Sasaran menterjemahkan misi organisasi ke dalam istilah-istilah yang spesifik, konkret, dan dapat diukur. Sasaran organisasi menetapkan target berupa arah, tujuan, dan waktu untuk semua level organisasi. Sasaran dapat mencakup pasar, produk, inovasi, produktifitas, kualitas, finansial, profitabilitas, karyawan, dan konsumen. Sasaran sebaiknya memiliki kerangka waktu, dapat diukur, dan realistis atau memenuhi kriteria SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Relevant, Time Bound) seperti yang terlihat pada Gambar berikut

Banyak pemikir yang menterjemahkan SMART. Huruf S dan M umumnya sama yaitu spesific dan measurable. Sedangkan Huruf ke tiga hingga ke lima yaitu A, R, dan T terdapat banyak alternatif. Tujuan yang dirumuskan dalam metode SMART sebagai sasaran-sasaran yang terukur secara otomatis akan lebih memotivasi daripada target yang tidak jelas. Tiap level di bawah sasaran organisasi harus mendukung sasaran yang levelnya lebih tinggi. Sasaran organisasi sering mengarahkan perlunya diadakan dan dilaksanakan proyek-proyek. Deskripsi karakteristik pengukuran SMART diberikan oleh Paul J. Mayer sebagai berikut;

Spesifik (Spesific) – Menjabarkan sasaran secara jelas dan tanpa ambigu. Beberapa atribut yang dapat digunakan yaitu dengan mengevaluasi : apa yang ingin dicapai? Alasan atau keuntungan apa yang ingin diraih dengan mencapai sasaran itu? Siapa saja yang terkait dan berhubungan dengan pencapaian sasaran? Dimana lokasi atau fasilitas/prasarana apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan?. Adapun contoh tujuan yang spesifik adalah :

  • Pertumbuhan laba minimal 20%,
  • Customer complain berkurang 50%,
  • Audit kualitas dengan frekuensi 3 kali setahun.

Pengukuran yang kongkrit (Measurable) – Seperti berapa banyak atau kapan sebuah sasaran bisa diketahui telah dicapai. Hal ini mesti dapat diperhitungkan dari awal penetapan targetnya.

Dapat dicapai (Attainable) – Merupakan seberapa realistis sebuah target itu. Alternatifnya adalah dapat diraih (achievable), disetujui (agreed), berorientasi tindakan (action-oriented), dan lain-lain. Menentukan sasaran harus secara optimal. Jika terlalu jauh di luar standar atau terlalu rendah, akan menjadi sumber demotivasi karyawan atau anggota tim. Sasaran yang terlalu tinggi dan tak terjangkau akan memberikan tekanan yang terlalu besar dan akhirnya membawa perasaan apatis. Sedangkan target yang terlalu rendah hanya akan menciptakan kinerja yang tidak optimal karena rasa bosan dan rasa malas. Adapun contohnya adalah pada suatu perusahaan jasa transportasi yang memiliki CAGR = 15%. Jika tujuannya adalah meningkatkan pertumbuhan laba hingga 100%, maka tujuan ini sulit dicapai. Namun jika dengan pertumbuhan laba 30%, maka dinilai cukup realistis.

Relevansi (Relevant) –  Sebuah tujuan dinyatakan dengan memilih prioritas bagi sasaran-sasaran yang paling vital dan berarti bagi organisasi. Alternatifnya adalah realistis (realistic), beralasan (reasonable), dan lain-lain. Sebuah tujuan bisa saja spesifik, terukur, realistis, dan ada batas waktu, namun jika tidak relevan terhadap atasan, manajemen dan perusahaan secara keseluruhan maka tidak akan didukung penuh oleh tim kerja atau rekan/mitra kerja yang lain. Kesesuaian dari sasaran yang berhubungan erat dengan tujuan organisasi harus bermakna dan tepat waktu serta tepat guna dengan orang yang tepat pula. Dan yang terpenting adalah relevan dengan upaya, keahlian, dan kebutuhan dari sang pekerja serta kelompok kerjanya.

Dalam tenggat waktu (Time – Bound) –  Sasaran harus ditetapkan dalam batasan waktu yang jelas untuk bisa menyelesaikan sasaran yang telah ditetapkan. Alternatifnya adalah dapat ditelusuri (trackable), basis waktu (time – based), batasan waktu (time limited), dan lain-lain. Strategi dapat diuraikan menjadi taktik jangka pendek, taktik jangka menengah, dan jangka panjang agar indikator-indikator yang menunjukkan kemajuan menuju pencapaian dapat dievaluasi dan direvisi sesuai keadaan dan pencapaian. Adapun contohnya adalah :

  • Laba bersih hingga 2020 mencapai Rp. 1 triliun.
  • Customer complain berkurang hingga tinggal 10% dalam 2 tahun implementasi TQM.
  • Recurring income mencapai 30% dalam waktu 5 tahun.

Referensi : Buku Advanced and Effective Project Management

Untuk konsultasi Project Management, klik Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul artikel, klik Table of Content

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AlphaOmega Captcha Classica  –  Enter Security Code