Ada Apa Dengan Inovasi Konstruksi Indonesia?

Sektor industri konstruksi dihadapkan pada tingkat kompetisi yang sangat tinggi yang menyebabkan rendahnya rasio margin. Dimana dalam situasi ini sangat dibutuhkan inovasi untuk mampu bersaing dan berkembang. Namun ironisnya, proses inovasi konstruksi justru cenderung jalan di tempat. Ada apa?

 

Industri konstruksi sering digambarkan sebagai industri yang kurang inovatif. Hal ini disebabkan karkateristik konvensional industri konstruksi itu sendiri yang menyebabkan kurangnya dinamika dan inovasi (Biemo, 2008). Pendapat lain menyebutkan bahwa industri konstruksi Indonesia memiliki daya saing yang lemah. Lingkungan yang dihadapi tidak mendukung/kondusif dan minimnya arah strategis untuk meningkatkan kinerja dan daya saing (Pamulu, 2012). Rizal Tamim (2011) menyebutkan bahwa kondisi sektor Konstruksi Indonesia saat ini ternyata masih menunjukkan lemahnya daya saing dengan pelaku jasa konstruksi asing. Hal ini disebabkan produktifitas yang lemah, efisiensi yang rendah, mutu hasil konstruksi yang rendah, angka kecelakaan yang relatif masih tinggi, dan hampir tidak ada kreatifitas dan inovasi.

Sebagai salah satu bukti lemahnya inovasi konstruksi Indonesia adalah lebih banyak kontraktor asing yang bekerja di Indonesia ketimbang kontraktor nasional yang ekspansi ke luar negeri. Hal ini menunjukkan daya saing kontraktor Indonesia yang lemah. Sedangkan daya saing adalah output atas kemampuan inovasi suatu perusahaan.

Lalu apakah penyebab lemahnya inovasi konstruksi Indonesia? Dirangkum dari berbagai literatur yang juga diperkuat dengan bukti pengalaman selama mengerjakan proyek, penyebab lemahnya inovasi dapat dikelompokkan dalam lima kelompok besar, yaitu:

 

1. Karakteristik Industri Konstruksi

Industri konstruksi memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri lainnya. Industri ini sangat berorientasi pada proyek yang memiliki karakter khusus yakni unique yang harus dikerjakan dalam waktu yang relatif pendek dan mepet. Kontrak pelaksanaan proyek juga tergolong singkat dimana rata2 berkisar antara 6 bulan hingga 24 bulan dan relatif mepet. Hal tersebut menjadikan segmentasi antar proyek. Proyek tidak menerus tidak menyatu.

Di sisi lain, proses inovasi membutuhkan waktu khusus untuk merumuskan dan menentukan goal, eksplorasi – seleksi – formulasi ide, uji coba / simulasi, dan pengujian. Segmentasi yang membatasi kesinambungan dan durasi yang mepet ini sangat melemahkan proses ideal inovasi. Ini yang menjadi penyebab kenapa inovasi sulit berkembang jika harus dibebankan atau fokus pada proyek. Solusinya adalah bahwa proses inovasi harus dilakukan oleh unit khusus yang menjadi integrator dan kolaborator proses inovasi antar proyek.

Sebagai contoh atas hambatan segmentasi adalah pada inovasi prefabrikasi yang berkembang lamban dan cenderung jalan di tempat. Padahal di China saja, perkembangan teknologi prefabrikasi telah membuat mereka mampu membangun high rise building dalam hitungan hari. (video pembangunan hotel 30 lantai hanya dalam 15 hari)

 

Hotel 30 lantai yang dikerjakan dalam 15 hari dengan Prefabrikasi di Cina

 

Tuntutan efisien dan pasar yang relatif fluktuatif menyebabkan kontraktor cenderung melakukan “outsourcing” dalam memenuhi kebutuhan SDM mereka. Kondisi ini berdampak pada kurang terwadahinya proses interaksi di antara orang-orang yang terlibat.

Karakter industri konstruksi yang memiliki tingkat kompetisi tinggi, pasar fluktuatif, dan risiko tinggi juga telah membentuk pola pikir dan pola kerja yang sangat reaktif. Pelaku konstruksi sangat fokus pada pasar dan problem solving sehingga berorientasi pada operasi ketimbang proses pengembangan / R&D / Inovasi yang berorientasi pada planning. Kondisi ini pada akhirnya mengarahkan kontraktor lebih memanfaatkan pihak ketiga (supplier, subkontraktor spesialis) dalam stimulus inovasi. Hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh kondisi bahwa kontraktor umum juga secara natural lebih pada memanage ketimbang melaksanakan pekerjaan.

 

2. Aturan yang Tidak Mendukung

Hal ini dapat dilihat pada berbagai regulasi terkait yang kaku dan tidak memberi tempat pada inovasi. Cek saja apakah UUJK, Keppres, Inpres, Kepmen PU mengatur inovasi konstruksi atau tidak. Lalu diperparah dengan standart kontrak kerja yg kaku. Padahal FIDIC sebagai salah satu standart kontrak Internasional setidaknya mengatur tentang VE yang memberi ruang terbuka atas inovasi. Seingat saya FIDIC mengatur pembagian / share benefit antara Owner dan Kontraktor sebesar 50%-50% atas adanya VE yang diusulkan dan dilakukan oleh kontraktor.

Bagi auditor, perubahan lingkup / spesifikasi / metode kerja sedemikian menjadi Variation Order (VO) justru dipletoti sebagai indikasi penyimpangan untuk dijadikan temuan. Ini bukan isapan jempol semata. Suatu pengalaman dimana sebagai project manager, saya mengusulkan untuk mengubah struktur pelat lantai dasar proyek rumah sakit yang semula adalah slab on ground menjadi suspended dan sebagian diperkuat dengan cerucuk galam karena untuk menghindari differential settlement pada tanah lunak di Kaltim. Usulan diterima dan dilaksanakan serta menjadi VO. Namun, auditor menaruh kecurigaan yang berlebih atas VO tersebut.

 

3. Budaya R&D dan Inovasi Indonesia yang Lemah

Pada tulisan terdahulu mengenai riset di Indonesia, telah disampaikan bahwa Indonesia ternyata sangat lemah dalam hal riset / pengembangan yang menjadi penopang utama proses inovasi. Industri konstruksi yang merupakan bagian dari keseluruhan industri Indonesia mungkin adalah termasuk yang paling lemah akibat dari karakter industrinya yang memperparah kondisi.

Budaya R&D dan Inovasi ini dapat dihubungkan dengan sistem pendidikan Indonesia dengan konten hapalan cukup tinggi dan kurang memberikan ruang kreatifitas siswa. Lalu dapat juga dihubungkan dengan budaya masyarakat yang cenderung instant dan kurang menghargai proses. Akibat dari keduanya adalah minimnya resources SDM yang kreatif. Padahal dalam konteks inovasi dibutuhkan SDM kreatif sebagai stimulus ide-ide inovasi.

 

Tabel Ranking Inovasi Indonesia

 

Tabel di atas menunjukkan bahwa rangking inovasi Indonesia berada pada peringkat 87 dari 143 negara yang disurvey. Indonesia berada dibawah negara terbelakang afrika seperti Bhutan, Kenya, dan Jamaica.

Untuk melihat bukti atas faktor ini dapat dilihat pada R&D spending perusahaan konstruksi Indonesia. Penilaian saya, sungguh sangat miris. Bagaimana tidak, alokasi untuk R&D hanya ratusan juta rupiah untuk revenue puluhan trilyun dan net margin ratusan milyar rupiah tentu adalah buktinya.

 

4. Pengetahuan dan Kesadaran Inovasi

Berdasarkan pengamatan, rasanya sedikit saja pelaku konstruksi yang memiliki pengetahuan yang memadai dan sadar akan pentingnya inovasi. Ada pengalaman yang bagus sebagai share. Baru-baru ini, saya menjadi juri pada lomba inovasi di perusahaan konstruksi tempat saya bekerja. Tiap project diminta untuk mendaftarkan inovasi yang dilakukan untuk dilombakan. Cukup banyak item inovasi yang didaftarkan. Tapi sayang, hanya sedikit yang bisa dikatakan inovasi (sekitar 25% saja). Sebagian besar adalah item inovasi yang telah dilakukan sebelumnya atau hanya aplikasi produk yang inovatif. Ini menunjukkan para project manager yang lemah pemahaman akan inovasi. Jika project manager saja sudah lemah pengetahuan atas inovasi, apalagi stafnya.

Kemudian mereka juga cenderung menganggap bahwa inovasi konstruksi itu adalah inovasi metode pelaksanaan. Padahal bidang inovasi sangatlah luas. Mindset ini terbukti pada item lomba inovasi dimana item kategori metode konstruksi jauh lebih banyak ketimbang kategori produk dan manajerial.

Lalu mari kita lihat beberapa struktur organisasi kontraktor besar Indonesia. Hanya sedikit yang memiliki unit khusus R&D / Inovasi. Bukankah sudah menjadi kesepahaman umum bahwa R&D atau Inovasi adalah senjata utama untuk daya saing? Ini adalah salah satu bukti lemahnya kesadaran R&D / Inovasi.

Pengetahuan yang lemah ini juga ditunjukkan dengan kurangnya knowledge management dan kolaborasi / sharing inovasi. Aset inovasi cenderung merupakan proses insidensial yang tidak menjadi bagian dari proses lesson learned yang seharusnya dikelola dengan baik. Aset inovasi lalu hanya melekat pada individu dan hanya sedikit yang menjelma menjadi sistem di perusahaan konstruksi.

 

5. Konservatif dan Enggan Melakukan Perubahan

Berbeda dengan industri lain, industri konstruksi cukup konservatif dan memiliki kecenderungan untuk enggan melakukan perubahan bahkan ketika sudah jelas terbukti dengan fakta dan analisis yang kuat bahwa perubahan itu harus dilakukan. Perubahan dianggap akan memberikan dampak negatif atas stabilitas usaha. Hal ini berujung pada selalu lambannya perusahaan konstruksi Indonesia dalam berkembang dibandingkan dengan perusahaan konstruksi luar negeri.

Sebagai contoh adalah perkembangan Building Information Modelling (BIM). Di Indonesia dapat dikatakan masih sangat lamban dan terlambat dibandingkan dengan negara tetangga apalagi secara global. Lalu kita juga bisa pantau perkembangan supply chain management yang dapat dikatakan konservatif sejak lama hingga saat ini.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

 

 

 

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Ada Apa Dengan Inovasi Konstruksi Indonesia?

  1. Pingback: Inovasi Konstruksi Itu Mudah ! | Manajemen Proyek Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>