Persekongkolan Penyebab Margin Perusahaan Konstruksi Rendah?

Berdasarkan hasil riset dari IFT (Indonesia Finance Today), persekongkolan tender membuat margin yang diterima perusahaan konstruksi di Tanah Air, termasuk badan usaha milik negara, lebih rendah dari margin yang dicetak perusahaan konstruksi regional. Berikut penjelasan rinci mengenai hasil riset IFT tersebut.

 

Hasil Riset IFT

Pada 2010 kontraktor Indonesia memiliki kinerja margin profitabilitas di bawah kontraktor Malaysia. Namun, sedikit lebih baik dari perusahaan konstruksi Thailand, baik margin laba kotor, laba usaha, maupun laba bersih. Kontraktor Malaysia mampu membukukan margin laba kotor antara 20%-30% atau hampir dua kali lipat dibanding margin laba kotor kontraktor Indonesia antara 6%-14%.

Perusahaan kontraktor Mitrajaya Holdings misalnya, membukukan margin laba kotor sebesar 33,9% dan Mudajaya Group sebesar 32,9%. Sedangkan margin laba kotor kontraktor Indonesia yang paling tinggi dibukukan oleh PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON) sebesar 14,4%.

Dari riset yang dilakukan IFT, tingginya margin laba kotor kontraktor Malaysia tersebut berasal dari  usaha konstruksi.  Margin laba kotor Mudajaya untuk segmen konstruksi mencapai 27%-37%,  Mitrajaya Holdings antara  26%-31%, dan Hock Seng Lee Bhd sekitar  21%-23%.

Sino Construction Ltd, perusahaan konstruksi asal Singapura, memiliki margin laba kotor hingga 21%. Adapun margin laba kotor PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) pada 2010 masing-masing mencapai 12,5% dan 10,5%.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa sebenarnya proyek konstruksi merupakan proyek yang memberikan keuntungan yang tinggi. Tapi adanya persekongkolan tender yang terjadi di Indonesia menyebabkan laba yang diterima menjadi  kecil. Departemen Riset IFT menilai perusahaan kontraktor hanya merupakan salah satu pelaku dari sejumlah besar pelaku di dalam sistem persekongkolan ini. Perusahaan kontraktor tidak dapat mengubah sistem ini karena posisi daya tawar yang kuat berada di pemilik proyek.

 

Diversifikasi Usaha

Departemen Riset IFT berpendapat perusahaan di sektor konstruksi lebih baik membuat strategi baru untuk menghindari praktik tidak sehat. Salah satunya dengan menciptakan captive market sendiri untuk mengurangi koneksi dengan pemerintah sesuai dengan kompetisi yang dimilikinya. Artinya, perusahaan konstruksi melakukan investasi pada bisnis-bisnis spesifik tertentu, yang pemain di industri tersebut sedikit, namun pembelinya banyak. Perusahaan konstruksi dapat menggarap engineering, procurement, and construction atau lebih baik lagi penyertaan modal.

Banyak kontraktor telah melakukan diversifikasi usaha. Mitrajaya Holdings Bhd, selain melakukan konstruksi jalan raya, perusahaan tersebut juga melakukan konstruksi di sektor pembangkit listrik, pengerjaan jalur rel kereta api maupun pembuatan beton.  Perusahaan itu juga merupakan salah satu pengembang besar proyek perumahan di negara tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh IJM Corporation Bhd. Selain jalan, perusahan itu juga melakukan konstruksi pengerjaan gedung dan pelabuhan. Diversifikasi usaha lainnya adalah masuk ke sektor perkebunan kelapa sawit dan pembuatan beton. Perusahaan juga melakukan investasi di salah satu perusahaan pengelola jalan tol di negara tersebut.

Diversifikasi usaha dilakukan bukan untuk menutup kecilnya laba di usaha konstruksi, tapi untuk menambah sumber pendapatan baru sehingga resiko ketergantungan terhadap usaha konstruksi berkurang. Dampak positif diversifikasi adalah marjin laba dapat bertambah.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Biaya, Peraturan, Proyek Indonesia and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>