{"id":1303,"date":"2011-10-30T11:18:29","date_gmt":"2011-10-30T11:18:29","guid":{"rendered":"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=1303"},"modified":"2020-11-13T15:46:16","modified_gmt":"2020-11-13T15:46:16","slug":"keruntuhan-gedung-selama-konstruksi-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?p=1303","title":{"rendered":"Keruntuhan Gedung Selama Konstruksi (1)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_3.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"alignleft size-thumbnail wp-image-1304\" title=\"Harbour_Cay_Condominium_(3)\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_3-150x150.jpg\" alt=\"\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a><\/strong>Tulisan ini diambil dan diresume secara bebas dari situs <a href=\"http:\/\/www.failures.wikispaces.com\/\">www.failures.wikispaces.com<\/a>. Maksud tulisan ini adalah sebagai lesson learn yang berharga bagi pelaku konstruksi dalam mengerjakan proyek. Ada beberapa penyebab keruntuhan gedung. Dalam edisi ini akan dibahas mengenai tiga kasus keruntuhan gedung selama proses konstruksi (bagian 1)<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Skyline Plaza &#8211; Bailey&#8217;s Crossroads (March 2, 1973)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangunan ini adalah suatu kompleks bangunan yang besar di Virginia. Kompleks yang terdiri atas delapan apartemen, enam tower perkantoran, sebuah hotel, dan pusat perbelanjaan. Insiden terjadi pada suatu tower apartemen dan garasi parkir yang mengakibatkan 14 orang tewas dan melukai 34 orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-1.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1305\" title=\"Skyline 1\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-1.jpg\" alt=\"\" width=\"1197\" height=\"1259\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-1.jpg 1197w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-1-285x300.jpg 285w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-1-973x1024.jpg 973w\" sizes=\"(max-width: 1197px) 100vw, 1197px\" \/><\/a>Gambar 1. Keruntuhan Gedung Skyline Plaza<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penyebab dari keruntuhan ini adalah pada pembongkaran bekisting penyangga lantai 23 yang tidak benar yang mengakibatkan peningkatan gaya geser sekitar kolom. Bangunan ini hancur secara keseluruhan karena keruntuhan satu lantai teratas. Kolom mengalami kelebihan tegangan sehingga terjadi keruntuhan pada seluruh lantai 23. Keruntuhan tersebut menyebabkan lantai 22 kelebihan beban sehingga menyebabkan keruntuhan lantai 22, begitu seterusnya hingga ke lantai dasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesalahan utama dari keruntuhan ini adalah pada sequence pembongkaran bekisting yang terlihat tidak diperhitungkan dengan cermat terutama penyebaran beban ke lantai bawah oleh system perancah dan asumsi kekuatan beton pada saat dilakukan pembongkaran bekisting.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-2.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1306\" title=\"Skyline 2\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-2.jpg\" alt=\"\" width=\"1313\" height=\"733\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-2.jpg 1313w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-2-300x167.jpg 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Skyline-2-1024x571.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1313px) 100vw, 1313px\" \/><\/a>Gambar 2. Tanggal Realisasi Pengecoran<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lesson learn atas tragedi ini adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Kehati-hatian yang tinggi dalam desain struktur adalah penting untuk menghindari terjadinya keruntuhan beruntun<\/li>\n<li>Beban konstruksi harus diperhitungkan dengan baik dalam desain metode pelaksanaan. Ini harus dikontrol oleh pihak terkait<\/li>\n<li>Bekisting dan sistem perancah harus detail dalam desain dan metode atau sequence nya<\/li>\n<li>Test beton harus dilakukan sebelum bongkar bekisting<\/li>\n<li>Inspeksi harus memastikan bahwa kontraktor telah memasang perancah yang benar dan beton yang telah tercor telah mencapai kekuatan desainnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut adalah beberapa gambar yang menjelaskan tentang kejadian keruntuhan gedung ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>David L. Lawrence Convention Center<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangunan ini adalah suatu perluasan convention centre existing yang telah ada dengan maksud untuk meningkatkan competitiveness pada awal 1990 di Pittsburgh. Bangunan dibuka tahun 2003 dengan biaya USD 354 juta dan meraih sertifikat emas pertama di dunia untuk bangunan convention centre yang ramah lingkungan. Banyak keruntuhan mulai terjadi sejak awal bangunan ini didirikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-1.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1307\" title=\"Convention 1\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-1.jpg\" alt=\"\" width=\"591\" height=\"392\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-1.jpg 591w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-1-300x198.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 591px) 100vw, 591px\" \/><\/a>Gambar 3. Tampak Gedung David L. Lawrence<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-2.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1308\" title=\"Convention 2\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-2.jpg\" alt=\"\" width=\"2200\" height=\"1700\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-2.jpg 2200w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-2-300x231.jpg 300w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-2-1024x791.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 2200px) 100vw, 2200px\" \/><\/a>Gambar 4. Denah Gedung David L. Lawrence<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adapun penyebab dari keruntuhan gedung adalah pada kesalahan penggunaan mur dan baut yang terjadi akibat perubahan penopang rangka baja yang semula didesain penopang tekan menjadi penopang tarik. Perubahan tersebut tidak ditindaklanjuti lebih lanjut menjadi perubahan lainnya secara detil termasuk penggunaan mur dan bautnya. Sehingga terjadi salah lokasi pasang mur dan baut dimana terdapat dua jenis mur dan baut yang digunakan pada kondisi yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-3.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1309\" title=\"Convention 3\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-3.jpg\" alt=\"\" width=\"591\" height=\"392\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-3.jpg 591w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-3-300x198.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 591px) 100vw, 591px\" \/><\/a>Gambar 5. Kegagalan Struktur Baja<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-4.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-1310\" title=\"Convention 4\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-4.jpg\" alt=\"\" width=\"481\" height=\"621\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-4.jpg 392w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Convention-4-232x300.jpg 232w\" sizes=\"(max-width: 481px) 100vw, 481px\" \/><\/a>Gambar 6. Proses Perbaikan Gedung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lesson learn atas kegagalan struktur bangunan ini adalah:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Komunikasi atas suatu perubahan harus segera dilakukan dengan jelas kepada semua pihak terkait<\/li>\n<li>Penegasan item cek inspeksi pada bagian yang krusial<\/li>\n<li>Training awal sebelum pekerjaan yang penting dan rawan kesalahan dimulai<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Harbour Cay Condominium (March 27, 1981)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harbour Cay Condominium adalah bangunan struktur beton bertulang bertingkat rendah (lima lantai) yang runtuh akibat kesalahan design dan konstruksi. Bangunan ini runtuh akibat kegagalan punch shear. Kegagalan plat pada suatu kolom mengawali keruntuhan keseluruhan lantai lima. Lalu lantai lima yang runtuh jatuh dan menjadi beban plat di bawahnya. Akibat kelebihan beban, lantai empat menjadi runtuh dan begitu seterusnya hingga terjadi keruntuhan total bangunan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour-cay-1.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1311\" title=\"Harbour cay 1\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour-cay-1.jpg\" alt=\"\" width=\"568\" height=\"426\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour-cay-1.jpg 568w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour-cay-1-300x224.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 568px) 100vw, 568px\" \/><\/a>Gambar 7. Tampak Gedung Harbour Cay Condominium<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil investigasi yang dilakukan menunjukkan bahwa terjadi kesalahan design dimana:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>syarat ketebalan plat adalah 11 inch dimana pada gedung tersebut didesain 8 inch.<\/li>\n<li>Ditemui pula bahwa tulangan terlalu rapat<\/li>\n<li>Tidak ada perhitungan mengenai kapasitas punching shear atau geser balok<\/li>\n<li>Tidak dilakukan pengecekan peraturan untuk spasi penulangan kolom<\/li>\n<li>Perhitungan menggunakan mutu tulangan U40 namun di gambar menggunakan U60.<\/li>\n<li>Tidak dilakukan perhitungan actual ketebalan actual pelat berdasarkan penulangan yang terjadi<\/li>\n<li>Penulangan kolom yang terlalu padat sehingga menyulitkan beton untuk mengisi keseluruhan elemen kolom sehingga mengurangi gaya lekat tulangan dan beton<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_2.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1312\" title=\"Harbour_Cay_Condominium_(2)\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_2.jpg\" alt=\"\" width=\"567\" height=\"427\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_2.jpg 567w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_2-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 567px) 100vw, 567px\" \/><\/a>Gambar 8. Keruntuhan Gedung Harbour Cay Condominium<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sisi konstruksi juga terdapat kesalahan sebagai berikut:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Dari sisi konstruksi didapati pula bahwa kaki ayam untuk menopang tulangan atas terlalu pendek sehingga mengurangi ketebalan efektif pelat lantai yang akhirnya akan mengurangi kapasitas geser \u201cpunch\u201d.<\/li>\n<li>Banyak tulangan bawah plat yang tidak terpasang melewati kolom.<\/li>\n<li>Beberapa tulangan vertical telah dibengkokkan selama proses fabrikasi<\/li>\n<li>Kualitas beton yang tidak konsisten yang sulit untuk dilakukan pengecoran yang baik<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_4.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1313\" title=\"Harbour_Cay_Condominium_(4)\" src=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_4.jpg\" alt=\"\" width=\"920\" height=\"722\" srcset=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_4.jpg 920w, https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/Harbour_Cay_Condominium_4-300x235.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 920px) 100vw, 920px\" \/><\/a>Gambar 9. Gambar Penulangan yang Menyebabkan Ketebalan Efektif Pelat Berkurang<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lesson Learn atas keruntuhan struktur bangunan ini adalah:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Harus dilakukan pengecekan kapasitas \u201cpunch shear\u201d sesuai ketebalan actual yang akan terjadi di lapangan untuk design flat slab<\/li>\n<li>Ketebalan minimum plat harus dicek terhadap defleksi dan persyaratan minimum<\/li>\n<li>Tulangan pelat harus masuk ke dalam kolom melewati batas tepinya untuk menghindari keruntuhan menerus.<\/li>\n<li>Design bekisting dan pembongkaran bekisting yang harus memadai<\/li>\n<li>Pekerjaan harus distop secara keseluruhan apabila terjadi tanda-tanda keruntuhan awal.<\/li>\n<li>Benda uji test menggunakan field-cured test cylinder (benda uji yang dirawat di lapangan)<\/li>\n<\/ul>\n<address>\u00a0<\/address>\n\n\n<p>Referensi :&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4045\"><strong>Buku Advanced and Effective Project Management<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\"><sub><em>Untuk melihat daftar artikel \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=44\">Table of Content<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan konsultasi Project Management \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"http:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=3054\">Konsultasi<\/a><\/strong>.<\/em> <em>Daftar karya ada pada \u21d2&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4873\">Innovation Gallery<\/a><\/strong><\/em>, <em>dan daftar riset pada \u21d2&nbsp;<a href=\"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/?page_id=4904\"><strong>Research Gallery<\/strong><\/a><\/em><\/sub><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulisan ini diambil dan diresume secara bebas dari situs www.failures.wikispaces.com. Maksud tulisan ini adalah sebagai lesson learn yang berharga bagi pelaku konstruksi dalam mengerjakan proyek. Ada beberapa penyebab keruntuhan gedung. Dalam edisi ini akan dibahas mengenai tiga kasus keruntuhan gedung selama proses konstruksi (bagian 1)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_s2mail":"yes","spay_email":""},"categories":[113,194,184,633],"tags":[2066,2747,2748,2744,2067,2751,2749,2746,2752,2745],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1303"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1303"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1303\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6640,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1303\/revisions\/6640"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manajemenproyekindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}