{"id":3067,"date":"2015-05-24T00:42:13","date_gmt":"2015-05-24T00:42:13","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=3067"},"modified":"2020-11-15T11:38:41","modified_gmt":"2020-11-15T11:38:41","slug":"post-tensioning-slab-solusi-masa-depan-high-rise-building-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=3067","title":{"rendered":"Post-Tensioning Slab : Solusi Masa Depan High-Rise Building Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"alignleft size-thumbnail wp-image-3076\" title=\"PT\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT-150x150.jpg\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT-150x150.jpg 150w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT-200x198.jpg 200w\" sizes=\"(max-width: 150px) 100vw, 150px\" \/><\/a>Keberhasilan pembangunan ekonomi di Indonesia telah menghasilkan banyak gedung tinggi. Namun seiring waktu, perkembangan kota telah membuat lahan semakin terbatas. Gedung dituntut harus semakin tinggi, semakin ekonomis, namun cepat pelaksanaannnya. Post-Tensioning Slab (PT-Slab) adalah salah satu yang mampu menjawab tuntutan itu.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>A.&nbsp; Metode PT Slab<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>PT slab<\/em> adalah suatu metode dalam pemberian tegangan internal pada beton pelat lantai, di mana pemberian tegangan dilakukan setelah beton dicor dan memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan tegangan yang diberikan. Pemberian tegangan tersebut dilakukan dengan cara menarik tendon dengan alat penarik. Setelah penarikan tendon mencapai tegangan yang direncanakan, tendon diangkur agar tegangan yang dihasilkan tetap ada (lihat Gambar 1).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<\/p><p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT1.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3068\" title=\"PT1\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT1.jpg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"209\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT1.jpg 400w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT1-300x156.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><\/a><strong>Gambar 1<\/strong>. Mekanisme PT Slab<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Metode <em>PT Slab<\/em> adalah suatu teknologi yang telah berkembang sejak 30 tahun yang lalu. Akan tetapi teknologi ini masih jarang diaplikasikan di Indonesia karena dulu dianggap kurang <em>feasible<\/em> atas biaya, di samping beberapa problem teknis yang masih ada. Namun perkembangan teknologi terbaru telah membuatnya menjadi lebih <em>feasible<\/em>. Hal ini terindikasi pada semakin banyaknya aplikasi metode <em>PT Slab<\/em> pada gedung tinggi di luar negeri. Berikut beberapa <em>mega project<\/em> dengan aplikasi metode PT Slab:<\/p>\n<\/div>\n<ul>\n<li>The Shard &#8211; London<\/li>\n<li>Wynn Casino &#8211; Macau<\/li>\n<li>Capricorn Plaza &#8211; Dubai<\/li>\n<li>Legend Plaza &#8211; Dubai<\/li>\n<li>Pacific Place \u2013 Hongkong<\/li>\n<li>Venetian Macau Resort Hotel &#8211; Macau<\/li>\n<li>Int\u2019l Commerce Centre &#8211; Hongkong<\/li>\n<li>The Address Boulevard &#8211; Dubai<\/li>\n<li>Prime Tower &#8211; Dubai<\/li>\n<li>One Beach Ocean \u2013 California<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT2.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3069\" title=\"PT2\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT2.png\" alt=\"\" width=\"736\" height=\"361\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT2.png 736w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT2-300x147.png 300w\" sizes=\"(max-width: 736px) 100vw, 736px\" \/><\/a><strong>Gambar 2<\/strong>. <em>The Address Boulevard (kiri), International Commerce Centre (tengah), dan The Shard (kanan)<\/em><\/p>\n<p><strong>B. <\/strong><strong>Keunggulan Teknis dan Pelaksanaan <em>PT Slab<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teknologi <em>PT Slab <\/em>memiliki beberapa keunggulan secara teknis dan pelaksanaan. Dari beberapa referensi, dapat disimpulkan yang utama antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\"><strong>Bentang Lebih Panjang<\/strong>. PT memungkinkan pelat dengan bentang yang lebih panjang sehingga dapat mengurangi jumlah kolom dan memperbesar area lantai.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><strong>Berkurangnya Tinggi Antar Lantai<\/strong>. Untuk beban hidup yang sama, pelat PT dapat lebih tipis dibanding pelat bertulang konvensional. Berkurangnya tebal pelat memungkinkan tinggi bangunan minimum sehingga menghemat biaya fa\u00e7ade dan menguntungkan <em>traffic spaces<\/em> (<em>car park<\/em>)<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><strong>Desain Balok, Kolom dan Pondasi Lebih Hemat<\/strong>. Berkurangnya beban mati lantai dapat berdampak pada desain kolom dan pondasi beton bertulang yang lebih ekonomis. Volume material beton, besi, dan bekisting, hingga pondasi akan ikut berkurang.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><strong>Bebas Lendutan<\/strong>. Lendutan yang tidak diinginkan sebagai akibat dari beban layan hampir dapat dihilangkan. Peluang retak akibat lendutan ikut berkurang signifikan.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><strong>Beton Kedap Air<\/strong>. Pelat PT dapat didesain <em>crack-free<\/em> sehingga dimungkinkan kedap air.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><strong>Pelepasan Bekisting Lebih Awal<\/strong>. Pelepasan bekisting yang lebih awal dan pengurangan penggunaan <em>shoring<\/em> memungkinkan siklus konstruksi dan penggunaan bekisting yang lebih cepat.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><strong>Penanganan Material Lebih Mudah<\/strong>. Berkurangnya kuantitas material beton dan tulangan menguntungkan penggunaan <em>on-site crane<\/em>. Kekuatan tendon PT kira-kira 4 kali tulangan konvensional, sehingga total tulangan dapat banyak dikurangi.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<\/p><p><strong>C. <\/strong><strong>Keuntungan Pada Aspek Biaya<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keunggulan teknis dan pelaksanaan membuat <em>PT Slab<\/em> memiliki keuntungan secara biaya. Untuk membandingkan <em>PT Slab<\/em> dan beton bertulang biasa, biaya yang harus dipertimbangkan meliputi biaya material beton, tulangan, tendon PT, bekisting, dan termasuk biaya tak langsung serta peralatan. Berikut adalah tiga penelitian yang membuktikan penghematan atas <em>PT Slab<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Sebuah survey terhadap sistem lantai RC dan PT dilakukan oleh <em>Portland Cement Association<\/em> tahun 1982. Penelitian dilakukan dgn cara membandingkan suatu pelat lantai yang semula didesain dengan metode biasa dengan metode <em>PT Slab<\/em> dengan dua variasi desain. Hasilnya terlihat pada Tabel 1.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<\/p><p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tabel 1.<\/strong> <em>Perbandingan Biaya Sistem Lantai RC dan PT (Gupta &amp; Watry, 2012)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT31.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3071\" title=\"PT3\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT31.png\" alt=\"\" width=\"747\" height=\"258\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT31.png 747w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT31-300x103.png 300w\" sizes=\"(max-width: 747px) 100vw, 747px\" \/><\/a>Terlihat bahwa aplikasi PT Slab dapat memberikan <em>cost reduction<\/em> sebesar 13,8 \u2013 23,1%<\/p>\n<p><\/p>\n<p>2. Penelitian ke-2 menunjukkan Pelat PT dapat dianggap memiliki <em>cost-effective <\/em>yang cukup ketika bentangnya melebihi 7,0 meter.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT41.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3073\" title=\"PT4\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT41.png\" alt=\"\" width=\"540\" height=\"424\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT41.png 540w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT41-300x235.png 300w\" sizes=\"(max-width: 540px) 100vw, 540px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Penelitian ke-3 merupakan suatu studi kasus di mana kontraktor melakukan VE yang mengubah desain lantai awal menjadi <em>PT Slab<\/em> pada proyek Legend Plaza, Dubai. Adapun disain asli berupa <em>Hordy Slab System<\/em> dengan tebal 380 mm dan dengan <em>boundary beams<\/em>. Desain ini diubah menjadi PT <em>flat slab<\/em> dua arah tebal 220 mm tanpa <em>boundary beams<\/em>. Keuntungan VE ini totalnya lebih dari $ 1 juta yang berupa :<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Pengurangan volume tulangan 70%, beton 13%, dan bekisting hingga 25%<\/li>\n<li>Siklus per lantai yang lebih cepat dan kemudahan instalasi akibat hilangnya balok memberikan keuntungan waktu penyelesaian yang lebih cepat hampir tiga bulan<\/li>\n<li>Waktu pelaksanaan yang lebih cepat memberikan keuntungan tambahan atas <em>overhead<\/em> dan peralatan serta <em>plant<\/em> sekitar 15%<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa hasil penelitian dan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa aplikasi PT Slab dapat memberikan <em>cost reduction<\/em> yang signifikan apabila dilakukan pada bentang cukup panjang dan juga dilakukan perubahan sistem pelat menjadi <em>flat-slab system<\/em>. Penghematan total diperkirakan sebesar 5% &#8211; 15% atas keseluruhan biaya proyek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<\/p><p style=\"text-align: justify;\"><strong>D. <\/strong><strong>Keuntungan Pada Aspek Waktu<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keunggulan teknis PT Slab terutama pada berkurangnya volume material dan durasi pelepasan bekisting memberikan keuntungan pada aspek waktu pelaksanaan. Hal ini terlihat pada dua penelitian berikut ini :<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Penelitian pada gedung Strata SEI di London. Gedung ini merupakan gedung residensial 41 lantai PT setinggi 147 m. Penelitian ini membandingkan biaya atas tiga sistem pelat lantai yaitu PT: <em>flat slab post-tensioned concrete, <\/em>RC1: <em>flat slab reinforced concrete, dan <\/em>RC2: <em>slab with drop beams all in reinforced concrete. <\/em>Hasil estimasi siklus lantai adalah 5 hari (PT Slab), 6,5 hari (RC1), dan 8,5 hari (RC2). Siklus aktual yang berhasil dicapai untuk pelat PT adalah 4,5 hari&nbsp; secara rata-rata.<\/li>\n<li>Dalam penelitiannya pembangunan kantor multi lantai dengan sistem <em>PT<\/em> <em>Slab<\/em>, Cross (2014) juga menyatakan bahwa lantai dengan sistem PT memiliki siklus lantai tipikal 5 hari untuk tiap 1000 m<sup>2<\/sup> lantai. Berikut <em>cycle time<\/em> tipikal pada <em>PT Slab<\/em>:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<\/p><p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tabel 2.<\/strong> <em>Cycle Time<\/em> Tipikal untuk <em>PT Slab<\/em> <em>(Cross, 2014)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT51.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3075\" title=\"PT5\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT51.png\" alt=\"\" width=\"618\" height=\"245\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT51.png 618w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/PT51-300x118.png 300w\" sizes=\"(max-width: 618px) 100vw, 618px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelitian di atas menyimpulkan <em>cycle time<\/em> tiap lantai adalah 4,5 &#8211; 5 hari untuk luasan 1000 m<sup>2<\/sup>. Sedangkan pengalaman pelaksanaan pada sistem balok \u2013 pelat menunjukkan <em>cycle time<\/em> sekitar 8 \u2013 8,5 hari\/lantai. Sehingga <em>PT Slab<\/em> dapat mempercepat waktu 2 \u2013 4 hari \/ lantai. Jika <em>PT Slab<\/em> diaplikasikan pada dua calon gedung tertinggi di Indonesia yaitu Signature Tower (111 lantai)&nbsp; dan Pertamina Energy Tower (99 lantai) maka percepatan waktu mencapai 7-14 bulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<\/p><p style=\"text-align: justify;\">\n<\/p><p><strong>E.&nbsp; Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbagai hasil riset dan penjelasan diatas menunjukkan keunggulan teknis dan pelaksanaan <em>PT Slab<\/em> yang memberikan keuntungan atas biaya dan waktu yang cukup signifikan pada gedung tinggi. Sehingga tidak berlebihan jika metode ini akan menjadi solusi masa depan bagi konstruksi gedung <em>high-rise building<\/em> di Indonesia.<\/p>\n<h5 style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/h5>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bijan, A.. 2007. <em>Critical Milestones in Development of Post-Tensioned Building<\/em>. San Fransisco: Concrete International<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cross, E. 2011. <em>Post-Tensioning in Building Structures<\/em>. Post-Tensioning Institute of Australia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Goldsworthy, M. <em>Post Tensioned Slabs in High-Rise Construction<\/em>. Freyssinet Building Asia Region.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gupta, P. R dan Watry, C. N. 2012. <em>Sustainable Design of Buildings by Post-Tensioning Concrete<\/em>. Phoenix, Arozona: Concrete International.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hayek, S. dan Kalil, S. 2011. <em>A Project-Based Comparison between Reinforced and Post-Tensioned Structures from A Sustainability Perspective<\/em>. Prague Symposium.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Martter, R. P. 1965. <em>Post-tensioned Concrete for High-rise Apartments.<\/em> California: The Aberdeen Group.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Roy, P. 2008. <em>Prestresses Concrete in Building: Advantages and economics<\/em>. Artikel dalam NBM&amp;CW Magazine. New Delhi: NBM Media.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wikipedia Indonesia<\/p>\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><sub><em>Untuk melihat daftar artikel \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan konsultasi Project Management \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>.<\/em> <em>Daftar karya ada pada \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4873\">Innovation Gallery<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan daftar riset pada \u21d2&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4904\"><strong>Research Gallery<\/strong><\/a><\/em><\/sub><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keberhasilan pembangunan ekonomi di Indonesia telah menghasilkan banyak gedung tinggi. Namun seiring waktu, perkembangan kota telah membuat lahan semakin terbatas. Gedung dituntut harus semakin tinggi, semakin ekonomis, namun cepat pelaksanaannnya. Post-Tensioning Slab (PT-Slab) adalah salah satu yang mampu menjawab tuntutan itu.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[3,50,15,410,633,608],"tags":[114,4198,642,44,4202,4201,4203,4206,4204,4199,4200,4196,640,643,641],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3067"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3067"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3067\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6934,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3067\/revisions\/6934"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}