Faktor Utama Penyebab Kerugian Proyek Konstruksi

Proyek konstruksi sering mengalami kerugian / cost overrun. Umumnya kompleksitas menjadi masalah yang berujung pada kerugian proyek konstruksi . Dalam tulisan ini dilakukan survey sederhana berdasarkan referensi, pengalaman, dan pengamatan untuk mengetahui penyebab utama kerugian proyek sebagai langkah awal untuk mendapatkan strategi untuk mengatasinya.

Saat ini semakin sering terdengar proyek mengalami kerugian yang dialami oleh Kontraktor. Seperti yang pernah saya bahas pada tulisan “Keuntungan Kontraktor Gede?” (lihat pada posting sebelumnya) menunjukkan bahwa keuntungan kontraktor pada dasarnya kecil. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas yang menyebabkan banyaknya risiko yang dihadapi Kontraktor pada saat mengerjakan proyek.

Untuk mengatasi kerugian proyek tersebut, tentu diperlu diketahui lebih dahulu mengenai penyebab utama kerugian proyek. Hasilnya akan menjadi bahan untuk membuat langkah strategis penanganan kerugian proyek. Sehingga tulisan ini merupakan langkah awal dalam rangka menekan tingkat kerugian proyek. Hasil tulisan ini tentu masih prematur karena mungkin hanya berdasarkan pengalaman pribadi dengan sample yang tak lebih dari 20 proyek. Harapannya tulisan ini dapat diteliti lebih lanjut dengan metodologi penelitian yang lebih memadai.

 

Metodologi

Sebelum dijelaskan lebih lanjut, perlu disampaikan bahwa survey ini dilakukan hanya berdasarkan pengalaman mengerjakan proyek dan pengamatan terhadap pelaksanaan proyek lainnya. Parameter penyebab kerugian proyek diambil dari beberapa sumber atau referensi hasil penelitian dan juga berdasarkan pengalaman. Umumnya penyebab kerugian proyek adalah faktor risiko biaya proyek yang tidak dikelola lalu menjadi tidak terkendali sehingga risiko terjadi (menjadi problem) tanpa ada rencana tindak lanjut yang memadai yang akhirnya menyebabkan kerugian proyek.

Pada awalnya terdapat lebih dari 70 variabel penyebab kerugian proyek hasil dari pengumpulan beberapa referensi dan pengalaman serta hasil pengamatan. 60 variabel penyebab tersebut disaring untuk mendapatkan penyebab utama kerugian proyek. Penyaringan dengan menguji 70 variabel dengan membandingkan dengan hasil penelitian dan pengalaman serta hasil pengamatan. Hasilnya didapat 35 variabel yang dianggap cukup mewakili faktor penyebab kerugian proyek.

Setelah tahap penyaringan tersebut dilakukan penilaian faktor penyebab untuk mengetahui prioritas faktor. Dimulai dari menilai tingkat frekuensi terjadinya faktor penyebab kerugian. Penilaian dilakukan dengan skala 1-5 dengan ketentuan sederhana sebagai berikut:

  1. Sangat jarang
  2. Jarang
  3. Sedang
  4. Sering
  5. Sering sekali

Lalu dilanjutkan dengan menilai dampaknya terhadap kerugian proyek. Penilaian dilakukan dalam range 1-5 dengan ketentuan yang sederhana sebagai berikut:

  1. Kecil sekali (tingkat pengaruh sekitar 0.01%-0.50%)
  2. Kecil (tingkat pengaruh sekitar 0.50% – 1.00%)
  3. Sedang (tingkat pengaruh sekitar 1.00% – 1.50%)
  4. Tinggi (tingkat pengaruh sekitar 1.50% – 2.00%)
  5. Tinggi sekali (tingkat pengaruh sekitar > 2.00%)

Tingkat pengaruh adalah dalam sekali kejadian akan meningkatkan sekian persen biaya yang direncanakan secara keseluruhan proyek. Ini adalah asumsi sementara yang ditetapkan.

 

Hasil Survey

Hasil dari penilaian frekuensi dan dampak menghasilkan suatu nilai hasil perkaliannya. Hasil tersebut sudah menjadi dasar penilaian risiko atas faktor penyebab kerugian proyek. Hasil penilaian risiko menjadi dasar prioritas penanganan dan pengelolaan risiko di proyek.

Penyebab Kerugian F D F x D
Kondisi Fisik Lapangan
Cuaca yang buruk 3 3 9
Manajerial dan Kepemimpinan
Kurang baiknya pengendalian material 3 3 9
Kurang tepatnya personil / tidak kompeten 2 1 2
Komunikasi yang tidak baik 5 4 20
Ketamakan / keserakahan 2 4 8
Tim proyek yang tidak solid 4 4 16
Kurangnya pengalaman melaksanakan proyek 1 5 5
Kepemimpinan proyek yang lemah 4 5 20
Dukungan manajemen yang kurang 3 2 6
Tidak adanya manajemen risiko proyek 5 5 25
Lemahnya pengelolaan pajak 3 2 6
Kurangnya manajemen biaya, waktu, dan mutu 3 5 15
Keterbatasan dana untuk membayar vendor 4 2 8
Perencanaan dan Teknis
Ketidaktepatan pengadaan material & peralatan 2 3 6
Pemahaman lingkup yang lemah 3 2 6
Ketidaktepatan dalam memilih vendor 3 2 6
Kesalahan dalam estimasi biaya proyek 4 5 20
Pelaksanaan, Pengarahan, dan Pengawasan
Keterlambatan proses dan pelaksanaan proyek 4 4 16
Produktifitas pekerjaan yang rendah 4 4 16
Lingkup dan jangka waktu asuransi yang kurang 2 1 2
Ketidakcukupan resources / mismatch 5 3 15
Kesalahan metode pelaksanaan 2 4 8
Mutu pekerjaan yang jelek 3 4 12
Tingginya waste material 3 3 9
Tingkat kesulitan pekerjaan yang tinggi 3 3 9
Waktu pelaksanaan terlalu singkat / tidak wajar 4 3 12
Faktor-faktor External
Owner tidak memiliki dana yang cukup 3 3 9
Pembayaran dari Owner terlambat 3 3 9
Kerusakan dan kehilangan akibat kejahatan, dll 2 3 6
Sosial, Ekonomi, dan Politik
Situasi pasar (monopoli, kartel, dll) 1 3 3
Inflasi 2 3 6
Naiknya harga BBM 1 3 3
Hukum dan Kontrak
Keterlambatan pemecahan konflik kontraktual 3 2 6
Ketidakadilan kontrak / unbalanced contract 4 5 20
Lemahnya pengelolaan kontrak proyek 5 3 15

Pada dasarnya sampai dengan tahap di atas sudah cukup berdasarkan manajemen risiko. Namun saya mencoba untuk lebih lanjut mendalami tingkat kemampuan mengendalikan risiko terebut berdasarkan kondisi dan pengalaman yang ada. Agak subyektif namun tidak ada salahnya untuk dicoba. Parameter ini bisa disebut sebagai treatment (T) atas risiko yang terjadi. Atas tambahan parameter ini bisa juga dikatakan sebagai peluang problem atau masalah yang benar-benar terjadi berdasarkan pengalaman yang menyebabkan kerugian. Penilaian atas parameter ini juga dalam bentuk range 1-5, dengan asumsi sebagai berikut:

  1. Treatment mudah sekali
  2. Treatment mudah
  3. Treatment medium
  4. Treatment sulit
  5. Treatment sangat sulit

Untuk memudahkan gambaran atas parameter di atas diberikan contoh sederhana. Faktor penyebab cuaca adalah faktor yang sangat sulit untuk diatasi karena berada diluar kemampuan manusia. Faktor personil yang kurang tepat akan sangat mudah diatasi dengan memindahkan personil tersebut cukup berdasarkan keputusan project manager.

Parameter treatment ini lalu dikaitkan dengan hasil penilaian risiko diatas. Tujuannya adalah untuk mendapatkan suatu hasil penilaian atas faktor risiko yang seringkali menjadi penyebab riel kerugian proyek yang perlu mendapat perhatian khusus terutama atas kemampuan atau keberadaan solusi penanganannya hingga saat ini. Hasil penilaian akhir dilakukan pengelompokan nilai. Tujuannya adalah untuk menentukan peringkat kelompok atau prioritas. Adapun hasil dari keseluruhan penilaian ini dibagi dalam beberapa kelompok sesuai prioritas sebagai berikut:

Penyebab Kerugian F x D T F x D x T Priority
Kepemimpinan proyek yang lemah 20 4 80 1
Kesalahan dalam estimasi biaya proyek 20 5 100 1
Ketidakadilan kontrak / unbalanced contract 20 4 80 1
Penyebab Kerugian F x D T F x D x T Priority
Komunikasi yang tidak baik 20 3 60 2
Tim proyek yang tidak solid 16 4 64 2
Tidak adanya manajemen risiko proyek 25 3 75 2
Penyebab Kerugian F x D T F x D x T Priority
Cuaca yang buruk 9 5 45 3
Kurangnya manajemen biaya, waktu, mutu 15 3 45 3
Produktifitas pekerjaan yang rendah 16 3 48 3
Ketidakcukupan resources / mismatch 15 3 45 3
Waktu pelaksanaan terlalu singkat / tidak wajar 12 4 48 3
Lemahnya pengelolaan kontrak proyek 15 3 45 3
Penyebab Kerugian F x D T F x D x T Priority
Kurang baiknya pengendalian material 9 3 27 4
Ketamakan / keserakahan 8 4 32 4
Kurangnya pengalaman melaksanakan proyek 5 4 20 4
Keterbatasan dana untuk membayar vendor 8 3 24 4
Keterlambatan proses dan pelaksanaan proyek 16 2 32 4
Kesalahan metode pelaksanaan 8 3 24 4
Mutu pekerjaan yang jelek 12 3 36 4
Tingginya waste material 9 3 27 4
Owner tidak memiliki dana yang cukup 9 4 36 4
Pembayaran dari Owner terlambat 9 4 36 4
Inflasi 6 5 30 4
Penyebab Kerugian F x D T F x D x T Priority
Kurang tepatnya personil / tidak kompeten 2 1 2 5
Dukungan manajemen yang kurang 6 2 12 5
Lemahnya pengelolaan pajak 6 1 6 5
Ketidaktepatan pengadaan material & peralatan 6 2 12 5
Pemahaman lingkup yang lemah 6 2 12 5
Ketidaktepatan dalam memilih vendor 6 2 12 5
Lingkup dan jangka waktu asuransi yang kurang 2 2 4 5
Tingkat kesulitan pekerjaan yang tinggi 9 2 18 5
Kerusakan dan kehilangan akibat kejahatan, dll 6 2 12 5
Situasi pasar (monopoli, kartel, dll) 3 5 15 5
Naiknya harga BBM 3 5 15 5
Keterlambatan pemecahan konflik kontraktual 6 3 18 5

Validasi Sederhana

Saya lalu mencoba untuk membuat semacam validasi sederhana atas hasil survey di atas. Saat ini hanya pada prioritas pertama yang terdapat tiga variabel, yaitu:

  1. Kepemimpinan proyek yang lemah. Di perusahaan tempat saya bekerja, telah ada beberapa pejabat yang dulunya project manager yang proyeknya hampir selalu untung. Project manager tersebut dikenal memiliki kemampuan kepemimpinan yang tinggi serta kharismatik. Hal ini berarti bahwa Kepemimpinan yang lemah akan berpotensi menyebabkan proyek mengalami kerugian karena lemahnya pengendalian proyek.
  2. Kesalahan dalam estimasi biaya proyek. Seringkali proyek konstruksi mengalami kesalahan pada saat estimasi biaya karena kompleksitasnya. Pada suatu laporan pengendalian proyek suatu perusahaan (tidak disebutkan) ternyata lebih 50% penyebab kerugian proyek adalah karena kesalahan estimasi biaya proyek saat tender.
  3. Unbalanced Contract. Kontrak yang tidak seimbang atau unbalanced contract umumnya terjadi pada proyek swasta. Risiko yang tidak sesuai harus ditanggung kontraktor akibat dari kondisi kontrak ini. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan data laporan biaya proyek-proyek, faktor inilah yang menyebabkan kerugian proyek paling besar dan sulit untuk diatasi.

Foto proyek yang terhenti karena mengalami kerugian karena unbalanced contract

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Biaya, Manajemen Kontraktor, Manajemen Risiko and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>