{"id":2456,"date":"2013-12-08T05:09:54","date_gmt":"2013-12-08T05:09:54","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=2456"},"modified":"2020-11-14T22:32:48","modified_gmt":"2020-11-14T22:32:48","slug":"fungsi-krusial-wbs-bagi-manajemen-proyek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=2456","title":{"rendered":"Fungsi Krusial WBS Bagi Manajemen Proyek"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/WBS.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"alignleft size-thumbnail wp-image-2459\" title=\"WBS\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/WBS-150x150.png\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a>Keberhasilan suatu proyek berada pada kualitas perencanaan secara menyeluruh. Starting point terletak pada penetapan obyektif proyek dengan informasi detil yang memadai. Untuk itu diperlukan WBS (Work Breakdown Structure) yang menjadi pondasi dalam menentukan obyektif proyek. Sedemikian WBS menjadi sangat krusial bagi manajemen proyek.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suatu proyek harus dibuat lebih manageable dengan cara mendetilkannya menjadi komponen tersediri yang dikenal dengan istilah WBS (Work Breakdown Structure). Peranan WBS yang sangat penting kadang kurang disadari oleh para pelaku konstruksi. Padahal tanpanya, tidak akan mungkin proyek dapat dikelola dengan baik. Proyek seolah akan berjalan tanpa kemudi dan arah yang jelas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan Project Management Institute, terdapat empat fungsi yang sangat krusial dari WBS terhadap manajemen proyek, yaitu:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Untuk mendefinisikan lingkup pekerjaan proyek yang harus dilaksanakan dan untuk mendetilkan (decomposition) lebih jauh menjadi komponen-komponen yang penting untuk dikendalikan. Dekomposisi lingkup pekerjaan proyek tergantung pada kebutuhan manajemen untuk kontrol dengan representasi tingkat detil yang memadai pada WBS.<\/li>\n<li>Untuk menyediakan kepada tim manajemen proyek dengan suatu framework dimana berdasarkan status proyek dan laporan progress.<\/li>\n<li>Untuk memfasilitasi komunikasi antara manajer proyek dan stakeholder selama masa proyek. WBS dapat digunakan untuk mengkomunikasikan informasi yang terkait dengan lingkup pekerjaan. Kombinasi WBS dengan data tambahan lain dapat dilah menjadi schedule, risiko, performance, ketergantungan, dan biaya.<\/li>\n<li>Sebagai input utama yang akurat untuk proses manajemen proyek dan tujuan lainnya seperti definisi aktifitas, network diagram, schedule program dan proyek, laporan performance, analisis risiko dan mitigasinya, alat kendali, atau organisasi proyek.<\/li>\n<li>Meningkatkan percaya diri bahwa 100% pekerjaan telah teridentifikasi dan termasuk.<\/li>\n<li>Suatu pondasi atas proses kontrol terkait proyek.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebegitu penting peran dan fungsi dari WBS, maka sudah semestinya tiap proyek harus membuat WBS dengan tingkat detil dan kualitas yang memadai dalam rangka pengelolaan proyek yang lebih baik.\u00a0Apa yang terjadi jika tidak membuat atau membuat WBS tidak semestinya? Berikut ini adalah beberapa dampaknya:<\/p>\n<ul>\n<li>Pendefinisian proyek yang tidak lengkap yang berdampak pada penambahan waktu pelaksanaan proyek karena delay.<\/li>\n<li>Ketidakjelasan mengenai apa tujuan pelaksanaan proyek<\/li>\n<li>Lingkup berubah-ubah atau tidak terkendali, sering terjadi perubahan lingkup<\/li>\n<li>Kerugian proyek<\/li>\n<li>Kesalahan menentukan deadline target waktu<\/li>\n<li>dan lain-lain.<\/li>\n<\/ul>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/WBS-and-Project-Management-Process.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2478\" title=\"WBS and Project Management Process\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/WBS-and-Project-Management-Process.png\" alt=\"\" width=\"435\" height=\"513\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/WBS-and-Project-Management-Process.png 392w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/WBS-and-Project-Management-Process-254x300.png 254w\" sizes=\"(max-width: 435px) 100vw, 435px\" \/><\/a><em>Tabel hubungan WBS dan Proses Manajemen Proyek<\/em><\/p>\n<p>Jelaslah bahwa WBS adalah salah satu fitur penting bagi pelaksanaan proyek, terlebih pada proyek yang kompleks yang membutuhkan perencanaan dan pengendalian yang lebih detil dimana WBS dapat menjadi alat bantu yang powerful.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<h5 style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/h5>\n\n\n<p>Referensi :&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4045\"><strong>Buku Advanced and Effective Project Management<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><sub><em>Untuk melihat daftar artikel \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan konsultasi Project Management \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>.<\/em> <em>Daftar karya ada pada \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4873\">Innovation Gallery<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan daftar riset pada \u21d2&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4904\"><strong>Research Gallery<\/strong><\/a><\/em><\/sub><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keberhasilan suatu proyek berada pada kualitas perencanaan secara menyeluruh. Starting point terletak pada penetapan obyektif proyek dengan informasi detil yang memadai. Untuk itu diperlukan WBS (Work Breakdown Structure) yang menjadi pondasi dalam menentukan obyektif proyek. Sedemikian WBS menjadi sangat krusial bagi manajemen proyek.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[189],"tags":[3639,520,3634,3635,3641,57,3638,3637,73,521],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2456"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2456"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2456\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6818,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2456\/revisions\/6818"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}