Pertumbuhan Ekonomi, Kinerja, dan Saham Perusahaan Jasa Konstruksi Indonesia

Dalam banyak prediksi para analis, disebutkan bahwa tahun 2012-2013 adalah masa yang cukup baik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Secara berturut-turut pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pada kisaran 5,5%-6,5% bahkan ketika krisis eropa sedang memanas lagi usai krisis pada 2008. Lalu bagaimana dampaknya bagi usaha Jasa Konstruksi di Indonesia ?

Tulisan berikut akan menyajikan data perkembangan saham dan sedikit ulasan mengenai pengaruh pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap Tiga perusahaan Jasa Konstruksi terbesar Indonesia yang listing di Bursa Efek Indonesia yaitu:

  1. PT. PP (Persero)
  2. PT. Wijaya Karya (Persero)
  3. PT. Adhi Karya (Persero)

Adapun data-data diambil dari Bursa Efek Indonesia untuk data saham dan Biro Pusat Statistik untuk data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Data tersebut dimbil dalam masa 3 tahun yaitu 2010,2011, dan 2012 (21 September). Adapun data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai berikut:

  • 2010 : Triwulan I – 1,9%, Triwulan II – 2,8%, Triwulan III – 5,8%, Triwulan IV – 6,1%
  • 2011 : Triwulan I – 6,5%, Triwulan II – 6,5%, Triwulan III – 6,5%, Triwulan IV – 6,5%
  • 2012 : Triwulan I – 6,3%, Triwulan II – 6,4%.

Sebagai informasi tambahan bahwa data pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak Triwulan I 2010 berdasarkan pada data PDB saat itu sebesar Rp. 1498,7 Triliun dan PDB Semester I – 2012 adalah Rp. 2050,1 Triliun atau PDB tumbuh sebesar 36,8% sejak Triwulan I 2010.

Sekarang mari kita cermati bagaimana kinerja saham yang dapat dianggap sebagai representatif kinerja masing-masing perusahaan jasa konstruksi Indonesia yang listing di BEI.

1.   PT. PP (Persero)

Berdiri tahun 1953 dengan nama NV Pembangunan Perumahan, mulai mengerjakan proyek-proyek berskala besar di waktu itu yaitu Hotel Indonesia, Bali Beach Hotel, Ambarukmo Palace Hotel, dan Samudra Beach Hotel. PT. PP (Persero) listing di BEI pada 9 Februari 2010 dengan harga IPO Rp. 560,-/lembar saham.  Berikut adalah grafik perkembangan saham emiten yang berkode PTPP.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa harga tertinggi mencapai 1030/lbr setelah 7 bulan listing. Namun harga saham turun cukup jauh hingga di posisi 270/lbr pada triwulan III 2011. Pada tahun 2012 harga cenderung stabil di kisaran harga 550 – 700.

Hingga tulisan ini dibuat, harga saham PTPP adalah 660/lbr atau naik sebesar 17,9% sejak listing. Kenaikan ini yang merupakan representatif kinerja perusahaan tidak sebanding dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi  yang ada sejak Triwulan I 2010 saat perusahaan ini listing hingga saat ini yaitu sebesar 36,8%.

Namun demikian, jika melihat pertumbuhan net income pada kinerja semester I 2010 sebesar Rp. 25,2 Miliar, tumbuh cukup tinggi pada semester 1 2012 menjadi Rp. 64,9 Miliar atau tumbuh sebesar 158%. Jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Net Income merupakan tolok ukur riel kinerja suatu perusahaan. Sedangkan harga saham bisa jadi representatif segala kejadian dalam konteks investasi. Tentu saja kedua hal ini tidak dapat disamakan walaupun pertumbuhan laba / net income menjadi perhatian investor. Bisa jadi harga saham PTPP berada dibawah dari yang seharusnya? Mungkin saja.  Toh PTPP pernah mencapai harga tertinggi di 1030/lbr. Jika berpedoman terhadap harga tertinggi, maka kenaikan harga saham emiten ini hampir mencapai 84%. Cukup ideal untuk pertumbuhan laba yang cukup tinggi.

 

2.   PT. Wijaya Karya (Persero)

Dari hasil nasionalisasi perusahaan Belanda, Naamloze Vennotschap Technische Handel Maatschappij en Bouwbedijf Vis en Co atau NV Vis en Co, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1960 dan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL) No. 5 tanggal 11 Maret 1960, WIKA lahir dengan nama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja.

WIKA listing di BEI dengan harga IPO Rp. 420,-/lembar pada 29 Oktober 2007. Berikut adalah perkembangan harga saham WIKA sejak tahun 2010.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa harga tertinggi mencapai 1230/lbr yaitu pada saat tulisan ini dibuat. Namun harga saham sempat turun cukup dalam di 300/lbr pada Februari 2010. Namun harga tersebut perlahan-lahan menanjak hingga saat ini.

Hingga tulisan ini dibuat, harga saham WIKA adalah 1190/lbr atau naik sebesar 297% sejak Februari 2010. Kenaikan ini tentunya cukup fenomenal dibanding pertumbuhan PDB yang sebesar 36,8%. Tak ayal, emiten ini menjadi kesayangan investor.

Namun perlu pula diperhatikan mengenai pertumbuhan laba atau net income atas WIKA. Jika melihat perbandingan atas pencapaian semester I 2010 sebesar Rp. 140 Miliar dan semester I 2012 sebesar Rp. 180,07 Miliar atau terjadi pertumbuhan laba sebesar 28% dalam 2 tahun.  Hal ini berarti kenaikan harga saham terlalu tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan laba. Salah satu penyebabnya adalah bisa jadi pada awal 2010, WIKA masih terpengaruh akibat krisis moneter 2008 sehingga harga sahamnya menjadi jauh lebih rendah dari yang seharusnya.

 

3.  PT. Adhi Karya (Persero)

Nama Adhi Karya untuk pertama kalinya tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja pada tanggal 11 Maret 1960. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 1961 Adhi Karya ditetapkan menjadi Perseroan Negara Adhi Karya. Pada tahun itu juga, berdasarkan PP yang sama Perseroan Bengunan bekas milik Belanda yang telah dinasionalisasikan, yaitu Associate NV, dilebur ke dalam Perseroan.

ADHI (kode emiten untuk Adhi Karya) listing di BEI dengan harga IPO Rp. 150,-/lembar. Berikut adalah perkembangan harga saham ADHI sejak tahun 2010.

Pada Awal Februari 2010, harga saham ADHI berada pada 370/lbr. Harga saham naik pada sekitar triwulan III 2010 hingga mencapai 1050/lbr. Namun harga saham turun selama setahun hingga mencapai 440/lbr pada akhir 2011. Harga kembali naik pada bulan Mei 2012 hingga mencapai 1140/lbr. Saat ini harga cukup stabil di angka 900/lbr.

Perkembangan harga saham emiten ADHI memang cukup fluktuatif. Jika dilihat sejak awal tahun 2010, harga saham telah mengalami kenaikan 149%. Cukup tinggi dibanding dengan pertumbuhan PDB dalam kurun waktu yang sama.

Bagaimana dengan pertumbuhan laba? ADHI menghasilkan laba sebesar Rp. 23,1 Miliar pada semester I 2010 dan naik menjadi Rp. 29,05 Miliar pada semester I 2012 atau mengalami kenaikan sebesar 25,8% dalam dua tahun. Angka pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibanding WIKA.

Kenaikan harga saham sebesar 149% tentu saja jauh di atas pertumbuhan laba. Lagi-lagi perlu diingat bahwa variabel harga saham tidaklah sesederhana variabel laba. Setidaknya ADHI bisa jadi lebih beruntung dengan pertumbuhan laba terkecil diantara PTPP dan WIKA, namun mendapat kenaikan harga saham yang cukup tinggi.

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Riset dan Problem Solving. Bookmark the permalink.

5 Responses to Pertumbuhan Ekonomi, Kinerja, dan Saham Perusahaan Jasa Konstruksi Indonesia

  1. INILAH.COM, Jakarta – Pertambangan masih jadi sektor saham favorit 2012. Selain alasan kenaikan harga minyak, juga faktor fundamental emiten. Inilah target harga sahamnya di tahun naga.

  2. INILAH.COM, Jakarta – Analis menaikkan target harga saham JSMR ke Rp6.850-Rp7.000 dalam tiga bulan. Tak pelak, rekomendasi beli disematkan untuk saham infrastruktur jalan tol yang satu ini.

  3. Moral cerita: dalam jangka pendek (1 sampai 5 tahun) tidak ada hubungan jelas antara pertumbuhan ekonomi dan Indeks Harga Saham. Bahkan yang sering terjadi: hubungan negatif antara pergerakan harga saham dan pertumbuhaan ekonomi.

    • budisuanda says:

      Dalam konsep korelasi, ada banyak variabel yg mempengaruhi indeks harga saham. Jadi tinjauan tidak hanya pada satu variabel saja.

  4. Kris Guzman says:

    Semakin rendah PEG Ratio suatu perusahaan maka berarti harga sahamnya adalah dibawah harga semestinya ( undervalued) dan perusahaan memiliki rasio pertumbuhan EPS yang tinggi. Misalnya suatu perusahaan dengan pertumbuhan EPS sebesar 21.5% dengan P/E Ratio sebesar 37.3% maka PEG Ratio nya adalah 21.5 / 37.3 = 0.576.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>