Konflik pasti tak diinginkan terjadi namun hampir tak mungkin tak terjadi. Konflik mulai berpotensi terjadi ketika orang mulai berinteraksi dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Perbedaan background, skill, pendidikan, pola pikir atau cara pandang tiap orang berperan dalam memicu konflik. Konflik tidak hanya di proyek, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Mengatasinya harus dimulai dengan memahami konflik itu sendiri, identifikasi, analisa, dan menentukan resolusinya. Dalam tulisan ini diusulkan cara untuk menemukan resolusi konflik.

Sumber konflik di proyek adalah semua stakeholder (Project Manager, Project Team, Sponsor, Owner, Consultant, Supplier, Subcontractor, dll). Beberapa penyebab konflik yang biasa terjadi di proyek adalah:

  • Ketidak-cocokan tujuan
  • Hubungan struktural organisasi
  • Sumberdaya yang terbatas
  • Masalah komunikasi
  • Perbedaan individual

Dalam menyelesaikan dan mengelola konflik, Project Manager harus memahami kategori konflik. Adapun kategori konflik adalah:

  1. Konflik orientasi tujuan: berhubungan dengan hasil akhir, performa spesifikasi dan kriteria, prioritas, dan obyektif.
  2. Konflik administratif: berhubungan dengan struktur management, filosofi dan teknik, dan terutama pendefinisian tanggung jawab dan otoritas tugas, fungsi dan keputusan.
  3. Interpersonal Konflik: merupakan hasil dari perbedaan dalam etika bekerja, cara bekerja, egoisme, dan kepribadian dari tiap orang yang terlibat.

Suatu survey telah menunjukkan ranking atas jenis konflik yang terjadi di proyek, yaitu:

Thamhain 1975 Posner 1986
Schedule Schedule
Prioritas Cost / Budget
Sumberdaya Manusia Prioritas
Isu Teknis Sumberdaya Manusia
Isu prosedur Administratif Isu teknis
Kepribadian Kepribadian
Biaya Isu prosedur Administratif

Pengalaman selama mengerjakan proyek, lebih mendekati pada ranking yang disusun oleh Posner. Hanya saja aspek cost rasanya lebih tinggi dari pada Schedule. Mungkin hal ini disebabkan semakin maju teknologi atau metode pelaksanaan yang dapat mempercepat pelaksanaan proyek namun disisi yang lain, terjadi peningkatan tingkat persaingan bagi kontraktor.

Bagi Owner swasta, tentu saja semakin memahami seluk beluk biaya proyek sehingga berusaha mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan menekan harga proyek. Pada proyek pemerintah, terdapat beberapa sebab masalah biaya menjadi dominan. Peraturan yang ada condong memilih penawar terendah. Lalu dengan intensifnya pemeriksaan keuangan oleh BPK atau BPKP, menyebabkan pihak pemilik menjadi sangat berhati-hati terhadap masalah biaya. Hal ini tentu saja harus diteliti lebih lanjut.

Konflik tentu saja harus dikelola dengan baik sehingga mendapatkan kondisi atau level konflik yang optimal dimana akan menghasilkan performa yang maksimal. Mengatasi konflik dalam rangka pengelolaan tersebut telah dilakukan pendekatan-pendekatan berdasarkan referensi. Ada beberapa cara atau style dalam manajemen konflik menurut Blake dan Mouton, yaitu:

  1. Withdrawing  / Avoiding : Menghindari sumber potensi konflik yang berdampak konflik tidak terselesaikan
  2. Smoothing / Accomodating : Menekankan pada area kesepakatan ketimbang area perbedaan yang berdampak pada solusi jangka pendek
  3. Compromizing : Mencari dan tawar-menawar yang membawa pada beberapa tingkat kepuasan semua pihak yang berdampak pada penyediaan penyelesaian yang definitif
  4. Forcing : Memaksa satu sudut pandang dengan biaya pihak lain, menawarkan solusi win-lose. Ini menghasilkan pada perasaan tidak nyaman yang mungkin akan terjadi pada bentuk yang lain.
  5. Collaborating : Menggabungkan beberapa cara pandang dan wawasan dari perspektif yang berbeda yang membawa konsensus dan komitmen. Ini menghasilkan resolusi jangka panjang
  6. Confronting / Problem solving : Penanganan konflik sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan dengan memeriksa alternatif, persyaratan yang diberikan dan mengambil sikap dan membuka pembicaraan. Ini menghasilkan resolusi yang maksimum.

Dalam menghadapi konflik, Project Manager harus mampu mendapatkan conflict resolution yang tepat. Untuk mendapatkannya, Project Manager harus melakukan:

  • Analisa dan evaluasi teknik resolusi konflik
  • Memahami dinamika penanganan konflik dua pihak
  • Memilih pendekatan resolusi konflik yang terbaik (Win-win solution)

Untuk mendapatkan resolusi konflik yang terbaik, harus dilakukan tinjauan pada beberapa aspek. Vijay K.V dan Harold Kerzner menyampaikan aspek-aspek yang harus dikaji. Aspek-aspek tersebut dapat dikelompokkan yaitu tujuan konflik, kemampuan lawan, kondisi waktu, hubungan (relationship), tingkat keyakinan kebenaran, dan hal yang dipertaruhkan. Berikut ini adalah strategi resolusi konflik yang direkomendasikan berdasarkan referensi yang ada. Strategi itu seperti yang telah disebutkan adalah: (1) Confrontation / Collaboration, (2) Compromizing, (3) Accomodation / Smoothing, (4) Forcing, dan (5) Avoiding. Untuk mendapatkan resolusi yang tepat, isilah kolom “kondisi” sesuai aspek yang dikaji. Resolusi yang didapat dijumlah. Kemungkinan akan ada beberapa alternatif resolusi. Buatlah penekanan untuk menentukan resolusi yang terbaik.

Suatu contoh pada proyek dengan Owner Swasta yang menerapkan backcharge atas keterlambatan yang dinilai secara subyektif. Lalu proyek mengalami kerugian yang besar. Hasil pemetaannya adalah sebagai berikut:

Deskripsi Situasi Kondisi (1) (2) (3) (4) (5)
Tujuan            
Kedua pihak saling ingin mendapatkan hasil (hasil kamu bisa lebih)          
Kedua pihak harus menang        
Untuk mencapai suatu tujuan tertentu          
Untuk mendapatkan status atau mendemonstrasikan kekuatan posisi        
Solusi sementara pada isu kompleks & back up jika kolaborasi gagal          
Sasaran utama adalah pelajaran          
Untuk mendapatkan komitmen & menciptakan basis kekuatan umum          
Ketika kamu tidak akan mendapatkan apapun jika tidak bertindak        
Untuk mengurangi biaya        
Kemampuan Lawan            
Kemampuan lawan biasa saja          
Ketika lawan lebih lemah          
Ketika lawan sama kuat          
Jika lawan lebih kuat / kamu tidak dapat menang      
Jika kamu percaya diri terhadap kemampuan lawan          
Ketika kemampuan saling melengkapi          
Kondisi Waktu            
Jika waktu cukup          
Jika waktu tidak cukup & kondisi terpaksa        
Untuk mendapatkan waktu        
Ketika menang karena keterlambatan          
Jika suatu keputusan harus segera dibuat        
Ketika masalah akan selesai dengan sendirinya          
Relationship            
Jika ada kepercayaan          
Untuk menjaga hubungan baik        
Jika hubungan baik sudah tidak penting        
Untuk menjaga keharmonisan, kedamaian dan kebijakan          
Untuk menghindari kesan ”fighting”          
Untuk menjaga situasi netral / reputasi atau membuat lawan bingung          
Ketika pertanggung jawaban terbatas          
Ketika sadar permainan telah dimulai        
Tingkat keyakinan Kebenaran            
Ketika tidak yakin jika benar          
Ketika Anda yakin benar        
Ketika tingkat penerimaan tidak penting        
Ketika sudah ada solusi yang memadai          
Hal yang dipertaruhkan            
Hal yang dipertaruhkan tinggi atau prinsip penting yg dipertaruhkan        
Pertaruhan tinggi, tapi sedang tidak siap          
Hal yang dipertaruhkan adalah moderat          
Hal yang dipertaruhkan adalah kecil        
Ketika kamu akan kehilangan segalanya        
Total   1 3 1 6  

Hasil penilaian menunjukkan resolusi konflik mengarah pada forcing dan compromizing. Mungkin ada baiknya untuk menggabungkan kedua cara tersebut karena memang situasi tidak akan pernah ideal untuk suatu resolusi konflik.

 
 

Referensi : Buku Advanced and Effective Project Management

Untuk melihat daftar artikel ⇒ Table of Content, dan konsultasi Project Management ⇒ Konsultasi. Daftar karya ada pada ⇒ Innovation Gallery, dan daftar riset pada ⇒ Research Gallery

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AlphaOmega Captcha Classica  –  Enter Security Code