{"id":6161,"date":"2020-11-08T10:01:45","date_gmt":"2020-11-08T10:01:45","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=6161"},"modified":"2020-11-18T12:09:26","modified_gmt":"2020-11-18T12:09:26","slug":"penyebab-dan-dampak-scope-creep","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=6161","title":{"rendered":"Penyebab dan Dampak Scope Creep"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify\"><em>Scope creep<\/em> merupakan risiko terkait lingkup proyek yang dinilai paling membahayakan obyektif utama proyek yaitu biaya, mutu, dan waktu. Penambahan lingkup yang walalupun sedikit demi sedikit yang tidak terkendali dalam waktu yang cukup lama, akan membuat efek domino yang signifikan. Penambahan lingkup jelas berarti akan ada penambahan biaya proyek. Secara waktu pelaksanaan mungkin akan tergantung apakah tambahan lingkup berada pada jalur kritis atau tidak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Namun jika jumlah tambahan lingkup dalam jumlah yang banyak, maka kemungkinan besar jalur kritis akan bergeser pada aktivitas tambahan tersebut. Jika biaya bertambah dan waktu menjadi molor, maka besar kemungkinan akan terjadi penurunan kualitas akibat dari penurunan spesifikasi material, atau akibat percepatan waktu.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Scope-Creep-4.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6165\" width=\"537\" height=\"436\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Scope-Creep-4.png 456w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Scope-Creep-4-300x243.png 300w\" sizes=\"(max-width: 537px) 100vw, 537px\" \/><figcaption>Ilustrasi Dampak Scope Creep<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Penambahan lingkup pada dasarnya tidak selalu berdampak negatif. Seringkali penambahan lingkup bertujuan untuk menyempurnakan perencanaan proyek. Penambahan lingkup yang positif adalah yang akan memberikan nilai tambah pada proyek. Namun perubahan lingkup di tengah jalan seringkali lebih berdampak negatif ketimbang positif. Di samping akan meningkatkan kompleksitas proyek yang berisiko. Perubahan saat pelaksanaan juga berarti proses perencanaan yang dilakukan dalam waktu yang singkat sehingga sulit akan optimal hasilnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam manajemen lingkup, <em>scope creep<\/em> sangat dihindari karena besarnya dampak negatif yang dihasilkannya dibanding dampak positifnya. Namun beberapa kondisi manajemen proyek, dapat memperbesar peluang terjadinya risiko ini, seperti :<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Obyektif, tujuan, dan persyaratan proyek yang tidak terdefinisi dengan jelas<\/li><li>Kurangnya detail pada pernyataan lingkup proyek (<em>project scope statement<\/em>) dan dokumen awal proyek.<\/li><li>Kurangnya kompetensi teknis terkait produk atau proyek.<\/li><li>Kurangnya keterlibatan <em>stakeholder<\/em> kunci sejak awal proyek.<\/li><li>Lemahnya manajemen persyaratan proyek.<\/li><li>Lemahnya pengendalian proyek.<\/li><li>Keragu-raguan <em>key<\/em> <em>stakeholder<\/em> atas lingkup dan proyek.<\/li><li>Terlalu banyak <em>stakeholder<\/em> proyek yang memiliki perbedaan obyektif dan prioritas proyek.<\/li><li>Lemahnya komunikasi yang berdampak pada miskomunikasi antar <em>stakeholder<\/em>.<\/li><li>Permintaan <em>stakeholder<\/em> kunci yang berlebihan.<\/li><li>Lemahnya dokumentasi terkait lingkup.<\/li><li>Meremehkan kompleksitas proyek.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Terlihat bahwa terdapat begitu banyak faktor yang dapat menyebabkan <em>scope creep<\/em> yang menyebabkan kondisi ini pada dasarnya sangat mudah dan sering terjadi dalam pengelolaan lingkup. Hal ini akan menjadi tantangan yang tinggi dalam proses pengendalian lingkup.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Referensi :&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4045\"><strong>Buku Advanced and Effective Project Management<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><sub><em>Untuk melihat daftar artikel \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan konsultasi Project Management \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>.<\/em> <em>Daftar karya ada pada \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4873\">Innovation Gallery<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan daftar riset pada \u21d2&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4904\"><strong>Research Gallery<\/strong><\/a><\/em><\/sub><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Scope creep merupakan risiko terkait lingkup proyek yang dinilai paling membahayakan obyektif utama proyek yaitu biaya, mutu, dan waktu. Penambahan lingkup yang walalupun sedikit demi sedikit yang tidak terkendali dalam waktu yang cukup lama, akan membuat efek domino yang signifikan. Penambahan lingkup jelas berarti akan ada penambahan biaya proyek. Secara waktu pelaksanaan mungkin akan tergantung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6164,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[50,571,194,189,187,12,184,570],"tags":[5448,874,895,5451,926,892,5447,5452,962,925,5453],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Scope-Creep.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6161"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6161"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6161\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6166,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6161\/revisions\/6166"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6161"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6161"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6161"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}