Mana yang Terbaik : S-Curve, CPM, atau EVM?

S-Curve yang praktis telah lama digunakan pada proyek Pemerintah maupun Swasta. Bar Chart dan turunannya yaitu CPM yang lebih akurat dijadikan persyaratan dalam mengajukan penawaran proyek, namun jarang digunakan pada pelaksanaannya. EVM  (Earned Value Method) yang cukup kompleks bahkan “nyaris tak terdengar”. Lalu sebenarnya yang manakah yang harus digunakan?

 

Seperti yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya bahwa proyek adalah unik. Memiliki karakteristik yang tidak persis sama antara proyek yang satu dengan yang lainnya. Karakteristik proyek yang mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan alat yang baik dalam membuat atau monitoring schedule proyek adalah sebagai berikut:

  • Nilai kontrak proyek
  • Kompleksitas proyek
  • Waktu pelaksanaan proyek
  • Jenis proyek
  • Kompetensi Tim proyek
  • Fungsi proyek

Kita akan lihat penjelasan masing-masing jenis alat monitoring schedule untuk menentukan jenis alat monitoring yang mana yang terbaik untuk digunakan dengan mengaitkannya terhadap kondisi atau karakteristik proyek.

 

 

S-Curve (Kurva-S)

S-Curve atau Kurva S adalah suatu grafik hubungan antara waktu pelaksanaan proyek dengan nilai akumulasi progres pelaksanaan proyek mulai dari awal hingga proyek selesai. Kurva-S sudah jamak bagi pelaku proyek. Umumnya proyek menggunakan S-Curve dalam perencanaan dan monitoring schedule pelaksanaan proyek, baik pemerintah maupun swasta.

Grafik Kurva-S

 

Critical Path Method (CPM)

CPM merupakan suatu metode dalam mengidentifikasi jalur atau item pekerjaan yang kritis. Untuk membuatnya dapat secara manual matematis. Cukup rumit apalagi item pekerjaan yang banyak dan kompleks. Namun saat ini banyak software yang menyediakan fasilitas untuk mendapatkan CPM.

CPM merupakan produk turunan dari Bar Chart. CPM lebih jarang digunakan dalam proyek dibandingkan dengan Kurva-S. Pada kenyataannya banyak pelaku proyek (Kontraktor, Pengawas, dan Owner) belum familiar dengan alat yang satu ini kecuali untuk yang sudah memiliki pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang memadai. Namun jumlahnya masih belum seberapa.

Penggunaan CPM baru sebatas syarat yang harus diajukan oleh kontraktor dalam lelang. Setelah itu dalam pelaksanaannya, hampir tidak pernah dipakai. Seharusnya CPM yang dibuat pada saat tender, menjadi baseline dalam monitoring pelaksanaan proyek.

Berdasarkan pengalaman di proyek, metode CPM sebenarnya sangat powerfull dalam membantu proyek keluar dari masalah keterlambatan. Asal perencanaan awalnya dibuat cukup memadai. Berikut diberikan contoh CPM di proyek:

Contoh sederhana CPM

 

Contoh aplikasi CPM dengan Software

 

CPM mengilustrasikan terlambat atau tidak proyek dalam bentuk waktu akhir pelaksanaan proyek. CPM berisi uraian pekerjaan yang berada di jalur kritis. Pekerjaan-pekerjaan yang berada di jalur kritis harus dijaga oleh Tim Proyek. Start-Finish-Duration item pekerjaan yang berada pada jalur kritis harus tidak boleh meleset karena akan menyebabkan waktu pelaksanaan akan mundur atau terlambat.

 

Earned Value Method (EVM)

Konsep earned value digunakan sebagai alat ukur kinerja yang mengintegrasikan antara aspek biaya dan aspek waktu. Penggunaannya di Indonesia “nyaris tak terdengar”.

Penggunaan konsep earned value dalam penilaian kinerja proyek dijelaskan melalui Gambar di bawah ini. Beberapa istilah yang terkait dengan penilaian ini adalah Cost Variance, Schedule Variance, Cost Performance Index, Schedule Performance Index, Estimate at Completion, dan Variance at Completion.

Grafik kurva S Earned Value

 

Walaupun konsep earned value terlihat sederhana, namun implementasinya dalam pengelolaan proyek tidaklah mudah karena harus didukung oleh sistem manajemen yang mampu menyediakan input data yang lengkap dalam perhitungan kinerja proyek. Bila kinerja proyek buruk, sistem akan mampu menelusuri bagian mana yang bermasalah yang menyebabkan pembengkakan biaya dan terjadinya keterlambatan pelaksanaan proyek. Terdapat 10 kriteria bagi terselenggaranya pengelolaan proyek yang berdasarkan pada konsep earned value, sebagai berikut:

  • Komitmen manajemen
  • Menetapkan lingkup proyek dengan work breakdown structure (WBS).
  • Menciptakan management control cells (cost account).
  • Menetapkan tanggung jawab fungsional untuk setiap bagian terkecil dari manajemen proyek (project’s management control cells).
  • Membuat earned value baseline..
  • Penggunaan proses formal penjadwalan proyek
  • Pengelolaan biaya tidak langsung (indirect cost)
  • Secara periodik, mengestimasi biaya penyelesaian proyek
  • Pelaporan status proyek
  • Menyusun historical database

 

Pakai yang Mana?

Berdasarkan penjelasan mengenai masing-masing alat kendali schedule dan melihat karakteristik proyek, dapat disusun suatu tabel rekomendasi alat kontrol yang mana yang sesuai dengan berbagai kondisi proyek. Pemakaian tidak terbatas harus  menggunakan salah satu. Jika memang diperlukan dapat menggunakan lebih dari satu atau malah pakai ketiga-tiganya. Semua tergantung dari kondisi proyek yang dilaksanakan.

Pemilihan alat yang digunakan juga harus memperhatikan situasi saat proyek tengah berjalan. Jadi tidak hanya ditentukan pada saat proyek belum dilaksanakan. Artinya, bisa saja proyek yang cukup longgar waktu pelaksanaannya dengan nilai kontrak yang kecil dan kompleksitasnya rendah dimana awalnya hanya ditentukan menggunakan S-Curve dapat bertambah alat kendalinya menjadi kombinasi S-Curve dan CPM. Ini situasional. Pahami manfaat masing-masing alat kendali.

Berikut disampaikan tabel rekomendasi yang dimaksud yang dibuat berdasarkan pengalaman dan beberapa referensi yang terkait dengan pembahasan di atas:

 

No Karakteristik Proyek S-Curve CPM EVM
A Nilai Kontrak      
  Kecil    
  Sedang  
  Besar  
B Kompleksitas Proyek      
  Kecil    
  Sedang  
  Tinggi  
C Waktu Pelaksanaan Proyek      
  Singkat    
  Sedang  
  Panjang  
D Jenis Proyek      
  Pemerintah    
  Swasta  
  International
  Non-Konstruksi    
E Kompetensi Pelaku Proyek      
  Kurang    
  Sedang  
  Tinggi  

 

Contoh:

Jika proyek yang dilaksanakan memiliki karakteristik sebagai berikut:

Nilai kontrak kecil ( Rp. 20 M), kompleksitas sedang (Banyak item pekerjaan termasuk yang tidak standart dan keterkaitan antar pekerjaan cukup banyak), waktu pelaksanaan singkat (4 bulan), Jenis Proyek adalah proyek pemerintah, dan kompetensi pelaku proyek dianggap sedang. Maka alat kontrol schedule yang direkomendasikan adalah:

  • Nilai kontrak kecil (S-Curve)
  • Kompleksitas tinggi (S-Curve dan CPM)
  • Waktu pelaksanaan singkat (CPM)
  • Proyek pemerintah (S-Curve)
  • Kompetensi sedang (S-Curve dan CPM)

Berdasarkan kondisi di atas, maka dapat disarankan untuk menggunakan S-Curve sebagai alat kendali formal dalam frekuensi mingguan, namun dalam kesehariannya harus menggunakan CPM untuk kendali yang lebih teliti mengingat waktu pelaksanaan yang singkat.

 

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Waktu and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Mana yang Terbaik : S-Curve, CPM, atau EVM?

  1. Irfan says:

    saya bingung sebenarnya bagaimana menilai s-curve, dari segi apakah s-curve itu dinilai ?? karena penilaian tersebut terkadang tidak jelas di pelelangan pemerintah ?? bagaimana mereka bisa menilai tinggi rendahnya nilai s-curve ?

    • budisuanda says:

      Tulisan ini konteksnya adalah dalam hal alat apa yg terbaik dalam mengevaluasi schedule pelaksanaan. Dalam konteks penilaian saat tender, menurut saya mestinya S-curve dinilai dari tingkat logisnya yang dihubungkan dengan jenis pekerjaan dan metode pekerjaannya.

  2. suhariyanto says:

    mohon ijin, apakah saya bisa menggunakan tulisan bapak, sebagai bagian dari materi buku ajar di politeknik negeri malang?

  3. Jogja Oye says:

    Wah.. Hebat gan! Sangat informatif dan mendalam. mohon nyimak aja..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>