Menilai Kualitas Pekerjaan Struktur Beton Bertulang

Ada sebagian orang bilang bahwa pekerjaan struktur beton bertulang yang baik itu apabila slumpnya seusai spek. Ada juga yang bilang bahwa permukaannya tidak keropos atau ngeplin. Ada juga yang bilang bahwa mutu betonnya masuk tanpa tahu cara melakukan evaluasi mutu betonnya. Parahnya lagi dalam pengamatan saya sebagian besar pelaku proyek konstruksi tidak tahu bagaimana cara mengevaluasi hasi test beton. Cukup memprihatinkan memang…

 

Indonesia yang terletak pada dua lingkar jalur gempa menuntut pekerjaan struktur beton yang memadai. Kualitas pekerjaan yang tidak memperhatikan aspek gempa akan membuat gedung rentan terhadap kegagalan akibat adanya gempa. Kita bisa lihat kejadian gempa di Jogja dan Padang yang telah banyak meluluh-lantakkan bangunan dengan kualitas pekerjaan struktur beton bertulang yang rendah yang memakan korban yang tidak sedikit. Keberadaan negara kita di daerah gempa ini menuntut para pelaku proyek konstruksi untuk memberi perhatian yang lebih pada aspek kualitas pekerjaan ini.

Gambar 1.   Keruntuhan Bangunan karena Gempa Di Jogjakarta

 

Gambar 2.   Keruntuhan bangunan karena gempa di Padang

 

Gambar 3.   Kegagalan bangunan akibat gempa pada bangunan bertingkat tinggi

Pada Gambar 1 di atas terlihat bahwa kolom tanpa penulangan sengkang yang memadai. Kolom mengalami kegagalan pada saat terjadi gempa. Pada Gambar 2 terlihat kegagalan terjadi pada daerah joint antara kolom dan pondasi. Pada gambar ketiga adalah kejadian yang serupa dengan gambar kedua namun terjadi pada bangunan berlantai tinggi. Ketiga kejadian di atas tentu saja menyalahi konsep perilaku struktur pada saat mengalami gempa dimana dimana struktur beton harus harus mampu menyerap energi pada sendi plastis yang berada pada balok dekat dengan joint. Kedua kejadian di atas menunjukkan kemungkinan adanya kesalahan design ataupun pelaksanaan pada struktur beton bertulang.

Pekerjaan struktur beton bertulang mungkin secara gampang dapat dikatakan berkualitas baik apabila hasil pekerjaan tersebut dapat memberikan perilaku struktur yang sesuai dengan perencanaan atau design struktur. Artinya hasil pekerjaan ini harus sesuai dengan persyaratan yang ada dalam spesifikasi teknis. Secara sederhana, pekerjaan struktur harus sesuai gambar dalam hal dimensi beton dan pemasangan besi tulangannya. Apabila permukaan hasil pekerjaan ini dikehendaki berkualitas semi expose atau expose, maka kualitas hasil permukaan sangat menentukan. Lalu material dan pelaksanaannya harus sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ada. Penilaian pekerjaan struktur beton bertulang haruslah dimulai dari material yang digunakan, cara pelaksanaan, dan hasil pekerjaannya.

Material yang harus diperhatikan terutama adalah beton dan besi tulangan. Sedangkan bekisting akan berperan dalam proses pekerjaannya. Maksudnya bekisting akan menentukan kualitas hasil namun bukan merupakan material penyusun beton bertulang. Bekisting yang baik akan membuat beton tidak keropos dan tidak ngeplin sehingga dimensi beton tetap terjaga.

Kualitas beton sebagai material utama pekerjaan ini pada dasarnya dinilai dari mutu kuat tekannya. Bagaimanapun proses pekerjaan beton, apabila hasil evaluasi test betonnya menunjukkan beton masih dapat diterima, maka beton tersebut dapat dikatakan memenuhi syarat kekuatan. Diterima atau tidak mutu hasil pekerjaan ini sangat ditentukan pada evaluasi hasil test. Cara evaluasi hasil test beton ini dapat menggunakan peraturan yang ada seperti SNI 2002 maupun ACI 318_02.

Ada yang cukup mengkhawatirkan disini yaitu bahwa sebagian besar pelaku proyek konstruksi tidak tahu bagaimana cara mengevaluasi dengan cara SNI maupun ACI. Ada yang melihat satu per satu hasil test yang dihubungkan dengan target mutu. Ada juga yang melakukan rata-rata terhadap seluruh hasil test beton. Ini pengalaman saya selama mengerjakan proyek. Hal ini menjadi cukup bukti bahwa para pelaku proyek konstruksi kurang perhatian terhadap aspek ini. Kadang-kadang perencana menentukan cara yang berbeda dalam mengevaluasi hasil test beton. Rasanya ini akan tambah membuat bingung karena yang jadi peraturan saja tidak ngerti apalagi ada variasi yang lain.

Kemudian untuk besi tulangan haruslah dicek mutu kemampuan tarik dan dimensi tampangnya. Walaupun diproduksi oleh pabrik, mutu dan dimensi tampang / diameter besi tulangan terdapat variasi. Biasanya variasi tersebut ada batasan range-nya. Dalam spesifikasi hal tersebut biasanya disebutkan. Jadi material besi tulangan harus sesuai dengan ketentuan spesifikasi teknis. Frekuensi pengujian material ini pun harus sesuai dengan ketentuan. Semakin banyak material maka frekuensi test pun akan semakin banyak.

 

Usulan Cara Menilai Kualitas Struktur Beton Bertulang

Diusulkan suatu daftar aspek yang harus dinilai dalam rangka memastikan kualitas struktur beton bertulang. Tiap item dinilai dalam bentuk prosentase 0 – 100% dan hasil akhir merupakan rata-rata prosentase tiap item yang dinilai. Sampling haruslah memadai  dan mewakili dari pekerjaan yang dilakukan.

    • Properties atau bahan penyusun beton dan komposisinya telah sesuai dengan spesifikasi teknis
    • Frekuensi test beton sesuai peraturan atau spesifikasi teknis
    • Cara evaluasi sesuai peraturan atau standart atau spesifikasi teknis
    • Hasil test beton dapat diterima
    • Dimensi tampang besi tulangan sesuai batas atau standart
    • Frekuensi test besi tulangan sesuai peraturan atau spesifikasi teknis
    • Hasil test besi tulangan dapat diterima
    • Besi tulangan tidak mengalami karat yang berlebihan yang dapat mengurangi lekatannya dengan beton
    • Slump beton sesuai spesifikasi teknis
    • Proses penuangan, pemadatan, dan perawatan beton sesuai dengan spesifikasi teknis.
    • Besi tulangan terpasang sesuai dalam hal jumlah, panjang, pengakhiran, penyambungan, selimut beton, dan pengikatnya (bendrat) sesuai dengan gambar perencanaan dan spesifikasi teknis.
    • Bekisting terpasang sesuai dimensi, kuat, dan kokoh
    • Umur pembongkaran bekisting seusai rencana atau spesifikasi teknis
    • Tidak terdapat retak yang tidak wajar
    • Tidak terjadi keropos dan plin sesuai toleransi spesifikasi teknis
    • Bentuk dan dimensi beton sesuai toleransi spesifikasi teknis
    • Permukaan beton sesuai kualitas yang direncanakan (expose, semi-expose, atau non-expose)

 

 

 

 

 

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Beton Bertulang and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>