Potensi Implikasi MEA dan Rekomendasinya

Gong pemberlakuan MEA telah ditabuh hampir setahun yang lalu. Hal ini berarti intensitas perdagangan bebas kawasan ASEAN akan semakin tinggi. Industri konstruksi yang belum memiliki maturitas yang memadai, akan terkena dampaknya. Bagaimana strategi menghadapinya?

A. Sejarah dan Tujuan MEA

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) merupakan realisasi pasar bebas yang dilaksanakan oleh negara-negara Asia Tenggara diantaranya, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Myanmar, Vietnam, Laos, Kamboja dan Indonesia. Pelaksanaan MEA telah dirintis cukup lama yaitu sejak tahun 1976 dimana telah dibuat Industrial Project Plan dan berlanjut hingga saat ini.

Secara umum, Masyarakat Ekonomi ASEAN diartikan sebagai sebuah masyarakat yang saling terintegrasi satu sama lain yaitu antara negara yang satu dengan negara yang lain dalam lingkup ASEAN. Perdagangan bebas diantara negara-negara anggota ASEAN yang telah disepakati bersama antara pemimpin-pemimpin negara-negara ASEAN bertujuan untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang lebih stabil, makmur dan kompetitif dalam pembangunan ekonomi. MEA dilandaskan pada empat pilar, yaitu :

  1. Menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan pusat produksi.
  2. Menjadi kawasan ekonomi yang kompetitif.
  3. Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang seimbang.
  4. Integrasi ke ekonomi global.

Adapun dampak positif atau manfaat yang diharapkan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN pada dasarnya adalah sebagai berikut :

  • Arus investasi – Masyarakat Ekonomi ASEAN akan mendorong arus investasi dari luar masuk ke dalam negeri yang akan menciptakan multiplier effect dalam berbagai sektor khususnya dalam bidang pembangunan ekonomi.
  • Pasar tunggal – Kondisi pasar yang satu (pasar tunggal) membuat kemudahan dalam hal pembentukan joint venture (kerjasama) antara perusahaan-perusahaan diwilayah ASEAN sehingga akses terhadap bahan produksi semakin mudah.
  • Pasar yang besar – Pasar Asia Tenggara merupakan pasar besar yang begitu potensial dan juga menjanjikan dengan luas wilayah sekitar 4,5 juta kilometer persegi dan jumlah penduduk yang mencapai 600 juta jiwa.
  • Kecepatan sharing sumber daya – MEA memberikan peluang kepada negara-negara anggota ASEAN dalam hal meningkatkan kecepatan perpindahan sumber daya manusia dan modal yang merupakan dua faktor produksi yang sangat penting.
  • Transfer teknologi – Khusus untuk bidang teknologi, diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini menciptakan adanya transfer teknologi dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang yang ada di wilayah Asia Tenggara.

 

B. Potensi Implikasi Pelaksanaan MEA Pada Industri Jasa Konstruksi dan Rekomendasinya

Dengan dimulainya MEA maka setiap negara anggota ASEAN harus meleburkan batas teritori dalam sebuah pasar bebas. MEA akan menyatukan pasar setiap negara dalam kawasan menjadi pasar tunggal. Terdapat setidaknya tiga ketentuan dari MEA yang penting bagi industri konstruksi Indonesia untuk diketahui dalam rangka peningkatan daya saing perusahaan atau organisasi. Tabel berikut menjelaskan ketentuan, kondisi eksisting, dan potensi implikasi.

Tabel Ketentuan MEA, Kondisi Sekarang, dan Potensi Implikasi

Ketentuan Utama Kondisi Sekarang Potensi Implikasi
§ Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing yang akan melakukan usaha jasa konstruksi di Indonesia harus bekerja sama dengan Badan Usaha Jasa Konstruksi Nasional yang berkualifikasi besar dalam bentuk Joint Operation (JO) atau Joint Venture (JV) dengan penyertaan modal maksimal 70% § Pasar Konstruksi Indonesia adalah yang terbesar di ASEAN 

§ Tingkat kompetisi konstruksi Indonesia termasuk yang tertinggi di ASEAN

§ Kemampuan pengelolaan (manajemen) pelaksanaan konstruksi Indonesia masih rendah

§ Banyak BUJKA yang akan masuk ke pasar konstruksi Indonesia. 

§ Tingkat persaingan pasar konstruksi Indonesia semakin tinggi

§ Proyek-proyek berskala besar akan didapat oleh BUJKA. BUJKN diperkirakan hanya menguasai proyek berskala menengah ke bawah.

§ Tenaga kerja jasa konstruksi asing dibatasi pada level direktur, manager dan expert.  

§ SDM jasa konstruksi harus memenuhi mutual recognition arrangement (MRA) atau pengaturan pengakuan kesetaraan.

§ SDM jasa konstruksi Indonesia level manajer ke atas masih sedikit yang mampu memenuhi syarat dari MRA 

§ SDM Jasa Konstruksi ASEAN terutama Singapura dan Malaysia sudah banyak yang mampu memenuhi syarat MRA

§ Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja di bawah level manajer yang paling banyak terutama buruh

§ SDM jasa konstruksi Indonesia level manajer ke atas akan sulit bersaing ke negara ASEAN bahkan akan menghadapi kompetisi yang sangat tinggi di Indonesia 

§ SDM jasa konstruksi Indonesia cenderung hanya mengisi posisi bawah hingga tenaga kerja kasar

 

Pada Tabel di atas terlihat bahwa dengan kemampuan kapitalisasi dan project management maturity level serta SDM BUJKA yang lebih unggul, maka akan berdampak yang negatif bagi perusahaan jasa konstruksi di Indonesia terutama pada aspek daya saing. Kondisi ini pada dasarnya sudah mulai terasa beberapa tahun sebelum pelaksanaan MEA pada 2016 dan tentu akan semakin terasa setelah tahun 2016.

Dengan melihat kondisi eksisting yang ada, pada dasarnya ketentuan MEA atas industri konstruksi akan membuat perusahaan konstruksi Indonesia dan SDM-nya akan menghadapi persaingan yang sangat berat. Maka dari itu industri jasa konstruksi Indonesia perlu melakukan langkah-langkah strategis terutama yang terkait dengan peningkatan kompetensi SDM agar memiliki daya saing yang tinggi dalam menghadapi MEA.

Kemampuan bersaing dan kinerja proyek akan bertumpu pada seberapa efektif sistem manajemen proyek pada perusahaan jasa konstruksi. Hal ini karena faktor sukses kritis kemampuan manajemen proyek merupakan faktor utama kemampuan bersaing , dimana terdapat delapan faktor kritis bagi perusahaan jasa konstruksi untuk dapat bersaing dengan baik pada era globalisasi, yaitu :

Keseluruhan faktor kritis tersebut sangat penting untuk diperhatikan dan dijadikan pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah strategis oleh perusahaan jasa konstruksi di Indonesia pada era MEA. Dengan mempertimbangkan kondisi project management maturity perusahaan jasa konstruksi di Indonesia yang masih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, maka faktor utama ini tentu harus menjadi prioritas.

Berdasarkan berbagai referensi, untuk siap dalam menghadapi persaingan yang tinggi pada masa pemberlakuan MEA, industri jasa konstruksi harus meningkatkan daya saing (competitiveness) yang dengan melaksanakan beberapa langkah yang strategis yang direkomendasikan – yang merujuk pada Tabel di atas, yaitu :

  • Peningkatan kompetensi manajemen proyek konstruksi – Hal ini untuk diimplementasikan terutama pada site management, cost management, quality management, time management, contract management, dan risk management, serta supply chain management. Peningkatan kompetensi dapat dilakukan dengan cara peningkatan kualitas pelatihan manajemen proyek dan sertifikasi.
  • Peningkatan project management maturity level – Peningkatan ini harus dilakukan di tingkat organisasi pada perusahaan jasa konstruksi secara konsisten
  • Optimasi struktur organisasi – Memperbaiki struktur organisasi proyek dan perusahaan konstruksi yang lebih efektif namun ramping agar efisien dan sesuai dengan kebutuhan industrinya seperti penerapan organisasi spesialisasi untuk meningkatkan kompetensi dan efisiensi.
  • Meningkatkan kapasitas sumber daya – Hal ini terutama bagi perusahaan jasa konstruksi khususnya sumber daya manusia dengan berbagai mengikuti berbagai sertifikasi yang dibutuhkan dan peningkatan aktivitas dan kualitas pelatihan.
  • Meningkatkan kemampuan berinovasi – Kemampuan inovasi dapat meningkat dengan membuat sistem manajemen inovasi yang handal pada perusahaan jasa konstruksi secara kolaboratif dengan berbagai pihak seperti kampus dan vendor.
  • Meningkatkan kualitas business process – Hal ini bertujuan agar proses bisnis dapat lebih efektif dan efisien seperti menggunakan aplikasi ERP (Enterprise Resources Planning) yang sesuai dan terbukti aplikatif untuk perusahaan jasa konstruksi.
  • Peningkatan kapasitas modal – Diperlukan peningkatan kemampuan sumber daya keuangan dengan berbagai cara seperti mendapatkan modal murah dengan Initial Public Offering (IPO), right issue, penerbitan obligasi, dan strategi keuangan lainnya.
  • Menjalankan strategi daya saing spesifik – Strategi ini harus tepat yang sesuai dengan situasi perusahaan dan kondisi industri konstruksi Indonesia.
  • Collaborative – Langkah ini dilakukan dengan meningkatkan hubungan yang kolaboratif dan saling menguntungkan dengan berbagai pihak seperti pemilik, subkontraktor, supplier, pemerintah, dan publik. Sebagai contoh adalah membuat kerja sama jangka panjang yang strategis (long-term strategic partnership) dengan vendor, pelatihan tenaga kerja untuk lebih trampil, dan strategi lainnya.
  • Meningkatkan strategi bidding – seperti penerapan front-end loading pada kasus tertentu yang dinilai sesuai dan strategi lainnya.
  • Meningkatkan kemampuan marketing – Langkah ini dilakukan dengan mendapatkan akses informasi yang lebih baik, riset intelligent marketing atau riset prediksi proyek potensial yang lebih intensif dan akurat, dan strategi lainnya.
  • Meningkatkan kemampuan teknologi – Teknologi memungkinkan konstruksi yang lebih baik dimana lebih efisien, lebih cepat, dan dengan mutu yang baik.

 

Referensi : Buku Advance & Effective Project Management – Budi Suanda S.T., M.T., 2016

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Kontraktor, Manajemen Proyek and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Potensi Implikasi MEA dan Rekomendasinya

  1. Faris Pramadhani says:

    Pak Budi, saya sudah memesan buku bapak via form type yang di request, namun sampai sekarang belum mendapatkan respon balik. Berharap bisa mendapatkannya. teeimakasih :)

Leave a Reply to Faris Pramadhani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>