CPM adalah suatu rangkaian item pekerjaan dalam suatu proyek yang menjadi bagian kritis atas terselesainya proyek secara keseluruhan. Hal ini bermakna bahwa tidak terselesaikannya tepat waktu suatu aktivitas yang masuk dalam jalur kritis akan menyebabkan proyek akan mengalami keterlambatan karena waktu finish proyek akan menjadi mundur atau delay. Beberapa hal penting yang perlu diketahui atas metode CPM adalah :

  • Penundaan pekerjaan pada lintasan kritis akan menyebabkan seluruh pekerjaan proyek tertunda penyelesaiannya. Sebaliknya, proyek dapat dipercepat penyelesaiannya apabila pekerjaan-pekerjaan yang ada pada lintasan kritis dapat dipercepat.
  • Percepatan jadwal yang efisien dapat dilakukan dengan penyelesaian jalur kritis yang tepat dalam penyelesaiannya dan menentukan kemungkinan trade-off atas waktu dan biaya pada aktivitas-aktivitas tertentu dalam seluruh model jaringan yang dimulai dari aktivitas-aktivitas jalur kritis. Hal ini dapat dilakukan dengan metode least cost analysis yang dibahas pada bagian lain.
  • Time slack atau float merupakan kelonggaran waktu terdapat pada pekerjaan yang tidak melalui lintasan kritis. Ini memungkinkan bagi manajemen proyek untuk memindahkan tenaga kerja, alat, dan biaya ke pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis agar pelaksanaan proyek menjadi lebih efisien terhadap biaya.

Dalam menghitung metode CPM terdapat tiga asumsi dasar, yaitu pertama, proyek hanya memiliki satu initial event (start) dan satu terminal event (finish). Kedua, saat tercepat terjadinya initial event adalah hari ke-nol. Ketiga, saat paling lambat terjadinya terminal event adalah LS = ES. Terdapat dua teknik yang digunakan dalam menghitung atau menentukan jalur kritis, yaitu :

Hitungan Maju (Forward Pass) – Dimulai dari Start (initial event) menuju Finish (terminal event) untuk menghitung waktu penyelesaian tercepat suatu kegiatan (EF), waktu tercepat terjadinya kegiatan (ES) dan saat paling cepat dimulainya suatu peristiwa (E). Aturan Hitungan Maju (forward pass) adalah :

  • Kecuali kegiatan awal, maka suatu kegiatan baru dapat dimulai bila kegiatan yang mendahuluinya (predecessor) telah selesai.
  • Waktu selesai paling awal suatu kegiatan sama dengan waktu mulai paling awal, ditambah dengan kurun waktu kegiatan yang mendahuluinya. EF(i-j)   = ES(i-j) + t (i-j)
  • Bila suatu kegiatan memiliki dua atau lebih kegiatan-kegiatan terdahulu yang menggabung, maka waktu mulai paling awal (ES) kegiatan tersebut adalah sama dengan waktu selesai paling awal (EF) yang terbesar dari kegiatan terdahulu.

Hitungan Mundur (Backward Pass) – Dimulai dari Finish menuju Start untuk mengidentifikasi saat paling lambat terjadinya suatu kegiatan (LF), waktu paling lambat terjadinya suatu kegiatan (LS) dan saat paling lambat suatu peristiwa terjadi (L). Aturan Hitungan Mundur (Backward Pass).

  • Waktu mulai paling akhir suatu kegiatan sama dengan waktu selesai paling akhir dikurangi kurun waktu berlangsungnya kegiatan yang bersangkutan. LS(i-j) = LF(i-j) – t.
  • Apabila suatu kegiatan terpecah menjadi 2 kegiatan atau lebih, maka waktu paling akhir (LF) kegiatan tersebut sama dengan waktu mulai paling akhir (LS) kegiatan berikutnya yang terkecil.

Apabila kedua perhitungan tersebut telah selesai maka dapat diperoleh nilai Slack atau Float yang merupakan sejumlah kelonggaran waktu dan elastisitas dalam sebuah jaringan kerja. Gambar 8berikut ini adalah konsep model jaringan AON.

Model Jaringan AON atau Precedence Diagramming Method (PDM)

Keterangan :

  • ES (earliest activity start time) : Waktu mulai paling awal suatu kegiatan.
  • EF (earliest activity finish time) : Waktu selesai paling awal suatu kegiatan. EF suatu kegiatan terdahulu = ES kegiatan berikutnya.
  • LS (latest allowable activity start time) : Waktu paling lambat kegiatan boleh dimulai tanpa memperlambat proyek.
  • LF (latest  allowable activity finish time) : Waktu selesai paling lambat suatu kegiatan.
  • t (activity duration time) : Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan suatu aktivitas jadwal.

Langkah standar dalam membuat jalur kritis adalah sebagai berikut:

  1. Membagi seluruh pekerjaan menjadi beberapa kelompok pekerjaan yang dapat dikatakan sejenis.
  2. Menentukan durasi penyelesaian pekerjaan masing-masing milestone.
  3. Menentukan keterkaitan-keterkaitan (interdependencies) antara kelompok-kelompok pekerjaan tersebut.
  4. Menentukan critical path method antar milestone berdasarkan hubungan saling keterkaitannya.
  5. Membandingkan durasi total pekerjaan dengan waktu yang dibutuhkan.

Referensi : Buku Advanced and Effective Project Management

Untuk melihat daftar artikel ⇒ Table of Content, dan konsultasi Project Management ⇒ Konsultasi. Daftar karya ada pada ⇒ Innovation Gallery, dan daftar riset pada ⇒ Research Gallery

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AlphaOmega Captcha Classica  –  Enter Security Code