{"id":7230,"date":"2020-11-28T13:38:31","date_gmt":"2020-11-28T13:38:31","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=7230"},"modified":"2020-11-28T13:38:48","modified_gmt":"2020-11-28T13:38:48","slug":"metode-jalur-kritis-critical-path-method","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=7230","title":{"rendered":"Metode Jalur Kritis (Critical Path Method)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify\"><em>Critical path method<\/em> (CPM) merupakan alogaritma berbasis matematika yang membuat jadwal kelompok aktivitas-aktivitas proyek yang menentukan jalur kritis atas aktivitas-aktivitas tertentu. CPM merupakan salah satu alat paling penting dalam manajemen proyek modern. Metode ini dikembangkan tahun 1950-an oleh Morgan R. Walker dari DuPont dan James E. Kelley, Jr. dari Remington Rand. Di saat yang hampir bersamaan, Booz Allen Hamilton dan angkatan laut AS juga mengembangkan <em>Program Evaluation and Review Technique. <\/em>Beberapa penjelasan tambahan mengenai <em>Critical Path Method<\/em> (CPM) adalah sebagai berikut (lihat Gambar di bawah) :<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Penentuan jalur kritis ditentukan oleh analisis <em>network<\/em> yang melakukan perhitungan <em>early start, early finish, late start,<\/em> dan <em>late finish<\/em> untuk semua aktivitas tanpa memperhatikan keterbatasan sumber daya dengan analisis <em>forward pass<\/em> dan <em>backward pass<\/em> pada jaringan jadwal.<\/li><li>Menentukan jalur kritis aktivitas pekerjaan proyek yang ditandai dengan jalur terpanjang dengan durasi yang lama dalam penyelesaiannya. Oleh karena itu, lintasan kritis akan menentukan waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan.<\/li><li>Teknik ini juga akan secara otomatis menghasilkan keleluasaan jadwal yang disebut \u201cfloat\u201d. &nbsp;Float ada pada setiap aktivitas yang tidak kritis.<\/li><li>CPM dibangun atas suatu <em>network<\/em> yang dihitung dengan cara tertentu dan dapat pula dengan <em>software<\/em> sehingga menghasilkan suatu rangkaian pekerjaan yang kritis.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-27.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7232\" width=\"581\" height=\"370\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-27.png 540w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-27-300x191.png 300w\" sizes=\"(max-width: 581px) 100vw, 581px\" \/><figcaption>Contoh Jalur Kritis dan Float<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Jalur kritis akan berguna dalam menentukan prioritas manajemen proyek untuk menjaga jadwal proyek. Sedangkan <em>float<\/em> akan berguna dalam perataan sumber daya. Keduanya secara bersama-sama berguna untuk mendapatkan biaya yang efisien untuk melaksanakan proyek sesuai jadwal yang telah ditentukan. Manfaat lintasan kritis dalam pengelolaan jadwal proyek adalah sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Memberikan tampilan grafis dari alur kegiatan sebuah proyek sehingga lebih mudah dipahami.<\/li><li>Memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proyek.<\/li><li>Menunjukkan alur kegiatan mana saja yang penting diperhatikan atau mendapat prioritas dalam menjaga jadwal penyelesaian proyek.<\/li><li>Menginformasikan aktivitas non-kritis dimana sumber daya-nya dapat dialihkan untuk mempercepat jadwal proyek.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Perbedaan antara CPM dan PERT adalah bahwa CPM menggunakan satu jenis waktu untuk perkiraan waktu penyelesaian setiap kegiatan sedangkan PERT menggunakan tiga jenis waktu, yaitu : prakiraan waktu optimis, waktu paling mungkin, dan waktu pesimis. CPM digunakan jika waktu penyelesaian setiap kegiatan diketahui dengan pasti, di mana tingkat deviasi realisasi penyelesaian dibanding rencana relatif minim atau bahkan dapat diabaikan. Sedangkan PERT digunakan pada kegiatan yang waktu penyelesaiannya tidak dapat dipastikan karena belum pernah dilakukan sebelumnya atau kegiatan tersebut memiliki variasi waktu perkiraan penyelesaian yang lebar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam model penjadwalan terdapat dua analisis, yaitu <em>Activity on Arrow<\/em> (AOA) dan <em>Activity on Node<\/em> (AON). Adapun contoh model jadwal AOA dapat dilihat pada Gambar 8.10. CPM awalnya bekerja dengan menggunakan analisis jaringan jadwal <em>Activity on Arrow<\/em> (AOA). Namun CPM dikembangkan untuk dapat bekerja pada analisis jaringan berbasis <em>node<\/em> atau <em>Activity on Node<\/em> (AON). Pembahasan selanjutnya akan membahas analisis jalur kritis dengan menggunakan model jaringan AON (lihat Gambar di bawah).<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-28.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7233\" width=\"581\" height=\"389\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-28.png 450w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-28-300x201.png 300w\" sizes=\"(max-width: 581px) 100vw, 581px\" \/><figcaption>Model Jaringan AOA pada Konstruksi Rumah<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam konsep menggunakan <em>milestone<\/em> dan CPM secara <em>integrated<\/em> dapat membuat jadwal yang berukuran besar pada proyek besar menjadi jadwal yang lebih kecil. Secara logika dapat dipahami bahwa jadwal yang lebih kecil berarti jadwal tersebut lebih <em>managable<\/em> atau dapat lebih mudah untuk dikelola. Inilah intinya peran konsep ini dalam mengatasi kompleksitas proyek yang besar.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Referensi :&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4045\"><strong>Buku Advanced and Effective Project Management<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><sub><em>Untuk melihat daftar artikel \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan konsultasi Project Management \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>.<\/em> <em>Daftar karya ada pada \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4873\">Innovation Gallery<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan daftar riset pada \u21d2&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4904\"><strong>Research Gallery<\/strong><\/a><\/em><\/sub><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Critical path method (CPM) merupakan alogaritma berbasis matematika yang membuat jadwal kelompok aktivitas-aktivitas proyek yang menentukan jalur kritis atas aktivitas-aktivitas tertentu. CPM merupakan salah satu alat paling penting dalam manajemen proyek modern. Metode ini dikembangkan tahun 1950-an oleh Morgan R. Walker dari DuPont dan James E. Kelley, Jr. dari Remington Rand. Di saat yang hampir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7235,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[194,12,185],"tags":[5766,5761,5763,5767,817,895,3182,5764,1393,5730,5630],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Critical-Path-Method.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7230"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7230"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7230\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7236,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7230\/revisions\/7236"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7235"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7230"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7230"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7230"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}