yang namanya merumuskan hipotesis, tujuan, dan kegunnaan penelitian./ Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang kan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan/ menciptakan suatu gejala . Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen . Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori . Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah hipotesis di dalam penelitian , sedangkan Tujuan penelitian merupakan satuan yang selaras dari perumusan masalah dan manfaat penelitian. Secara umum, tujuan penelitian adalah pernyataan jawaban atas pertanyaan mengapa anda ingin melakukan penelitian tersebut. Biasanya dalam penulisan tujuan adalah sesuai dengan perumusan masalah. Dan inti daripada kegunaan penelitian menguraikan seberapa jauh kebergunaan dan kontribusi hasill penelitian anda. Kegunaan penelitian/penulisan dapat diuraikan secara terpisah. Maksudnya, kegunaan penelitian tersebut dapat diperinci lagi kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penelitian anda. Kegunaan penelitian dapat dibedakan menjadi kepentingan praktis, kepentingan bidang keilmuan, atau kepentingan bidang profesi peneliti, instansi/organisasi, atau kelompok tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>