Ini Dia Cara Mengatasi Konflik Pada Proyek Gedung!

Proyek gedung begitu kompleks dan menuntut organisasi yang dinamis dalam pelaksanaannya. Proyek ini melibatkan begitu banyak item pekerjaan, organisasi, dan anggota tim. Tak jarang terjadi konflik karena kompleksitas dan kedinamisan proyek yang rumit ini yang berakibat pada menurunnya kinerja proyek.

Konflik adalah hal yang wajar dalam rangka perkembangan suatu organisasi bahkan diperlukan dalam bentuk konflik yang fungsional. Tingkat konflik tertentu akan memberikan tingkat kinerja yang tinggi. Namun konflik yang tinggi justru akan membuat tingkat kinerja kelompok akan rendah. Ini yang harus diatas oleh Project Manager. Penjelasannya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Hubungan antara level konflik dan kinerja organisasi

 

Pada proyek konstruksi, konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindari akibat sifat dinamis dari lingkungan proyeknya. Konflik tersebut harus diselesaikan dengan cara yang tepat untuk meminimalkan pengaruh buruknya terhadap usaha-usaha pencapaian sasaran proyek. Oleh karenanya, konflik harus dikendalikan sedemikian konflik masih bersifat fungsional yang menghasilkan kinerja tim yang tinggi.

Konflik merupakan bagian kehidupan proyek. Setiap proyek, konflik akan hadir sebagai akibat dari kompleksitas dan tuntutan organisasional. Kompleksitas proyek menentukan dalam ukuran organisasi dan jumlah anggota tim. Hal ini karena kompleksitas yang tinggi akan membutuhkan lebih banyak kendali oleh suatu organisasi. Kompleksitas berarti uncertainty atau ketidakpastian yang membutuhkan suatu jumlah tertentu atas anggota tim proyek dalam rangka mencapai sasaran proyek yang telah ditetapkan

Semakin tinggi tingkat kompleksitas proyek maka tinggi pula jumlah kejadian konflik dan kualitasnya. Suatu organisasi proyek tertentu pada dasarnya memiliki tingkat atau kapasitas tertentu dalam mengelola konflik. Apabila konflik yang terjadi di atas kemampuan organisasi proyek, maka konflik akan bersifat destruktif dan disfungsional yang akan menghambat proyek mencapai target. Konflik yang disfungsional tersebut juga akan membuat tim building proyek tidak akan terbentuk dengan baik.

Pada proyek konstruksi gedung, seperti yang telah disebutkan di atas memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi karena sifatnya yang memiliki banyak item pekerjaan dan waktu pelaksanaan yang umumnya singkat. Proyek konstruksi gedung bahkan dapat dikatakan sebagai proyek yang memiliki tingkat kompleksitas yang tertinggi dibanding dengan jenis proyek konstruksi yang lain. Tingginya tingkat kompleksitas gedung akan menyebabkan konflik yang tinggi pula yang berpeluang berada di atas kemampuan suatu organisasi untuk dikelola. Hal ini berarti akan terjadi konflik yang bersifat disfungsional yang terjadi pada proyek konstruksi gedung.

Penjelasan di atas menuntut pemahaman atas kompleksitas dan konflik yang mendalam sebelum melaksanakan proyek konstruksi gedung. Dalam rangka untuk mengelola adanya disfungsional konflik yang benar, maka perlu dilakukan identifikasi konflik yang berpotensi akan terjadi pada proyek jenis ini.

Suatu hasil penelitian yang dilakukan oleh Aderiani, Sutjipto, dan Joko dengan judul penelitian ”Identifikasi konflik yang terjadi pada pelaksanaan proyek gedung” telah menghasilkan beberapa jenis konflik yang berpotensi terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung. Penelitian yang dilakukan oleh ITS ini juga merekomendasikan resolusi  atas konflik – konflik tersebut. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui konflik-konflik yang berpotensi terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung beserta faktor penyebabnya, mengetahui konflik-konflik yang sering terjadi, dan mengetahui cara penyelesaian konflik yang sering digunakan pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung.

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat empat jenis konflik yang berpotensi terjadi pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung, yaitu:

  1. konflik akibat faktor organisasi,
  2. konflik akibat faktor teknis,
  3. konflik akibat faktor sumber daya, dan
  4. konflik akibat faktor jadwal.

Namun demikian, konflik-konflik tersebut mempunyai frekuensi yang cukup rendah untuk terjadi. Di antara keempat jenis konflik di atas, frekuensi terjadinya konflik akibat faktor sumber daya dan faktor jadwal adalah lebih tinggi dibandingkan dengan konflik-konflik lainnya.

Konflik tersebut tentu harus di atasi dan dikelola sedemikian menjadi fungsional dan berada dalam kemampuan organisasi untuk dikelola. Terdapat beberapa cara atau resolusi dalam mengatasi konflik. Mari kita review jenis-jenis resolusi konflik sebagai berikut:

  1. Withdrawing  / Avoiding : Menghindari sumber potensi konflik yang berdampak konflik tidak terselesaikan
  2. Smoothing / Accomodating : Menekankan pada area kesepakatan ketimbang area perbedaan yang berdampak pada solusi jangka pendek
  3. Compromizing : Mencari dan tawar-menawar yang membawa pada beberapa tingkat kepuasan semua pihak yang berdampak pada penyediaan penyelesaian yang definitif
  4. Forcing : Memaksa satu sudut pandang dengan biaya pihak lain, menawarkan solusi win-lose. Ini menghasilkan pada perasaan tidak nyaman yang mungkin akan terjadi pada bentuk yang lain.
  5. Collaborating : Menggabungkan beberapa cara pandang dan wawasan dari perspektif yang berbeda yang membawa konsensus dan komitmen. Ini menghasilkan resolusi jangka panjang
  6. Confronting / Problem solving : Penanganan konflik sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan dengan memeriksa alternatif, persyaratan yang diberikan dan mengambil sikap dan membuka pembicaraan. Ini menghasilkan resolusi yang maksimum.

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan bahwa tiap resolusi memiliki karakter situasi tersendiri. Atas dasar itu penulis mengusulkan suatu cara untuk menilai dan menentukan resolusi yang tepat untuk mengatasi konflik yang terjadi. Lihat ( Strategi Mengatasi Konflik ).

Pada proyek konstruksi gedung memiliki ciri-ciri yang menjadi dasar resolusi konflik sebagai berikut:

  • Pihak yang terlibat konflik bersifat ingin mendapatkan hasil dan ingin menang
  • Perlu keputusan yang cepat dan terpaksa. Hal ini dikarenakan proyek kompleks dan waktu singkat.
  • Banyaknya risiko yang terjadi yang berdampak terhadap biaya. Sehingga perlu usaha ekstra untuk mengurangi biaya.
  • Kemampuan pihak lain umumnya sama dan di bawah kemampuan project manager
  • Kecenderungan untuk menjaga hubungan baik dengan pihak lain karena selalu berhubungan

Hasil penelitian ini menghasilkan beberapa resolusi yang digunakan oleh Project Manager, yaitu pendekatan confrontation atau problem solving dan pendekatan compromising atau negotiating. Khusus untuk konflik personalitas, manajer proyek mempergunakan pendekatan smoothing sebagai alternatif lain penyelesaian konflik yang terjadi.

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Leadership & Project Manager and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>