Waste besi tinggi? Tenang, ada SOWB…

Waste atau sampah dalam konteks pengendalian biaya material proyek berarti sisa material yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Pada proyek gedung, waste material ini merupakan masalah yang penting. Pelaku konstruksi sering tidak menyadari betapa waste ini telah membuat biaya proyek menjadi tidak terkendali sehingga terjadi pembengkakan biaya / cost overrun. Mengenai berapa besaran waste itu sendiri, belum pernah diteliti secara spesifik di Indonesia. Sebagai gambaran, diberikan data suatu penelitian yang dilakukan oleh Farmoso, C.T. dalam Journal of Construction Engineering and Management.

No

Lokasi Penelitian

Sampling

Tahun

Nilai Waste

1

Inggris

114 proyek

1960-1970 2%-15%
2 Hongkong 32 proyek 1992-1993 2,4%-26,5%
3 Belanda 5 proyek 1993-1994 1%-10%
4 Australia 15 proyek N/A 2,5%-22%
5 Brazil 3 proyek 1986-1987 11%-17%

Hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa nilai waste dapat mencapai >25%. Suatu nilai yang tidak terduga yang pasti akan membuat biaya pelaksanaan proyek naik cukup tinggi. Umumnya dalam proyek gedung, material besi beton merupakan material yang memiliki prosentase terhadap biaya tertinggi yaitu berkisar 20%-25%. Sehingga perhatian pada pengendalian waste besi beton pada proyek gedung menjadi layak dilakukan. Jika prosentase material besi adalah 25% dan terjadi waste sebesar 10% sedangkan nilai proyek dianggap Rp. 100 Milyad, maka terjadi over budget sebesar 10% x 25% x 100 M = 2.5 Milyard atau 2.5% terhadap Nilai Kontrak. Cukup fantastis!!!

Secara teori, waste of material terbagi dalam dua kategori yaitu Direct Waste berupa sisa material yang timbul diproyek karena rusak, hilang, dan tidak dapat dipakai lagi dan Indirect Waste berupa sisa material yang terjadi di proyek karena volume pemakaian melebihi volume yang direncanakan, sehingga tidak terjadi sisa material secara fisik di lapangan dan mempengaruhi biaya keseluruhan (hidden cost). Berdasarkan teori ini, maka dapat disimpulkan bahwa umumnya waste besi tulangan merupakan indirect waste.

Besi tulangan merupakan material yang berfungsi struktural dan material yang bersama-sama  dengan beton menjadi beton bertulang yang berfungsi struktural untuk menopang beban bangunan. Besi tulangan diproduksi dalam bentuk batangan dengan panjang standart 12 m. Dalam pelaksanaannya, besi tulangan dipotong-potong sesuai design gambar struktur.  Besi tulangan utuh yang dipotong-potong menjadi potongan besi lebih kecil berdasarkan design gambar umumnya akan menghasilkan sisa hasil potongan / waste karena sisa potongan tersebut sudah tidak terpakai lagi. Berikut diberikan contoh dua pola pemotongan besi tulangan:

Pada suatu bagian struktur bangunan, diperlukan potongan tulangan sesuai tabel

Panjang potongan (cm) Jumlah potongan Total (cm) Total (Btg)
600 4 2400
400 6 2400
300 8 2400
Jumlah 18 7200 6

Untuk mendapatkan potongan besi tulangan di atas, dilakukan pemotongan terhadap besi tulangan utuh 12 m dalam dua cara / pola pemotongan, yaitu: Cara pola potong 1: 2 btg besi tulangan dipotong 2 → 600-600, sisa 0 2 btg besi tulangan dipotong 3 → 400-400-400, sisa 0 2 btg besi tulangan dipotong 4 → 300-300-300-300, sisa 0 *) ukuran potongan dalam satuan cm. Cara / pola potong ini ditabelkan sebagai berikut:

Cara Pola Potong 1 Panjang (cm) Jmh sisa (cm)
Batang ke Pot. 1600 cm Pot. 2400 cm Pot. 3300 cm
1-2 2 0 0 2400 2×0
3-4 0 3 0 2400 2×0
5-6 0 0 4 2400 2×0
Jumlah 4 pot. 6 pot. 8 pot. 7200 0

Waste cara pola potong 1 = 0% Cara pola potong 2: 4 btg besi tulangan dipotong 2 → 600-400, sisa 200 (4 btg) = 800 1 btg besi tulangan dipotong 3 → 400-400-300, sisa 100 (1 btg) = 100 1 btg besi tulangan dipotong 4 → 300-300-300-300, sisa 0 1 btg besi tulangan dipotong 3 → 300-300-300, sisa 300 (1 btg) = 300 *) ukuran potongan dalam satuan cm. Cara / pola potong ini ditabelkan sebagai berikut:

Cara Pola Potong 2 Panjang (cm) Jmh sisa (cm)
Batang ke Pot. 1600 cm Pot. 2400 cm Pot. 3300 cm
1-4 1 1 0 4000 4×200
5 0 2 1 1100 1×100
6 0 0 4 1200 0
7 0 0 3 900 1×300
Jumlah 4 pot. 6 pot. 8 pot. 7200 1200

Waste cara pola potong 2 = 1200 / 7200 = 16,7% Dua cara potong di atas menghasilkan nilai waste yang berbeda. Cara potong yang pertama menghasilkan waste 0%, sedangkan cara pola potong ke 2 menghasilkan waste 16,7%. Hal ini berarti beda cara / pola potong maka kemungkinan memberikan nilai waste yang berbeda. Ketidaktelitian membuat waste makin besar!!!

Mari kta telusuri lebih jauh. Dalam praktiknya saat ini pelaksana proyek menetukan pola potong berdasarkan prinsip pendekatan dimana panjang potongan-potongan besi dipadankan sedemikian hingga tidak ada sisa atau sisa sekecil mungkin saat memotong besi tulangan utuh. Contoh untuk mengilustrasikan prinsip pemotongan di atas adalah sebagai berikut:

  • 600-600, 500-700, 400-800, 200-1000, 100-1100, dst,
  • 200-400-600, 300-400-500, 400-400-400, 500-500-200, dst.
  • 200-300-300-400, 100-300-400-400, 200-200-300-500, 200-200-400-400, dst.

Dalam setiap kali menentukan pola pemotong, cara potong tersebut dilakukan terlebih dulu. Pelaksana terlebih dulu mendata data ukuran potongan yang mungkin akan dapat berpadanan sehingga membentuk pola yang menghasilkan total panjang 12 m. Cara potong ini, pada dasarnya cukup efektif untuk ukuran proyek yang kecil dan tidak komplek elemen strukturnya. Namun dengan cara ini sebenarnya waste tulangan belumlah optimum. Ada baiknya untuk melihat studi kasus berikut ini.

Pada suatu bagian struktur bangunan, diperlukan potongan tulangan sesuai tabel

Panjang potongan (cm) Jumlah potongan Total (cm) Total (Btg)
300 8 2400
400 16 6400
750 16 12000
850 8 6800
Jumlah 48 27600 23

Pada kasus di atas, diperlukan total 48 potongan dengan panjang besi tulangan teoritis 23 batang. Berikut adalah ilustrasi pola potong yang terjadi selama ini oleh pelaksana di proyek dan cara / pola potong terbaik yang mungkin.

Cara / pola potong Pelaksana / Existing:

Cara / Pola Potong Pelaksana / Existing Sisa (cm)
Batang ke Pot. 1    300cm Pot. 2    400cm Pot. 3    750cm Pot. 4    850cm
1-5=5 btg 0 3 0 0 5x(1200-3×400)=0
6-7=2 btg 4 0 0 0 2x(1200-4×300)=0
8=1 btg 0 1 1 0 1x(1200-400-750)=50
9-16=8 btg 0 0 0 1 8x(1200-850)=2800
17-31=15 btg 0 0 1 0 15x(1200-750)=6750
Jumlah 8 pot. 16 pot. 16 pot. 8 pot. 9600

Waste cara pola potong Pelaksana / Existing = 9600 / 27600 = 34,78% Cara / pola potong terbaik:

Cara / Pola Potong Pelaksana / Existing Sisa (cm)
Batang ke Pot. 1    300cm Pot. 2    400cm Pot. 3    750cm Pot. 4    850cm
1-8=8 btg 1 0 0 1 8x(1200-300-750)=400
9-23=16 btg 0 1 1 0 16x(1200-400-850)=800
Jumlah 8 pot. 16 pot. 16 pot. 8 pot. 1200

Waste cara pola potong Pelaksana / Existing = 1200 / 27600 = 4,35%

Pada kasus di atas ternyata cara yang dilakukan saat ini oleh pelaksana terbukti belum optimal. Contoh ini mungkin terlalu sederhana (simulasi 48 potongan dengan 4 variasi ukuran potongan) dimana pada kenyataannya jumlah potongan yang dibuat di proyek jauh lebih besar dan dapat mencapai ribuan potong besi tulangan dengan variasi ukuran potongan mencapai puluhan variasi. Tapi cukup untuk membuktikan bahwa ada cara lain yang lebih baik.

Tentu ini bukan pekerjaan mudah untuk melakukan trial simulasi pola / cara potong sehingga didapatkan simulasi yang terbaik untuk mendapatkan waste tulangan yang optimal apalagi oleh pelaksana di lapangan dimana terdapat ribuan potong tulangan yang harus ditrial. Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendapatkan pola / cara potong yang terbaik. Perlu software untuk memudahkan pekerjaan ini!!!

Itulah awal dari terciptanya Software Optimasi Waste Besi (SOWB). SOWB dibuat dengan berdasarkan cara kerja pendekatan matematika algoritma yang dirancang untuk membantu mendapatkan cara pola potong yang optimal. Software ini dibangun dengan bahasa visual basic yang diimplant ke dalam microsoft excel. Digunakannya microsoft excel agar memudahkan dalam proses editing output yang mungkin cukup banyak agar ready to use. Ide untuk menggunakan algoritma matematika menurut merupakan ide yang akan menghasilkan pola potong dengan waste yang paling minimum yang mungkin dari sekian banyak pola potong yang mungkin terjadi. Sementara ini, software tampil dalam bentuk yang cukup sederhana karena lebih mementingkan fungsi yang didapat. Berikut tampilan bagian input dan bagian output dari SOWB.

Tampilan Input Tampilan Output Di Internet, anda dapat membeli software serupa. Cukup cari di google dengan key word rebar cutting optimization. Di sana juga terdapat beberapa software yang free for trial. Saya berikan link nya (Rebar Cutting software Free Trial) Anda dapat mencoba untuk membandingkan hasil secara manual dengan software.

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Biaya and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Waste besi tinggi? Tenang, ada SOWB…

  1. Pratama 7 says:

    Mau tanya pak…
    Apakah software ini dapat selalu dipraktekkan di semua proyek?
    Karena kadang pelaksanaannya berbenturan dgn lapangan, jadi apakah ada solusi agar lapangan sesuai dgn apa yg diperhitungkan sesuai software?

  2. Arif says:

    Mau tanya pak…
    gimana cara dapat download softwarenya?
    mohon pencerahannya, trims…

    • budisuanda says:

      SOWB sementara ini sedang dalam tahap pengembangan, sehingga belum diberikan link downloadnya. Software serupa yang telah ada di luar negri, telah saya berikan linknya.

  3. Muhammad Oriza, ST says:

    Salam Pak,
    Bisakah saya membeli software ini, berapakah biaya yang harus saya bayar? Terima kasih.

    • budisuanda says:

      kebetulan ini sudah dibeli secara exclusive oleh suatu perusahaan konstruksi. Jika ingin membeli software serupa, silahkan cari di google dengan keyword rebar cutting software.

    • wisnu broto says:

      masih perlu program sowb? hub aku di 08123061763

  4. Dita says:

    salam pak,, saya seorang mahasiswi dan sangat tertarik dengan software ini. saya ign bertanya pak, prinsip perhitungan waste yang seperti apa pada software ini ? sehingga perhitungannya bisa lebih kecil dari perhitungan konvensional ? bukankah sama-sama menggunakan metode bar bending schedule? mohon penjelasannya pak.

    • budisuanda says:

      Salam juga,
      Simple aja…bar bending schedule itu manual, software ini sdh tidak manual dan menggunakan sistem algoritma. Kira-kira begitu penjelasannya.

  5. Yuliana says:

    Pak, saya membaca skripsi tahun 2008 yang membahas SOWB, apakah bapak memberikan software ini untuk kepentingan skripsi pak? karena saya tertarik dengan software yang bapak buat. terima kasih pak.

  6. andithamrinm says:

    pak, saat ini saya sedang mengambil TA tentang waste material pak. oleh karena itu saya butuh software ini pak . terima kasih pak. andithamrinm@ymail.com

  7. indahly says:

    selamat siang pak, saya seorang mahasiswi ft-sipil umi pak, saya tertarik dengan SOWB nya pak, apakah bapak bisa memberikan software ini untuk kepentingan skripsi pak?

  8. Riko Fabio says:

    Selamat Siang Pak

    Saya seorang mahasiswa pak
    saya sangat tertarik dengan SOWB bapak,boleh kah bapak memberikan software y kepada saya.Saya sangat butuh pak sebagai bahan dari TA saya.

    Mogohon Dibalas Pak. Terimakasih

  9. Nudin Lubis says:

    Mudahnya sih kita lihat design beton bertulangnya, baik detil penulangan maupun panjangnya, klasifikasikan beton yang menggunakan diameter tulangan seragam untuk perhitungan, juga cara penulangan pada setiap beton, semakin banyak sambungan penulangan akan semakin boros, maka harus diminimalisir sambungan.

    Setelah klasifikasi panjang batang tulangan, bandingkan antara potongan terpanjang dan potongan lainnya yang tidak habis dibagi 12. kalau memenuhi bisa dibuat pola bersama, misal ada potongan panjang 7 meter, maka sisa 5 meter, dicari ada tidak tulangan lain yang butuh besi 5 meter, atau 2,5 meter, atau 3 meter, atau 2 meter. supaya besi bisa seefektif mungkin. Saya biasa ngitung pola pemotongan besi pake cara manual (pake excel), agak lama dan butuh ketelitian sambil bikin RAP. biasanya bisa saya hemat dari RAB dan RAP berbeda sekitar 15-25%.

    Kalau sudah selesai semua, rekap lagi dengan total batang besi X harga satuan per batang, semuanya. Lalu dibandingkan dengan RAB yang menggunakan perhitungan Kg untuk pekerjaan pembesian (Tulangan, Begel dan Bendrat). Disitu ketahuan untungnya berapa. :D

  10. Suwignya says:

    Selamat siang pak, saya Suwignya mahasiswa angkatan 2011 Teknik Sipil ITS, saya tertarik untuk mempelajari bar bending schedule, bolehkah saya minta software SOWB bapak ? terimakasih

  11. suwignya says:

    selamat malam pak, saya tertarik untuk mempelajari optimalisasi pembesian, saya mahasiswa Tek.Sipil ITS, boleh minta software SOWB nya ? tolong kirim ke email saya wignyaa@gmail.com, terima kasih pak

  12. Felix Suteja says:

    Selamat sore Pa Budi Suanda, saya tertarik untuk mencoba dan memperoleh software SOWB ini..
    Boleh saya tau bagaimana cara membelinya Pak ?

    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>