{"id":1836,"date":"2013-11-01T02:32:29","date_gmt":"2013-11-01T02:32:29","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=1836"},"modified":"2015-06-02T04:10:34","modified_gmt":"2015-06-02T04:10:34","slug":"big-gas-engine-delivery-tantangan-teknis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=1836","title":{"rendered":"Big Gas Engine Delivery : Tantangan Teknis"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/11\/Rolloff.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"alignleft size-thumbnail wp-image-1846\" title=\"Rolloff\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/11\/Rolloff-150x150.png\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a>Posting ini akan menjelaskan secara detil mengenai permasalahan terkait aspek teknis yang terjadi selama pengiriman <em>gas engine<\/em>. Permasalahan teknis tersebut dibagi beberapa bagian yaitu: profil <em>gas engine<\/em> dan konsekuensinya, Kondisi teknis akses sungai, kondisi teknis <em>existing<\/em> sepanjang rute lainnya, keterbatasan <em>resources<\/em> dan keterbatasan Data.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\"><span style=\"mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">A.<span style=\"font: 7.0pt &quot;Times New Roman&quot;;\"> <\/span><\/span><\/span><\/strong><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Profil <em>Gas Engine<\/em> dan Konsekuensinya<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>A.1. Profil<em> Gas Engine<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Gas engine<\/em> yang digunakan adalah bertipe <em>dual fuel<\/em> dimana pada dasarnya bahan bakar utama mesin adalah gas. Namun dapat  pula menggunakan HSD (High Speed Diesel) atau solar. Dalam mode operasi  bbm gas, fungsi solar adalah sebagai <em>pilot fuel<\/em>. Mesin yang dipesan ssebanyak tujuh unit dari pabrikan Wartsila ini, memiliki kode\u00a0 18V50DF.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan fungsinya yang lebih dari <em>gas engine<\/em> biasanya (dual fuel), mesin  ini berdimensi cukup raksasa yaitu panjang x lebar x tinggi = 14,53 x 4,10 x 6,05 m,\u00a0  dimana bobot mesin juga sangat berat yaitu +\/- 300 Ton. Jika ditambah peralatan  bantu termasuk <em>multiaxle<\/em>, sling untuk <em>lashing,  beam<\/em>,  dan lainnya, maka bobot total adalah hampir 400 Ton.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P7.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1806\" title=\"P7\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P7.png\" alt=\"\" width=\"506\" height=\"283\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P7.png 573w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P7-300x168.png 300w\" sizes=\"(max-width: 506px) 100vw, 506px\" \/><\/a><em>Gambar Profil Memanjang Gas Engine<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P8.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1807\" title=\"P8\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P8.png\" alt=\"\" width=\"235\" height=\"286\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P8.png 362w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P8-246x300.png 246w\" sizes=\"(max-width: 235px) 100vw, 235px\" \/><\/a><em>Gambar Profil Melintang Gas Engine<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>A.2. Konsekuensi Profil <em>Gas engine<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bentuk yang cukup panjang dari <em>gas engine<\/em>, membuat alat pengangkut <em>multiaxle<\/em> juga harus cukup panjang. Hal ini memberi konsekuensi atas kebutuhan area saat proses  manuver ketika melewati belokan \/ tikungan jalan darat (Land Transport).  Jalan yang dilewati praktis harus cukup lebar untuk bisa dilewati dan  manuver serta juga harus cukup kuat menahan tekanan ban yang cukup  besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam proses pengangkutannya, dilakukan dengan menggunakan <em>multiaxle<\/em> khusus bertipe <em>Self Propelled Trailer<\/em> (SPT) dengan lebar tapak ban  adalah 4,79 m. Lalu diperlukan pula <em>beam<\/em> penyangga beban engine yang dipasang secara melintang dengan panjang <em>beam<\/em> 6,0 m. Akibatnya diperlukan lebar jalan ideal selebar 7,0 m (clearance   0,50 m kanan-kiri). Jalan selebar ini tentu sulit ditemui di propinsi Riau. Kalaupun ada hanya pada ruas tertentu saja atau pada jalan utama kota Pekanbaru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di samping itu, panjang <em>engine<\/em> ini juga menentukan dalam memilih dimensi tongkang. Tentu saja semakin panjang engine, maka semakin panjang tongkang yang diperlukan. Di sisi lain dengan banyaknya tikungan tajam pada sungai Mandau, maka semakin panjang tongkang berimplikasi pada tingginya kesulitan menuver saat melewati tikungan tajam tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian akibat  bentuknya yang tinggi, maka stabilitas <em>engine<\/em> menjadi perlu dijaga. Kombinasi bentuk yang  cenderung tinggi dan bobot yang sangat besar,  membuat pengiriman cargo  ini sangat riskan terhadap risiko guling.  Sekali terguling, maka <em>engine<\/em> ini akan menjadi musium karena tidak akan  bisa diangkat lagi mengingat dibutuhkan <em>crane<\/em> &gt; 1000 Ton untuk  mengangkatnya kembali dimana infrastruktur untuk mendatangkan <em>crane<\/em> sebesar itu tidaklah memungkinkan di jalur <em>delivery engine<\/em> sepanjang alur sungai ini. Jika sudah seperti itu, maka rute juga akan terblock secara permanen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Profil <em>engine<\/em> yang tinggi dan berat menuntut tongkang harus memiliki lebar yang memadai untuk mengimbangi gaya guling. Namun dilematisnya, lebar sungai sangat terbatas. Bentuk tampang sungai yang bersudut &gt; 30\u00ba membuat tepi lebar tongkang rawan kandas. Sehingga tongkang harus berjalan hati-hati saat melintasi sungai. Potensi kandas ini membuat diperlukannya tongkang kecil dengan alat <em>excavator long-armed<\/em> sebagai alat bantu untuk melepaskan tongkang utama dari kondisi kandas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/moving-engine1.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1785\" title=\"moving engine\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/moving-engine1.jpg\" alt=\"\" width=\"496\" height=\"337\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/moving-engine1.jpg 466w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/moving-engine1-300x204.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 496px) 100vw, 496px\" \/><\/a>Gas Engine Ketika Tiba di Proyek Pada Malam Hari<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>A.3. Tuntutan Konsistensi dan Fokus<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan jumlah <em>engine<\/em> yang harus dikirim adalah tujuh unit, maka tidak diperkenankan  adanya unsur kelalaian akibat kelelahan dalam melakukan pekerjaan ini.  Dituntut konsistensi fokus dan konsentrasi tinggi dalam tiap prosesnya  dari <em>engine<\/em> pertama hingga <em>engine<\/em> ke tujuh. Aspek <em>safety<\/em> menjadi prioritas tidak hanya bagi kestabilan <em>engine<\/em>, tapi juga segala kondisi yang mungkin terjadi terhadap <em>engine<\/em> tersebut seperti ambles, miring, guling, dan kondisi berbahaya lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi ini menuntut pula kondisi alat terutama <em>multi axle <\/em>dan tongkang beserta <em>tagboat <\/em>harus selalu dalam keadaan prima. Pengecekan berkala wajib dilakukan. Umur tongkang pun harus dibatasi mengingat kondisi perawatan tongkang di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Kesalahan atau kelalaian kecil saja, dipastikan akan berdampak besar, setidaknya di waktu. Hal ini disebabkan bahwamengganti suku cadangnya saja, diperlukan waktu yang tidak sebentar karena harus melewati mekanisme import.<\/p>\n<p class=\"MsoListParagraphCxSpMiddle\" style=\"margin-left: 1.0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; mso-list: l7 level1 lfo10;\"><span style=\"font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"> <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoListParagraphCxSpMiddle\" style=\"margin-left: 1.0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p class=\"MsoListParagraphCxSpMiddle\" style=\"margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; mso-list: l5 level1 lfo3;\"><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\"><span style=\"mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">B.<span style=\"font: 7.0pt &quot;Times New Roman&quot;;\"> <\/span><\/span><\/span><\/strong><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Kondisi Teknis Alur Sungai<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>B.1. <em>Feasibility Analysis<\/em> Atas Dua Rute<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada  awalnya terdapat dua alternatif rute dari Dumai &#8211; Site dalam mengirim  mesin yaitu via Darat melewati jalan raya Dumai &#8211; Duri dan via sungai  via sungai Siak lalu masuk ke anak sungai Siak yang bernama sungai  Mandau. Setelah melalui pertimbangan yang matang dan cukup lama,  dipilihlah rute sungai dalam melakukan pengiriman mesin ini karena  dianggap lebih <em>feasible<\/em>. Pengiriman via darat dianggap &#8220;tutup  buku&#8221; mengingat perjalanan mesin ini membutuhkan lebar jalan setidaknya  7,0m dengan waktu 4-5 hari per <em>engine<\/em>. Sedangkan jalan yang ada  6-7 m dengan kondisi lalu lintas yang ramai karena merupakan lintas  Sumatra. Tentu saja tidak mungkin menutup jalan lintas Sumatra dua arah  selama 4&#215;7=28 hari. Bisa-bisa dikomplain seluruh gubernur Sumatera  bahkan oleh para Menteri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jalan-Dumai-Riau.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1730\" title=\"Jalan Dumai Riau\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jalan-Dumai-Riau.jpg\" alt=\"\" width=\"319\" height=\"239\" \/><\/a><em>Kondisi Lalu-Lintas Jalan Dumai &#8211; Duri yang Padat<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di  samping padat lalu lintas, jalan Dumai &#8211; Duri juga memiliki beberapa  daerah yang dengan geometri kombinasi tikungan dan tanjakan \/ turunan  tajam. Belum lagi beberapa <em>obstacle<\/em> lain seperti banyaknya  jembatan baik bentang panjang maupun pendek sepanjang jalur darat ini.  Hal ini menjadi hambatan tambahan dalam <em>land transport <\/em>Dumai &#8211; <em>Job Site<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>B.2. Profil dan Karakteristik Sungai<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun dianggap lebih <em>feasible<\/em>,  tapi tetap saja sangat sulit untuk menggunakan rute sungai. Ada dua sungai yang dilewati yaitu sungai Siak dan sungai Mandau yang merupakan anak sungai Siak. Untuk sungai Siak, tidak ada kesulitan yang berarti ketika dilewati. Tantangan yang berat ada pada alur sungai Mandau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sungai ini memiliki lebar berkisar 25 &#8211; 35 m dengan kedalaman bervariasi  pada tiap lokasi yaitu 2,5 &#8211; 5,0m. Cukup mengejutkan bahwa sungai Mandau ini ternyata memiliki daerah aliran sungai yang cukup luas. Sehingga dengan tidak banyaknya anak sungai  lain sekitar sungai Mandau dan luas tampang sungai yang relatif kecil, menjadikan  sungai ini memiliki karakter gampang banjir ketika hujan intensitas cukup tinggi dan juga gampang surut jika tidak ada hujan selama lebih dari  seminggu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Tampang-sungai-vs-tongkang.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1731\" title=\"Tampang sungai vs tongkang\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Tampang-sungai-vs-tongkang.png\" alt=\"\" width=\"607\" height=\"270\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Tampang-sungai-vs-tongkang.png 1494w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Tampang-sungai-vs-tongkang-300x133.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Tampang-sungai-vs-tongkang-1024x455.png 1024w\" sizes=\"(max-width: 607px) 100vw, 607px\" \/><\/a><em>Gambar Skalatis Antara Tampang Sungai Pada Lokasi Tertentu dan Tongkang<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada  karakteristik khusus tambahan sungai ini yang cukup mempengaruhi pola  perjalanan  tongkang yaitu pengaruhnya terhadap pasang surut air laut.  Pada lokasi  tertentu, pasang surut sangat tinggi hingga 1,50 m. Pada jarak 25 km <em>upstream<\/em>, pengaruh pasang surut berkurang sebagian dan pada jetty terakhir arah <em>upstream<\/em> sekitar 30 km berikutnya, pengaruh pasang surut cukup kecil. Kondisi   ini membuat prediksi elevasi air sungai harian menjadi sulit untuk   diprediksi. Apalagi waktu terjadinya pasang surut selalu bergeser secara   harian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P21.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1817\" title=\"P21\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P21-300x148.png\" alt=\"\" width=\"356\" height=\"176\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P21-300x148.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P21.png 604w\" sizes=\"(max-width: 356px) 100vw, 356px\" \/><\/a><em>Foto Proses Pengiriman Engine Via Sungai<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sungai  ini merupakan sungai yang memiliki tingkat sedimentasi yang   sangat  tinggi. Sehingga seringkali membuat kedalaman alur jetty yang   sudah  dilakukan <em>dredging<\/em> untuk membuat tongkang dapat melakukan RORO menjadi dangkal sehingga tongkang kandas di depan alur jetty.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bentuk   sungai yang berkelok-kelok dimana beberapa diantaranya merupakan   kelokan tajam juga menjadi perhatian dalam menentukan ukuran dimensi   tongkang karena lebar sungai yang terbatas. Tongkang yang terlalu   panjang atau terlalu lebar akan membuat ujung tongkang rawan tersangkut   walaupun draf tongkang memadai. Sedangkan apabila dipilih tongkang  lebih  pendek dan lebar lebih kecil akan membuat draf lebih dalam  sehingga  rawan kandas. Cukup dilematis dalam menentukan dimensi  tongkang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kelokan-Alur-Sungai.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1739\" title=\"Kelokan Alur Sungai\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kelokan-Alur-Sungai.png\" alt=\"\" width=\"507\" height=\"190\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kelokan-Alur-Sungai.png 679w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kelokan-Alur-Sungai-300x112.png 300w\" sizes=\"(max-width: 507px) 100vw, 507px\" \/><\/a><em>Alur Sungai yang Dengan Banyak Tikungan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi ini praktis membuat <em>window<\/em> atau kesempatan (opportunity) untuk bisa digunakan dalam mengirim mesin  menjadi terbatas. Kondisi kering membuat draft tongkang pengangkut  mesin tidak cukup dan rawan kandas. Sedangkan kondisi banjir membuat  jetty menjadi tenggelam dan tidak dapat dilakukan proses RORO  (Rolling-On dan Rolling-Off).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>B.3. <em>Obstacles<\/em> Sungai Mandau<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam perjalanan sepanjang alur sungai Mandau, terdapat beberapa <em>obstacle<\/em> penting. Terdapat dua jembatan bentang 40-60 m dengan <em>clearance<\/em> 4,0-6,5 m (tergantung elevasi air sungai). Padahal untuk bisa melewati jembatan tersebut, diperlukan <em>clearance<\/em> setidaknya 7,50 m.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kelantan.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1736\" title=\"Kelantan\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kelantan-300x225.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kelantan-300x225.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kelantan.png 877w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><em>Salah Satu Jembatan yang Memiliki Clearance +\/- 4,0 m<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan adanya dua <em>obtacle<\/em> jembatan dengan <em>clearance<\/em> yang tidak mencukupi tersebut, maka satu-satunya solusi adalah dengan metode <em>beaching point<\/em>. <em>Engine<\/em> dan <em>multiaxle<\/em> naik ke darat dan kemudian turun lagi ke sungai. Proses ini disebut dengan <em>rolling-on<\/em> dan <em>rolling off<\/em> atau disingkat dengan RORO. Sebelumnya pernah tercetus ide untuk mengangkat jembatan dengan cara <em>hidraulic jacking<\/em>. Namun metode ini tidak memungkinkan karena tingginya arus lalu lintas di salah satu jembatan, kestabilan jembatan yang membahayakan karena harus diangkat sangat tinggi (2,0-3,5 m), dan perijinan yang sulit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dikarenakan ada dua jembatan dengan <em>clearance<\/em> rendah dan adanya proses <em>rolling-on<\/em> dari <em>laydown<\/em> Kelantan serta diperlukannya proses <em>rolling-off <\/em>di jetty terakhir dekat lokasi proyek, maka tiap siklus pengiriman <em>engine<\/em> akan terjadi enam kali proses <em>rolling<\/em> (baik rolling-on maupun rolling off).<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Beaching-Point.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1737\" title=\"Beaching Point\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Beaching-Point.png\" alt=\"\" width=\"292\" height=\"311\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Beaching-Point.png 460w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Beaching-Point-281x300.png 281w\" sizes=\"(max-width: 292px) 100vw, 292px\" \/><\/a><em>Beaching Point Sebagai Solusi Atas Obstacle Jembatan Dengan Clearance Rendah<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dikarenakan ada dua jembatan dengan <em>clearance<\/em> rendah dan adanya proses <em>rolling-on<\/em> dari <em>laydown<\/em> Kelantan serta diperlukannya proses <em>rolling-off <\/em>di jetty terakhir dekat lokasi proyek, maka tiap siklus pengiriman <em>engine<\/em> akan terjadi enam kali proses <em>rolling<\/em> (baik rolling-on maupun rolling off).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dapat dibayangkan bahwa jumlah <em>engine<\/em> yang berjumlah tujuh  unit, berarti  proses  RORO dilakukan selama 42 kali. Padahal proses ini adalah proses  yang paling berisiko tinggi. Hal ini karena tiap perubahan posisi <em>engine<\/em> dan <em>multiaxle<\/em> akan mempengaruhi keseimbangan tongkang karena beratnya yang  signifikan. Tiap pergerakan tongkang harus diimbangi dengan proses <em>ballasting<\/em> dengan mengisi ataupun membuang air dalam kompartemen tongkang. Sungguh  menyita  perhatian yang tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di  samping itu terdapat beberapa <em>obstacle<\/em> lain sepanjang alur sungai ini, yaitu adanya tongkang  yang melintang sungai yang dijadikan jembatan darurat oleh penduduk  sekitar dan juga terdapat rumah apung di lokasi tertentu  yang membuat <em>clearance<\/em> lebar sungai menyempit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em> <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jembatan-Beringin.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1741\" title=\"Jembatan Beringin\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jembatan-Beringin.png\" alt=\"\" width=\"362\" height=\"176\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jembatan-Beringin.png 311w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jembatan-Beringin-300x146.png 300w\" sizes=\"(max-width: 362px) 100vw, 362px\" \/><\/a><em>Jembatan Beringin yang Berupa Tongkang<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Rumah-Apung.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1740\" title=\"Rumah Apung\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Rumah-Apung.png\" alt=\"\" width=\"372\" height=\"152\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Rumah-Apung.png 335w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Rumah-Apung-300x122.png 300w\" sizes=\"(max-width: 372px) 100vw, 372px\" \/><\/a><em>Rumah Apung di Alur Sungai<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak selesai disitu, pada sepanjang alur sungai ditemukan banyak sekali potongan dan sampah kayu yang hanyut akibat sisa <em>illegal logging<\/em> dan pohon kayu yang tumbang saat terjadi kondisi cuaca ekstrim.  Potongan dan sampah kayu sangat menghambat perjalanan tongkang di  sungai. Sehingga diperlukan proses <em>cleaning<\/em> alur sungai sebelum digunakan \/ dilewati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Proses-Dredging-Sampah-Kayu.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1744\" title=\"Proses Dredging Sampah Kayu\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Proses-Dredging-Sampah-Kayu-300x220.png\" alt=\"\" width=\"355\" height=\"260\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Proses-Dredging-Sampah-Kayu-300x220.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Proses-Dredging-Sampah-Kayu.png 403w\" sizes=\"(max-width: 355px) 100vw, 355px\" \/><\/a><em>Sampah Kayu Hasil Dredging Alur Jetty<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kayu-besar-hasil-tangkapan.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1745\" title=\"Kayu besar hasil tangkapan\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Kayu-besar-hasil-tangkapan-300x215.png\" alt=\"\" width=\"353\" height=\"252\" \/><\/a><em>Kayu Besar Hasil Dredging yang Akan diangkut Dengan Crane<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P29.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1818\" title=\"P29\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P29-300x176.png\" alt=\"\" width=\"357\" height=\"210\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P29-300x176.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/P29.png 506w\" sizes=\"(max-width: 357px) 100vw, 357px\" \/><\/a><em>Kayu yang Menghalangi Perjalanan Tongkang Di Alur Sungai<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Problem  lain yang juga penting pada kondisi sungai ini adalah adanya isu  kerusakan lingkungan sungai yaitu pencemaran air sungai. Sehingga proses  pengiriman menggunakan tongkang menjadi ekstra hati-hati. Jangan sampai  membuang sesuatu ke sungai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p class=\"MsoListParagraphCxSpMiddle\" style=\"margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; mso-list: l5 level1 lfo3;\"><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\"><span style=\"mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">C.<span style=\"font: 7.0pt &quot;Times New Roman&quot;;\"> <\/span><\/span><\/span><\/strong><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Kondisi Teknis Eksisting Sepanjang Rute Lainnya.<\/strong><\/p>\n<p class=\"MsoListParagraphCxSpMiddle\" style=\"margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; mso-list: l5 level1 lfo3;\"><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">C.1. Tanah Sangat Lunak yang <em>Unpredictable<\/em><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhatian  utama tertuju pada kondisi tanah, dimana pada daerah tertentu berupa  tanah yang sangat lunak (very soft soil). Hal ini mengingat beban <em>engine<\/em> dan alat pengangkutnya sangat berat (400 Ton). Kesalahan kecil dalam perencanaan akan sangat fatal. Risiko tidak hanya ban <em>multiaxle <\/em>yang terpelosok, tapi juga merusak <em>axle<\/em> pada alat <em>multiaxle<\/em> di samping bahaya stabilitas <em>engine<\/em>. Pada daerah yang diketahui sangat lunak, terdapat petunjuk dimana terdapat struktur <em>abutment <\/em>jembatan yang miring sebelum digunakan yang berada di dekat area jetty. Hal ini diperkirakan karena kondisi tanah lunak yang <em>unpredictable<\/em> sehingga harus diwaspadai. Alam seharusnya telah memberikan tanda khusus bagi yang kritis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Pelajaran-sipil-yg-mahal.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1742\" title=\"Pelajaran sipil yg mahal\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Pelajaran-sipil-yg-mahal-225x300.jpg\" alt=\"\" width=\"225\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Pelajaran-sipil-yg-mahal-225x300.jpg 225w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Pelajaran-sipil-yg-mahal.jpg 480w\" sizes=\"(max-width: 225px) 100vw, 225px\" \/><\/a><em>Struktur Abutment Jembatan yang Miring Sebelum Digunakan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Hasil-test-sondir-kedua-Gili-2B.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1747\" title=\"Hasil test sondir kedua - Gili 2B\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Hasil-test-sondir-kedua-Gili-2B-275x300.png\" alt=\"\" width=\"289\" height=\"315\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Hasil-test-sondir-kedua-Gili-2B-275x300.png 275w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Hasil-test-sondir-kedua-Gili-2B.png 450w\" sizes=\"(max-width: 289px) 100vw, 289px\" \/><\/a><em>Hasil Test Sondir yang Menunjukkan Kondisi Tanah yang Sangat Lunak<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan  hasil test sondir di atas dimana ternyata tanah adalah sangat lunak,  maka perlu sangat hati-hati dalam melakukan design jetty. Tingkat  kesulitan design bertambah karena banyaknya keterbatasan larangan  pemilik jembatan untuk melakukan pemancangan tiang dengan <em>hammer<\/em> dan berada di area konservasi. Di samping itu juga, terdapat kesulitan  lain dalam pekerjaan konstruksi jetty dimana karena letaknya di tengah  hutan, sehingga cukup sulit untuk mendapatkan material. Monitoring dan  komunikasi jarak jauh juga sangat sulit mengingat infrastruktur  komunikasi yang sangat tidak memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>C.2. Kondisi Di Jalan Darat<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebar jalan di kampung dan Chevron yang akan dilewati  engine menuju <em>project site<\/em> sangat sempit yaitu 5,0m dimana jarak terluar ban <em>multiaxle<\/em> adalah 4,8m. Sehingga diperlukan beberapa pelebaran  jalan untuk ruang manuver dan akses operator alat.Sempitnya jalan juga rawan lantaran batas aspal dan tanah menjadi samar. Sehingga diperlukan tanda batas khusus untuk membantu operator dalam mengarahkan alat multiaxle berupa garis putih di tepi jalan aspal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Engine-sampai-tinkungan-terachir-pungut3.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1790\" title=\"Engine sampai tinkungan terachir pungut(3)\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Engine-sampai-tinkungan-terachir-pungut3.jpg\" alt=\"\" width=\"309\" height=\"412\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Engine-sampai-tinkungan-terachir-pungut3.jpg 480w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Engine-sampai-tinkungan-terachir-pungut3-225x300.jpg 225w\" sizes=\"(max-width: 309px) 100vw, 309px\" \/><\/a><em>Kondisi Jalan Kampung yang Sempit dan Diperlebar<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/250-m-lagi-simpang-balai-pungut2.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1791\" title=\"250 m lagi simpang balai pungut(2)\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/250-m-lagi-simpang-balai-pungut2.jpg\" alt=\"\" width=\"305\" height=\"404\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/250-m-lagi-simpang-balai-pungut2.jpg 484w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/250-m-lagi-simpang-balai-pungut2-226x300.jpg 226w\" sizes=\"(max-width: 305px) 100vw, 305px\" \/><\/a><em>Lebar Jalan Chevron yang Sempit Dengan Lebar Hanya 5,0m<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Geometri jalan darat dari jetty terakhir hingga job-site berupa jalan lurus sempit dengan lima tikungan 90\u00ba dan beberapa tanjakan-turunan dengan sudut cukup besar. Pada tikungan, proses harus dilakukan hati-hati dengan memperhatikan radius putaran yang tepat. Pada tanjakan, multiaxle harus meyakinkan untuk mampu mendaki karena jika power bermasalah, maka akan ada bahaya multiaxle + engine akan meluncur ke bawah. Lalu pada seksi turunan tajam, multiaxle bahkan harus berhenti dulu untuk mendinginkan rem agar berfungsi maksimal saat mulai menuruni jalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di   samping itu juga pada beberapa tempat yang dilintasi, terdapat kabel   listrik tegangan tinggi dengan tinggi yang kurang memadai. Sehingga saat   pengiriman, listrik di daerah ini terpaksa dimatikan sementara dan   kabel listrik terpaksa diangkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Engine-sampai-tikungan-cevron3.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1793\" title=\"Engine sampai tikungan cevron(3)\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Engine-sampai-tikungan-cevron3.jpg\" alt=\"\" width=\"270\" height=\"361\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Engine-sampai-tikungan-cevron3.jpg 480w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Engine-sampai-tikungan-cevron3-225x300.jpg 225w\" sizes=\"(max-width: 270px) 100vw, 270px\" \/><\/a><em>Tikungan 90\u00ba yang Harus Dilewati Dengan Ekstra Hati-Hati<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di samping itu kondisi lereng jalan akses dekat masuk lokasi proyek berpotensi terjadi bahaya risiko <em>sliding<\/em> \/ longsor. Hal ini karena jalan tersebut dibangun di atas tanah urugan  yang cukup tinggi (&gt;4,0m) dengan sudut yang cukup curam yaitu 50-60\u00b0.  Analisis stabilitas lereng diperlukan mengingat telah ada keretakan di  permukaan aspal sebagai tanda keruntuhan awal atas lereng. Hasilnya  lereng tersebut memiliki <em>Safety Factor<\/em> yang kritis. Sehingga diperlukan tindakan pengamanan terhadap bahaya longsor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi lain yang menjadi hambatan adalah adanya jalur pipa minyak dan gas PT. Chevron yang menjadi <em>obstacle<\/em> masuknya <em>engine<\/em> ke lokasi site. Diperlukan koordinasi dengan PT. Chevron untuk  menjadikan pipa di atas permukaan tanah tersebut menjadi pipa bawah  tanah agar tidak menjadi <em>obstacle<\/em> bagi pengiriman mesin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jalan-Chevron.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1748\" title=\"Jalan Chevron\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jalan-Chevron.png\" alt=\"\" width=\"377\" height=\"181\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jalan-Chevron.png 563w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Jalan-Chevron-300x144.png 300w\" sizes=\"(max-width: 377px) 100vw, 377px\" \/><\/a><em>Jalan Chevron yang Banyak Retak Memanjang Sebagai Tanda Awal Sliding<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>C.3. Kondisi di Site<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu dengan telah selesai lebih dulunya <em>engine hall<\/em> berikut <em>erection<\/em> seluruh <em>auxiliaries <\/em>nya, maka ada tantangan lain yaitu bahwa saat <em>engine<\/em> tiba di depan <em>engine hall<\/em>, maka posisi <em>engine<\/em> haruslah presisi. Tidak presisinya posisi <em>engine<\/em> akan berdampak pada terhambatnya proses <em>sliding engine <\/em>menuju pondasinya akibat bertabrakan dengan alat-alat <em>auxiliaries<\/em> yang sudah terpasang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi tanah di depan <em>engine hall<\/em> merupakan tanah yang cukup unik dimana terlihat memiliki elastisitas tinggi. Beban berat tumpuan <em>engine<\/em> saat ditaruh di sini membuat <em>settlement<\/em> cukup besar sekitar &gt; 15 cm. Sehingga menyulitkan proses <em>jack-up<\/em> atau <em>jack-down engine<\/em> dengan alat <em>hidraulic jack<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di samping itu, dengan telah selesainya <em>engine hall<\/em>, maka proses <em>sliding engine<\/em> dari depan <em>engine hall<\/em> menuju pondasi dengan tumpuan rel berpotensi merusak struktur pelat   beton yang sudah jadi dengan tebal 15,0 cm. Sehingga diperlukan teknik   distribusi beban yang memadai untuk menghindari rusaknya pelat lantai   akibat konsentrasi beban <em>engine<\/em> yang sangat besar pada batang rel <em>slider<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\"><span style=\"mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">D.<span style=\"font: 7.0pt &quot;Times New Roman&quot;;\"> <\/span><\/span><\/span><\/strong><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Keterbatasan <em>Resources<\/em>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada cukup banyak keterbatasan <em>resources<\/em> dalam pelaksanaan pekerjaan ini. Keterbatasan yang peling utama adalah keterbatasan vendor <em>forwarder heavy cargo<\/em> yang berpengalaman pada pekerjaan sejenis. Kebanyakan <em>forwarder<\/em> tidak memiliki pengalaman mengingat <em>heavy cargo<\/em> ini adalah yang pertama di Indonesia. Sehingga menentukan vendor <em>forwarder<\/em> membutuhkan kajian yang tidak mudah. Dibutuhkan waktu yang tidak  sebentar untuk bisa menentukan vendor yang dianggap paling mampu  diantara yang tidak berpengalaman serupa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak hanya itu, tingginya konten disiplin ilmu teknik Sipil tidak disadari oleh para <em>forwarder<\/em>. Para <em>Forwarder<\/em> juga umumnya meremehkan aspek teknik sipil. Sehingga aspek teknik sipil harus disupport penuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tim proyek menjadi ekstra hati-hati dalam menentukan vendor <em>forwarder<\/em>, lantaran beberapa tahun sebelumnya telah terjadi kegagalan suatu <em>forwarder<\/em> dalam membawa <em>engine<\/em> serupa di Timor Leste dimana <em>engine <\/em>tersebut jatuh dalam perjalanan dan menjadi musium.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu  minimnya referensi mengenai pekerjaan sejenis telah membuat tim  proyek  harus banyak melakukan simulasi-simulasi perkiraan kejadian. Hal  ini  penting untuk mendapatkan gambaran mengenai risiko atas suatu proses   pengiriman <em>engine<\/em> ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan sangat besarnya dimensi dan bobot <em>engine<\/em> ini, membutuhkan ukuran kapal pengangkut yang besar pula. Sedangkan ukuran kapal \/ <em>Vessel<\/em> yang mampu mengangkut ke-tujuh <em>engine<\/em> dengan beberapa syarat lainnya terkait metode pengiriman seperti panjang dan kapasitas <em>crane<\/em> serta lainnya sangatlah terbatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Vessel-Profile.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1767\" title=\"Vessel Profile\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Vessel-Profile.png\" alt=\"\" width=\"381\" height=\"340\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Vessel-Profile.png 553w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Vessel-Profile-300x267.png 300w\" sizes=\"(max-width: 381px) 100vw, 381px\" \/><\/a><em>Type dan Profile Vessel yang Dapat Dipergunakan Dalam Pengiriman Engine<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keterbatasan  lainnya adalah sangat minimnya ketersediaan alat utama untuk mengirim  mesin jumbo ini baik untuk di  sungai dan di darat. <em>Multiaxle<\/em> khusus pengangkut <em>heavy cargo<\/em> ini haruslah tidak terlalu lebar dan tidak pula dengan lebar pas-pasan.  Terlalu lebar maka akan sulit untuk lewat di jalan sempit dan ukuran  pas-pasan akan berbahaya bagi stabilitas <em>engine<\/em>. Ukuran <em>multiaxle<\/em> yang umum tersedia adalah <em>bertipe single axleline<\/em> dan <em>double axleline<\/em>. <em>Double axleline<\/em> adalah dua <em>single axleline<\/em> yang disatukan dengan alat <em>coupler<\/em> khusus. Ukuran <em>single axleline<\/em> berkisar 3,0m &#8211; 3,4m. Jika digunakan <em>single axleline<\/em>, maka akan membahayakan stabilitas karena lebar tapak <em>engine<\/em> adalah 4,10m. Lalu jika digunakan <em>double axleline<\/em>, maka lebar <em>multiaxle<\/em> menjadi 6,0m &#8211; 6,80m yang terlalu lebar untuk perjalanan darat. Pilihan  akhirnya pada tipe 1+1\/2 line yang memilikii lebar 4,80m. Tipe ini  adalah <em>limited edition<\/em> dari pabrikan yang lebih mahal dan sudah pasti sangat sulit untuk dicari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Single-Line-Cometto.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1769\" title=\"Single Line Cometto\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Single-Line-Cometto-300x218.png\" alt=\"\" width=\"258\" height=\"187\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Single-Line-Cometto-300x218.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Single-Line-Cometto.png 543w\" sizes=\"(max-width: 258px) 100vw, 258px\" \/><\/a><em>Multiaxle Tipe Single Axleline<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Double-axleline.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1770\" title=\"Double axleline\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Double-axleline-300x238.png\" alt=\"\" width=\"263\" height=\"215\" \/><\/a><em>Multiaxle Tipe Double Axleline<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/1-half-axleline.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1771\" title=\"1 half axleline\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/1-half-axleline-300x217.png\" alt=\"\" width=\"258\" height=\"186\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/1-half-axleline-300x217.png 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/1-half-axleline.png 413w\" sizes=\"(max-width: 258px) 100vw, 258px\" \/><\/a><\/em><em>Multiaxle Tipe 1+1\/2 Axleline<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikian pula dengan  tongkang. Diperlukan <em>deck strength<\/em> minimal 7,5 T\/m2 dengan kondisi bagus dimana dimensi yang  disyaratkan  tidak boleh lebih besar dari dimensi yang memungkinkan melewati sungai  dan tidak boleh pula berdimensi kecil demi menjaga stabilitas <em>engine<\/em> terutama saat proses RORO.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\"><span style=\"mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">E.<span style=\"font: 7.0pt &quot;Times New Roman&quot;;\"> <\/span><\/span><\/span><\/strong><strong style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Keterbatasan Data<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiadaan <em>historical data<\/em> hujan dari BMKG dan ketiadaan <em>historical data<\/em> elevasi air sungai selama 5 tahun membuat tidak dapat dilakukan  <em>forecasting<\/em> terhadap kondisi cuaca dan elevasi air sungai. Perencanaan waktu   pelaksanaan yang tepat sungguh tidak dapat dilakukan dengan baik.   Perencanaan hanya mengandalkan informasi penduduk sekitar mengenai   siklus cuaca dan elevasi air sungai. Dalam suatu waktu penulis malah   mendapatkan bahwa ketika terjadi banjir, ada berita yang menyebutkan   bahwa peta rawan banjir pun belum dibuat oleh Pemda setempat. Padahal   banjir sering terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Berita-ketiadaan-data.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1775\" title=\"Berita ketiadaan data\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Berita-ketiadaan-data.png\" alt=\"\" width=\"401\" height=\"166\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Berita-ketiadaan-data.png 454w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/Berita-ketiadaan-data-300x124.png 300w\" sizes=\"(max-width: 401px) 100vw, 401px\" \/><\/a><em>Berita Media Lokal Dimana Tidak Ada Peta Rawan Banjir<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Begitu banyak tantangan teknis yang harus dipikirkan solusinya. Tidak satu-dua bahkan 10-20 tantangan. Dimana tidak ada ruang sedikitpun untuk melakukan kesalahan. Di sini sangatlah penting melakukan analisis yang detil dan simulasi untuk menghasilkan solusi yang paling tepat. (Bersambung)<em> <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&nbsp;<\/p>\n<address style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><em>(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik \u2013 <strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik &#8211; <strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong>.)<\/em><\/span><\/address>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Posting ini akan menjelaskan secara detil mengenai permasalahan terkait aspek teknis yang terjadi selama pengiriman gas engine. Permasalahan teknis tersebut dibagi beberapa bagian yaitu: profil gas engine dan konsekuensinya, Kondisi teknis akses sungai, kondisi teknis existing sepanjang rute lainnya, keterbatasan resources dan keterbatasan Data.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[194,184],"tags":[417,398,418],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1836"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1836"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1836\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3313,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1836\/revisions\/3313"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}