Hemat Energi dalam Pelaksanaan Proyek itu WAJIB

Topik tulisan ini telah diposting kurang lebih setahun yang lalu. Pada posting kali ini tentu saja terdapat beberapa update hasil pengalaman dan kajian terbaru yang disajikan lebih sistematis. Targetnya jelas, Kita harus lebih hemat energi agar pelaksanaan proyek menjadi lebih efisien sehingga meningkatkan profitabilitas dan juga ikut melestarikan lingkungan karena mendukung green construction.

Kata kunci efisien/hemat dan green construction adalah dua hal yang sebelumnya bertolak-belakang. Banyak perhitungan menunjukkan bahwa untuk mencapai green construction dibutuhkan biaya investasi awal yang besar sehingga akan mencapai BEP (break even point) dalam kurun waktu cukup panjang. Sedangkan durasi pelaksanaan proyek cukup singkat yaitu 6-24 bulan. Hal inilah yang membuat green construction menjadi agak sulit diterapkan dalam pelaksanaan proyek karena total cost yang besar akibat durasi construction yang singkat. Tapi sebentar dulu dan jangan latah bahwa green construction berbeda dengan green building. Green construction lebih fokus pada usaha-usaha untuk mengurangi penggunaan sumber daya dalam kaitan pelaksanaan proyek, bukan mendesign suatu bangunan. Di sinilah letak perbedaannya. Sehingga seharusnya, tersedia banyak langkah bagi kontraktor untuk berusaha “green” karena sebenarnya akan lebih efisien secara biaya.

Konsumen energi atau bahan bakar umumnya jarang sekali yang sadar bahwa harga bahan bakar dalam trend yang naik. Kalaupun turun itu adalah sesaat pada durasi yang tidak lama. Pada tahun 2008-2009 terjadi fluktuasi harga yang hebat dimana saat itu terjadi krisis ekonomi dunia. Harga kembali normal pada tahun 2010 hingga sekarang dalam trend naik yang jelas. Pada tahun 2012, terlihat harga kembali berfluktuasi dimana pada bulan Mei-Juli krisis ekonomi kembali menghangat. Namun setelahnya berangsur normal dimana terlihat kembali trend minyak dunia yang naik. Pada tahun ini (2013), OPEC telah memprediksi seiring pemulihan ekonomi dunia bahwa kebutuhan minyak dunia kembali naik sebesar 30-35%. Hal ini berarti bahwa besar kemungkinan bahwa harga minyak akan naik mengikuti trend sebelumnya.

Kenaikan harga minyak ini jelas akan berdampak pada biaya pelaksanaan proyek. Sumber energi pelaksanaan proyek utamanya adalah solar non subsidi yang harganya mengikuti perkembangan harga keekonomian minyak dunia. Perkembangan harga minyak ini memiliki 2 aspek yaitu fluktuasi dan trend harga yang dapat mempengaruhi biaya pelaksanaan proyek.

Fluktuasi harga minyak dunia dapat mencapai 30% selama setahun dengan kenaikan USD 7-8/barrel (rata2 USD 7,5/barrel) dan biaya energi untuk pelaksanaan proyek secara rata-rata adalah sebesar 2,0-3% (rata2 2,5%) terhadap nilai kontrak. Jika dianggap bahwa fluktuasi dan trend berdampak masing-masing sebesar 50%, maka kenaikan biaya proyek dapat dihitung dengan pendekatan sederhana = (30% x 2,5%)/2 + (7,5% x 2,5%)/2 = 0,47% (terhadap nilai kontrak). Jika suatu perusahaan kontraktor besar telah mencapai nilai penjualan 10 triliun, maka angka ini identik dengan kenaikan biaya sebesar 47 M. Padahal laba bersih kontraktor tidak lebih dari 5% terhadap penjualan atau jika dengan penjualan 10T, maka laba bersih tidak lebih dari 500 miliar. Terlihat bahwa dampak kenaikan harga minyak dan fluktuasinya berpengaruh hampir sebesar 10% atas laba bersih. Wow…cukup fantastis. Perhitungan ini ternyata menunjukkan bahwa energi WAJIB dihemat.

Menurut penulis, banyak proyek dilaksanakan dengan boros yang mengkonsumsi bahan bakar dalam jumlah besar sehingga malah boros secara biaya. Ini memperparah kondisi pencapaian laba bersih kontraktor. Beberapa kejadian di bawah adalah ilustrasinya:

  • Penggunaan lampu penerangan malam yang berlebihan dengan alasan marketing
  • Penggunaan genset dengan efisiensi yang rendah (sewa asal murah)
  • Penggunaan alat listrik yang berlebihan dari sisi kapasitas maupun jumlah
  • Pemakaian alat dengan produktifitas yang lebih rendah dari kapasitasnya
  • Lembur pekerjaan yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama

Masih banyak lagi kejadian yang lain yang terjadi di proyek yang menyebabkan terjadinya inefisiensi biaya proyek serta boros bahan bakar. Inti dari semua ini adalah pengetahuan, pemahaman dan budaya kerja. Penting bagi project manager untuk melakukan special treatment pada tim nya terkait ini dan disampaikan saat internal project kick off meeting. Perencanaan biaya energi merupakan kunci keberhasilan program penghematan.

Hasil pengamatan dan kajian mengenai konsep pelaksanaan proyek yang hemat energi, terdapat setidaknya 6 prinsip penting dalam merencanakan hemat energi dalam pelaksanaan proyek, yaitu:

  1. Beban listrik yang optimal
  2. Penggunaan sumber listrik paling hemat
  3. Menggunakan alat pembangkit listrik (genset) yang memiliki efisiensi tinggi
  4. Menggunakan alat-alat listrik yang hemat energi dan murah
  5. Pola operasi alat listrik yang hemat
  6. Procurement genset dan bahan bakar yang baik

Optimasi beban listrik merupakan langkah yang menghasilkan efisiensi yang paling besar.  Perencanaan beban listrik yang baik akan menghasilkan rencana pemakaian listrik yang rendah tanpa atau seminimal mungkin adanya hambatan dalam pelaksanaan proyek.  Jika melakukan perencanaan beban listrik yang tidak efisien, maka dampaknya adalah pada total cost energi yang tidak efisien.

Perencanaan sumber listrik juga berdampak penting. Dalam pelaksanaan proyek, diketahui bahwa hanya ada dua sumber listrik yaitu menggunakan genset dengan BBM solar atau menggunakan sumber listrik PLN. Menggunakan genset dengan BBM solar adalah yang paling boros. Berbeda jauh dengan menggunakan listrik PLN. Namun perlu biaya investasi awal yang cukup tinggi jika menggunakan sumber listrik PLN seperti  biaya BP & UJL, Konsuil, Kabel, Trafo, Panel, Capasitor Bank, dan lain-lain. Sehingga perlu dihitung apakah dalam masa pelaksanaan proyek, biaya investasi tersebut dapat kembali dengan biaya listrik yang lebih hemat setiap bulannya.

Penulis telah mencoba untuk mengkaji penggunaan sumber listrik lain yaitu gas LPG. Hasilnya ternyata lebih hemat bahkan dibanding listrik PLN. Namun sayangnya tidak dapat digunakan dalam skala atau volume yang besar. Saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik kantor proyek (direksi keet). Penjelasan detail akan disampaikan dalam posting berikutnya.

Lalu mengenai alat genset yang digunakan. Hampir tidak pernah ditemukan proyek melakukan test “fuel consumption” aktual atas genset. Padahal kontribusi biaya bahan bakar+oli adalah sebesar 75-80% dan sisanya adalah biaya sewa genset plus mod-demob. Angka tersebut berarti fuel consumption adalah sensitif terhadap harga total energi. Perubahan pola pikir untuk lebih memberi penekanan pada penggunaan bahan bakar mutlak dilakukan.

Pemilihan alat listrik sering dianggap enteng dengan pola pikir murah diawal namun tanpa sadar boros secara total. Saat ini telah banyak teknologi alat listrik yang memungkinkan hemat energi yang cukup tinggi. Seperti teknologi inverter pada AC untuk kebutuhan pendingin proyek dan lampu essential yang lebih hemat dari pada lampu TL dengan ballast. Walaupun biaya investasi awal lebih mahal, namun life time yang lebih tinggi dan pemakaian yang lebih fleksibel sehingga dapat dipakai untuk pelaksanaan beberapa proyek.

Design kantor keet yang baik dan berkonsep hemat energi, akan cukup memberikan hasil yang signifikan dari sisi penghematan biaya. Secara sederhana, jika kantor didesign dengan plafond lebih tinggi disertai banyak ventilasi dan bukaan kaca untuk mendapatkan pencahayaan alami, maka kebutuhan listrik akan turun cukup signifikan. Demikian pula penggunaan komputer laptop sebagai pengganti komputer PC yang membutuhkan daya besar di samping panas yg membutuhkan pendinginan yang ekstra. Masih banyak langkah untuk membuat kantor hemat energi dengan cara yang mudah.

Pola operasi disini adalah cara operasi alat listrik dan sumber listrik. Pada genset telah diketahui bahwa penggunaan load tinggi akan lebih hemat dibanding dengan load rendah. Hal ini dikarenakan bahwa pada kondisi stand by (no load) genset tetap mengkonsumsi solar sebanyak 11-13%. Fakta ini mengharuskan tim proyek untuk mengoperasikan genset secara maksimal dari sisi load / beban.

Terakhir adalah mengenai procurement yang dibagi dua yaitu procurement genset dan procurement bahan bakar. Procurement genset haruslah menilai fuel consumption dalam kriteria pembelian / sewa sedemikian akan didapatkan total cost yang lebih baik. Dari aspek procurement bahan bakar yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian volume pembelian dengan pendatangan dan kemurnian bahan bakar. Hal ini dikarenakan bahan bakar telah melibatkan cukup banyak pihak yang “bermain” sehingga sering terjadi penipuan yang patut diwaspadai.

Pada posting berikutnya, penulis akan berusaha mengupas ke enam prinsip di atas dengan lebih detail. Pada posting ini diharapkan informasi secara umum dapat dipahami oleh pembaca. Mudah-mudahan akan memberikan pencerahan dan manfaat dalam melaksanakan proyek yang lebih efisien sehingga meningkatkan profitabilitas usaha konstruksi.

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Green construction, Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Hemat Energi dalam Pelaksanaan Proyek itu WAJIB

  1. Nice Post pak..
    Sekedar sharing pak., Human Behaviour juga berpengaruh besar dalam menciptakan Hemat Energi untuk terciptanya Green Construction dalam Proyek.
    Di Proyek saya,,memang ada petugas khusus mengenai Schedule penghidupan,mematikan genset secara tepat waktu dan berdasar pelaksanaan lapangan. kadang kalau petugas tersebut tidak ditekankan biasanya lupa kebablasan mematikan waktu tdk terpakainya genset atau pun memulai aktivitas dgn Genset.. jadi ya fix time untuk opmtisi BBM tercapai. termasuk juga di kantor…, di tempat saya pagi memakai AC (Angin Cendela) jam 08.00 – 10.00 hehehe.., klo istirahat juga dimatikkan AC.

    • budisuanda says:

      Terima kasih mas…efisiensi di proyek itu utamanya memang culture yg justru paling sulit diubah. Tapi saya yakin, tidak ada usaha yg sia-sia:-)

  2. Informasinya bagus dan berguna sebagai acuan pekerjaan di lapangan. Namun karena memang setiap proyek memiliki karakteristik unik. Satu pekerjaan dengan lainnya walaupun volume pekerjaan sama, pasti akan ada beberapa perbedaan dalam penangannanya. Sehinga disebut unik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>