Perencanaan biaya yang baik yang didukung oleh pengendalian biaya yang memadai, merupakan kunci sukses utama dalam pengelolaan biaya proyek. Perencanaan biaya yang baik akan menghasilkan suatu estimasi biaya dan anggaran proyek yang handal dan realistis yang efektif untuk dijadikan acuan pelaksanaan. Pengendalian biaya yang memadai akan mampu mendeteksi penyimpangan biaya seawal mungkin sehingga adanya penyimpangan akan dapat segera ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan preventif dan korektif yang efektif dalam mengatasi penyimpangan dan mitigasi potensi penyimpangan lainnya. Setiap organisasi harus mengembangkan metodologi pengelolaan biaya proyek yang efektif dari berbagai pengalaman dan lesson learned pelaksanaan proyek.

Proses estimasi biaya proyek merupakan proses yang memperkirakan biaya yang paling mungkin atas sumber daya yang akan digunakan yang diperlukan pada tiap aktivitas-aktivitas untuk penyelesaian proyek. Proses ini dituntut untuk menghasilkan estimasi dengan tingkat akurasi setinggi-mungkin atas tingkat defisini proyek yang ada sehingga memerlukan semua kompetensi terkait estimasi biaya dan kompetensi atas produk yang akan dihasilkan. Adapun rincian dan alur proses estimasi biaya yang berdasarkan pada PMBOK 5th Edition, dapat dilihat pada Tabel di bawah ini :

Proses Estimasi Biaya Proyek

Proses Estimasi biaya dilakukan berdasarkan metodologi rencana manajemen biaya dan menggunakan acuan kebijakan, prosedur, dan template yang dalam aset-aset proses organisasi. Disamping itu juga menggunakan acuan lingkup dan jadwal proyek. Data dan informasi yang akan diproses berasal dari rencana manajemen SDM, daftar risiko, dan faktor lingkungan usaha.

Proses estimasi biaya aktivitas proyek direkomendasikan untuk diuraikan menjadi rangkaian kegiatan-kegiatan untuk memudahkan pemahaman dan implementasi proses ini. Penjelasan rinci tiap kegiatan dibahas secara khusus pada bagian lain pada subbab ini. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah :

  1. Mengumpulkan data dan informasi terkait biaya sumber daya.
  2. Membuat perhitungan biaya sumber daya aktivitas.
  3. Membuat perhitungan biaya SDM dan overhead lainnya.
  4. Membuat perhitungan biaya risiko dan peluang.
  5. Membuat estimasi biaya aktivitas.

Lingkup pekerjaan yang akan diestimasi dan kendalikan biayanya adalah mengacu pada WBS proyek. Level WBS yang akan diestimasi adalah pada level aktivitas. Estimasi biaya aktivitas akan dilakukan berdasarkan komponen sumber daya aktivitas. Analisis harga tiap komponen aktivitas pada satuan volume tertentu disebut analisa harga satuan (AHS). Sedangkan AHS yang telah dikalikan dengan volume pekerjaan disebut estimasi biaya aktivitas.

Proses ini akan menghasilkan estimasi biaya, basis perhitungannya, dan pembaruan dokumen-dokumen proyek. Review hasil estimasi harus dilakukan ketika ada peningkatan definisi proyek untuk mempertajam tingkat akurasinya. Penjelasan kegunaan hasil-hasil proses ini adalah sebagai berikut :

  1. Estimasi biaya aktivitas dan dasar estimasinya secara bersamaan akan digunakan sebagai dasar dalam melakukan proses penentuan anggaran.
  2. Estimasi biaya aktivitas akan digunakan untuk estimasi sumber daya aktivitas yang terkait pemilihan sumber daya yang efisien untuk proyek.
  3. Estimasi biaya aktivitas akan digunakan untuk identifikasi risiko yang terkait dengan penetapan harga satuan yang digunakan, mengandung risiko ketidaksesuaian dengan aktual.
  4. Estimasi biaya aktivitas juga akan digunakan pada proses perencanaan manajemen pengadaan sebagai dasar pemilihan vendor.

Estimasi biaya merupakan faktor yang kritis dalam pengelolaan biaya, waktu, dan kualitas. Oleh karena itu estimasi biaya harus menghasilkan tingkat akurasi yang sebaik-mungkin pada kondisi tingkat definisi proyek tertentu. Berdasarkan AACE No. 18R-97 (Tabel di bawah), diberikan rentang akurasi estimasi biaya pada tingkat definisi proyek tertentu.

Klasifikasi Estimasi Biaya Kapital Berdasarkan AACE No. 18R-97

Berdasarkan Tabel di atas, maka tingkat definisi proyek dapat diklasifikasikan dalam bentuk kelas tertentu. Pada tiap kelas, diberikan suatu rentang tingkat akurasi estimasi. Pada suatu proyek dengan kelas tingkat definitif tertentu, hasil estimasi diharapkan dapat seakurat-mungkin. Sebagai contoh apabila proyek dalam kondisi lelang atau masuk kategori kelas 1, maka tingkat akurasi terbaik yang menjadi target estimator kontraktor adalah -3% atau +3%.

Referensi : Buku Advanced and Effective Project Management

Untuk melihat daftar artikel ⇒ Table of Content, dan konsultasi Project Management ⇒ Konsultasi. Daftar karya ada pada ⇒ Innovation Gallery, dan daftar riset pada ⇒ Research Gallery

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AlphaOmega Captcha Classica  –  Enter Security Code