{"id":7256,"date":"2020-11-28T16:31:15","date_gmt":"2020-11-28T16:31:15","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=7256"},"modified":"2020-11-28T16:32:38","modified_gmt":"2020-11-28T16:32:38","slug":"metode-least-cost-analysis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=7256","title":{"rendered":"Metode Least Cost Analysis"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Definisi, Tujuan, dan Manfaat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Metode <em>least cost analysis<\/em> adalah metode <em>schedulling<\/em> yang menentukan aktivitas dan urutan dalam melakukan strategi percepatan secara <em>crashing<\/em> dalam rangka mendapatkan serangkaian rencana percepatan proyek yang paling efisien atas biaya. Metode ini memanfaatkan metode <em>critical path<\/em> sebagai salah satu acuannya. Metode ini adalah salah satu metode analisis pada percepatan proyek dengan metode <em>crashing<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Percepatan waktu proyek (<em>schedule compression<\/em>) sering dilakukan di proyek, baik pada proses perencanaan yaitu pada proses <em>schedule development<\/em>, maupun saat pengendalian yaitu proses <em>control schedule<\/em>. Dengan menggunakan metode <em>critical path<\/em>, maka akan diketahui aktivitas-aktivitas mana saja yang termasuk dalam aktivitas kritis bagi jadwal proyek.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam upaya percepatan waktu, maka fokus atau prioritas akan tertuju pada aktivitas-aktivitas jalur kritis tersebut. Pada suatu proyek, umumnya jalur kritis yang terbentuk tidak hanya dalam bentuk satu jalur atau rantai, melainkan beberapa rantai.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Langkah-Langkah Metode <em>Least Cost Analysis<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini disampaikan langkah-langkah dalam melakukan <em>metode least cost analysis<\/em> beserta penjelasannya, yaitu :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Menentukan daftar aktivitas yang akan dilakukan <em>crashing<\/em><\/strong> \u2013 Aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan <em>crashing<\/em> adalah aktivitas yang dalam <em>milestone<\/em>, atau <em>milestone<\/em> antara, atau simpul jadwal tertentu yang dianggap perlu untuk dipercepat. Misalnya pada proyek EPC, telah terjadi keterlambatan dimana dinilai keterlambatan pada fase <em>procurement long lead item<\/em>. Maka <em>crashing<\/em> akan dilakukan pada aktivitas-aktivitas dalam fase <em>procurement long lead item saja<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Mendata rencana awal durasi dan biaya tiap aktivitas (kondisi normal)<\/strong> \u2013 Langkah ini adalah langkah yang mendata rencana awal durasi dan biaya tiap aktivitas yang akan dilakukan <em>crashing<\/em>. Data ini bisa didapat dari acuan jadwal dan acuan biaya proyek.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Mendata estimasi durasi dan biaya tiap aktivitas dalam kondisi <em>crash<\/em><\/strong><em> <\/em>\u2013 Langkah ini dimulai dengan menentukan strategi percepatan terbaik yaitu strategi dengan durasi <em>crashing<\/em> sesingkat mungkin dengan biaya sekecil mungkin. Penentuan ini dilakukan pada tiap aktivitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Menghitung nilai <em>cost slope<\/em><\/strong><em> \u2013 Cost slope<\/em> adalah perbandingan antara selisih biaya atas kondisi <em>crash<\/em> dan kondisi normal dengan selisih durasi atas kondisi normal dan kondisi <em>crash<\/em>. Rumus dari <em>cost slope<\/em> adalah, <em>Cost slope<\/em> =&nbsp; (Biaya percepatan \u2013 Biaya normal) \/ (Durasi awal \u2013 Durasi percepatan).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Membuat diagram jaringan jadwal proyek<\/strong> &#8211; Diagram jaringan dibuat dengan dengan metode <em>arrow on node<\/em> (AON) pada aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan percepatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Menentukan jalur kritis<\/strong> &#8211; Pada langkah ini, maka aktivitas jalur kritis ditentukan dengan metode <em>critical path method<\/em> (CPM). Jalur kritis ditandai dengan nilai <em>float <\/em>= 0 pada tiap aktivitas kritisnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Melakukan <em>crashing<\/em> secara bertahap<\/strong> &#8211; Melakukan <em>crashing<\/em> dilakukan secara bertahap dengan beberapa pedoman utama sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Aktivitas yang akan dilakukan <em>crashing<\/em> harus dipilih yang memiliki nilai <em>cost slope<\/em> yang terkecil.<\/li><li>Jika terdapat dua atau lebih jalur kritis, maka <em>crashing<\/em> harus dilakukan pada semua jalur kritis untuk menghindari <em>crashing<\/em> yang menyebabkan jalur kritis menjadi tidak kritis. Pada kasus ini, akan terdapat beberapa alternatif <em>crashing<\/em> yang berupa aktivitas simpul jalur kritis awal, aktivitas simpul jalur kritis akhir, dan aktivitas-aktivitas antar simpul jalur kritis.<\/li><li>Untuk menentukan kombinasi terbaik atas alternatif <em>crashing<\/em> pada aktivitas-aktivitas antar simpul jalur kritis, dapat dilakukan dengan mengkombinasikan aktivitas antar simpul jalur kritis pada tiap jalur kritis dengan nilai <em>cost slope<\/em> terkecil. Nilai <em>cost slope<\/em> alternatif kombinasi aktivitas ini ditentukan dengan cara menjumlahkan nilai <em>cost slope<\/em> semua aktivitas.<\/li><li>Penentuan alternatif <em>crashing<\/em> dilakukan dengan memilih nilai <em>cost slope<\/em> terkecil diantara alternatif atas aktivitas simpul jalur kritis awal, aktivitas pada simpul jalur kritis akhir, dan alternatif kombinasi aktivitas-aktivitas antar dua simpul jalur kritis.<\/li><li>Pada kondisi <em>crashing<\/em> dilakukan pada alternatif kombinasi aktivitas-aktivitas antar dua simpul jalur kritis, maka biaya <em>crashing<\/em> adalah bersifat penjumlahan atas aktivitas-aktivitas tersebut dimana dengan durasi yang terkecil diantara aktivitas-aktivitas kritis tersebut.<\/li><li>Pada aktivitas yang sudah dilakukan <em>crashing<\/em> sedemikian durasi percepatan telah habis digunakan, maka aktivitas tersebut tidak digunakan lagi dalam analisis selanjutnya. Pada aktivitas yang telah dilakukan <em>crashing<\/em> namun masih memiliki sisa durasi <em>crashing<\/em>, maka aktivitas ini masih dapat digunakan dalam analisis <em>crashing<\/em> selanjutnya.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong>Membuat menentukan titik optimal <em>crashing<\/em><\/strong> \u2013 Titik optimal <em>crashing<\/em> adalah titik dengan biaya total yang paling kecil. Biaya total terdiri atas segala biaya proyek setelah dilakukan <em>crashing<\/em>. Dalam hal ini walaupun biaya <em>crashing<\/em> lebih mahal dari pada biaya aktivitas normal, namun terjadi pengurangan biaya <em>overhead<\/em>. Pada kondisi kontrak lump sum, dapat terjadi suatu percepatan diberikan bonus yang dapat mengurangi biaya proyek. Teknik dalam menentukan titik optimum ini umumnya dilakukan secara grafis dengan bantuan tabel kesimpulan kondisi tiap tahap <em>crashing<\/em> (lihat Gambar di bawah ini)<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-36.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7258\" width=\"577\" height=\"376\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-36.png 399w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-36-300x195.png 300w\" sizes=\"(max-width: 577px) 100vw, 577px\" \/><figcaption>Titik Optimum Biaya &#8211; Waktu<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Referensi :&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4045\"><strong>Buku Advanced and Effective Project Management<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><sub><em>Untuk melihat daftar artikel \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan konsultasi Project Management \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>.<\/em> <em>Daftar karya ada pada \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4873\">Innovation Gallery<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan daftar riset pada \u21d2&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4904\"><strong>Research Gallery<\/strong><\/a><\/em><\/sub><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Definisi, Tujuan, dan Manfaat Metode least cost analysis adalah metode schedulling yang menentukan aktivitas dan urutan dalam melakukan strategi percepatan secara crashing dalam rangka mendapatkan serangkaian rencana percepatan proyek yang paling efisien atas biaya. Metode ini memanfaatkan metode critical path sebagai salah satu acuannya. Metode ini adalah salah satu metode analisis pada percepatan proyek dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7259,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[194,12,185],"tags":[5761,5781,817,5780,1863,1371,5674,1108,5782],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Least-Cost-Analysis.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7256"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7256"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7256\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7262,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7256\/revisions\/7262"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7259"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7256"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7256"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7256"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}