{"id":5352,"date":"2020-10-31T08:56:36","date_gmt":"2020-10-31T08:56:36","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=5352"},"modified":"2020-11-16T00:19:30","modified_gmt":"2020-11-16T00:19:30","slug":"dilema-project-constraints","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=5352","title":{"rendered":"Dilema Project Constraints"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify\"><em>The Triple Constraints<\/em> disebut juga segitiga manajemen proyek adalah model batasan manajemen proyek dalam bentuk grafis di mana terdapat tiga elemen yang saling berhadapan yang memainkan peran sangat penting dan strategis dalam manajemen proyek seperti yang terlihat pada Gambar di bawah ini<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"367\" height=\"283\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Triple-Project-Constraints.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5354\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Triple-Project-Constraints.jpg 367w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Triple-Project-Constraints-300x231.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 367px) 100vw, 367px\" \/><figcaption>Model the Triple Constraints<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam konsep ini, perubahan salah satu elemen akan mengubah satu atau dua elemen yang lain&nbsp; secara bersamaan atau seolah-olah saling tarik-menarik. Ketiga elemen dijelaskan sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Lingkup atau Kualitas (<em>Scope atau Quality<\/em>) &#8211;<\/span> <\/strong>Lingkup merupakan kumpulan aktifitas beserta persyaratan masing-masing yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu hasil kerja (<em>deliverable<\/em>) yang harus berfungsi baik sesuai sasaran proyek sedemikian hasil kerja harus memiliki suatu kriteria kualitas (<em>quality<\/em>) tertentu yang disyaratkan yang mendukung pencapaian syarat kualitas produk pembangkit listrik secara keseluruhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Sebagai contoh pada proyek <em>Engineering, Procurement, and Construction<\/em> (EPC) pembangkit Listrik. Agar proyek dapat berfungsi sesuai rencana bisnis, maka diperlukan syarat kualitas seperti maksimum <em>output<\/em>, <em>heat rate<\/em> atau tingkat konsumsi bahan bakar yang dihasilkan, kehandalan pembangkit yang tinggi, dan beberapa syarat lainnya. Untuk mencapai syarat kualitas tersebut, diperlukan pondasi bangunan <em>engine hall<\/em> yang harus memiliki kapasitas gaya dinamis, bangunan <em>engine hall<\/em> harus kedap suara dan memiliki tingkat sirkulasi udara yang sesuai, travo harus mampu mengubah arus listrik secara baik, dan persyaratan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Suatu proses perencanaan lingkup akan menghasilkan acuan lingkup atau <em>scope baseline<\/em> berupa <em>Work breakdown structure <\/em>(WBS) dengan contoh seperti yang terlihat pada Gambar 3.9. Proses ini merupakan proses perencanaan yang terpenting dalam manajemen proyek karena sangat mempengaruhi proses-proses lainnya. Perubahan lingkup atas <em>scope baseline<\/em>, akan sangat berpengaruh secara signifikan terhadap elemen waktu dan biaya proyek. Pemenuhan lingkup pekerjaan yang sesuai dengan persyaratan adalah faktor kunci penerimaan <em>customer<\/em> proyek.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/WBS-Pesawat-Terbang.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5355\" width=\"763\" height=\"349\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/WBS-Pesawat-Terbang.jpg 646w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/WBS-Pesawat-Terbang-300x137.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 763px) 100vw, 763px\" \/><figcaption>WBS Pesawat Terbang<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Biaya (<em>Cost<\/em>) &#8211;<\/span> <\/strong>Dalam konteks proyek, elemen biaya adalah sejumlah pengeluaran yang diperlukan untuk mendanai proyek hingga selesai. Elemen ini terdiri atas biaya-biaya material, upah, alat, subkontraktor, <em>overhead<\/em>, dan biaya cadangan mitigasi risiko, serta pajak. Estimasi biaya yang memiliki akurasi tinggi adalah tantangan bagi para praktisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Teknik estimasi biaya juga telah berkembang yang menghasilkan beberapa teknik utama yang menjadi <em>best practice<\/em> dan <em>aplicable<\/em>. Diantaranya adalah <em>analogous estimating<\/em>, <em>determining resource cost rates<\/em>, <em>bottom up estimating<\/em>, dan lainnya. Hasil perencanaan biaya adalah berupa rencana anggaran biaya atau <em>cost baseline<\/em> suatu proyek. Mengurangi dan atau menambah biaya sering berdampak pada penurunan kualitas dan atau keterlambatan proyek.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Waktu (<em>Time<\/em>) &#8211;<\/span> <\/strong>Elemen waktu merupakan durasi yang diperlukan untuk menghasilkan suatu hasil kerja yang diestimasi dengan beberapa teknik utama yaitu identifikasi lingkup pekerjaan yang terdokumentasi pada WBS. Setiap aktifitas memiliki durasi tertentu yang tergantung kepada sumber daya yang ada. Suatu aktifitas juga memiliki sifat ketergantungan dengan aktifitas lain dalam bentuk sekuensi atau <em>sequence<\/em>. Kumpulan aktifitas beserta durasi dan sekuensinya adalah perkiraan waktu atau <em>schedule<\/em> yang dibutuhkan proyek.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Setiap proyek memiliki durasi total penyelesaian tertentu yang tergantung dengan kondisi proyeknya. Perencanaan <em>schedule<\/em> merupakan acuan dalam pelaksanaan atau <em>schedule baseline <\/em>dengan contoh pada Gambar di bawah. Percepatan atau perlambatan <em>schedule<\/em> memiliki pengaruh terhadap elemen <em>triple constraints<\/em> yang lain.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Contoh-Schedule-Baseline.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5356\" width=\"801\" height=\"324\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Contoh-Schedule-Baseline.jpg 948w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Contoh-Schedule-Baseline-300x122.jpg 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Contoh-Schedule-Baseline-768x311.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 801px) 100vw, 801px\" \/><figcaption>Contoh Schedule Baseline<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dalam perjalanannya hingga saat ini, model <em>triple constraints<\/em> telah berkembang menjadi berbagai varian dan model <em>triple constraints<\/em> saat ini sudah mulai ditinggalkan. Model <em>Project Management Diamond<\/em> adalah salah satu variasi pengembangan yang memasukkan elemen lingkup dan ekspektasi konsumen. Model <em>Diamond Project Management<\/em> ditunjukkan pada Gambar di bawah ini :<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"437\" height=\"368\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Diamond-Project-Constraints.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5357\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Diamond-Project-Constraints.jpg 437w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Diamond-Project-Constraints-300x253.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 437px) 100vw, 437px\" \/><figcaption>Model Diamond Project Constraints<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Selanjutnya, PMBOK 4<sup>th<\/sup> <em>Edition<\/em> telah memperkenalkan perkembangan atas model <em>the triple constraints<\/em> menjadi <em>The Six Constraints<\/em> yang merupakan <em>modern project constraints<\/em> ditunjukkan pada Gambar di bawah ini :<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"485\" height=\"535\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Modern-Project-Constraints.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5358\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Modern-Project-Constraints.jpg 485w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Modern-Project-Constraints-272x300.jpg 272w\" sizes=\"(max-width: 485px) 100vw, 485px\" \/><figcaption>Modern Project Constraint (PMBOK 4th Edition)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Hubungan atau keterkaitan atas ke-enam elemen dari <em>The Modern Project Constraints<\/em> berdasarkan PMBOK 4<sup>th<\/sup> <em>Edition<\/em> seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.12. Enam elemen tersebut menunjukkan kompleksitas proyek yang ditandai dengan kenyataan bahwa ke-enam elemen pada akhirnya membentuk 15 jenis hubungan antar elemen kendala. Berikut adalah penjelasan singkat atas ke-enam elemen kendala tersebut :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong><em><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Schedule &#8211;<\/span> <\/em><\/strong>Merupakan waktu yang tersedia untuk menjalankan proyek. Jika terjadi keterlambatan, maka akan terjadi penambahan waktu. Di sisi lain, lingkup, kualitas, dan kepuasan pelanggan juga akan terkena dampak atas keterlambatan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><em><strong><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Budget \u2013<\/span><\/strong><\/em><strong><em> <\/em><\/strong>Merupakan elemen sumberdaya paling penting yaitu biaya. Elemen ini sering menjadi perhatian utama karena sangat menentukan dalam pengambilan keputusan kelayakan proyek dan kelangsungan bisnis organisasi atau perusahaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong><em><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Quality &#8211;<\/span> <\/em><\/strong>Faktor ini akan baik terutama apabila tujuan proyek tercapai. Perubahan kualitas proyek akan berdampak pada kepuasan pelanggan dan membutuhkan tambahan sumber daya jika mengalami <em>reject<\/em> atau <em>repair<\/em>. Penambahan sumber daya akan menyebabkan penambahan biaya dan pengerjaan ulang akan berdampak pada penambahan waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong><em><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Scope &#8211;<\/span> <\/em><\/strong>Jika lingkup proyek berubah, maka rencana hasil proyek akan ikut berubah. Kualitas, kepuasan pelanggan, dan biaya serta waktu pelaksanaan juga akan cenderung bertambah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong><em><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Risks &#8211;<\/span> <\/em><\/strong>Terdapat banyak risiko dalam proyek. Risiko dapat berdampak pada semua <em>project constraints<\/em> lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><strong><em><span class=\"has-inline-color has-vivid-cyan-blue-color\">Resources &#8211;<\/span> <\/em><\/strong>Ketiadaan sumber daya proyek akan membuat jadwal proyek menjadi lebih lama dan dapat membuat penambahan biaya proyek karena alternatif sumber daya yang lebih mahal<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pengembangan <em>The Project constraints<\/em> berlanjut dengan penambahan elemen kepuasan pelanggan (<em>customer satisfaction<\/em>) pada <em>The Modern Project constraints<\/em> oleh Rita Mulcahy. Penambahan tersebut membentuk pola gambar baru seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.13 di bawah ini :<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"538\" height=\"549\" src=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Modifikasi-Modern-Project-Constraints.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5359\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Modifikasi-Modern-Project-Constraints.jpg 538w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Modifikasi-Modern-Project-Constraints-294x300.jpg 294w\" sizes=\"(max-width: 538px) 100vw, 538px\" \/><figcaption>Modifikasi Modern Project Constraints &#8211; Rita Mulcahy<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Tambahan elemen kepuasan pelanggan di atas, membuat jumlah elemen bertambah menjadi enam. Akibatnya terbentuk 21 jenis atau variasi hubungan antar elemen kendala tersebut. Hal ini semakin menunjukkan tingkat kompleksitas yang tinggi pada proyek. Banyaknya hubungan tersebut, menjelaskan kenapa <em>project manager<\/em> sering mengalami dilema dalam pengambilan suatu keputusan penting proyek.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Referensi :&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4045\"><strong>Buku Advanced and Effective Project Management<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><em>Untuk melihat daftar artikel \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan konsultasi Project Management \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>.<\/em> <em>Daftar karya ada pada \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4873\">Innovation Gallery<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan daftar riset pada \u21d2&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4904\"><strong>Research Gallery<\/strong><\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyaknya hubungan tersebut, menjelaskan kenapa project manager sering mengalami dilema dalam pengambilan suatu keputusan penting proyek.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5365,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[143,571,186,189,12,184,188,185],"tags":[1013,827,4731,4727,4728,828,4732,829,4733,825,690,4730,826,4729],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/What-is-the-Project-Management-Triple-Constraint.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5352"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5352"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5352\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7016,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5352\/revisions\/7016"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5365"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}