{"id":7587,"date":"2021-11-29T23:49:59","date_gmt":"2021-11-29T23:49:59","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=7587"},"modified":"2021-11-30T23:07:33","modified_gmt":"2021-11-30T23:07:33","slug":"sccr-series-1-software-optimasi-waste-besi-sowb","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=7587","title":{"rendered":"Efisiensi Proyek Dengan SCCR &#8211; Software Optimasi Waste Besi (SOWB)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Deskripsi masalah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Waste besi tulangan sering menjadi hidden cost yang berdampak kerugian bagi kontraktor konstruksi. Hal ini karena tingginya nilai waste sering diketahui saat ada PO ekstra \/ di luar rencana diakhir fase pelaksanaan struktur yang dengan terpaksa disetujui dengan nilai yang cukup besar. Dalam berbagai penelitian, nilai aktual waste besi tulangan umumnya berada pada nilai 5-15% dimana biasanya direncanakan hanya 3-5% saja. Mengingat harga besi tulangan termasuk material yang mahal, maka kelebihan waste 2-3 kali terhadap rencana, akan berdampak cukup signifikan bagi biaya pelaksanaan proyek.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pada dasarnya terdapat dua jenis <em>waste<\/em> besi tulangan yaitu <em>waste <\/em>alami dan <em>waste <\/em>operasional. <em>Waste<\/em> alami adalah <em>waste<\/em> yang melekat pada disain suatu struktur yang pada dasarnya adalah <em>given<\/em>. <em>Waste<\/em> alami tidak dapat diubah atau diperkecil kecuali dengan cara perubahan disain atau perubahan standar penulangan. Sedangkan <em>waste<\/em> operasional adalah <em>waste<\/em> akibat proses pemotongan besi tulangan yang tidak optimal yang disebabkan oleh proses penentuan pola pemotongan yang tidak efisien, kesalahan fabrikasi (pemotongan, bending, dan pemasangan), atau akibat pencurian material.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Seperti yang telah disampaikan, <em>Waste<\/em> operasional cukup besar yaitu berkisar 3% hingga 10% yang sering tidak disadari dan kerap menjadi <em>hidden cost<\/em> yang cukup signifikan dampaknya. Sebagai contoh suatu proyek gedung dengan nilai kontrak Rp 300 M membutuhkan material besi tulangan senilai Rp. 40 M. Jika target nilai waste semula adalah 3%, namun realisasi waste aktual adalah 8%, maka terjadi over biaya sebesar +\/- Rp. 2 M atau setara dengan +\/- 0,67% x nilai kontrak. Dalam artikel ini, akan dibahas solusi bagaimana mengatasi over-waste besi tulangan akibat kurang optimalnya proses pemotongan tulangan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Terdapat sangat banyak solusi yang mungkin atas kombinasi pola pemotongan besi tulangan yang harus dikembangkan untuk mendapatkan kombinasi pola pemotongan tulangan dengan nilai <em>waste<\/em> yang terkecil secara teoritis. Di sisi lain, banyak keterbatasan untuk mendapatkan solusi kombinasi pola pemotongan tulangan tersebut seperti kompleksitas design tulangan, keterbatasan sumberdaya, dan waktu yang harus cepat. Sehingga diperlukan metodologi dan tools yang mampu mendapatkan pola potongan tulangan paling efisien \/ nilai waste paling kecil (mendekati nilai waste alami), namun dengan waktu yang sangat cepat dan praktis.<\/p>\n\n\n\n<ul><li><strong><em>Key factors<\/em><\/strong> \u2013 Metodologi mendapatkan solusi kombinasi pola pemotongan tulangan paling efisien secara teoritis atau mendekati nilai waste alami yang dapat dilakukan secara cepat dan mudah dengan alat \/ tools khusus.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<ul><li><strong>Strategi <em>cost reduction<\/em><\/strong> &#8211; Membuat <em>software<\/em> SOWB yang dibuat khusus dengan memanfaatkan prinsip algoritma yang akan mengembangkan berbagai kemungkinan solusi yang mungkin atas cara pemotongan besi tulangan yang kemudian memilih cara pemotongan yang paling efisien terhadap <em>waste <\/em>secara cepat.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<ul><li><strong>Aplikasi <\/strong><em>&#8211; Software<\/em> SOWB dibangun dengan bahasa program <em>Visual Basic<\/em> yang ditanam ke dalam <em>macro excel<\/em>. Aplikasi sangat mudah digunakan. Input yang dibutuhkan adalah jumlah tipe potongan tulangan, ukuran diameter tulangan, lokasi tulangan, dan rekapitulasi jumlah potongan tulangan pada semua jenis potongan tulangan yang akan dikembangkan solusinya. Tampilan masukan <em>software<\/em> ditampilkan pada Gambar berikut ini<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-12.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7588\" width=\"695\" height=\"179\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-12.png 890w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-12-300x77.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-12-768x198.png 768w\" sizes=\"(max-width: 695px) 100vw, 695px\" \/><figcaption>Contoh Tampilan Input Pada Software SOWB (Suanda, 2007)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">SOWB akan mengeluarkan <em>output<\/em> berupa solusi kombinasi pola potongan dengan <em>waste<\/em> operasional yang paling efisien secara teoritis. SOWB akan menginformasikan kebutuhan jumlah kebutuhan tulangan secara teoritis dalam satuan batang (@ 12,0 m). Hasil lain dari aplikasi ini adalah informasi jumlah <em>waste<\/em> tulangan dalam panjang <em>waste<\/em> dan jumlah batangnya. Informasi ini berguna untuk menentukan kegunaan <em>waste<\/em> untuk keperluan proyek yang lain, seperti kaki ayam, stek besi khusus, dan lainnya. Tampilan keluaran <em>software<\/em> ditampilkan pada Gambar di bawah<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-13.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7589\" width=\"682\" height=\"296\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-13.png 871w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-13-300x131.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-13-768x334.png 768w\" sizes=\"(max-width: 682px) 100vw, 682px\" \/><figcaption>Contoh Tampilan Output Pada Software SOWB (suanda, 2007)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Berdasarkan penjelasan di atas, <em>Software<\/em> dapat mengoptimalkan <em>waste<\/em> besi tulangan yang sebelumnya menjadi hanya 0,25% hingga 4,0% atau menghemat sekitar 2,75% hingga 6% biaya besi tulangan yang dapat dilakukan pada semua jenis proyek. Dalam kasus contoh proyek di atas, jika dengan penggunaan software ini waste aktual menjadi hanya 1%, maka akan terjadi penghematan sebesar 2% atau sebesar +\/- 0,8 M. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Manfaat lain atas penggunaan software ini adalah kecepatan proses. Perlu diketahui bahwa proses mengembangkan opsi pola pemotongan besi tulangan yang dapat menghasilkan nilai waste yang optimal, jika dilakukan secara manual, maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama karena harus mengembangkan opsi pola dan melakukan kombinasi serta optimasi dari berbagai kemungkinan. Jika diestimasi bisa paling cepat 10 hari untuk satu zone pekerjaan, dan jika ada 10 zone yang harus dilakukan perencanaan pemotongan tulangan (sesuai kasus proyek di atas), maka akan dibutuhkan waktu 100 hari. Sedangkan jika dilakukan dengan software, akan dibutuhkan waktu hanya 10 menit paling lama utk 1x running, anggap saja total hanya 3 hari sudah termasuk membuat bestat. Penghematan waktu ini, jika dihubungkan dengan nilai overhead proyek (5% nilai kontrak) selama 24 bulan, maka secara teoritis perhitungan efisiensinya (100-1)\/30 x 5%\/24 x Rp. 300 M = Rp. 2,02 M. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Masih ada manfaat lain atas penggunaan software SOWB yaitu dengan berkurangnya waste, berarti kita ikut serta dalam usaha untuk melindungi \/ melestarikan lingkungan hidup yang akhir2 ini semakin dicemaskan oleh dunia. Dengan menghitung atas seluruh manfaat di atas, maka total efisiensi atas penggunaan SOWB pada kasus proyek di atas adalah = 0,8 M + 2,02 M = Rp. 2,82 M plus menghindari risiko hidden cost sebesar Rp. 2,0 M dan ikut serta dalam melestarikan lingkungan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan effort yang kecil dan dengan hasil yang sangat signifikan, maka penggunaan SOWB pada proyek konstruksi dapat dikatakan sebagai bagian adari SCCR. Semoga hasil karya ini dapat menginspirasi dan membantu efisiensi biaya pada pelaksanaan konstruksi di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Referensi :&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4045\"><strong>Buku Advanced and Effective Project Management<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><em>Untuk melihat daftar artikel \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan konsultasi Project Management \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>.<\/em> <em>Daftar karya ada pada \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4873\">Innovation Gallery<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan daftar riset pada \u21d2&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4904\"><strong>Research Gallery<\/strong><\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam berbagai penelitian, nilai aktual waste besi tulangan umumnya berada pada nilai 5-15% dimana biasanya direncanakan hanya 3-5% saja. Mengingat harga besi tulangan termasuk material yang mahal, maka kelebihan waste 2-3 kali terhadap rencana, akan berdampak cukup signifikan bagi biaya pelaksanaan proyek.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7588,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[122,50,143,194,187,12,184,188,161,410,365,17,633,608],"tags":[3442,1996],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-12.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7587"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7587"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7587\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7594,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7587\/revisions\/7594"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}