Prinsip pengendalian biaya kontraktor berbeda cukup signifikan dibandingkan dengan pemilik proyek. Kontraktor fokus pada terjaganya target keuntungan operasi, sedangkan pemilik proyek fokus pada terjaganya target biaya atau anggaran. Di samping itu, kontraktor mengelola biaya secara lebih rinci dan lebih ketat dibandingkan dengan pemilik proyek yang fokus pada elemen paket pekerjaan (work package). Hal ini karena pada tingkat penyimpangan biaya tertentu yang sama, dampak secara bisnis akan lebih besar dirasakan kontraktor dibandingkan dengan pemilik proyek.

Pengendalian biaya kontraktor dibagi menjadi dua yaitu pengendalian biaya itu sendiri dan juga pengendalian cashflow. Pengendalian cashflow menjadi penting mengingat pengaruhnya yang sangat tinggi pada profitabilitas proyek bagi kontraktor. Pengendalian cashflow akan dibahas pada artikel lainnya.

Pemantauan dan pengendalian kinerja biaya – Merupakan kegiatan yang menilai kinerja biaya proyek dengan memperhatikan status rekomendasi tindakan atas perubahan faktor usaha. Konsep yang digunakan kontraktor dalam pemantauan kinerja biaya adalah Analisis keuntungan atau Prosentase Biaya pelaksanaan proyek (Prosentase BPP)yang merupakan rasio biaya pelaksanaan proyek oleh Kontraktor terhadap nilai penjualan dengan beberapa ketentuan sebagai berikut :

  • Prosentase BPP aktual = BPP aktual / Penjualan aktual.
  • Prosentase BPP target = (Nilai kontrak – Target keuntungan) / Nilai kontrak.
  • Prosentase BPP aktual harus dibawah prosentase BPP target.
  • Deviasi BPP =  BPP aktual – BPP target.
  • Deviasi BPP bernilai positif berarti terjadi kerugian, demikian sebaliknya.
  • Deviasi BPP menjadi ukuran dalam ambang batas pengendalian biaya.

Deviasi BPP yang dihubungkan dengan status rekomendasi tindakan atas perubahan faktor usaha akan menghasilkan rekomendasi tindakan pengendalian biaya. Contoh rencana kenaikan BBM pemerintah diprediksikan akan menaikkan harga semen. Direkomendasikan untuk mendatangkan semua sisa kebutuhan semen. Apabila pemantauan menghasilkan deviasi BPP positif dan status rekomendasi adalah sudah dilaksanakan. Maka dapat disimpulkan bahwa kenaikan biaya semen terjadi bukan karena kenaikan harga BBM.

Hasil lain pemantauan biaya adalah prediksi biaya akhir. Kontraktor menggunakan indikator yang serupa dengan BPP yaitu Projected final cost (PFC). Dengan rumus adalah,

  • PFC = Prediksi BPP akhir / Nilai kontrak,
  • Prediksi BPP akhir = BPP aktual + BPP sipek.

BPP sipek adalah biaya penyelesaian pada sisa pekerjaan proyek. BPP sipek dapat ditentukan dengan dua metode, yaitu :

  1. Metode pertama – Rumusnya adalah, BPP sipek¹ = Harga satuan terbaru x (volume total awal – volume realisasi).
  2. Metode kedua – Rumusnya adalah, BPP sipek² = Harga  satuan terbaru x sisa volume pekerjaan aktual. Metode ini menghitung seluruh volume sisa pekerjaan secara aktual untuk penyelesaian seluruh kewajiban pekerjaan untuk memastikan akurasi prediksi biaya akhir. Volume sisa pekerjaan dapat berbeda (lebih besar / lebih kecil) dengan perhitungan volume pekerjaan awal karena beberapa hal yaitu kekeliruan estimasi volume di awal, kekeliruan pengakuan progres, atau adanya pekerjaan tambah. Sangat penting untuk memastikan penyebab perbedaan volume pekerjaan tersebut. Metode kedua cocok digunakan saat progres pekerjaan di atas 50%

Ketentuan atas PFC adalah :

  • Prosentase PFC harus dibawah prosentase BPP target.
  • Deviasi PFC =  PFC – BPP target (dalam prosentase).
  • Deviasi PFC bernilai positif berarti terjadi kerugian, demikian sebaliknya.
  • Deviasi PFC menjadi ukuran dalam ambang batas pengendalian biaya.

Pengendalian biaya merupakan kegiatan yang mengendalikan penyimpangan biaya hasil penilaian data kinerja biaya pada proses pemantauan biaya. Tujuan pengendalian biaya bagi kontraktor adalah menjaga target keuntungan yang dilakukan dengan review kinerja biaya. Kontraktor menggunakan ambang batas pengendalian biaya berdasarkan deviasi BPP aktual dan deviasi PFC terhadap BPP target. Contoh rekomendasi ambang batas pengendalian proyek bagi Kontraktor dapat dilihat pada Tabel di bawah ini :

Tabel Contoh Ketentuan Ambang Batas Pengendalian Biaya Proyek Bagi Kontraktor

Deviasi PFCDeviasi BPPIndikasiRekomendasi Strategi Tindakan
-2,5% sd 0%> 0%Cost Underrun – waspada 1Efisiensi atau pemangkasan biaya operasional yang kurang terkait,
0% sd +2,5%< 0%Cost Overrun – waspada 2Efisiensi atau pemangkasan biaya operasional yang kurang terkait, Peningkatan produktifitas pekerjaanPenggunaan cadangan biaya  
0% sd +2,5%> 0%Cost Overrun – awas 1Efisiensi atau pemangkasan biaya operasional yang kurang terkait, Peningkatan produktifitas pekerjaanEvaluasi dan perubahan metode pekerjaan Penggunaan cadangan biaya  
+2,5% sd +5,0%< 0%Cost Overrun – awas 2Peningkatan produktifitas pekerjaanEvaluasi dan perubahan metode pekerjaan Pengajuan proposal perubahan disain atau spesifikasi  
+2,5% sd +5,0%> 0%Cost Overrun – Peringatan 1Peningkatan produktifitas pekerjaanEvaluasi dan perubahan metode pekerjaan Pengajuan proposal perubahan disain atau spesifikasi Klaim pekerjaan tambah  
> +5%Cost Overrun – Peringatan 2Peningkatan produktifitas pekerjaanEvaluasi dan perubahan metode pekerjaan Pengajuan proposal perubahan disain atau spesifikasi Klaim pekerjaan tambahProposal extra gracia claimMelibatkan BoD  
> +7,5%Cost Overrun – Peringatan 2Peningkatan produktifitas pekerjaanPerubahan metode pekerjaanKlaim pekerjaan tambahProposal extra gracia claimMelibatkan BoDPenghentian pekerjaan  

Diusulkan alat dan teknik SCCR (strategic construction cost reduction) dalam proses pengendalian biaya pada proyek konstruksi dimana alat dan teknik ini harus dilakukan sejak awal pelaksanaan proyek.

Referensi : Buku Advanced and Effective Project Management

Untuk melihat daftar artikel ⇒ Table of Content, dan konsultasi Project Management ⇒ Konsultasi. Daftar karya ada pada ⇒ Innovation Gallery, dan daftar riset pada ⇒ Research Gallery

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AlphaOmega Captcha Classica  –  Enter Security Code